ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Tiga puluh tujuh



"Van, elo beneran nyelingkuhin si Ajil?" Suara Kayla yang langsung nyerocos dari balik telefon membuat kepalaku berdenyut


"Duh apaan si Kay, salam dulu kenapa, elo bikin kepala gue tambah sakit tau gak" maki ku


"He he" Kayla cengengesan "sorry, tapi berita elo sama Ajil itu gak bener kan?" Tanyanya


Aku membuka mata perlahan "berita apa?"


"Katanya elo udah putus sama Ajil dan elo nyelingkuhin Ajil. Mana katanya elo pernah tidur sama Ajil lagi" suara Kayla lemas diakhir kalimat seolah tidak bertenaga.


Aku melotot "bangsat ya si Ajil" teriakku


"Duh Van, pelan pelan" kata Kayla


"Gila, si dia, mana pernah gue tidur sama dia" nafasku memburu "gue mutusin dia karena udah bosen Kay, dan gue gak pernah tidur sama dia"


"Oke Van gue percaya, tapi berita elo udah tidur sama Ajil tersebar seantero sekolahan" kata Kayla hati hati "bahkan Panji udah denger kabarnya"


Aku mendegus "Panji?" Ulangku.


"Lo lupa sama Panji?" Tanya Kayla memburu "ya ampun Van, Lo pernah suka setengah mati sama yang namanya Panji, elo gimana sih jadi cewek, pelupa banget"


Aku mendegus "maaf, gue banyak fikiran akhir akhir ini"


"Mikirin apa elo? Si Saga Saga itu atau Micky Micky itu? Van elo itu sebenarnya gimana sih, jangan serakah gitu"


"Apa si Kay, elo kok ngomongin gue serakah, gue gak suka sama semuanya" kataku sambil memutar bola mata


"Elo juga dulu pas deket sama Ajil bilang gitu, gak suka sama semuanya, giliran udah pacaran sama Ajil elo juga deket sama Panji, bahkan gue bingung hati elo itu sebenarnya buat siapa?"


Malas meladeni Kayla aku langsung mematikan panggilannya. Kurebahkan kepalaku di kasur sementara tubuhku dilantai.


Hati? Aku bingung pada hatiku, yang dikatakan Kayla sepenuhnya benar. Dulu aku menginginkan Ajil, setelah mendapatkannya aku juga menginginkan Panji, bahkan kami dekat hanya saja sudah semakin menjauh akhir akhir ini. Aku mencintai Saga, ya itu kenyataannya. Tapi jika harus menjauhi Micky, aku ragu, untuk bisa.


🚕🚕🚕


Sore itu badanku sedikit lebih baik. Aku turun dari tangga dan sayup sayup kudengar suara papa sedang mengobrol dengan seorang lelaki. Saat di undakan tangga terkahir mama menghampiri


"Ada temanmu" kata Mama sambil berlalu membawa cemilan dan jus


Aku tidak tahu siapa yang jelas aku berjalan semakin mantap menuju ruang tamu. Disana Micky duduk berhadapan dengan papa, papa tertawa terbahak bahak setelah Micky menyelesaikan ucapannya.


"Eh Vanda" kata papa "tau gak temenmu ini, katanya dia hampir di perkosa orang hutan" begitu datang papa langsung memberitahu pembicaraan mereka.


Aku duduk di samping papa "oh ya?" Kataku ikutan antusias.


"Kata temenmu ini, dia dikejar kejar pas pramukaan, ternyata orang hutan yang mau memperkosanya cowok" papa kembali tertawa sambil menyeka air mata nya.


"Ampun, Om gak bisa bayangin kalau kamu beneran di perkosa orang hutan itu" papa masih belum berhenti tertawa.


"Papa perut nya bergetar gitu Lho pas papa ketawa" ledekku.


Papa menatap perutnya "ini hasil persilangan antara tumis bayam dengan nasi"


Micky tertawa pelan sambil melirikku


"Itu perutmu persilangan antar apa?" Tanya papa


Micky mengelus perutnya "banyak Om" kata Micky "ada belalang"


"Ha kamu pernah makan belalang?" Tanya papa antusias.


"Dulu si Om, awalnya coba coba ternyata enak"


"Om belum pernah nyoba, dan gak mau nyoba. Sekalipun Om kehabisan beras, Om gak akan nyoba makanan satu itu" papa bergidik ngeri. Papa memang paling takut dengan serangga, jangkrik, belalang, kecoa pun papa takut.


"Kalau istilah IPA nya, saya itu__" Micky mengernyitkan dahi "apa Van bahasa IPA nya pemakan segalanya"


"Omnivora" tukasku


"Nah iya, omnivora Om" kata Micky


Papa geleng geleng "kamu itu kalau mau ngelawak di susun dulu materinya, biar gak kebingungan, jadinya garing kan"


Meski begitu kami semua tertawa


"Yaudah kalian lanjutkan ngobrolnya, Om mau kebelakang" sebelum pergi papa meminum jusnya dan bangkit "eh kamu kapan kapan kalau Om patroli, ikut Om mau gak?" Ajak papa


"Mau dong Om"


"Jadilag kamu jadi pelawak di suasana mengerikan saat patroli" setelahnya papa pergi sambil tetap mengatakan "aneh aneh saja belalang kok dimakan"


Micky tersenyum "biasa aja sih "


"Eh ikut gue yuk" ajak Micky.


"Kemana?" Tanya ku sambil menyenderkan punggung pada senderan sofa.


"Ketemu temen temen gue"


Aku berfikir sejenak, boring juga dirumah seharian. Jadi ku pilih mengangguk. Aku ijin ganti baju dulu setelahnya berpamitan pada papa dan Mama. Papa yang lebih antusias bahkan mengantarkan aku sampai ambang pintu, bertemu dengan Micky.


"Jangan kamu ajak makan belalang anak saya ya" kata papa sambil tertawa


"Siap Om" Micky menyalami papa. Kemudian membawaku pergi dengan motor Kawasaki ninja


Selama perjalanan aku maupun Micky banyak terdiam, menikmati angin sore yang berhembus. Micky membawaku ke mini market yang tidak terlalu jauh dari rumah. Sampai disana, dia memarkirkan motornya didepan mini market dan berjalan kearah warung makan tempat kami makan dulu.


"Eh" tiba tiba Micky mengerem jalan sehingga aku menabrak punggung Micky.


"Pegangan tangan dong" Micky memberikan telapak tangannya ke arahku, sambil tersenyum menggoda


"Lo kira mau nyebrang pakek acara gandengan tangan segala"


Micky tertawa sambil mengusap rambutnya


"Siapa tahu tiba tiba elo kabur pandangannya"


"Lo doain gue rabun Mik?"


"Dih kayak anak pms aja, mudah emosi"


Kami berjalan masuk kedalam warung makan, duduk dan menyapa teman teman Micky yang mayoritas adalah lelaki.


"Cewek baru Mik?" Tanya teman Micky


"Doain" kata Micky sambil melirik ke arahku, kami duduk disebelah Rio.


Rio sibuk bermain ponselnya, selang beberapa saat suara motor yang sangat familiar ditelingaku terdengar. Jantungku seketika berdegup, bagaimana jika benar itu Saga. Seketika itu rasanya aku ingin lari, kemana saja asal tidak bertemu dengan Saga.


Tebakkan ku sepenuhnya benar, Saga masuk kedalam warung makan dan lebih dulu menyapa teman nya yang duduk didekat pintu. Lalu tatapannya jatuh pada ku, pada mataku. Dan aku gugup setengah mati saat Saga menatapku dengan tatapan begitu.


"Sag, ikut turnamen volly gak ?" Tanya seseorang dari meja sebelahku.


Saga menoleh kearahnya "ikut dong"


Dia duduk, meski tidak menghadap meja dan menghadap kearah kami, dimana menghadap arah Micky, Rio dan menatapku.


"Lengkap ni, jadi kita gak usah nyari pemain lagi" tukas Rio


Aku tidak mampu bergerak bahkan ketika bergerak pun rasanya Saga menatap ku terus terusan.


"Lengkap? Siapa aja nih?" Tanya Saga.


"Elo, Hendra, Wayan, Sigit, Micky sama Purna" lelaki yang menyebutkan nama nama mereka menatap sekeliling "buat cadangannya si Rio, Kipli, sama gue"


Micky berdecak "gak bisa dong Tra, dalam satu tim gak boleh ada dua raja sekaligus"


Rio tertawa sambil bertepuk tangan


"Yo'i. Gue setuju sama Micky, dalam satu tim gak boleh ada dua raja sekaligus "


Saga tiba tiba tertawa "kalau gitu elo ngundang raja di kerajaan sebelah buat bikin kerajaan elo menang"


Saga berniat bangkit tapi suara seseorang yang menyebutkan nama tim tiba-tiba melerai.


"Udah gini aja, gimana kalau Saga sama Micky adu balap motor, siapa yang menang dia yang tetap bertahan di tim dan sisanya jadi cadangan"


Saga menunduk sambil tertawa, lalu dia bangkit dan mendekat kearah meja kami


"Tapi kalau hadiahnya cuman masuk tim gue gak setuju" kata Saga menatapku dan Micky bergantian.


"Gimana kalau hadiahnya" Saga menghentikan ucapannya lalu menatapku "si Vanda"


**note : sebagai bahan pertimbangan (cie elah sok sok an formal)


autor updatenya seminggu sekali ya, soalnya mau apdate squel BARA (hayo yang belum baca BARA buruan dibaca dulu) , sama mau nyelesaiin cerita Passage of Time (udah gantung lama banget)


jadi kemungkinan seminggu sekali atau juga bisa seminggu dua kali (yang jelas, gak bisa apdate sehari sekali) maaf Yee.


selamat membaca, Tim MiVa sama tim SaVa silahkan komen ya 💕💕💕💕💕💕💕💕**