ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Dua puluh dua



Sesuai janji ku dengan Saga ,aku ikut bersama meski dengan runtukan dalam hati dan mulut menguap saat papa dan Mama mengantarkan sampai didepan sekolah.


"Duh Mama masih gak nyangka kamu mau ikut ekstrakurikuler" kata Mama mengelus puncak kepalaku. Aku menguap sekali lagi.


"Jaga diri, jangan aneh aneh" pesan papa


"Jangan lupa makan, istirahat yang cukup, itu makanan nya dibagi sama temen temen, jangan pelit" Mama memborbardir dengan pesan pesannya.


"Duh Mama, Vanda Kan bukan anak kecil" sungutku kesal.


"Berangkat dulu ya" aku meraih tangan mama dan papa, menciumnya lalu mengambil tas ransel yang isinya penuh makanan, berat sekali saat keluar dari mobil.


"Hati hati sayang, inget jaga kesehatan" Mama berteriak dari jendela mobil, aku mengangguk.


Dengan langkah berat aku memasuki gerbang. Nantinya aku tidak tahu nasib apa yang akan aku temui sebagai junior mereka.


"Vandaaaaaaaa" Dian melambaikan tangan berkali kali.


Aku tersenyum kearahnya .


"Ih elo udah kayak panda beneran aja, bawa tas hitam putih begini" kata Dian menggodaku.


Saat berada ditengah lapangan pun, banyak anak kelas satu yang sedang duduk menunggu.


"Yan, gue gak ikut aja ya, gue takut" rengekku pada Dian sambil menarik tangannya.


"Takut sama apa sih Van?"


"Pokoknya gue gak suka kegiatan non akademik kayak gini" aku merengek, hampir menangis bahkan "pokoknya kegiatan non akademik itu senior junioran, gue gak mau"


"Vanda, gak ada kok senior junioran, disini semua sama" kata Dian menjelaskan.


Aku menggeleng, bahkan air mataku sudah jatuh ke pipi "gak mau, gue takut Dian. Nanti kalau gue dibentak betak gimana? Kalau gue harus tidur di tenda yang alasnya tanah gimana? "ย  Aku menggeleng sekali lagi "anterin pulang yuk, Please" rengekku yang sambil menyeka air mata.


"Percaya deh sama gue, gak bakal ada yang ngebentak elo, lagian disini ada Saga kok" kata Dian.


"Saga gak bakal nolongin gue, waktu pemilihan paskibra aja dia ngebentak gue" tukas ku.


"Ih si Vanda jangan malu malu in dong, masa cengeng ,gini aja nangis sih" hina Dian yang semakin membuatku terisak.


"Kenapa?" Suara berat seseorang itu membuatku menoleh.


Saga dengan seragam pramuka dan beberapa tempelan di seragamnya membuat dia gagah berdiri di depanku. Aku menggeleng.


"Dia takut ikut Pramuka" kata Dian memberitahu.


"Yaelah, gitu aja nangis" kata Saga sambil menonyor pelan dahi ku. Aku menatapnya, dengan lekat, dengan mata basah yang membendung di kelopak mata.


"Gak ada yang berani gangguin elo, setan aja takut sama elo" goda Saga.


"Tapi gue takut" kataku melemah.


"Masa anak polisi takut" Saga menepuk bahu ku pelan "gue kan udah janji bakal jagain elo, jadi gue bakal jagain elo" kata Saga sambil menarik bibirnya.


Tangis ku mereda, sambil mengusap air mata aku memilih percaya pada Saga. Mempercayakan mengenai ketakutan ku padanya.


"Bener kan?" Tanya ku lagi memastikan bahwa ucapan Saga bukan sebuah kebohongan yang dia buat buat.


Saga mengangguk yakin.


"Janji" katanya


๐Ÿš•๐Ÿš•๐Ÿš•


Selesai upacara pembukaan persami yang dipimpin oleh Saga Alvaro, kami akhirnya mendirikan tenda. Tentu saja aku bergabung dengan anak kelas satu yang wajah nya saja tidak kukenali sama sekali.


Aku mendapat regu Ayam. Bersama enam teman setenda. Sewaktu berkenalan tadi namanya Rika, Nila, Eva, Halima, Sinta yang wajahnya masih sering tertukar tukar saat aku memanggilnya.


Aku mendirikan tenda, dengan bantuan mereka meski sebenarnya aku tidak bisa. Tenda ini disediakan dari panitia, kami juga diberikan tanda peserta bewarna kuning yang ditanda tangani oleh Saga.


"Yang bener dek" suara seseorang dari belakang membuatku menoleh.


Dan kutemukan Micky berdiri dengan seragam pramukanya.


"Ngagetin aja Lo" kataku


"Terpaksa" jawabku singkat "Lo ngapain disini? Gue kira elo gak bakalan ikut karena ada Saga"


"Enggak lah, kalo ada elo harus ada gue" Micky nyengir kembali.


"Dari pada elo cengar-cengirย  gak jelas mending elo bantuin gue deh"


"Weh kalo itu gue gak mau"


Micky berlalu pergi entah kemana. Mungkin memeriksa anak anak yang lain.


Selesai membuat tenda, kami menyusun tempat tidur, aku mendapat bagian samping. Kulihat Saga tengah duduk di meja panitia sambil mengisi sesuatu. Dian, Sofia, Nurul juga sibuk dengan kegiatan mereka masing masing. Aku duduk didepan tenda seorang diri, tidak ada handpone atau apapun yang bisa kumainkan.


Hanya menatap matahari yang perlahan lahan menggelincir, menatap cahaya yang kian meredup dengan angin yang menerpa wajah.


"Prit prit prit "


Bunyi peluit itu seketika membuat orang berdiri dan berlarian untuk berbaris. Aku ikut bebaris meski tidak tahu apa yang harus dilakukan sesudahnya.


"Dengarkan" itu Aliya yang mengambil alih dengan pengeras suara.


"Setelah ini yang membawa makanan dari rumah silahkan dikumpulkan ke panitia, nanti akan di beri makanan khusus dari panitia" kata Aliya menerangkan.


Duh kalau gini kasihan Mama dong udah capek capek bawain Makanan malah di berikan ke kakak panitia tidak berperasaan didepan ini.


"Kegiatan selanjutnya adalah tes tri Satya dan dasa darma, silahkan ambil nilai pada kakak yang ada disini"


Tri Satya dan dasa darma?. Apalagi itu?. Aku tidak tahu tentang itu.


"Paham?" Tanya Aliya pada kami.


Kompak kami menjawab paham, meski aku tidak.


"Ka, Tri Satya sama dasa darma itu apa?" Aku bertanya pada Rika yang berada di sebelahku.


"Semacam janji Pramuka gitu deh" kata Rika.


"Harus hapal?"


Rika mengangguk "kalau enggak nanti gak lolos di tes ini" ujar Rika memberi tahu.


"Duh gimana dong, gue gak hapal lagi"


Rika spontan menoleh ke arahku


"Serius kamu gak hafal? "


Aku menggeleng


"Ya ampun, itu udah dari SD di ajarin di Pramuka. Masak gak hafal sih"


Aku menunduk, tuh kan aku tidak suka kegiatan non akademik seperti ini, untuk apa menghafal materi yang tidak penting sedangkan di akademik tidak dihafalkan.


"Nih aku pinjemin buku saku, disitu ada Tri Satya sama dasa darma. Semoga berhasil ya" kata Rika lalu berjalan pergi.


Aku membuka buku kecil yang diberikan Rika barusan, lalu membaca kata Tri Satya yang ada dibuku.


"Mana bisa gue hafal segini banyaknya dalam waktu lima menit" gerutuku.


Aku menoleh kekanan kiri, teman temanku bahkan sudah mendapatkan kakak senior yang ingin mengujinya. Sedangkan aku jangankan mendapatkan seniaor, ingin ujian saja aku tidak berminat.


Aku menghela nafas, mencari Dian, Sofia , atau Nurul yang semoga saja bisa meloloskan ku. Banyak kumpulan siswa pada tempat tempat tertentu yang itu kurasa adalah kakak senior pilihan mereka.


"Kabur dosa gak ya?"


"Duh, kalau kayak gini gue bisa mati mendadak" gerutuku.


"Kamu" Saga berteriak kearah ku. Aku menoleh kekanan dan kiri, tidak ada siapa siapa selain diriku.


"Gue" aku menunjuk diriku sendiri. Dan saga mengangguk.


"Sini" katanya berteriak.


Mau tidak mau aku mendekat, dengan degupan paling keras yang pernah kurasakan.