ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Dua puluh satu



"kenapa sih, maen pergi gitu aja?" Tanya Saga.


Aku menyesap es teh pesanan. Tanpa menoleh ke Saga aku menjawab dengan nada sinis "panas aja jadi mudah emosi"


Saga menyangga dagunya, dia menatapku, menatap sangat lekat sampai aku risih karena itu.


"Jangan ngeliatin gitu ah, gue gak suka diliatin" kataku.


"Salting?" Saga menaikan turunkan alisnya "Lo beneran jutek sama Ardan?"


"Enggak, dia aja yang terlalu lembut makanya kaget denger nada bicara gue" kilahku


"Iya kah?" Saga mengetuk jari jemari diatas meja "gue kira elo beneran galak sama Ardan"


"Emangnya kenapa kalau gue galak sama dia?" Akhirnya aku menatap wajah Saga


"Gak papa, lucu aja liat elo marah" kata Saga sambil tersenyum


"Sag Saga" panggilan dari seseorang membuat kami menoleh "pak Ishak udah selesai, kesana gih, dia di kantor" Doni menatap kearah Saga kemudian menatapku meski hanya sekilas.


"Oke, Lo duluan aja, nanti gue nyusul" kata Saga.


Doni lebih dulu pergi sedangkan Saga justru menyesap es tehnya sambil menatapku.


"Lo tunggu sini ya, gue cuman bentar nemuin pak Ishak" kata Saga menjelaskan "atau elo mau ikut?"


Aku menimang nimang, kalau ikut Saga akan garing didalam ruangan mendengarkan ocehan mereka yang tidak aku pahami sama sekali.


"Disini aja deh" kataku.


"Yaudah gue kesana bentar ya" Saga berjalan pergi lalu kembali lagi dan membisikan satu kalimat yang membuatku merinding.


"Jangan jutek jutek sama cowok, dulu ada cewek yang jutek terus mati di gantung di pohon itu" Saga menunjuk kearah pohon beringin yang rindang di samping kantin.


"Ih Saga" aku memukul perutnya.


Dia terkekeh dan pergi.


Kepergian Saga membuat aku terdiam mematung, kantin yang sepi seketika membuat takut.


"Eh Saga kemana?"


Greb


Tanpa sengaja aku menumpahkan es teh punyaku. Sampai sebagai airnya mengenai rok abu abu.


"Lo ngagetin aja sih" decak ku pada Gebby yang masih mematung dengan cengirannya.


"Sorry, aku gak tahu kalau kamu kagetan" kata Gebby menjelaskan. "Saga mana?" Tanyanya


"Nemuin pak_pak" tiba tiba aku lupa nama yang disebutkan Saga tadi "pak siapa ya, gue lupa" tukasku.


"Yah padahal gue mau nyusulin" Gebby duduk disebelahku


Syukur deh kalau aku lupa bisa bikin Gebby duduk disebelahku tanpa mengejar Saga.


"Kamu pindahan dari mana?" Tanya Gebby padaku.


Aku menoleh nya, bibir kecil tipis dengan baju kebesaran dan kulit putih pucat itu kurasa sangat cerewet.


"Jakarta" jawabku singkat.


"Sama dong kayak Saga"


Aku menoleh nya saat Gebby menyebutkan kalau Saga juga pindahan dari Jakarta. Sebanyak apa Gebby tahu mengenai Saga?


"Lo kok tahu kalau Saga pindahan dari Jakarta?"


"Ha ha" Gebby tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan "dulu pernah pacaran sama dia"


Mendengar itu aku memutar bola mata malas. Sebenarnya aku ingin menjawab "udah tahu gak usah ngomong lagi deh" tapi diam itu lebih baik kayaknya.


"Bdw elo kelas berapa?"


"Kelas dua" jawabku jutek.


"Sekelas sama Saga, atau kelas IPS?"


Kayaknya diam itu hal yang tidak bisa Gebby lakukan deh.


"Gak sekelas, gue kelas IPA 1"


Gebby mangut mangut "anak OSIS?" Tanya nya lagi.


Aku mendegus, cape Tuhan menjawab pertanyaan manusia kecil kayak Gebby ini .


"Bukan"


"Lho kok bisa sama Saga kesininya?"


"He he enggak sih" Gebby mengusap tekuknya.


"Udah Van, balik yuk"


Suara Saga akhirnya terdengar, aku menoleh kearahnya lalu jatuh pada wajah Gebby yang langsung cerah ketika melihat Saga.


"Eh ada kurcaci disini" ledek Saga pada Gebby.


Gebby bersungut lalu menendang kaki Saga yang hanya di reaksikan dengan cengiran saja oleh Saga


"Enak aja kurcaci, gini gini pernah mengibarkan bendera merah putih di kecamatan" kata Gebby.


"Iya elo kan paling pendek serombongan dulu" Saga tertawa setelah mengucapkan kalimat itu.


"Pulang yuk" kata ku memilih menyudahi obrolan mereka.


Gebby maupun Saga menoleh ke arahku.


"Ayok" kata Saga.


"Balik dulu ya ci" Saga mengusap rambut Gebby.


Aku lebih dulu berjalan tanpa mengatakan apa apa pada Gebby.


"Tungguin Vanda" Saga menarik tasku sehingga aku mundur kebelakang.


"Jangan tarik tarik ih" ujarku kesal.


Saga hanya menyikapi dengan tawanya. Entah kenapa tidak suka saja jika Saga berdekatan dengan wanita lain.


Diparkiran, Saga sudah bersiap duduk di atas motor. Aku menatapnya tidak langsung naik hanya menatapnya saja.


"Naik gih, kenapa berdiri aja disitu?" Tanya Saga .


"Lo sama Gebby ada hubungan apa?" Tanya ku.


Saga memutar matanya mencoba mengingat. Atau mencoba menimang untuk menjawab pertanyaan ku atau tidak.


"Pernah pacaran dulu" kata Saga akhirnya.


Aku menghela nafas berat, yang kukira akan disadari oleh Saga ternyata tidak. Saga justru menepuk jok belakang untuk meminta naik keatas motor.


"Naik, keburu kantor posnya tutup"


Akhirnya aku naik keatas motor, memegang pinggang Saga.


Saga terlalu pintar menutupi semuanya menurutku, tentang pertengkaran nya dengan Micky, kepindahannya dari Jakarta atau hubungannya antara Aliya dan Gebby.


Kami tidak berbicara apa apa selama diatas motor, duduk diam tanpa berinteraksi lebih. Sampai didepan kantor pos, Saga membelokan motornya.


Aku langsung turun bahkan saat dia belum mengatakan apa apa. Aku turun dan berjalan masuk kedalam kantor pos. Kukira kantor pos disini cukup besar ternyata hanya ada satu meja yang dibuat tinggi dengan beberapa kursi tunggu warna oranye di depan.


"Mbak mau ambil paket" ucapku.


Wanita yang lebih tua dari ku langsung berdiri tegap, dengan penuh senyum menatapku.


"Atas nama siapa mbak?" Tanyanya dengan ramah.


"Vanda Adelien"


"Tunggu sebentar ya" dia berjalan pergi entah kemana. Tapi beberapa saat sudah membawa paketan besar yang disodorkan padaku.


"Biaya pengambilannya lima ribu rupiah" katanya.


Aku merogoh saku, lalu memberikan uang itu padanya. Sambil membawa paketan yang entah isinya apa aku dengan lirih mengumpati Kayla.


"Gak mikir mikir anak ini ngirim paket" ujarku.


"Gede amat" kurasa itu adalah protestan pertama kali dari Saga.


"Gak tau nih, Kayla gak bilang kalau paketnya besar"


Saga masih menatapku dengan paket besar ditangan tanpa memintaku naik. Tangannya bergerak untuk mengambil alih paket yang ada ditanganku.


"Tarok depan aja ya, naik coba" dia memintaku naik agar bisa membawa paket yang dikirim Kayla.


"Pegangan" titah Saga.


Aku menurut tapi hanya memegang pinggangnya tanpa memeluk Saga.


"Kayak gini Vanda"


Saga menarik tanganku untuk lebih mendekat, sampai kurasakan tubuhku benar benar menempel pada punggung Saga. Merasakan kehangatan lelaki itu yang membuat kumpulan kupu kupu meronta untuk keluar.


"Sambil megangin paketnya"


Aku justru tidak benar benar fokus pada ucapan Saga, malah terfokus pada aroma lelaki itu yang memabukan.