
Aku menguap begitu terdengar suara ribut ribut diluar. Yang tadinya tertidur jadi terbangun. Aku meraba sekitar, mencari dinding untuk berjalan. Setelah dapat, aku berjalan cukup pelan, sayup sayup aku mendengar suara Micky berdebat dengan papa, tapi masih tidak ku pahami apa topik pembicaraan mereka.
Kaki ku terus melangkah, sampai kudapati sebuah esel pintu, aku berhenti sejenak. Awalnya berniat memanggil Mama namun begitu mendengar suara Micky, aku langsung tertegun
"Om, golongan darah Vanda dan Micky itu sama Om, jadi Micky akan donorin mata Micky untuk Vanda" mendengar itu kakiku langsung lemas, bahkan dadaku terasa sesak.
"Kamu sudah gila ya Micky" papa berteriak cukup lantang.
"Vanda kehilangan dunianya cuman karena Micky Om, jadi udah sepatutnya Micky ngorbanin apa yang harus Micky korbanin ke Vanda sejak awal" suara Micky terdengar yakin, tidak ada kegugupan dari suara nya.
Bahkan ketika mendengar nada bicara Micky rasanya aku tersambar petir. Aku tidak menyangka, lelaki yang tidak pernah ku lihat sangat lama itu akan melakukan hal itu padaku.
"Micky cukup" kali ini suara Mama yang terdengar "berhenti menyalahkan diri kamu sendiri atas kecelakaan Vanda"
Aku hanya mampu terduduk dengan air mata yang sudah keluar. Kenapa harus seperti ini, mengapa harus Micky yang begitu yakin akan mendonorkan mata nya untukku?
"Kamu dan Saga sama saja" kata mama membuatku justru semakin terisak "Vanda kecelakaan bukan karena kalian, itu semua udah musibah Micky"
"Tapi Tante, kalau dari awal Micky gak bawa Vanda ke Palembang , kejadian kayak gini gak bakal terjadi" suara Micky kian Menaik dengan keyakinannya.
Lututku begitu lemas, jantungku berdegup amat kencang, nafasku terengah-engah . Aku ingin berlari dan berteriak pada orang rumah, bahkan ingin marah pada Micky.
"Om sama Tante bisa nyari donor mata untuk Vanda tanpa bantuan kamu" kata papa ikut Menaik
Mau tidak mau aku harus bangkit, meski kakiku benar benar terasa lemas, aku membawa kaki melangkah. Meski dengan hati hati, beberapa langkah dari posisiku tadi , aku memanggil Mama, karena jujur aku hanya takut salah ruangan.
"Mama" panggilku
Tanganku masih meraba sekitar berharap langkah yang kuambil menuju ruang tamu itu benar. Ada tangan yang menggapai tanganku, tangan lembut itu kukenali milik mama.
"Vanda udah bangun?" Tanya mama dengan suara bergetar.
Meskipun aku buta. Aku tidak benar benar kehilangan semuanya, beberapa hari ini aku sudah menerima tentang kondisiku. Aku masih bisa mencium aroma, aku masih bisa mendengar dan setidaknya aku masih bisa melangkah untuk mendengar kan cerita papa tentang cuacana. Jadi ketika mendengar Micky berniat mendonorkan matanya aku tidak marah, hanya merasa kasihan dengan diriku sendiri yang mendapatkan belas kasihan dari orang lain.
Tidak salah kan?
"Micky masih disini?" Tanyaku begitu Mama sudah membimbingku untuk duduk di sofa
"Gue disini Vanda" Micky menggenggam tanganku.
Tangannya terasa dingin, sangat dingin untuk cuacana panas seperti ini.
"Gue udah denger semuanya" kataku lirih "makasih Mik karena udah punya niat donorin mata elo buat gue" imbuhku
Aku melepaskan cekalan tangan Micky "tapi gak usah. Gue gak mau cuman karena gue , elo ngelakuin ini semua" aku menjeda karena dadaku terasa perih, nafasku mulai tidak beraturan dan air mataku terasa akan menetes.
"Gue gak mau punya dunia sedang kan elo kehilangan dunia elo sendiri" tangisku langsung pecah untuk mengatakan itu
"Ini semua salah gue Van" suara Micky tidak semantap tadi, hilang tercekat di kerongkongan.
Aku masih menangis sesegukan sedangkan dari arah samping kudengar Mama menahan tangisnya.
"Lo pulang aja, jangan kesini lagi" kataku melarang Micky "gue gak mau ketemu elo Mik"
Aku langsung berdiri dan meraba sekitar. Untungnya papa langsung meraih bahuku dan membimbingku untuk masuk kamar.
Lebih baik aku melarang semua orang kesini dari para mereka terluka hanya melihat keadaanku.
🚕🚕🚕
Menjadi buta tidaklah menyenangkan, sungguh, dunia terasa menghitam, semuanya terasa tidak bewarna. Aku hanya bisa mendengarkan suara televisi tanpa melihatnya. Menebak nebak artis mana yang sekarang bermain sinetron. Juga menebak nebak ekspresi dari seseorang yang sedang ku ajak berbincang. Mungkinkah dia sedang tertawa? Mungkinkah dia sedang sedih?
Prak
Ada sesuatu yang terjatuh dari meja, aku tidak tahu itu apa. Mungkinkah bingkai foto? Atau gelas.
Setelah kutemukan aku mencari Mama, jujur aku memang ingat tombol angkatnya, tapi aku tidak tahu siapa yang menelfon. Apa itu Saga orang yang harus kujauhi atau orang lain.
"Ma Mama" aku memanggil Mama sambil meraba raba.
"Ma Mama"
Sesuatu dengan keras menghantam kakiku, aku terjatuh hingga merintih kesakitan. Mama tidak menjawab panggilan ku.
Aku berdiri meraba dengan lebih hati hati. Menemukan dinding dan berjalan mengikuti dinding.
"Ma Mama" panggilku lagi
Bugh
Kali ini aku menbarak apa lagi? Kenapa begitu banyak benda yang tidak kuhafal dirumah ini?
Aku terjatuh sambil menangis. Merasakan kakiku yang terasa perih.
Semenyedihkan ini hidupku sekarang? Aku menangis saat menyadari betapa tidak berguna dan menyedihkannya hidupku.
Aroma yang sering kukenali tercium kembali. Itu aroma Saga, aroma parfum mint yang sangat kuat.
Ada tangan yang meraih bahuku, aku terdiam, tidak dia tidak membimbingku untuk berdiri namun menggendongku. Aku merasakan tubuhku melayang, hingga perlahan lahan merasa tubuhku turun dan berada diatas sofa, aku hafal dengan ukirannya.
"Kaki Lo luka" suara Saga terdengar lembut.
Aroma Saga perlahan mulai pudar, aku hanya terdiam, bingung haruskan menolak kedatangannya atau menerima saja.
Aroma itu kembali tercium lagi.
Tangannya menyentuh lutut dan jari jemari kakiku.
"Kaki Lo memar Vanda" katanya
Dia mengeluarkan sesuatu yang dingin di kakiku, lalu terasa seperti mendapatkan angin. Perlahan dia mengoleskan sesuatu lagi.
"Saga" aku memanggilnya meski lirih "lo ngapain disini?"
"Gue selalu ada disini buat elo Vanda" katanya "waktu elo tidur, waktu elo duduk didepan rumah, gue selalu disini Vanda, selalu ada buat elo" katanya
Aku hanya terdiam, tidak tahu apakah Saga memang tulus atau tidak.
"Gue gue"
Srekk
Aku merasakan hangat di tubuhku, apakah Saga memelukku? Dia memelukku dengan begitu lembut.
"Gue sayang elo Van, gue sayang elo" katanya berulang ulang membuatku meneteskan air mata.
Saga, aku tidak tahu sekarang harus memperlakukan mu seperti apa, sejahat dulu atau sebaik saat aku mencintaimu. Aku hanya tidak ingin kamu baik padaku karena merasa bersalah atas kecelakaan yang menimpa ku. Aku meneteskan air mata, sekarang orang baik padaku itu benar benar baik atau hanya belas kasihan yang mereka tunjukan.
Saga hatimu itu sebenarnya seperti apa?