
Aku berdiri, menghentakkan kaki sampai papa dan Mama menatapku.
"Kamu ngapain si Vanda?" Tanya mama
"Gak tau ah, pokoknya Vanda lagi sebel sama papa titik" aku masuk kedalam rumah sambil berlari.
Di kamar aku membaringkan tubuh sambil menahan kesal. Entahlah aku membenci Saga, titik, besok aku tidak mau bertemu dengannya
🚕🚕🚕
Kau percaya kalau aku tidak akan bertemu dengan Saga? , Jangan percaya sebab pagi ini Saga si makhluk ganteng di sekolahan sudah duduk di kursi bersama papa. Mereka tertawa ditengah obrolannya.
Dan aku tidak lagi kecewa dengan Saga, justru aku tersenyum saat melihatnya . Hebat kan aku, bertapa mudahnya aku kembali hanya pada pesona Saga.
"Oh ya Om nanti sore saga mau ngajak Vanda ke Oku timur" kata saga meminta ijin pada papa.
"Jauh gak?" Tanya papa
"Sekitar sejaman sih, soalnya jalannya berlubang"
"Ha-ha-ha iya disini nyari jalan yang lurus seluruh kelakuan Om gak bakal ketemu" kata papa "ya gak papa, tapi hati hati. Kalau ada apa apa langsung kabari Om"
"Siapp Om" Saga menyalami tangan papa, dan aku ikut menyalami papa sambil diusap puncak kepala oleh papaku.
Aku dan Saga naik diatas motor, lalu motor menggelinding diatas jalan berlubang.
"Nanti pulang nya cepet" kata Saga memberitahu
"Kok gitu?"
"Dewan guru lagi rapat" kata Saga.
Biasanya kalau ada rapat disekolahan aku dan teman teman akan kabur ke mall. Tapi disini rasanya mustahil untuk pergi ke mall. Jangan kan mall pasar saja satu Minggu hanya dua kali.
"Jadi hari ini kita gak belajar dong?"
Aku mencondongkan wajah sambil berpegangan pada pinggang Saga.
"Belajar, mata pelajaran pertama doang, abis itu pulang"
Saga memelankan motornya, sangat pelan supaya tidak mengejar debu depan yang disebabkan oleh mobil.
"Saga semalam kemana kok gak jadi main?" Tanya ku
"Gue kerumah kok, tapi kata Mama lo, elonya udah tidur, jadi gue balik lagi"
Seharusnya aku bertanya kemana dia baru kerumahku saat malam hari. Karena seingatku aku tertidur setelah pukul sepuluh malam. Tapi aku diam saja, hanya menatap punggung lebar Saga .
"Kayaknya persami kemarin deket banget Sama Micky?"
Tiba tiba dia bertanya padaku mengenai Micky. dekat? Aku dan Micky hanya dekat sebatas teman biasa, tidak lebih. Aku rasa begitu
"Enggak ah, dia cuman suka nyuruh nyuruh doang" kataku.
Kami terdiam sampai berada diparkiran. Aku langsung turun, belum sepenuhnya turun tapi suara Yogi menggelegar di telinga.
"Bencong" Yogi mengalungkan tangan di leher Saga.
"Apa cebong"
Aku menatap keduanya, takjup atas pertemuan mereka.
"Semalam curhatnya nanggung" kata Yogi meringis.
"Eh elo temennya Dian kan, salam ya buat Dian. Bilangin dunia gak akan ada cahaya tanpa senyuman nya"
Mendengar itu Saga langsung menimpuk kepala Yogi.
"Bego, sakit " Yogi mengelus dahinya.
"Gue duluan ya" kataku lebih dulu berjalan pergi.
Didepan lorong mading, Micky merangkul bahu ku tanpa malu
"Wehhh pyiak pyiak " aku menatapnya.
"Lo tahu gak sih, tangan elo tuh berat, berton ton"
Micky mengangkat tangannya, memperhatikan tangan itu dan menatapku.
"Kayak cinta gue ke elo"Â godanya.
Aku berniat menendang kaki Micky karena memang kesal. Justru bukannya Micky yang terjatuh malah aku yang terjatuh karena Micky berhasil menghindarinya.
"Pyiak pyiak" Micky duduk mengangkat tubuhku.
"Sial kan gue ketemu elo" kataku melirik
"Haha" Micky tertawa mengelus puncak kepala "sayang deh" katanya
"Woy jalangkung, Lo apain temen gue"
Yang berteriak sampai gendang telinga hampir rubuh itu adalah Dian. Dia menatap garang wajah Micky.
"Ada mak Lampir, gue duluan ya" kata Micky sudah kabur .
Dian dan Micky adalah kombinasi terbaik di pagi hari. Mereka sama sama senang membuat orang tertawa dengan kata kata asal asalan nya. Pertama mengenal Dian, dia adalah gadis pendiam, tidak banyak bicara dan baik. Ternyata pepatah itu hanya awalan saja, semakin jauh mengenalnya, dia aneh, gesrek dan lucu.
Micky Pun begitu, kesan bad boy hanya awalan yang dia tunjukan, tapi semakin jauh, dia baik, baik sekali.
"Yayang Yogi" Dian mengeratkan rengkuhan di lenganku.
"Kata apa ya" aku menggaruk kepala "gue lupa, kata kata nya penuh gombal" aku cekikikan.
Sampai dikelas, kami langsung duduk dan merapatkan bangku untuk mulai bergosip.
Nurul duduk di meja setelah selesai membaca buku PAI nya, sedangkan Sofia sedang membaca buku fisika. Dian yang entah dari mana langsung duduk disebelahku sambil berkipas.
"Lo dari mana sih Yan?" Tanya ku heran karena Dian berkeringat
"Dari keluarga baik baik lah gue"
Aku berdecak "maksud gue elo dari mana kok keringetan gini?"
"Udah lah Van, gak usah diladenin. Gila ngeladeni dia"
Aku tertawa saat Nurul ikut andil memisahkan kami .
"Lo mau tahu gak, siapa orang yang bertahan paling lama duduk sebangku sama Dian?" Tanya Nurul
Aku menggeleng.
"Elo Van, elo yang bertahan sedekade lama nya sama dia"
"Sedekade, udah kayak masa penjajahan aja" Dian membuka buku fisika
"Van nyontek pr elo" kata Dian
"Ada di tas ambil aja"
"Nah ini baru temen, sayang banget gue sama Vanda. Gak kayak si Sofia tuh, kalau ngerjain pr langsung pindah tempat, gak mau di contek dia"
"Biar lah Yan. Kalau masuk neraka gak usah kita tolong" timpal ku.
Aku, Nurul, Dian tertawa sedangkan Sofia bersungut.
🚕🚕🚕
Jam pelajaran sudah berbunyi tapi tidak ada guru satu pun yang masuk kedalam. Diluar koridor pun siswa siswi berlalu lalang. Salah satunya ada Micky dengan seragam putih abu abu yang sudah keluar.
Aku dan Dian yang dari toilet langsung dia stop ketika diambang pintu.
"Heran deh kerjaan anak IPS tuh ya jalan jalan terus" cicit Dian di ambang pintu.
"Kita bukan jalan jalan, tapi lagi touring, ngukur jalan biar bisa dicatat di sejarah" elak Rio.
"Eleh banyak alasan"
"Eh kita bukan lagi touring tapi lagi tou tour tour" Micky menggoyangkan jari telunjuknya.
"Tour gade" tebak Rio
"Bukan pe'a, tour gade mah pemandu wisata, itu tour tour, apa sih gue lupa namanya"
"Study tour" ucapku.
"Nah anak IPA emang paling pinter" puji Micky.
"Lagian kalau mau ngelawak itu disusun materinya, biar lucu, gak receh kayak uang koin" cela Dian tajam
Micky mendegus "namanya orang lupa" dia menatapku kemudian
"Eh Yan elo anak IPA ya?" Tanya Rio tiba tiba, membuat kami menoleh secara kompak pada mereka
"Lo bego ya, udah tahu dari dulu gue anak IPA pakek nanya segala" cicit Dian
"Pantesan body elo kayak kerangka tengkorak"
Dian melotot mendengar gombalan Rio yang justru lebih ke hinaan.
"Brengsek elo ya" Dian menghentakkan kaki.
"Eh elo anak IPS kan?" Tanya Dian yang berniat membalas.
"Muka elo udah kayak meganthropus paleojavanicus, sama sama jelek" kata Dian memekik.
"Hati hati elo ya, jaman sekarang ngehina orang dengan kalimat sejahat itu bisa di penjara, elo mau gue penjara?" balas Rio.
"Kalian berdua kalau mau ribut, sana pergi, berantem ditengah lapangan sana. Jambak jambakan, kalau gak, cara yang keren racunin pakek sianida"
Aku tertawa saat mendengar kalimat Micky.
"Oh ya Van, gue manggil elo pyiak sayang ya?"
Aku melotot "enak aja" kataku tajam
"Abis elo tadi kan abis jatuh, nah makanan yang jatuh belum lima menit namanya sayang, jadi pyiak jatuh kan belum lima menit"
"Iss" aku berdecak dan Micky tertawa
"Balik yuk Yo, nanti kita dibuat jadi sel telur di sini" ajak Micky.
Mereka pergi belum jauh Micky balik badan dan melambaikan tangan ke arahku
"Dada pyiak sayang" katanya yang membuatku malu