
Aku bukannya ingin mempersingkat cerita ini agar cepat tamat. Tidak, karena aku menceritakan bagian diriku sendiri, apa yang aku ketahui, kalau harus menceritakan yang bukan bagian ku, itu bukan kuasaku. Seperti mungkin menjelaskan perasaan Saga padaku, karena jujur sampai detik ini aku masih penasaran dengan cinta nya.
Sampai disini, kalau kalian ingin mendengar ceritaku lagi, mari membacanya. Kalau tidak silahkan pergi diam diam jangan meninggalkan umpatan.
Kejadian kemarin dimana aku ditabrak oleh mobil, membuat ku tidak sadarkan diri hampir dua hari, kata Mama aku sempat koma. Mama tidak menjelaskan kondisiku. Mungkin Mama tidak ingin aku terluka.
Aku siuman setelah dirawat di rumah sakit Charitas Palembang. Mama Papa sudah ada disini, mereka menggenggam tanganku bahkan ketika aku tersadar.
Aku terbangun, mendengar suara isakan tangis dari Mama, merasakan tanganku digenggam oleh seseorang dengan kuat. Merasakan ada setetes air yang mengenai punggung tanganku.
Tanganku kugerakan pelan pelan. Merasakan kembali bahwa organ tubuhku masih lengkap, meski aku masih terpejam atau sudah membuka mata, aku tidak tahu karena yang kutemui saat itu hanya kegelapan.
Kugerakan jari jemari kakiku, kugerakan kepalaku, syukurlah semua organ ku masih utuh.
"Vanda, kamu sadar nak" Mama mengusap wajahku, sepertinya tengah memastikan apakah gerakan ku tadi hanya gerakan orang koma atau memang aku sudah sadar.
Meski sedikit kaku. Aku mencoba untuk membuka suara.
"Ma gelap" hanya itu yang bisa ku ucapkan
Aku tidak bisa melihat apapun disini, bahkan melihat wajah Mama. Semuanya gelap, atau aku yang beum membuka mataku.
"Kamu bilang apa, disini terang" kata Mama histeris "Jangan main main Vanda" kata Mama sudah dengan isakan nya
"Vanda gak bohong Ma, gelap, Vanda gak bisa lihat apa apa" kataku mencoba meraba begitu Mama melepaskan genggamannya.
Aku tidak ingin mengatakan bahwa aku sedang takut saat itu, meski sebenarnya aku ketakutan. Aku takut tidak bisa melihat lagi, aku takut bahwa aku harus kehilangan cahaya .
"Buka matamu" kata Mama menangkup wajahku
Oh ternyata aku belum membuka mata tadi, batinku mulai bisa melega. Aku menutup mata dan kukedipkan berkali kali. Kalau aku tengah berkedip itu artinya aku sudah membuka kelopak mataku.
Seketika itu, begitu menyadari kalau aku menggerakkan bola mata dan mengedipkan mata membuatku takut. Bahkan aku sudah menangis. Tidak tahu tangisku menghasilkan air mata atau tidak
"Mama" aku menangis sesegukan
"Ada apa Vanda?" Suara berat Papa terdengar
"Vanda takut, gelap pa gelap" suara ku tercekat. Amat sangat berat sampai papa berteriak memanggil dokter dan suster untuk mengecek kondisiku.
Aku hanya bisa merasakan, tangan seseorang memainkan kelopakku, hanya merasakan seseorang menempelkan benda dingin ke dadaku, tidak tahu apa yang tengah mereka perbuat dan tidak tahu diruangan ini ada siapa saja. Yang jelas aku masih menangis sambil memegang tangan Mama dengan kuat.
"Bagaimana?" Itu suara papaku yang berbicara.
Papa sedang berbicara dengan siapa? Ya Tuhan beginilah rasanya kehilangan dunia disaat sedang bernafas.
"Bisa kita bicara diruangan saya pak" suara berat dari lelaki itu tidak kukenali milik siapa, yang bisa kutebak, mungkin dia adalah dokter yang memeriksa ku barusan.
"Ma, Vanda takut" aku menggenggam tangan Mama amat kuat.
"Gak papa nak, ada Mama disini" nada suara Mama amat seperti benar benar terluka.
Kepala ku diusap oleh tangan seseorang yang lebih berat. Helaan nafas terdengar seperti penuh beban
"Gimana pa?" Tanya mama
Itu ternyata tangan papa, aku meraba papa. Dan papa meraih tanganku lalu kurasakan keningku basah oleh ciuman seseorang. Tidak itu ciuman papaku yang memiliki aroma khasnya.
"Vanda, Vanda yang kuat ya" suara wibawa seperti hilang berganti suara yang penuh dengan rasa kecewa.
"Ada apa pa?" Mama menimpali
"Vanda percaya sama papa kan?" kata papa membimbing tanganku untuk digenggam
Aku hanya bisa mengerakan kepala ku kebawah tanpa tahu ekspresi papa atau Mama
"Kata dokter" papa berhenti. Terdiam amat lama digantikan isakan dari seseorang "kata dokter" ulang papa seperti berat mengatakan nya "kata dokter Vanda gak bisa ngeliat lagi"
Papa terisak, mama pun langsung menangis histeris. Rasanya, aku kehilangan duniaku, rasanya hidupku sudah berakhir ketika mendengar kalimat papa.
"Papa jangan bohong sama Vanda" kataku melepaskan genggaman tangan papa "Vanda gak mau buta pa"
Sebentar, ketika menulis bagian ini aku menangis kembali. Rasanya dunia ku hancur ditengah tengah jalan ketika aku belum memulai sesuatu apa pun. Aku kehilangan masa depanku. Pikiranku hanya kenapa harus aku dari berpuluh puluh milyra manusia disini?.
"Vanda maafin papa"
Untuk apa papa meminta maaf, untuk apa papa menangis, untuk apa Mama harus terisak sambil memelukku. Semuanya sudah berakhir, aku kehilangan Mama papa, aku kehilangan duniaku.
Tapi aku tidak menangis, hanya diam merasakan betapa pedihnya semua ini, merasa belum percaya dan ini tidak nyata. Merasa bahwa ini hanya mimpi, nanti aku juga bangun kembali. Ini tidak nyata, tenang saja. Aku meneguhkan hatiku saat itu, berharap bahwa semua yang kukatakan untuk menguatkan diri sendiri akan terjadi.
Detik kelima dari kepercayaan ku runtuh begitu aku mendengar suara Saga. Aku menangis sampai histeris, mengingat bahwa aku juga akan kehilangan Saga.
"Vanda" panggil Saga
Aku masih ingat suara Saga bahkan sampai saat ini, ketika dia memanggilku sehangat itu.
"Hiks hiks" aku tidak bisa membendung tangisku, aku menangis amat kencang, sesegukan dan memukul dadaku.
Mama memelukku, menenangkan ku sebisanya. Seperti pelukannya mengatakan bahwa tidak apa apa Vanda semua akan baik baik saja.
"Vanda. Hey, tidak apa apa sayang, kita masih bisa cari donor mata untuk kamu" papa mengusap wajahku, menangkup kepalaku untuk menguatkan.
Aku tidak bisa berhenti barang untuk bernafas, aku tidak bisa menghentikan tangisku. Aku ingin menangis, rasanya begitu berat kehilangan semuanya. Semua yang ku anggap dunia. Aku tidak akan lagi melihat wajah Mama saat marah, melihat ketawa papa, melihat tawa Micky tanpa suara, melihat tatapan Saga dan merasakan membeci wajah itu karena harus menatapnya.
Aku kehilangan semua, duniaku sudah hancur saat itu. Kenapa aku tidak mati saja jika harus mendengarkan suara suara saja?, hidup di dunia yang hanya penuh suara tanpa tahu gambarannya. Kenapa Tuhan hanya melakukan ini padaku?
Saga, aku kehilanganmu. Baik kehilangan untuk mendapatkan hati atau kehilangan kesempatan untuk menatapmu, Saga, semuanya sudah berakhir, kamu tidak akan bisa kumiliki ataupun kamu harus memilih tinggal disini bersama orang buta yang tidak bisa melihat apa apa, semuanya usai Saga, semuanya sudah tamat Saga. Semuanya sudah berakhir Saga.