ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
Ankot Empat Puluh Tiga



Pukul tujuh malam, suara motor Kawasaki memasuki gerbang, membuat aku yang tengah menonton mengurangi volume. Mama yang disebelahku, langsung bangkit begitu mendengar suara ketukan dari pintu, aku mengikuti langkah Mama dari belakang.


Saat membuka pintu papa dan Micky berdiri berbaris.


"Kok bisa barengan?" Tanya ku begitu tahu kalau Micky dibelakang papa.


Dia menyalami Mama terlebih dahulu, lalu dipersilahkan masuk kedalam dan disediakan teh oleh Mama.


"Tadi motor papa mogok di b4" kata papa menjelaskan. B4 itu nama desa, agak jauh dari desaku juga tempat papa kerja.


"Eh papa ketemu nak Micky, jadi motornya papa tinggal. Kata Micky dia kenal sama yang punya bengkel" tambah papa melepaskan jaket hitamnya.


"Mogok kenapa pa?" Tanya ku


"Biasa, minta dipijetin, biarin lah dia istirahat sehari"


Aku tertawa mendengar penjelasan papa, papa ikut duduk diantara kami.


"Lo mau kemana Mic, pakek baju sama celana besar besar gini?" Tanya ku pada Micky yang menatapku.


Saat dia berniat menjawab, papa sudah menyela terlebih dahulu.


"Dia mau latihan silat" terang papa.


"Malam malam gini?" Tanya ku


Micky berniat menjawab lagi tapi disela oleh papa terlebih dahulu


"Lah kalo siang namanya tekwondo Vanda"


Aku mendegus, mulai merasa kesal setiap kali bertanya pada Micky, selalu papa yang menjawab. Micky terlihat menahan senyum terpaksa.


"Ih sana pergi, gangguin orang aja" aku mendorong punggung lebar papa


"Dah ah, papa mau mandi" papa akhirnya berdiri "lusa jadi ya ikut Om patroli" kata papa pada Micky.


"Siap Om"


Papa akhirnya berdiri dan pergi.


"Latihannya dimana sih?"


Mama yang dari dapur membawa dua cangkir teh, dan diletakkan diatas meja.


"Untung ada Micky tadi, coba kalau enggak. Pasti papanya Vanda kemalaman pulangnya" ujar mama sambil memberikan teh hangat.


"Kebetulan lewat sana Tan"


Mama langsung pergi saat papa memanggilnya. Kami kembali bertatap muka.


"Kok gak dijawab?" Tanya ku.


"Jawab apa?" Tanya Micky bingung


"Itu, latihannya dimana?"


"Oh" Micky mengangguk. Menyesap tehnya "di Cahya mas, deket kok dari sini"


"Jam berapa pulangnya?"


"Gak nentu lah Van, kadang sampe jam dua malam, jam tiga pagi, kadang juga jam 12 malam" jelas Micky


"Lah malem banget, padahal pengen nonton" aku mencimbikan bibir, Micky tertawa sambil mengusapkan kedua telapak tangannya.


"Kalau mau ikut boleh, nanti gue usahain pulangnya rada cepet" kata Micky membuat ku sedikit senang.


Jujur malam ini semua isi kepalaku terpenuhi oleh Saga, tentang kenapa Saga mengikuti kami, kenapa dia masih mengirim  pesan.


"Gue ijin papa dulu" aku bangkit, menuju papa yang terbaring di kamar. Dia memainkan ponselnya sambil sesekali cekikikan.


"Pa. Vanda boleh ikut Micky nonton pencak silat gak?" Tanya ku mendekati papa


"Dimana?" Tanya papa tanpa menatap ku yang duduk di sebelah papa


"Di Cahya mas, nanti Vanda pulang cepet deh. Boleh yah boleh yah, bosen dirumah" rengekku pada papa.


Papa menegakkan tubuhnya, perut buncit yang terekspos dan kumis yang tipis membuat papa benar benar terlihat lucu.


"Janji" ujarku memberikan jari kelingking pada papa


"Pakai pakaian tertutup, kalau ada apa apa langsung telfon papa, oh ya, gak boleh pulang malam"


Aku mengangguk. Naik keatas untuk mengganti pakaian.


Aku turun dengan celana Levi's kodok serta kaos putih, membawa tas kecil yang kuisi dengan beberapa uang, serta ponsel. Papa dan Micky rupanya tengah bercakap diruang tamu, sesekali saling tertawa.


"Udah, berangkat yuk" ajakku.


Micky mengangguk "pergi dulu Om" pamitnya.


Aku menyalami papa dan berteriak pada Mama yang masih fokus diruang tv. Kami pergi dengan motor Kawasaki milik Micky. Dia tidak membawaku dengan kecepatan tinggi, justru sedikit pelan menuju arah lapangan bola.


"Latihannya tiap hari apa aja Mick?" Tanya ku sambil mencondongkan wajah.


"Malam Kamis sama Minggu"


"Kasihan deh lho gak bisa malam mingguan"


Micky tertawa dengan renyah sehingga menular padaku.


"Gue gak perlu malam mingguan, soalnya gak punya yang di ajak malam mingguan"


"Hahaha" aku tertawa mendengar ucapannya.


"Lo kan playboy Mick, gimana ceritanya gak punya pacar" cicitku.


"Playboy?" Ulangnya dengan intonasi yang terdengar aneh ditelinga "gue setia Van" tukasnya menegakkan tubuh "kalau gak setia malu sama lambang gue" tunjuknya pada gambar hati bersinar di dada.


"Bulshit" pukulku pada punggungnya.


Beberapa saat kami sampai di lapangan untuk latihan silat. Ternyata lapangan ini ramai sekali dipenuhi dengan orang orang yang mengenakan seragam warna hitam seperti milik Micky.


Kami masih duduk diatas motor, mengamati proses latihan dari pinggir lapangan. Beberapa orang yang datang menyalami Micky juga menyalami ku. Ada yang memanggil Micky dengan sebutan mas padahal wajahnya lebih tua dibandingkan Micky.


"Kok pada nyalamin Lo?" Tanya ku akhirnya.


"Itu bentuk persaudaraan, pernah ikut paskibra gak?" Tanya Micky menolehku.


Aku menggeleng "gak tertarik sama gituan" jawabku kembali menatap arah lapangan bola.


"Kudet sih" celanya


Ada seseorang yang menatapku dari bawah pohon, awalnya kukira dia hantu tapi saat dia memainkan ponsel, ku yakini dia adalah manusia sama sepertiku. orang itu terus menatapku dari pancaran mata kucing yang jelas mengarah ke arahku. Micky tidak tahu, terus menatap proses latihan yang tengah melakukan pencak pencak.


Kulihat orang memperhatikanku melangkah kearah kami, semakin dekat wajahnya semakin terlihat dan semakin jelas menampakan wajah Saga. Seseorang yang tidak ingin kulihat. Dia mendekati kearah ku, dengan seragam silat yang melekat ditubuhnya.


"Pulang" katanya tiba tiba menarik tanganku.


Aku menepis dengan kasar cekalan Saga. Micky menoleh kearah kami.


"Dia kesini bareng gue jadi dia pulang juga harus bareng gue!!" Tukas Micky sambil menatap kearah Saga tajam.


"Gue gak perduli dia kesini bareng siapa tapi dia harus pulang" balas Saga


"Eh, Lo siapa ngatur ngatur Vanda. Dia yang mau kesini bareng gue"


Micky mencengkram kerah Saga, perlakuan itu ditatap beberapa pasang mata  yang berdiri di pinggir lapangan. Karena tahu ditatap orang Micky melepaskan cengkraman kerah Saga


Saga membasahi bibirnya, menatap wajahku dan mengulurkan tangan kearah Micky.


"Kalau gitu sambung sama gue"


Sambung itu istilah silat yang artinya berkelahi sesama tingkatan. Karena Micky dan Saga sama sama warga (orang yang lulus silat) jadi mereka satu tingkatan dan boleh melakukan sambung.


"Sory gue ngajak cewek kesini jadi gue gak mau cewek gue khawatir"


Mendengar kata "cewek gue", Saga menarik kerah Micky dengan sekali hentakan bahkan motor yang kami tumpangi hampir rubuh andai tangan Micky dan tangan Saga tidak menahannya.


"Kenapa? Lo takut sama gue?" Tanyanya dengan tatapan belis.


Saga masih mengulurkan tangan, dan tiba tiba Micky menerima salaman dari Saga sehingga mereka pergi kedalam lapangan tanpa berpamitan denganku.


note : Jarang apdate karena hpnya seri g tiba tiba mati gitu 😫😭