
Kami terus berjalan, kearah kelas IPS yang ada dibawah, tanpa sorot lampu sama sekali. aku berjalan dengan pelan, bahkan tidak ada orang dibelakangku sama sekali. Aku tidak tahu dimana Saga, dimana Micky, Nurul, Dian atau Sofia. Semuanya gelap, bahkan beberapa kali kaki ku harus menendang akar yang menimbul ketanah.
"Jongkok dek jongkok" teriakan lantang yang gagah itu, aku tahu siapa. Itu suara Saga dengan pengeras suara.
Kami duduk jongkok sambil berjalan. Betisku beberapa kali harus tergores oleh ranting pohon, beberapa kali harus terkena rumput rumput yang gatal.
Ada seseorang yang berjalan dibelakangku, itu bukan hantu karena dia menggunakan seragam Pramuka.
"Hitung ada berapa temanmu" teriak Saga lagi.
"Berhitung mulai" suara Dicky yang terpilih sebagai pemimpin barisan depan mulai mengangkat tangan kiri sambil menghitung.
"Satu" kata Dicky lantang.
Dua, tiga dan seterusnya disebutkan sampai pada giliranku.
"Inget Dik berapa jumlah temanmu, kalau ada yang hilang satu, kalian harus mencarinya" titah Saga.
"Jalan terus"
Kami melanjutkan perjalanan sesuai dengan perintah. Masih duduk jongkok sambil terus menghafalkan Tri Satya dan dasa darma.
"Berdiri" kali ini sudah berganti suara dengan suara perempuan. Entah Saga kemana, panitia yang berdiri di belakangku juga sudah pergi.
Kami berjalan kearah tanah yang tidak rata, jadi ketika menurut agak repot karena kadang tanganku terlepas dari bahu Eva.
Sluutt
Tanganku ditarik seseorang kearah samping, aku hampir memekik kalau saja dia tidak menutup mulutku dengan tangannya. Aku sudah ketakutan, saat ku buka mata, Saga tengah menatapku.
"Ssttt, gue Saga" ujar nya lirih.
"Sag, kita ngapain disini?" Aku takut apalagi saat Saga sengaja meniup lilin yang kubawah.
"Elo yang akan jadi target pencarian mereka" Saga menarik tanganku untuk menjauh "ikut gue"
Aku menahan tarikan Saga "bentar" kataku mulai takut
"Elo bukan hantu yang menjelma jadi Saga kan?" Aku bertanya seperti itu untuk was was, karena seperti film film yang sering kutonton, banyak adegan seperti ini yang berujung kematian.
"Van, ini gue Saga" dia menghidupkan senter ponselnya.
Mengarahkan senter pada wajah tampan Saga.
"Saga kan?" Tanyanya
Aku mengangguk dan pasrah saat Saga membawaku pergi entah kemana, kami berhenti ketika berada di depan kelas IPS 3. Saga membuka kelas itu menggunakan kunci yang dia bawa.
"Gelap Sag, gue takut" kataku merengek sambil mengencangkan pegangan.
"Udah tenang aja, gak ada apa apa kok" kata Saga menenangkan.
"Jadi ceritanya gue hilang gitu?" Tanya ku saat mulai duduk di meja guru. Saga masih berdiri sambil mengetik sebuah pesan di ponselnya.
"Iya, karena elo anak baru yang gak mereka kenal. Otomatis susah nyari elo" Saga menatapku "gue udah kirim pesan ke panitia yang lain, mereka akan siap siap buat nyuruh Dicky berhitung"
Saga menarik kursi guru dan duduk di depanku. Aku kikuk, apalagi duduk berhadapan seperti ini.
"Lo penakut juga ya?" Saga memajukan tubuhnya, sehingga tangannya bersentuhan dengan pinggiran pahaku. Kakiku tidak mampu bergerak, aku duduk diatas meja guru sedangkan Saga duduk di kursi.
"Eng_gak juga" aku mengalihkan pandangan.
"Ngobrol apa aja tadi sama Micky?"
Aku menoleh kearah Saga saat lelaki itu tersenyum kearah ku.
Drrt drttt
Saga mengecek ponselnya, lalu mematikan senter di ponsel yang seketika membuatku langsung berteriak.
"Sstt" saat ini yang aku rasakan hanyalah deru nafas Saga mengenai wajahku.
"Mereka udah nyari Lo" bisik Saga.
Aku terdiam, memegangi seragam lengan Saga dengan kuat, bahkan meremasnya. Nafas Saga benar benar mengenai kulit pipi, jantungku berdegup.
"Van, Vandaa" panggilan dari luar membuat ku semakin kicep.
"Vanda" Saga memanggilku sambil berbisik
Aku mengangkat wajah, sehingga bisa menatap wajah Saga dalam sedekat ini. Tiba tiba Saga mendekatkan wajahnya ke arahku, dia menarik pinggangku untuk mendekatnya. Dan yang kurasakan adalah bibir Saga menyentuh bibirku, dia mengecup dengan lembut. Awalnya aku berniat menolaknya, tapi ciuman itu terasa sayang untuk di tolak.
Saga masih melumuti bibirku, mengabsen tiap deret gigi. Aku memukul dadanya karena kehabisan nafas, Saga melepaskan pungutanya, meski dahi kami masih bersatu. Aku mengambil nafas, menatap wajah Saga yang tersenyum tulus padaku. Dia mengecup ku lagi, kali ini aku membalasnya sedikit liar. Kukalungkan tanganku di tekuk Saga, ciuman kami semakin dalam ketika tanpa sengaja aku justru memundurkan tubuhku untuk tidur di atas meja.
Bodoh ! Aku malu andai saja ponsel Saga tidak berbunyi saat itu. Saga melepaskan ciuman kami tanpa tangannya terlepas dari pinggangku.
"Gimana?" Kata Saga dengan panggilannya.
"Oh iya, gue keluar"
Saga menatapku, mengecup sekali lagi bibir ku sedikit bruntal, lalu tersenyum dan menyeka air liur nya yang tertinggal di bibir dengan jari jempolnya.
"Balik yuk, anak anak udah dihukum" ajak Saga.
Seharusnya saat itu aku bertanya pada Saga, apa hubungan kami sampai kami berciuman seperti kekasih. Seharusnya aku menggunakan kesadaran ku saat itu untuk menolak ciuman Saga.
Tapi yang kulakukan adalah kebalikannya, aku mengikuti Saga dari belakang tanpa menolaknya. Aku menurut kemanapun langkah Saga.
Saga melepaskan gandengan kami saat sudah dekat dengan cahaya, dia berjalan sedikit cepat dibandingkan ku, mungkin biar orang tidak curiga dengan kami.
Kulihat peserta tengah dihukum dan ada yang sampai menangis.
"Vandaaaaaaaa" Halima memanggilku sambil berlari menuju ke arahku.
"Vanda aku kira kamu ilang beneran" katanya
Aku mengusap tekut, bingung harus berkata apa lagi. Aku dan Halima kembali di barisan regu, dengan pertanyaan yang langsung menghujaniku.
Setelah mendengar pesan pesan dari Aliya, dan beberapa senior Pramuka yang lain, aku dan teman setenda kembali ke tenda.
"Kamu tadi sembunyi dimana emang Van?" Tanya Halima yang berjalan bersisian denganku.
"Kelas IPS 3 "
"Kok tadi si Dicky kesana katanya gak ada orang"
Aku menoleh kearah Halimah "masak sih, aku ada disana"
"Ah yaudah lah, yang penting kamu udah ketemu" kata Halima lalu masuk kedalam tenda.
Saat aku hendak masuk, Dian menepuk bahu ku dari belakang.
"Ikut ke tenda kita yuk" ajak nya langsung menggandeng tangan.
"Kuy"
Kami berjalan kearah tenda Nurul, Sofia dan Dian. Ketika membuka pintu tenda, aku terkejut , mereka seperti pesta dengan banyak Snack, biskuit dan beberapa kaleng soda.
"Nah personil udah lengkap saatnya pesta" teriak Sofia tertahan.
"Sini Van duduk" Nurul menepuk alas tikar sebagai tanda memintaku duduk disebelahnya.
"Wah banyak banget makanannya?" Tanya ku
"Hasil ngerampok adek adek" Dian tertawa terbahak bahak sampai terbatuk oleh biskuitnya.