
"Mama, telfonin papa suruh beliin aku kartu yang ada jaringannya disini" pekikku dari dalam kamar.
Mama tidak menyahut, kukira masih dibawah, rupanya mama sudah bergabung dengan ibu ibu untuk membeli sayuran keliling. Aku berdecak.
"Mama telfonin papa, suruh beliin aku kartu" pekikku di ambang pintu.
Mama serta ibu ibu di sana menoleh "telfon sendiri Vanda, handpone mama ada di atas meja" Mama balik berteriak.
Aku berjalan mencari ponsel Mama dan mengirimi papa pesan untuk meminta membelikan kartu perdana.
Karena Mama sibuk membeli sayuran , ponselnya ku bawa naik keatas. Aku mendial nomor Kayla. Selang dari sana suara Kayla terdengar.
"Halo Tante" dia masih belum tahu kalau aku yang menelponnya.
"Eh ini gue Vanda" bentakku.
"Busyet Lo bikin gue senam jantung aja" teriak Kayla diujung sana. Aku tertawa cekikikan.
"Mau tahu sesuatu gak?" Tanya ku kegirangan.
"Apa apa?" Kayla tak kalah antusias.
"Di sekolahan gue, ada siswa gantengggggg banget"
Aku membayangkan wajah Saga, saat lelaki itu tersenyum, saat lelaki itu menaikan alisnya.
"Sumpah lo, demi apa? Seganteng apa dia anjir?" tanya Kayla menggebu gebu
"Eh bdw elo gak sekolah apa?" Tanya ku pada Kayla yang suaranya masih terdengar keras tanpa beban
"Gue bolos he he"
"Hu dasar Lo"
"Terusin Vanda, kebiasaan deh kalo cerita suka nanggung nanggung"
"Eh iya gue lupa" aku tertawa cekikikan. "Namanya Saga Alvaro, dia ganteng radius dewa"
"Woooww"
"Dia ketua OSIS disekolahan gue"
"Eh anjir, seriusan lo Van, udah berasa baca cerita Wattpad aja gue" Kayla menarik nafas "tajir gak anaknya? Bawa mobil apa ke sekolahan? Pinter gak? Terus dia nakal, suka berantem, suka bolos sekolah tapi tetep juara satu gitu?" Tanya Kayla bertubi Tubi
"Busyet , lo lagi bikin tokoh novel, sempurna amat Bu" cicit ku. "Saga pinter, tapi bukan di akademik lebih ke non akademik. Gue denger denger sih dia jarang berantem, kalo kaya enggaknya, gue gak tahu"
"Eh tapi dia bawa motor KLX 250 yang harganya 70 an juta itu lho" tambahku
"Gila, kayak motornya cowok lo si Ajil itu?"
"Iya iya" aku menegakkan tubuhku, menimpa paha dengan bantal
"Dia playboy gak? Biasanya kalo cowok modelan dia, pasti playboy"
Aku tertawa "gak tahu soal itu, katanya sih dia naksir Aliya"
"Aliya? Siapa tuh, cakep gak?"
"Gue belum ketemu anaknya" jawabku.
"Busyet, Pepet aja udah si Sagu itu" ujar Kayla asal
"Saga bego" ralat ku "gue mikir mikir juga kali Kay mau Pepet dia. Gue udah punya Ajil"
Aku merubah posisi ku, sehingga kaki tepat dinding dan kepala menyender di atas kasur.
"Udahlah masalah Ajil mah gampang" Kayla cekikikan
"Enak aja gam___" ucapanku terhenti kala mama membuka pintu
"Eh Kay, udah dulu lanjut besok" aku langsung mematikan telfon.
"Pelit banget sih ma" cicitku menyerahkan ponsel ke mama
🚕🚕
Papa mengantar aku sampai depan gerbang, tidak masuk kedalam. Hari ini aku sudah menggunakan putih abu abu, menyimpan seragam SMA 1 JakPut dan mungkin akan terkenang sebagai kenangan indah.
Aku juga membawa jaket yang diberikan oleh Saga kemarin. Katanya kembalikan besok. Jadi sebelum pergi ke kelas aku pergi keruang OSIS. Sebenarnya tidak sepi karena ini pukul delapan lebih empat puluh lima menit.
Didepan ruangan OSIS aku tersentak saat melihat lelaki tinggi tampan yang tersenyum padaku. aku akui, ini tampan, mungkin urutan nomor dua setelah Saga.
"Hai" sapanya , aku mengangguk
"Lo anak baru itu ya?" dia tersenyum, senyum yang juga sama manisnya seperti Saga.
"Iya, elo siapa?" Tanya ku basa basi
"Kenalin Micky Handoko" dia mengulurkan tangan, mengajak berkenalan.
Aku mengangguk, menerima uluran itu dengan senang hati "Vanda Adelien" kataku.
"Nyari siapa?"
"Saga, Saganya ada?"
Aku mengutuk mulutku. Kenapa harus menanyakan keberadaan Saga kepada musuhnya, bukankah kata Dian, Saga dan Micky tidak memiliki hubungan yang baik.
"Tuh orangnya"
Aku menoleh pada arah mata Micky. Seketika itu aku tidak suka, entah kenapa tidak suka pada seseorang yang berjalan di samping Saga.
Saga menatapku sekilas, berpindah pada Micky yang berdiri di belakangku.
Saat jarak kami semakin dekat, Micky menepuk bahu
"Gue pergi dulu ya, kalo ada apa apa lo boleh minta bantuan gue" tukas Micky sebelum pergi.
Dari sorot mata Saga, aku bisa menilai kalau dia tidak suka pada Micky. Aku bingung apa yang membuat dia harus seperti itu.
"Sag, jadi gimana?" Tanya seseorang disampingnya.
Dia menatapku sekilas lalu merendahkan kertas sehingga tidak lagi berada di dadanya.
"siapa?" Tanya perempuan ini padaku.
"Vanda" jawabku ikut membalas tatapannya.
"Ada perlu apa? Lo anak baru itu ya?"
Aku bingung deh, kenapa semua orang yang berbicara padaku justru menggunakan aksen Lo gue, bukan aku kamu. Apa karena aku siswi pindahan dari Jakarta. Saga masih menatapku lekat, entah kenapa dia bisa memandangi ku seperti itu.
"Iya" jawabku pada perempuan disebelah Saga.
"Gue Aliya, sekretaris OSIS disini"
Gak nanya dan aku gak perlu tahu jabatan apa yang kamu miliki di sekolahan ini sehingga bisa menyombongkan seperti sekarang. Dan hari itu aku tahu yang namanya Aliya memang berwajah songong seperti ini di depanku.
"Iya" aku menjawab singkat pada perkenalan Aliya.
"Mau balikin jaket" aku mengeluarkan jaket didalam tas, menyodorkan pada Saga. Dia menerimanya.
"Terimakasih" ucapku lalu pergi.
Aneh, Saga tidak lagi menatapku, dia hanya menatap jaket yang kuberikan. Tidak juga mengejar atau membalas ucapanku. Meski aku juga berfikir setelahnya, memangnya kenapa aku harus dikejar Saga. Apa aku menunggu Saga menjelaskan siapa Aliya untuk nya. Aku rasa Saga tidak akan melakukan itu.
Kami hanya saling kenal, tidak dekat, hanya karena sekali pernah dibonceng Saga dan aku merasa sudah memilikinya. Brengsek, aku tidak suka hatiku yang mudah baper seperti ini