
Kami masih saling pandang, baik aku dan Saga atau Gebby dan Micky.
"Woy Mick minjem gitarnya"pinta Gebby berjalan lebih dekat kearah Micky.
"Nih" Micky memberikan gitar itu. Kulihat dia tidak menatap Saga sama sekali atau memang enggan menatapnya.
"Balikin ke tenda nomor tiga" tambahnya.
"Gue masuk dulu ya" aku tidak ingin menatap wajah Saga, menatap wajah itu yang selalu membuatku kesal.
Padahal tadi kami berciuman, sekarang dia bersama gadis lain dan terlihat mesra. Aku membuka pintu tenda, tidur ditengah tengah dengan berbantal tas dan berselimut jaket.
Dian, Sofia, Nurul sudah terlelap tidur dan aku hanya bisa memandangi atap atap tenda. Kenapa tadi aku menerima saja saat Saga menciumku? Kenapa tidak kutolak saja? Kenapa tidak selepas kami melakukannya aku bertanya pada Saga, ada hubungan apa aku dan dia sehingga Saga dengan mudah melakukan itu.
Kudengar meski sayup sayup suara petikan gitar terdengar lembut. Aku ingin keluar untuk melihatnya tapi aku enggan. Malas jika yang kulihat adalah Saga dengan wanita lain.
🚕🚕🚕
Pagi sekali, aku meminta Dian mengantarkan ku mandi, mungkin aku satu satunya orang yang mandi disini, selepas mandi, membantu Halima dan yang lainnya memasak.
Kami duduk berlesehan dibelakang tenda, Eva masih mencoba menghidupkan tungku api.
"Nyerah, sampe Susana bangkit dari kubur juga gak bakalan hidup ni api" kata Eva membanting kayu yang dia pegang.
"Sabar mbak" Nila menepuk punggung Eva "sini biar gue aja" katanya.
Nila menungging, meniup api berkali kali sampai ke pulan asap itu membuat Nila terbatuk batuk.
"Bangsat" umpat Nila sampai membuatku tertawa.
"Duh Nila, gak usah marah marah kalo marah tar gue masak lho" canda ku.
Nila justru tertawa, "pagi pagi gini enak makan Nila bakar ya " katanya.
Micky datang berselimutkan jaket merahnya, dia berjalan mendekatiku, masih dengan seragam pramukanya.
"Buatin gue kopi Van" titahnya.
Aku menoleh, melotot pada Micky dan mencimbikan bibir.
"Gila Lo ya, udah tau api kita dari tadi gak hidup hidup, malah nyuruh bikin kopi" cicit ku "bikin di tempat orang lain sana"
Micky berdecak, hampir berbunyi.
"Sini biar gue buatin api" dia berjalan pergi entah kemana.
Saat kembali ke tenda kami dia membawa sebotol minyak tanah. Di siram beberapa kayu bakar yang sedikit basah.
Tidak perlu waktu lama api sudah menyala berkat minyak tanah bukan berkat Micky.
"Dari tadi ribut mulu, nih udah jadi" Micky menyodorkan kopi sanset kearah ku
"Buatin gue kopi, anterin ke tenda panitia"
"Iss" aku berdecak "cuman satu Mick, nanti kalo panitia yang lain ngiri gimana?" Tanya ku
"Tinggal elo nganan, susah amat" dia sudah berjalan pergi dengan acuh.
Begitulah Micky, dia memang berbeda dengan Saga, sedikit melanggar peraturan tapi sedikit bertanggung jawab. Aku membuatkan kopi untuk Micky terlebih dulu, mengantarkannya ke tenda panitia dan sedikit terkejut saat Saga menyandarkan tangannya di pinggiran meja. Sedangkan Aliya duduk diatas meja, mereka bertatap sangat lama.
Sumpah, kalau kau ingin tahu apa yang ingin ku lakukan saat itu, aku ingin menyiram kopi panas ini ke muka Saga. Dia, dia tidak mengerti perasaanku rupanya, semalam kami berciuman dengan posisi itu. Dan sekarang dia melakukan itu pada Aliya meski tidak berciuman.
"Brengsek" umpatku lirih.
"Van" Micky berteriak agak kencang di tenda dekat dengan tenda panitia. Melambaikan tangan dengan senyumannya.
"Sini" teriak Micky sambil melambaikan tangan.
Kurasa Micky berusaha mengejar ku, sampai kopi yang kubawah sudah berpindah ke tangannya.
Micky menyesap kopinya sambil menatap wajahku yang cemberut.
"Kenapa sih? Kesambet jalangkung?" Tanyanya.
Aku tidak menggubris, sungguh tidak ingin meladeni ucapan Micky sama sekali.
"Kenapa sih?" Micky masih berusaha mencari penyebab wajah cemberut ku.
"Oh gara gara Saga sama Aliya" ucapnya, dia bangkit "makasih ya kopinya, sengaja gue gak mau ngehibur lo, biar Lo sakit hati dulu dan bisa lupa sama dia"
Micky pergi dengan kata kata yang terasa aneh di telingaku. Aku tidak tahu saat ini Saga menganggap ku sebagai apa. Kenapa dia begitu mudahnya memporak porandakan hatiku.
"Van, udah selesai, sarapan yuk" ajak Halimah.
Aku menggeleng, tidak berselera untuk sarapan "duluan aja" jawabku.
Sekitar jam setengah delapan, kami melakukan apel pagi dan disusul dengan senam. Memakai seragam olahraga dengan senam Pramuka yang gerakannya menurutku ngebit untuk membakar lemak.
Dihajar habis habisan oleh gerakan senam ternyata sedikit membuat otakku lupa akan kejadian pagi tadi antara Saga dan Aliya.
"Nyari jejak?" Tanya ku saat sudah berbaris dengan regu Ayam.
Aku belum memberi tahu, regu Ayam terdiri dari dua belas anggota, enam laki laki dan enam perempuan yang juga satu tenda denganku.
"Iya" kata Firdaus sebagai ketua regu "jadi nanti kita jalan dari pos satu ke pos lainnya, nyelesaiin tugas" tambahnya lagi.
Aku mengangguk angguk mendengarkan Firdaus menyelesaikan kalimatnya
"Lo udah pernah nyari jejak?" Tanya Firdaus menatapku.
Aku menggeleng "pertama kali ini"
"Yaudah, kamu di tengah aja, biar gak jadi sasaran kerjaan kakak kakak pembina" tukas Firdaus.
Beruntung aku punya regu yang bisa memahami ku sebagai siswa baru. Kami duduk, mendengarkan senior yang memberi soal, regu yang bisa menyelesaikan soal akan lebih dulu berjalan untuk memulai pencariannya ke pos pertama.
Soal pertama adalah tentang gerakan simapor. Jangan tanya padaku itu apa, aku sendiri saja tidak tahu, dan hanya bertugas mencatat apa yang perlu ku catat. Yah, sebagai bagaian pekerjaanku karena aku tidak tahu di bindang ini.
"Regu bebek, silahkan jalan"
Regu bebek berdiri, memulai jalan dengan yel yel kebanggaan mereka.
"Bebek bebek wek wek, nyarinya gadis ketemunya janda. Biar kita pada sadis tapi kita bahagia"
Regu yang lain menghadiahi huu bersama, lalu di susul tepuk tangan dari kami semua.
Pertanyaan kedua mengenai sandi sandi, dan regu kami selalu kalah cepat menjawabnya, sampai tersisa dua regu. Pada pertanyaan sandi selanjutnya regu Ayam berhasil menjawab.
"Regu ayam, silahkan" kata kakak pembina.
Kami berdiri, lebih dulu aku mengibaskan celana yang sudah terkena debu.
"Pyiak pyiak rapatkan barisan " komando Firdaus.
Kami berbaris. Berlagak macam anak ayam yang berbunyi pyiak pyiak.
"Pyiak pyiak jaalllllaaannn" komando Firdaus lagi
"Pyiak pyiak pyiak" ucap kami kompak
"Disini ayam disana ayam dimana mana ayam berada. Disini ayam disana ayam, negara ini negara ayam , syalala yam yayam syalalallala ayam" lantunan lagu itu menembus langkah kami saat keluar dari sekolahan.