
Pukul dua, jam belajar sudah usai. Aku setengah kaget, kok cepet banget. Sedangkan kalau di Jakarta pukul empat.
"Dian kok kita pulangnya cepat?" Tanya ku disela sela memasukan buku paket yang diberikan Nurul.
"Enggak kok, emang kita pulang jam segini" jawab Dian juga fokus memasukan bukunya.
"Jam dua maksud kamu?"
"Iya, kita pulangnya jam dua, kalau hari Jum'at jam setengah dua belas. Jam satunya dilanjutin eskul Pramuka. Hari Sabtu jam setengah satu"
"Ha Sabtu masih sekolah?" Tanya ku menganga.
Karena di sekolahku sudah menerapkan full house, Dimana hari Sabtu dan Minggu itu diliburkan. Ya meskipun Sabtu masih ada kegiatan OSIS dan ekstrakulikuler lainnya.
Dian menggeleng "kita belum nerapin full house, paling baru semester depan"
Bagus, berarti enam hari berturut-turut aku akan di penjara didalam sekolahan yang panas dan tidak ada kipas angin ataupun ac.
Dian lebih dulu keluar, setelah berdada dan memberikan nomor ponselnya. Aku juga ikutan keluar, menggantungkan ransel di bahu. Sedari tadi papa sulit di hubungi, sinyalnya saja hanya ada satu.
Saat aku berada di koridor menuju gerbang. Aku berdecak. Waw. Mayoritas di sini semua siswa siswi menggunakan sepeda motor. Sehingga kepulan debu langsung terlihat jelas di depanku. Aku sampai terbaru batuk.
Ponsel ku bergetar, akhirnya papa menghubungiku.
"Pa, jemput Vanda" aku mengatakan itu hampir berteriak. Suara bising motor membuat takut papa tidak mendengar suaraku.
"Papa sekarang ada Polsek" ujar papa
"Ya udah terus kenapa?, jemput panda"
Kukira jarak Polsek ke sekolahan hanya beberapa meter atau kilo tidak sejauh yang akan papa jabarkan setelah ini
"Gak bisa , lama kalau mau jemput kamu" jawab papa masih terdengar santai "kamu tahu arah perbatasan jalan aspal dengan jalan berkerikil, naah papa diarah sana"
"Apa" teriak ku syok" terus Vanda pulang sama siapa dong?"
"Kalo papa jemput kamu, lama banget, setu jam an" pungkas papa.
"Aa terus Vanda pulang sama siapa?"
"Sama temen kamu" saran papa
"Vanda kan belum terlalu akrab sama temen baru Vanda. Kalo mereka berniat jahat gimana?"
Papa tertawa diujung seberang, sejurusnya suara papa terputus putus. Dan panggilan berakhir begitu saja. Aku berdecak saat melihat jaringan sialanku.
Didepan gerbang, agaknya sudah sepi, aku berjalan menuju gerbang, siapa tahu ada ojek atau angkot. Lima belas menit aku masih berdiri terpapar sinar matahari, mengharapkan ojek atau angkot disini sia sia. Jangankan angkot, satu buah mobil yang melintas saja jarang ku temui.
"Mau bareng?" Tawar Saga. Ingat di depanku ini Saga, meski tampang nya tampan tapi dia sudah menipu dengan mengatakan namanya Slamet.
Aku ragu, dia menawar untuk mangatarkan tapi tidak membawa kendaraan. Maksudnya mau digendong?
"Gak usah, terimakasih" jawabku
"Ya udah" ujar Saga "lagian kalo elo mau jadi penunggu disini juga gak masalah" Saga mencondongkan tubuhnya "gue kasih tahu, disini banyak harimau"
Dan dia berlalu pergi meninggalkanku. Ih bayangin harimau ngeri banget.
"Saga Saga, tungguin"
"Is" aku berdecak, mengikuti langkahnya saja sampai di parkiran motor.
Dia duduk diatas motor trail tinggi klx 250 warna hitam. Aku ternganga, ini motor yang sering digunakan Ajil saat di rute susah, trail ke gunung misalnya.
"Lo yakin nyuruh gue naik ini ?" Protes ku.
"Ya kalo gak mau, gak papa"
Saga membunyikan motornya.
Apa nih yang harus aku lakukan, tinggal disini sendirian, atau ikut Saga yang menggunakan motor tinggi dan sempit seperti ini. Saga mengeraskan bunyi motor, memberi gestur untuk naik ke belakang.
Aku menilik rok, rok ku adalah rok terpendek. Mini, kalau aku naik ini otomatis pahaku akan terekspos, seolah tahu Saga menstandarkan motornya. Dia mematikan mesin dan pergi meninggalkan aku, entah kemana dia.
Aku hanya menunggunya, saat ini percaya dengan Saga adalah keputusan terbaik. Saga kembali membawa jaket yang aku tidak tahu itu punya siapa.
"Nih pakek" dia melempar jaket itu sehingga aku menangkapnya kesusahan.
Aku mengikatnya di depan rok, agar kalau naik motor milik Saga pahaku tidak terekspos.
"Oh ya" saat Saga sudah berada diatas motor, dia menoleh "jaketnya besok Lo kembalikan di ruang OSIS, itu bukan punya gue" kata Saga tersenyum miring.
Dasar pelit , aku naik ke belakang, tidak memeluknya hanya memegang pada bagian punggung.
Entah sengaja atau tidak, tapi kurasa dia sengaja. Motor itu digas dengan sekali hentakan, sehingga aku hampir terjungkal ke bawah andai saja tidak segera berpegangan di pinggang Saga. Dia tertawa terbahak bahak, seolah lucu.
"Pegangan, Lo mau jadi hantu perawan" katanya.
"Brengsek" cicitku memukul punggung Saga keras.
Sejujurnya aku senang bisa memeluk Saga, lelaki tampan nomor satu di sekolahan ku.
Kami hanya diam, sesekali Saga membunyikan klakson untuk menyapa orang orang yang sedang melakukan aktifitas didepan rumahnya. Menyapa bapak bapak yang tengah mengambil rumput dengan sabit, menyapa ibu ibu yang berjualan didepan rumah. Atau menyapa teman Saga yang kebetulan didepan rumah.
Ternyata Saga seramah itu orangnya, disini tidak banyak orang yang berkendaraan menggunakan helm. Aku tidak tahu kenapa, yang jelas anak anak sekolahan juga tidak menggunakan helm, alasannya mungkin sederhana tidak ada polisi dan jalannya bukan jalan beraspal, hanya jalan dari kerikil atau tanah yang berlobang.
Saga mengantarkan sampai didepan rumah, aku turun, melepaskan jaket dan berniat memberikan nya pada Saga.
"Besok aja" kata Saga.
"Kenapa besok?" Tanya ku
Saga tidak menjawab, justru tersenyum dan memacu motornya pergi, sebelum itu dia membunyikan klakson, pergi dengan meninggalkan debu yang membuatku terbatuk batuk. Senang rasanya bisa pulang diantar saga.
Ketika aku masuk rumah, Mama sudang menonton televisi sambil tertawa. Tumben Mama ada dirumah saat aku pulang dari sekolah. Biasanya Mama masih kerja jam segini.
"Tumben dirumah?" Tanya ku saat menaiki undakan tangga.
Mama menoleh "memangnya Mama harus kemana? Disini gak ada mall, pasar aja gak tiap hari" gerutu Mama.
"Mama sih, udah Vanda bilangin, jangan mau kalo diajak papa pindah" ungkitku
"Kamu pulang sama siapa?" Mama tidak menjawab ucapanku, justru tertarik dengan siapa aku pulang.
"Saga" jawabku pergi tanpa mendengarkan pertanyaan Mama lagi.