
Hari Senin dimulai dengan upacara, kali ini petugasnya dari kelas Micky. Lelaki menyebalkan yang selalu ajaib dengan ulahnya, dia datang terlambat saat pemimpin upacara sudah memasuki lapangan. Hebatnya dia bisa menyeludup ke barisan kelasnya di bagian belakang.
Aku menatap bagian kiri, dimana kelas Saga yang hanya berjarak beberapa baris dari kelasku. Ujian sudah selesai, sebelum melakukan Clas meting atau pertandingan, sekolahan ku melaksanakan upacara dulu.
Saga terlihat menatap barisan depan tanpa menatapku, kemudian dia tersenyum miring kala mendengar ucapan Yogi. Ada yang lucu mungkin.
Untungnya kami sebaris jadi aku tidak perlu ketahuan untuk menatap Saga diam diam. Saga tertawa lebar sambil mengepalkan tangannya untuk menutupi mulut ketika tertawa. Bibir tipis itu bercakap sekilas dengan Yogi. Lalu keduanya menatapku bersamaan. Saat itu aku kelabakan, seolah baru saja ditangkap maling. Aku mengalihkan arah pandang secepat kilat ke barisan kelas Micky yang bersiap menyanyikan lagu Indonesia raya.
Micky yang tinggi baris dibelakang, dengan seragam SMA yang di masukan secara asal asalan, belum lagi dasi yang tidak diikat dengan benar. Topi tegak khasnya sehingga rambut menjulai kedepan, alis tebal yang terangkat sebelas, mata sipit, Kulit putih. Dia menoleh ke arahku, lalu tersenyum.
"Hiduplah Indonesia raya" aba aba Dirigen atau konduktor (terserah kalian menyebutnya apa)
Pada nyanyian pertama sampai bendera ditengah tiang, suasana masih normal. Tidak ada tanda tanda Micky akan membuat ulah. Pada ujung tiang, saat bendera benar benar berkibar. Semua barisan dibuat tertawa oleh suara Micky yang menambahkan syair lagu.
"Indonesia raya tetet tuet" teriak Micky lantang susuai nada
"Merdeka merdeka tetet tuet"
Dia benar benar mengatakan itu seolah menikmatinya bersama Rio. Bahkan mereka nampak senang, suatu hiburan tersendiri untuk Senin yang membosankan.
"Berhenti" himbau pembina upacara.
"Micky dan Rio silahkan kalian berdiri ditengah lapangan" titah pembina.
Micky dan Rio saling pandang lalu berjalan ketengah tengah lapangan tanpa ragu.
"Teman kalian ini baru saja menghina lagu Indonesia raya, menangis sudah pahlawan kita yang memperjuangkan Indonesia untuk merdeka, jika anak bangsanya seperti ini. Kalian tahu Soekarno , mati matian merebut Indonesia dari penjajah, kalian ini tinggal berdiri mengibarkan bendera merah putih saja masih grasa grusuk, gak jelas berdirinya " pak Winu selaku wali kelas Micky dan juga guru sejarah memulai amanatnya.
Pengibar bendera selesai mengikat tali bendera, mereka masih pada posisi semula, tidak mau bergerak sampai pak Winu memerintahkan mereka.
"Wange Rudolf Soepratman menangis denger lagunya dimainkan saat pengibaran bendera. Teman kalian ini yang hanya menyanyikan lagu Indonesia raya justru menambahkan tetet tuet di syairnya, kalian fikir ini lagu tik tok apa?" teriak pak Winu menggebu gebu mengalahkan menyuarakan proklamasi.
"Mulai deh tu ngungkit sejarahnya " cicit Sofia mengibaskan rambut karena panas.
"Waktu, waktu, pak, waktu" cicit pelan Ari.
Semua memang tidak suka jika pembina upacara pak Winu, semua sejarah Indonesia yang seharusnya tidak di pidatokan di pengibaran bendera justru di pidatokan dan membuat jam upacara semakin panjang.
"Sebel banget gue sama Micky, udah tahu panas malah bikin ulah" tukas ku.
"Gue udah sebel sama dia dari lama Van" kata Dian menimpali.
"Sejak masa penjajahan Belanda gue udah eneg sama dia" tambahnya menggebu.
"Nah si badak ikutan ngasih ceramah sejarah, masuk IPS sono biar mendalami ilmu sejarah" gerutu Sofia.
"Biar gak bisa move on sama masa lalu hahaha" tawa Sofia tertahan
"Sssttt dengerin pak Winu ngasih pidato, kalian diem" bentak Nurul yang seketika membuat kami kicep.
Diam diam saat kutoleh kearah Saga, lelaki itu juga menatapku, tapi kali ini tatapannya membuat senyum ku memudar dan berubah menjadi raut kesal.
Pak Winu selesai memberi pidato lalu pelaksanaan upacara dilanjutkan. Micky masih berdiri, terpampang sinar matahari yang membuat seragam putihnya sedikit basah oleh keringat.
Pada amanat upacara pak Winu tidak memberi banyak pidato,mungkin semua materi pidato yang sudah dia hafalkan semalaman sudah keluar untuk memarahi Micky.
Upacara selesai pukul sembilan, molor gara gara ulah Micky.
"Sialll tu Micky nambah durasi upacara makin panjang" maki Dian saat di kelas.
Aku mengambil kipas mini, langsung kupencet dan ku kipaskan ketubuhku.
"Busyet Van, adem banget liat elu bawa kipas gituan " Sofia langsung merebut kipas ku.
"Yeee makanya beli. Duit abis buat beli kaset India sih" cacitku.
"Van, elo masih marah sama Saga?"
"Apa sih elo, udah tahu temennya gedeg sama si Saga malah ditanyain begituan" seloroh Sofia tajam
"Enggak, maksud gue, si Saga mungkin punya alasan lain buat ngelakuin itu" jelas Dian yang membuatku menatap matanya.
"Alasan apa?" Ucapku membuat Dian langsung terdiam "alasan karena dimata dia gue cewek murahan"
"Gak gitu Van. Maksud gue _"
"Udah lah Yan, gue tahu kok selama ini elo dukung Saga diam diam. Gue tahu elo pacarnya Yogi. Tapi masalah gue sama Saga ,elo bisa gak, gak usah ikut campur" tukas ku sebal pada Dian.
Aku bangkit dan berjalan keluar, ketika didepan pintu Aliya dengan sengaja menabrak bahuku. Hampir saja terjatuh andai tidak ada Micky yang menyangga bahuku dengan tangannya.
"Punya mata gak sih !!!" Makiku
Seluruh siswa siswi yang ada di koridor menatap kearah kami. Ya tentu, berita tentang aku dan Saga cukup populer Minggu kemarin dan berita Saga dengan Aliya populer Minggu ini.
Aliya berkacak pinggang dengan sombong
"Cewek murahan sekarang makin ngelunjak ya, pura pura baik didepan umum taunya busuk" ujar Aliya yang tidak ku mengerti.
Aku menatap Aliya tanpa kerutan dahi.
"Maksud elo apa?" Tanya ku yang merasa tersindir oleh ucapannya.
Mungkinkah Aliya tahu tentang ciumanku dan Saga, atau Saga menceritakan hal yang bukan bukan tentang diriku.
"Udah lah Van, gak usah sok suci elo sekarang, berita elo yang mau tidur sama siapa aja udah jadi trending dimana mana" kata Aliya dengan soknya, bahkan dia menabrak bahuku.
"Al. Lo bisa gak jaga mulut elo" bela Micky.
"Diem Mick, ini urusan cewek" bentak Aliya menunjuk Micky dengan jarinya.
Tidak ada yang membela ku saat itu. Atau mencoba menghentikan Aliya, Micky diam karena dia tahu semakin dia berusaha menghentikan Aliya, gadis didepan ku ini akan semakin menjadi jadi.
"Munafik banget si Van elo jadi cewek, mau di cium sana sini. Mau diajak tidur sana sini"
Aku menggenggam erat tanganku.
"Tau apa elo tentang gue, tau apa? " Teriak ku.
"Udah Al, Lo makin kesini makin kelewatan tau gak" Micky menarik tangan Aliya dan mengajak nya pergi.
Sedangkan aku, aku terpaku oleh ucapan Aliya. Saga benar benar brengsek.
Aku berlari mencari Saga, mencarinya bahkan diujung dunia sekalipun, aku menemukan Saga diruang OSIS dengan anggotanya. Kuterobos masuk lalu menarik kerah Saga.
"Brengsek elo ya" makiku.
Reaksi Saga saat itu hanya, heran dan bingung, dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Ada apa Van?" Tanyanya dengan nada suara lembut
Plaakkkkk
"Lo orang paling brengsek yang pernah gue temuin Sag, gue nyesel, nyesel pernah kenal sama elo" ucapku bergegas pergi.
Demi Tuhan Saga , aku membencimu, demi Tuhan, caramu memperlakukanku sungguh hebat, aku membencimu Saga, demi Tuhan.
**kalian tim mana, Saga Yogi atau Micky Rio
**