
Sampai jam olahraga selesai, Saga tidak kembali ke ruang UKS. Memangnya kenapa harus dia kembali ke sini. Jadi aku memutuskan untuk pergi ke kelas, Dian selalu menjagaku. Aku rasa aku menyukai Dian, dia sama perhatiannya seperti Kayla. Seperti menemukan orang yang sama di tempat yang berbeda.
Selesai jam olahraga kami istirahat, untuk mengisi stamina sebelum melanjutkan ke pelajaran selanjutnya.
"Mau ikut kekantin?" Tanya Dian saat aku sudah duduk di meja.
Aku menggeleng "nitip aja"
Kuberikan Dian uang lima puluhan.
Setelah itu Dian pergi, dengan Sofia dan juga Nurul. Aku meletakkan kepalaku diatas meja, rasanya pusing saja. Meski tidak sepusing tadi.
Bunyi kursi yang bergeser di samping membuatku membuka mata. Awalnya ku kira itu Dian ternyata Micky. Lelaki itu membawa sebungkus roti dan juga air mineral.
"Gue denger, elo tadi mimisan?" Tanyanya.
Kurasa dia sudah bersikap seperti semula, tidak secuek kemarin.
"Iya" jawabku tanpa menegakkan kepala.
"Nih, gue beliin roti sama air putih, dimakan" katanya.
Aku tersenyum, senyum yang lemas "gak usah repot repot lagi Mik, Dian udah beliin gue kok"
Micky tertawa, tawa yang selalu bisa menular padaku. Entah kenapa aku jadi menegakan kepala dan memiliki stamina untuk bercanda dengan Micky.
"Kelas lo gak ada gurunya?" Aku membuka roti yang dibawakan Micky, memakannya tanpa memperdulikan Micky tengah bertompang dagu di meja.
"Enggak, lagi males" jawabnya.
"Ih, suka bolos deh lo, gak naik baru tahu rasa"
Micky menatapku, tersenyum tanpa bunyi.
"Nanti pulang sekolah, bareng gue yuk" tawar Micky.
Sebenarnya aku hampir mengiyakan kalau tidak melihat Saga yang berjalan didepan kelas tanpa menoleh ke arahku. Tidak tahu dia dari mana yang jelas dia berjalan menuju kelasnya. Kukira tadi, dia akan menemuiku ternyata tidak.
"Gak ah, gue pulangnya bareng Saga"
Padahal kami tidak janjian sebelumnya, kalimat itu ku ucapkan karena mengingat pembicaraan papa dengan Saga kemarin.
"Udah deket kayaknya sama Saga" cicit Micky terdengar kesal.
"Gak juga, cuman kemarin dia nawari gitu"
Micky manggut manggut "kapan kapan jalan bareng gue mau gak?" Tawarnya lagi.
Aku mengangguk saja selama pergi dengan orang asyik, kufikir tidak jadi masalah.
"Boleh, kemana tapi?"
"Rahasia"
Dian yang dari kantin datang dengan kantong plastik ditangannya. Saat matanya melihat Micky ,wajah itu berubah tidak senang. Entah kenapa, padahal Sofia dan Nurul wajahnya biasa biasa saja saat melihat Micky.
"Ngapain Mick Lo disini?" Tanya Dian tajam
"Ampun mantan gebetannya Rio, gak suka banget sama gue" cicit Micky menggoda Dian.
"Gak lah" Dian memasang wajah congkak miliknya.
Melihat mereka bersiteru seperti itu justru mengundang tawa.
"Elo sih udah gue bilangan, pacaran aja sama Rio malah gak mau. Sekarang baru tahu rasa kan di PHP in si Yogi" Micky bangkit
"Pergi dulu ya, males ada nenek sihir"
Saat Micky berjalan pergi, Dian menjulurkan lidahnya.
"Gak usah ke sini sini ya, anak IPS dilarang ke kelas anak IPA" ujar Dian.
Micky tidak jadi pergi justru melebarkan lengannya dan menarik wajah Dian untuk mencium ketiak Micky.
Aku tertawa, sedangkan Micky tanpa tahu malu menyunggingkan pantat teposnya.
"Dada mantan gebetan Rio"
"Heh anak sipanse, awas ya kalo ketemu" teriak Dian susah membabi buta.
🚕🚕🚕
Dian dan aku berjalan membawa tumpukan buku ke kantor. Nasib duduk di depan, selalu di perintah guru. Saat di kantor, aku melihat Saga dan Aliya yang tengah mendengarkan intrupsi guru. Awalnya aku biasa saja melihat mereka, toh memang tugas mereka yang mengharuskan selalu bersama. Tapi saat Aliya memainkan jari jari Saga di belakang. Entah kenapa, ada irisan yang kurasakan perih.
Aku tidak suka pemandangan di depanku, pemandangan saat Aliya memainkan jari jari tangan Saga. Seharusnya dia fokus saja pada pembicaraan mereka dengan guru itu, bukan bermain jari secara diam diam.
"Yan, gue duluan ya" kataku saat dia masih dipanggil pak Galih.
Aku berjalan pergi, menuju koperasi untuk membeli air mineral.
Selesai membayar, air itu ku teguk hingga kandas, berniat keluar tapi justru berhenti diambang pintu.
Saga dan Aliya tengah berdiri sambil tertawa, tidak tahu apa yang membuat mereka berdua tertawa selebar itu. Saga mengusap puncak kepala Aliya, sama saat dia mengusap puncak kepalaku.
Apa tadi adalah reaksi yang sering Saga berikan pada perempuan lain.
"Van, gue cariin tau nya elo disini" panggil Dian yang datang dari arah ruang guru.
Aku tidak tersenyum saat menatap Dian "udah, Balik yuk ke kelas"
Dia melingkarkan tangannya di lenganku, tidak menolaknya.
Kami berjalan, melewati Saga yang tahu kalau aku melintas di depannya. Tapi dia tidak menyapa ku, tidak juga menanyakan apakah kondisi ku baik baik saja.
Dia justru melanjutkan pembicaraannya dengan Aliya, hanya beberapa detik saja kami saling bertatapan.
Saga aku benci sama kamu!!!!
🚕🚕🚕
Jam pulang sekolah, aku berniat pulang dengan Micky saja. Sakit hati jika harus pulang bareng Saga. Tapi lelaki itu justru berdiri didepan kelas sambil memasukan jarinya didalam saku celana. Ari yang lebih dulu keluar berhigh five dengan Saga.
"Nunggu sopo?" Tanya ari.
"Itu" Saga menunjukku. Satu kelas hampir melihat ke arahku.
Aku memelankan saat memasukan buku kedalam tas.
"Van, ditungguin Saga nih" teriak Dian yang sudah keluar kelas.
Aku melirik kearah Saga, bahkan lelaki itu tetap berdiri didepan pintu. Sengaja juga kupelankan langkahku, agar Saga jenuh menunggu dan pergi, tapi dia tetap disana melihat jalan santai ku.
Hingga beberapa centi darinya. Tangan Saga menarik tekuk ku, dia mendorong tubuhku untuk lebih cepat berjalan. Aku langsung protes
"Ih jangan dorong dorong"
"Lagian, jalan udah kayak kurcaci aja, lelet banget" cela Saga. "Oh ya lo kan emang kurcaci" Saga tertawa.
"Apa lo bilang" aku berteriak di tengah koridor. Beberapa siswi dan siswa yang masih di depan kelas atau koridor menatap kami.
"Gak usah ngegas kali Van" sungut Saga.
"Eh gue ada rapat OSIS, Lo tungguin gue ya. Cuman bentar kok" katanya.
Iyalah aku akan menunggu dia. Memangnya aku mau protes, aku kan di sini ikut boncengan dia. Saga membawa ku ke ruangan OSIS yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kelas. Disana sudah banyak siswa siswi dengan tas tertenteng di punggung.
Mereka menatap ke arah kami, ada yang berbisik dan ada yang terang terangan memberikan tatapan tidak suka padaku.
"Mau masuk?" Tawar Saga
"Sama siapa Ga?" Tanya Yogi.
"Pacar ya?" Terka siswa yang disebelah Yogi.
"Aliya ada?" Saga justru tidak menjawab ucapan Yogi maupun temannya. Dia malah masuk kedalam ruangan OSIS.