ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Empat Puluh satu



Bingung pulang dengan siapa, ku putuskan berkeliling sekolahan untuk menunggu papa. Kalau anaknya belum pulang masak gak di jemput juga.


Diarah kantin, Saga menghadang jalanku, aku sempat terkejut. Masih ingat kejadian Jumat kemarin. Wajah itu tanpa bersalah tersenyum kearah ku. Setidaknya jika dia tidak menyukaiku, jangan menampakan wajahnya lagi, seolah olah dia memberi harapan dan hanya berpura pura mengatakan itu.


"Balik sama gue yuk" ajaknya.


Kurang brengsek apa lagi Saga, wajahnya mendukung dengan tersenyum ramah seolah kemarin tidak pernah terjadi hal yang harus di sesali atau membuatnya malu menampakan batang hidung di depanku.


"Lo bisa gak sih, bersikap seolah kita gak pernah kenal. Gak usah Lo kasih gue bentuk kesopanan sama temen. Gue gak butuh" jawabku berjalan melewatinya.


Dia tidak berhenti sampai disitu untuk membuatku kesal. Dia menarik tanganku untuk berdiri dihadapannya.


"Lo mau sampai magrib disini?" Tanyanya


"Mendingan sampe magrib di sini dari pada balik sama elo"


"Lo mau balik sama siapa sih sebenarnya. Micky Handoko, Rio Pangestu, atau Andre Pradana"


Yang disebutkan oleh Saga adalah deretan nama yang pernah bercakap denganku. Aku murid baru jadi tidak banyak berbicara dengan lawan jenis selain mereka yang disebutkan oleh Saga.


Aku tertawa melihat kelakuan Saga yang semakin hebat membuat ku kesal.


"Terserah gue, mau balik sama Aliando Syarief sekalipun itu bukan urusan elo"


Di arah samping kanan, terdengar beberapa gerombolan seseorang yang bermain gitar.


"🎶Cicak cicak dinding, diam diam merayap🎶"


Ketika kutoleh. Micky, Rio dan beberapa temannya sedang arah ke parkiran. Haruskah ku panggil Micky, atau biarkan dia berjalan lebih dulu.


Demi Tuhan aku tidak ingin dianggap sebagai cewek murahan yang dengan mudah pulang bersama dengan beberapa lelaki. Tapi jika berdiri dengan Saga disini, aku takut terluka lagi. Saga milik Aliya dan dia juga lelaki brengsek yang melukai ku.


"Micky" panggilku.


Micky menolehku. Dan buru buru aku berlari kearahnya. Dia tampak. terkejut melihatku masih disini.


"Lah belum pulang?" Tanyanya


Aku menggeleng menatap teman teman nya satu persatu. Seolah tahu, Micky memberikan gitarnya pada Rio, lalu memberi kode teman temannya untuk pergi.


"Bisa tolongin gue gak?" Tanya ku padanya


"Bentar, kalau mau minta duit gue gak punya, kalau mau minta cium gue bisa" jawabnya nyengir.


"Iss" decakku sebal. Urusan dengan Micky memang memakan waktu yang panjang "anterin gue pulang dong"


"Ha? Pulang?" Dia tertawa. "Hayuk lah, kalau urusan itu gue siap sedia"


Kami berjalan bersisian. Micky memang selalu hangat dengan siapapun, mungkin itu sebabnya dia mendapatkan julukan bad boy, cowok yang mudah bergaul, tidak pernah rapi, sering membolos dan dekat dengan semua cewek di sekolahan.


Sampai diparkiran, dia membawa motor besarnya. Diparkiran juga, kulihat Saga menaiki motor Kawasaki ninja baru. Warna merah yang membuatnya semakin bersinar.


Seketika itu aku ingat dengan ucapan Saga, bahwa dia yang menangin taruhan. Aku belum tahu taruhan apa yang dia maksud, apa hadiah motor untuk membuatku suka pada Saga?.


Micky membawa motornya menjauh dari arah parkiran, tanpa disadari Micky kalau aku masih menatap Saga.


"Cari makan dulu gak?" Tanya Micky mengeraskan suara yang hilang di telan suara motor.


"Langsung pulang aja"


"Oh okeh, bokap Lo dirumah?"


"Gak tahu, biasa jam segini lagi di kantor"


"Bagus deh" ucap Micky menghela nafas


"Kenapa?"


"Gue malu Van, bokap Lo humoris banget, ngimbanginya susah" dia ketawa cekikan.


"Mick, beli makan dulu aja yuk" ajak ku padanya.


"Tiba tiba?"


Maksud nya Micky, kenapa tiba tiba. Padahal kami sudah melewati warung langganan kami.


"Tiba tiba laper" jawabku bohong.


Aku hanya ingin tahu, Saga benar benar mengikuti ku atau hanya perasaanku saja karena dia ingin pergi kearah yang sama. Ketika Micky dan aku membelok pada warung kecil, Saga tetap melajukan motor.


Micky lebih dulu masuk untuk memesan makan, sedangkan aku memperhatikan Saga yang menghentikan motornya tidak jauh dari warung tempat ku makan. Dia berhenti di pinggir jalan, menunduk, memperhatikan tengki motornya. Benar, ini bukan perasaanku saja.


"Mau makan apa Van?" Micky duduk sambil menatap tulisan benner yang terpampang menuliskan daftar menu.


"Ha, biasa" jawabku buru buru duduk.


"Gelisah banget?" Tanyanya. "Mie ayam Bu, dua"


Dia ikut duduk di sebelahku, menatap wajahku yang terus menatap arah jalan. Aku tidak seharusnya masih memperdulikan Saga, biarkan dia bertindak semaunya.


"Ada apa sih?"


"Liburan semester ini, mau pergi kemana?" Tanya ku mengalihkan topik


"Belum tahu" jawabnya menyandarkan pada kursi.


🚕🚕🚕


Selesai makan, aku dan Micky keluar dari warung, kulihat Saga masih berdiri ditempat yang sama, dengan motornya. Hanya saja kali ini dia merubah posisi dengan berjongkok, dan mengamati mesin motor. Ketika aku dan Micky melintas, Micky tidak tahu jika itu adalah Saga, tetapi aku tahu bahwa Saga berusaha sembunyi dari ku.


Aku tidak tahu apa maksud Saga mengikuti ku dan Micky, sampai didepan gerbang, kutoleh Saga menghentikan motornya didekat warung kecil yang tidak jauh dari rumah. Aku masuk kedalam, berterimakasih terlebih dahulu pada Micky.


Saat aku pergi kedalam rumah, kudengar suara motor Micky semakin menjauh. Aku keluar, bukan untuk memastikan Micky baik baik saja saat pergi melainkan memastikan apakah Saga masih ditempat yang sama. Ketika kutatap dari dalam gerbang, Micky berhenti didepan motor Saga. Kaki kanannya di letakkan diatas mesin bawah motor Saga. Mereka cukup lama bercakap, aku tidak bisa melihat wajah keduanya, yang kutahu, setelahnya Micky berlalu pergi. Beberapa menit dari kepergian Micky, Saga juga ikut pergi hanya saja dia pergi ke arah berlawanan


Aku berjongkok dibelakang pagar. Saga dan Micky . Aku tidak tahu masalah kalian apa. Yang kutahu masalah kalian berdua lebih dari sekadar berebutan pacar. Saga selalu tidak senang jika aku berdekatan dengan Micky, begitupun Micky.


"Ngapain kamu jongkok" suara Mama tiba tiba mengagetkan. Aku terperajak. Memegangi dada dan melirik Mama


"Mama seneng banget sih bikin Vanda jantungan" gerutuku kesal


"Lagian jongkok kok disitu, sana masuk" titah Mama.


Aku berjalan masuk kedalam , belum lima langkah Mama sudah menarik tas ku hingga aku mundur beberapa langkah.


"Apa lagi ma?"


"Dosa Lho sama mamanya gitu" cicit Mama "sana beliin Mama minyak sayur, gula, teh sama shampo"


Mama memberikan uang seratus padaku. Dengan malas aku terima uang itu.


"Sini tasnya, biar Mama yang masukin kedalam"


Aku mencibir "giliran ada maunya langsung mau bantuin Vanda"


Aku membuka gerbang, berjalan keluar tapi langsung berlari masuk kedalam lagi.


"Mamaaaaaa tadi apa Vandaaaaaaaa lupaaaa" teriak ku dari luar gerbang.


"Astagfirullah belum ada lima menit udah lupa" Mama ikut keluar dari dalam gerbang.


"Biar enak dicatet aja" Mama mengeluarkan kertas dan menulisnya.


"Nih" Mama menyodorkan kertas penuh daftar belanjaan.


note : guys aku udah up cerita squelnya bara yang berjudul First Love Duda


dibaca ya