
Kalau pergi berbelanja dengan Mama memang selalu selama ini, dari tadi hanya keliling tidak jelas, membandingkan sayuran satu dengan sayuran yang lainnya. Padahal sayuran yang dicari Mama sudah ada sejak pertama kali kami menginjakkan kaki di pasar, tapi Mama memilih berkeliling dulu. Dan akhirnya sayuran yang dia temui pertama kali tadi yang dibelinya.
Sambil membawa belanjaan yang berat aku mengekori Mama dari belakang. Mama tengah sibuk memilih brokoli kesukaanku.
"Pagi Tante?" Saat suara yang terdengar akrab ditelinga itu menyapa, aku langsung menoleh
Ku lihat, Saga berdiri mengenakan switer abu-abu nya. Dia tersenyum ramah kearah Mama.
"Eh Saga,"
Saga langsung mencium tangan Mama , dia menatap ku sekilas tapi tidak lama
"Nyari apa kesini?" Tanya mama
"Jemput Mama, Tan" Saga tersenyum hangat.
Dan saat dia menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Jujur hatiku kembali berdetak seperti dulu apalagi mengingat kalau Saga dan Aliya tidak memiliki hubungan seperti dulu lagi.
"Mana Mama mu?" Tanya Mama
Saga menunjuk kearah dimana penjual daging berada. Mata Mama dan mataku mengikuti arah tangan Saga.
"Yaudah Tante, saya permisi dulu" pamit Saga
Mama hanya mengangguk kemudian merangkul ku dan mengajakku pergi. Aku memang benar-benar pergi dari tempat itu, tapi tidak dengan hati dan fikiran ku, rasanya hati dan fikiranku tetap mengikuti Saga.
🚕🚕🚕
Dirumah, aku hanya duduk sambil memainkan ponsel, berita tentang Ajil sudah tidak terdengar ditelingaku lagi. Juga besok pengambilan rapot jadi aku sedikit bersantai hari ini.
Aku sudah berjanji akan pergi kerumah Dian jam satu siang nanti, dan sekarang masih pukul setengah satu. Aku membuka Instagram , menggulir beberapa foto yang muncul di laman , salah satunya adalah postingan terbaru Saga, dia berjalan menggunakan kemeja putih dan celana Levi's.
Postingan yang dia beri caption berupa "Melangkah memperjuangkannya"
Aku berhenti, memandangi foto itu begitu lama. Memperjuangkan siapa yang dia maksud, Aliya atau___
Aku langsung menggeleng saat diri ku sendiri yang sedang menjadi pilihan dari siapa yang tengah diperjuangkan Saga.
Sudahlah, lebih baik aku pergi kerumah Dian saja, aku lekas berganti dan berpamitan pada Mama karena aku akan pergi dengan Nurul.
Sampai dirumah Dian yang jaraknya begitu jauh dari rumahku. Kami dipersilahkan duduk, melihat rumah Dian yang dindingnya dari papan. Di dinding itu ada foto dirinya dan nenek.
"Diminum Van, adanya teh hangat" kata Dian memberikan teh hangatnya.
Aku mengangguk, begitu juga dengan Nurul yang tanpa basa-basi sudah menyesap teh.
"Nenek Lo kemana?" Tanyaku
"Dibelakang, lagi nyiapin makanan buat kalian" kata Dian ikut duduk di depanku dengan wajah yang terbungkus cerah.
Aku menatap sudut mata Dian, dia begitu bahagia saat aku kerumahnya. Jujur, selama ini dia selalu mengatakan malu dan tidak nyaman jika harus mengajakku menginap dirumahnya. Itu kenapa selama berteman dengan Dian, aku belum pernah tidur dirumahnya, jika di rumah Sofia atau Nurul aku pernah tidur meski tidak sesering aku menginap dirumah Kayla dulu.
Aku akan menceritakan tentang Dian sedikit pada kalian. Dian adalah anak yatim piatu, ibunya meninggal disaat melahirkanya dulu, ayahnya meninggal disaat dia berumur lima tahun, katanya sih terkena TBC.
Dian tinggal dengan neneknya, sudah tua, jika kutebak umurnya hampir delapan puluhan. setiap pagi sebelum pergi sekolah, katanya dia membantu neneknya pergi ke kebun, menyadap karet.
Itu kenapa Dian selalu datang kesekolah sangat siang, sebanarnya tidak terlalu siang karena kedatangan Dian selalu sama dengan kedatanganku. Sudahlah, mengenai Dian cukup seperti itu saja yang kalian ketahui, sengaja aku tidak banyak menyisipkan kisah cinta antara Dian dan Yogi.
Dian menatapku "Sofia kok belum datang?" Tanyanya
"Vanda, gak nyaman ya dirumah gue?" Tanyanya
Aku melirik Dian sekilas lalu tersenyum "Sama aja kayak yang lainnya"
Nurul sedang memakan buah jambu milik Dian, sambil bercerita mengenai tetangganya yang aku tidak kenal.
Detik selanjutnya, dua buah motor terdengar berhenti di latar rumah Dian. Awalnya kukira itu Sofia dan Ari atau Sofia dan temannya. Jadi, aku masih tetap tidur rebahan sambil menatap foto Saga .
"Kok gak di-like" yang terjadi selanjutnya adalah tangan kekar seseorang mengklik layar ponselku dua kali.
Aku terjingkat, langsung buru-buru bangun dan menatap siapa yang melakukannya.
"Lo ngapain disini?" Tanyaku pada Saga.
Ya, dia Saga yang menyukai postingannya sendiri. Aku terkejut karena dia berdiri dan mengambil duduk disebelahku, disusul Yogi yang sudah duduk disebelah Dian.
"Di ajak Yogi tadi" katanya menyenderkan punggung pada dinding.
Aku terdiam, memang bukan hak ku melarang Saga pergi kemanapun. Jadi aku hanya diam. Dian pergi sejenak. Lalu kembali lagi dengan roti-roti di tangannya.
"Gak usah repot-repot Yan, keluarin aja semua yang ada dirumah" kata Saga yang disusul tawa dari Yogi.
"Mbah kemana yang?" Tanya Yogi
"Di belakang, lagi masak"
Dian pergi lagi, sepertinya dia lah yang paling sibuk diantara kami. Jadi aku putuskan untuk berdiri dan mengikuti Dian.
"Ada yang perlu gue bantu gak?" Tanyaku
Dian menoleh, menaikan alisnya lalu tertawa "pasti ngindarin Saga" tebaknya
Aku nyengir oleh tebakan Dian. Memang aku menghindari Saga. Aku membantu Dian mengupas beberapa ciki cikian yang masih terbungkus plastik
"Si Saga kayanya serius deh Van sama elo" kata Dian tiba-tiba
"Serius? Gak ada orang yang serius tanpa ngasih kejelasan status hubungan Yan" jawabku sambil menatap roti diatas piring
"Ya siapa tahu dia punya alasan buat ngelakuin itu"
Tanganku berhenti, lalu berkacak pinggang "Kalau dia beneran serius sama gue, seharusnya dia kasih kejelasan tentang hubungan kami, yah ngatain perasaan nya kek, atau minimal jangan suka ngilang-ngilang seenaknya"
Dian tertawa oleh kata-kataku yang terdengar keras
"Sengaja banget ya biar orangnya denger" ledek Dian
"Gak ah" jawabku sewot
"Lo beneran suka sama Saga?" Tanya Dian dengan suara pelan
Aku terdiam, begitu lama. Tentang perasaan sukaku, sebanarnya aku masih menyukai Saga selengkap pertama kali aku menyatakan suka. Tidak kurang dan justru sering lebih. Tapi aku kerap meragukan kesungguhannya mengenai ini. Dia sering menghilang tanpa kabar, ditambah sering terlihat tidak sungguh-sungguh .
"Perasaan orang bisa ilang kalau lama digantungin" kataku lalu berjalan pergi membawa makanan ke depan.
note : aku mau bikin buku ke empat nih, kumpulan puisi, kira kira ada yang berminat beli
mulai nabung dari sekarang ya, nanti aku open p.o