
Saga tidak menurunkan ku didepan gerbang, dia menurunkan didepan rumah. Saat itu motor papa dan mobilnya di rumah, itu artinya mama dan papa ada dirumah.
Aku turun, memberikan jaketnya yang hanya dia letakkan di stir motor. Kami sama sama berjalan masuk rumah, diruang tamu kudapati papa tengah membaca buku sambil meminum teh, sedangkan mama kurasa tengah memasak untuk makan siang kami.
"Siang om" Saga menyalami papa.
"Ini yang namanya Saga"
Kukira mereka pernah bertemu, rupanya belum. Aku melepaskan sepatu dan berjalan kearah kamar. Sampai di undakan nomor tiga, papa memanggil.
"Vanda, ada nak Saga kok malah mau ditinggal"
Lho, kukira Saga mau bertamu sebagai tamunya papa, bukan tamuku. Jadi aku turun saja dan duduk di samping papa. Beberapa saat mama keluar dari dapur, aku kira dia tidak tahu kalau Saga datang. Ternyata dia tahu kalau ada tamu dan membawa dua cangkir teh panas.
"Minumannya kok gak cocok sih sama cuaca" celaku saat mama meletakkan dua gelas teh panas.
"Ih kamu nih protes mulu, susah nyari buah disini" ujar mama.
"Gak papa kan nak saga minum teh panas meskipun masih panas diluar"
Saga mengangguk "gak papa kok tante"
Kemudian mama ikut duduk dan mengobrol dengan kami. Saga banyak tertawanya, sedangkan aku banyak menguapnya. Pembicaraan papa dan Saga tentang pencak silat, prestasi prestasi dan proses selama latihan yang semua isinya aku tidak memahami sama sekali.
"Jadi kamu ini satu angkatan sama Vanda?"
Saga mengangguk "cuman beda kelas om"
"Om kira kamu kakak kelasnya"
Saga tertawa "keliatan tuanya ya om?"
Aku justru yang menjawab dengan gelengan, Saga sempat menatapku saat aku menggeleng. Itu terjadi hanya refleks, sungguh bukan keinginan ku untuk melakukan itu.
"Om ini cuman sempat mengantarkan Vanda berangkat sekolah, kadang waktu jam Vanda pulang ,om masih di kantor polisi" ujar papa.
"Iya om, sama kayak papa juga. Makanya papa beliin Saga motor biar gak minta jemput terus"
Papa tertawa" enak kalo cowok, Vanda ini gak bisa naik motor, naik sepeda aja pernah nabrak"
Saga matap ku .
"Itu udah lama kali, sekarang kalo belajar sepeda paling juga bisa"
"Ah yang bener?" Tanya mama "kemarin itu pas kamu ikut Ajil ke gunung, kamu yang gak bisa sepeda sendiri kan" ledek Mama.
Saga tertawa, begitu juga mama dan papa. Kurasa mereka sedang menertawakan kebodohan ku
"Kalau gak, biar sepulang sekolah Saga yang nganterin Vanda om"
Eh, aku kaget dong saat Saga mengatakan kalimat itu.
"Gak ngerepotin nih?" Papa justru tidak berusaha menolaknya, malah terang terangan menerima
"Enggak lah om, kan pulangnya juga barengan. Palingan kalau Saga ada kegiatan OSIS si Vanda nungguin Saga"
"Bagus itu" Mama bertepuk "Vanda jadi bisa ikut eskul kayak kamu"
"He he" papa tertawa "Vanda ini dari SMP gak pernah yang namanya ikut eskul eskul, pasti pulang abis itu les. Jadi badannya gak sehat"
Sehat kok, emangnya dijemur ditengah lapangan bikin sehat. Yang ada bikin Vanda mimisan kali pa. Rasanya ingin ku jawab seperti itu.
"Yaudah kalo gitu, om yang antar Vanda berangkatnya, biar pulangnya bareng kamu"
Saga mengangguk, dari wajahnya tidak ada beban. Sepercik yang kubilang tadi kini semakin melebar. Aku takut, takut jika nanti sudah berharap tinggi pada Saga tetapi lelaki itu tidak menaruh rasa apapun padaku.
🚕🚕
Upacara tadipun aku masih menatap Saga yang sebagai pemimpin upacara. benar kata teman teman ku, Saga itu tampan tak tercela, semua orang pasti mau dengan dia. suara yang lantang, tegas dan berwibawa aku rasa dia patut jadi polisi kelak.
Selesai upacara hal yang aku paling tidak sukai adalah mendapat jadwal olahraga dihari Senin dan jam pertama. Harus membawa buku berat ditambah seragam olahraga.
Aku dan siswi perempuan berganti didalam kelas. aku tidak suka keadaan seperti ini, di sekolahan ku dulu, ada ruangan ganti khusus perempuan, tapi disini harus duduk dibawah bangku, dan takut kalau pintu dibuka.
"Van, kita olahraganya digabung sama kelas nya Saga" Dian memberitahu dari bawah meja
"Ha" aku menoleh nya
"Hadap sana Vanda, nanti ada yang ngintip gue"
Aku tidak lagi menghadap ke Dian, menghadap ke depan untuk menunggu gilirannya berganti. Dia berdiri setelah selesai berganti baju.
"Iya, dari semester satu olahraganya digabung" wajah Dian sangat bersemangat.
"Kok Lo kayak seneng gitu sih?" Tanya ku . Dia hanya menjawab dengan tersenyum saja
"Si Dian kan lagi deket sama Yogi" papar Nurul yang juga ikut berjalan bersama kami.
Aku kaget, selama beberapa hari kenal dengan Dian. Dia tidak pernah bercerita tentang siapapun dan tidak pernah kulihat berduaan dengan orang yang terlihat kekasih. Kecuali saat Saga tidak berangkat kemarin.
"Yogi siapa?" Tanya ku pada Dian.
"Itu temennya Saga" Dian menunjuk seseorang yang sedang menendang bola ke arah Saga. "Tapi jangan bilang siapa siapa ya"
Saat aku melihat kearah Saga, Saga juga menlihat ku. Tidak lama karena aku langsung memindahkan arah fokus kearah Sofia yang berjalan dengan Ari.
"Sofia pacaran sama Ari?" Tanya ku
"Udah putus" jawab Nurul yang mengagetkan
Lho, kok udah jadi mantan tapi seakrab itu.
"Kok bisa akrab ya?" aku menggaruk tekuk.
"Sofia mah emang gitu, mantan mantannya malah jadi temen semua. Dikelas itu mantan Sofia semua rata rata" Nurul cekikikan "si Dayat, Ari, Candra, fajar semua mantan Sofia pokoknya deh"
Aku menoleh kearah Nurul yang masih cekikikan
"Terus elo siapa Rul?"
Maksudku Nurul pacarnya siapa, dari tadi perasaan Nurul yang selalu ngebagiin informasi tentang siapa aja mantan Sofia dan siapa Yogi.
"Nurul mah jomblo forefer" kata Nurul menepuk bahunya.
"Kelamaan jomblo bisa mati perawan lo Rul" candaku.
Nurul, aku dan Dian kompak tertawa. Tawa yang membuat Saga menoleh kearah ku, dia memandangi ku sangat lama. Sampai Dian menyenggol sikut untuk membuat aku sadar kalau Saga menatapku.
Saat mata kami bertemu saga. Memindahkan fokusnya pada bola, secepat itu hanya hitungan detik kami bersitatap.
"Cie yang diliatin gebetan" goda Dian dan Nurul.
"Apa sih, kita cuman temen" aku pun berusaha menyembunyikan semu merah yang sudah menghiasi pipi.
Pak Galih membunyikan sempritan agar kami berbaris, baju olahraga disini hanya aku yang berbeda. Aku mengenakan baju olahraga sekolah lamaku karena stok baju olahraga di koperasi sudah habis.
Kami berbaris melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Saga, Yogi, Ari dan Sofia.
Aku mengikutinya, jujur arah fokus ku tertuju pada wajah Saga yang terpancar sinar matahari. Kulit putihnya terlihat sedikit memerah, mata sipit nya selalu hilang saat dia tertawa. Gigi putih kelinci yang selalu membuat ku terhipnotis oleh senyumnya.
Saga kenapa Tuhan menciptakan mu setampan itu.