
"Ma, Mama, " sedari tadi aku memanggil mama namun tidak ada sahutan dari Mama "ma Vanda haus ma" kataku.
Kupilih untuk mencari tongkat dan berjalan kearah dispenser, setahuku Mama meletakkan gelas plastik disebelah sini, kuraba raba dan kutemukan gelas. Aku mencari mana yang air dingin dan panas, saat kutekan yang muncul ternyata air panas dan itu berhasil mengenai tanganku
"Aw" rintihku kesakitan
Aroma mint itu tercium kembali, perlahan aroma semakin kuat, lalu kudengar suara air yang keluar dari dispenser.
"Nih minumnya" suara Saga yang beberapa hari ini tidak kudengar kembali kudengar lagi.
"Makasih"kataku menerima gelas dan langsung kuteguk
"Tahu Mama gue dimana?"
"Tante lagi keluar bentar, katanya mau belanja bulanan" ucap Saga "Lo udah makan?"
Aku terdiam sangat lama "udah" jawabku
Sruk
Tiba tiba Saga langsung memelukku, dipeluknya aku dengan kuat. Dia memelukku, memeluk dengan kekuatannya. Bahkan aku sulit untuk melepaskan pelukan Saga.
"Saga lepasin" kata ku meronta
"Sebentar Vanda, kayak gini bentar aja" katanya meminta dengan nada suara lirih
Mendengar itu entah kenapa hatiku luluh. Aliran darahku menghangat. Mendengarkan suara nafas Saga memang adalah hal yang terbaik, berada di pelukannya memang hal yang nyaman.
"Lo tahukan kalau gue sayang elo"katanya lirih masih memelukku "Gue mau pergi main main bentar"
Aku tidak paham saat itu kemana arah pembicaraan Saga, yang kuketahui dia terdengar memintaku untuk menyemangatinya.
"Lo mau kemana?" Tanyaku meski ragu
Saga menghela nafas sekali lagi "Buat nunjukin kalau gue gak cemen" dia mengecup pipiku, lalu puncak kepala
"Saga, Lo mau kemana?" Tanyaku sekali lagi
Karena entah kenapa malam itu aku merasa takut kalau Saga pergi, aku merasa bahwa Saga akan pergi jauh, nadanya terdengar seperti oranga aneh hari ini.
"Gue gak kemana mana" dia masih memelukku, dan saat dia berkata seperti tadi aku mengencangkan pelukanku.
Ada suara deheman dari belakang, buru buru ku lepaskan pelukan Saga.
"Sorry gue ganggu" itu suara Micky dan entah kenapa saat mendengar suara itu rasanya hatiku bergemetar, aku takut kalau Micky marah.
"Vanda, gue bawain salad buah sama kue buatan Mama gue" katanya "gue pamit pulang"
"Micky bentar" aku berjalan dan tidak ada sahutan dari Micky kecuali jari kelingking ku menabrak sesuatu benda keras.
Aku terjatuh dan meringis kesakitan. "Gak usah dikejar Vanda" kata Saga sudah Menaik
"Lepasin" aku menepis tangan Saga "Gue mau ngejar Micky"
Namun sia sia saja, motor Micky perlahan menjauh, di sudah pergi, mungkin kecewa denganku.
"Huh" aku menghela nafas kecewa. Aku takut Micky terluka melihat kami berpelukan tadi, meskipun aku tidak memiliki perasaan dengannya.
"Besok dia pasti balik lagi" kata Saga membimbingku berdiri
"Tahu dari mana kalau Micky bakal balik ke sini"
Aku dibimbibingnya duduk di sofa, dan saat aku sudah duduk, tangannya memeriksa kaki kelingkingku.
"Tahu, karena dia gak bakal bisa jauh dari elo" suara Saga terdengar tidak iklas karena nadanya seperti orang malas membahas Micky.
Yah aku tahu mereka tidak memiliki hubungan baik, tapi setidaknya Saga bisa menahan kalau di dekatku, seperti Micky, Micky memang membenci Saga tapi dia memilih tidak ingin membahas mengenai Saga daripada membahasnya dengan nada sejelek itu. Entah kenapa aku jadi kecewa dengan Saga.
Sialan !!
"Kelingking Lo gak papa?" Tanyanya
"Gak papa, udah mendingan juga" ujar ku berusaha menepis tangannya namun gagal karena tangan Saga langsung meraih ku dengan lembut.
"Mama pulang jam berapa?"
"Gak tahu, Tante tadi gak bilang mengenai jam pulang" Saga duduk disebelahku, terasa dari goyangan sofa.
Kami terdiam, sangat lama karena saat ini sejujurnya aku tidak sedang memikirkan mengenai alsan diam nya kami, aku justru memikirkan mengenai Saga dan Micky, harus seperti apa aku menjauhi Saga?, harus seperti apa aku memperlakukan Saga? . Jujur aku pun ingin berbaikan dengan Saga, tapi aku menjaga hatinya Micky, bagaimanapun dia orang yang banyak membantuku. Dan aku tahu mengenai perasaanya padaku . Setidaknya kalau aku tidak menerimanya aku bisa menjaga jarak dengan Saga.
"Untuk apa?"
"Semuanya" dia menjeda kalimatnya. Amat lama "semuanya yang pernah ngebuat elo terluka karena sikap gue"
Aku terdiam, baru meminta maaf setelah luka ku sudah hampir membusuk.
"Gue boleh nanya?"
"Silahkan" katanya lirih
"Gue, dihidup elo sebagai apa?" Tanyaku untuk kesekian kalinya.
Saga terdiam, seperti biasa, dia bingung dengan perasaannya, seperti biasa dia tengah berfikir kalimat apa yang akan dia gunakan untuk membodohi ku
"Gue sayang elo Vanda" Saga memelukku
"Gue butuh kejelasan, gue sebagai apa dihidup elo?"
"Lo maunya apa?" Saga melepaskan pelukanku
Kenapa dia bertanya mau ku apa, apa dia tidak paham dengan perasaannya padaku selama ini.
"Lo mau jadi pacar gue?" Tanyanya
Saga, kenapa kamu baru bertanya sekarang, kenapa disaat aku tidak bisa melihat ekspresi wajah mu batu sekarang kamu menayaiku. Aku terdiam, sangat lama.
Haruskan aku menerima nya disaat aku tidak mampu berbuat apa apa, jangankan berbuat apa apa, melangkah kearah depan pun aku tidak bisa. Bagaimana untuk menjadi pacar Saga yang penuh pesona , orang buta seperti ku apa bisa.
"Gue gak bisa" kataku menahan tangis
"Kenapa?"
"Gue buta Saga, gue gak bisa ngeliat apa apa"
"Tapi hati Lo gak buta Vanda" kata Saga memegang bahuku "Vanda gue gak peduli sama keadaan elo, gue sayang sama elo"
"Tetep gak bisa" aku melepaskan cekalan dibahu
"Lo sayang gue kan?" Tanyanya
Aku tidak bisa menjawab, rasanya berdosa saja kalau aku berkata menyayangi Saga sedangkan Micky sudah berkorban sebanyak itu untukku.
"Vanda" Saga memanggilku untuk meminta jawaban
"Gak tahu" aku menjawabnya dengan nada cuek
"Lo sayang Micky?" Tanyanya
Mendengar itu aku tersentak, aku tidak menyayanginya, demi Tuhan. Sama sekali tidak, tapi aku menjaga perasaannya.
"Gue anggap jawaban elo iya"
"Saga" aku memanggilnya dengan suara menaik
"Apa?" Dia ikutan Menaik
"Gue gak suka Micky"pertegas ku
"Terus Lo suka siapa?" Nada Saga berubah menurun kembali
"Elo" jawabku lirih
Saga menangkup pipiku. Lalu mencium bibirku dengan lembut, amat lembut sampai aku harus berpegangan pada bajunya.
Munafik kalau aku bilang tidak menikmati ciuman kami, karena nyatanya aku semakin erat memeluknya.
Hari itu rasanya aku tidak mau kehilangan Saga, benar benar tidak ingin karena aku menangis saat Saga berpamitan akan pulang ketika Mama datang. Aku merasa sudah lengkap hari itu, Saga sudah membuatku merasa lengkap.
Aku merasa sudah menemukan kembali duniaku yang sempat hilang, hari itu kata Saga membisikan kalimat di telingaku seolah seperti dia sudah menemukan dunia ku yang sempat hilang.
"Hari ini kita resmi pacaran" bisiknya saat itu "gue sayang elo" katanya
Hari itu, suara Saga seperti terus terngiang di ingatanku, seperti terus terdengar ditelingaku, dan aromanya tertinggal di tubuhku.
Aku mencintai Saga. Baik dirinya dan baik mencintai ciuman kami.
Aku tidak akan munafik lagi, ya aku wanita murahan tapi hanya untuk orang orang yang kucintai, seperti Saga.