
"Vandaa" suara Dian terdengar nyaring.
Aku sedang duduk diluar bersama papaku, dan suara motor yang datang tadi itu teman temanku.
"Udah pulang sekolahnya?" Tanyaku
Hari ini hari pertama mereka sekolah, aku senang andai aku tidak buta. Senang melihat teman temanku disekolah.
"Iya dong" kata Nurul langsung membimbingku untuk masuk kerumah.
"Siang Tante" Sofia menyapa mama.
"Siang Sof, udah pada makan?"
"Belum Tante he he " Dian tertawa diujung kalimat, dan itu membuatku ikutan tertawa.
"Yaudah ayok makan dulu, diajak sekalian Vanda" titah Mama.
Teman temanku langsung mau makan, dan aku dibimbing mereka untuk duduk di dapur. Disana Dian , Sofia dan Nurul menawarkan ku menu yang dimasak Mama.
Aku hanya menyebutkan bagian yang ku inginkan, selebihnya tidak mau. Kalau penasaran bagaimana aku makan, sebenarnya orang buta masih mengenali organ tubuhnya, maksudku aku masih bisa tahu letak mulut meskipun tidak bisa melihatnya, Masih bisa mengarahkan sendok Dengan benar meski tidak tahu yang kumakan itu apa.
"Vanda kelas kita di ujung, deket sama kelas XI IPS" Dian memberitahu kelas ku terbaru
Aku hanya mengangguk. Masih mengunyah makanan buatan Mama.
"Wali kelas kita siapa?" Tanyaku basa basi
"Pak Heriyat, tahu gak?" Tanya Nurul
Aku menggeleng karena memang lupa dan sedang tidak berpura pura
"Itu Lho yang suka sama warna pink" timpal Sofia
"Oh iya iya inget, yang pas gue sama Dian ke kantor dulu, dia pesen ciki tapi harus warna pink kan" entah kenapa aku bersemangat untuk membicarakan wali kelas kami yang baru
Meski tidak tahu kapan aku bisa pergi sekolah. Meski tidak tahu apakah aku bisa bertemu dengan wali kelas legendaris yang begitu menyukai warna pink itu.
"Temen temen tadi nanyain kondisi kamu" kata Nurul memberitahu "mereka pengen jenguk, boleh gak?"
Sendok yang semula terangkat, perlahan lahan kuturnkan dengan lemas. Membayangkan wajah teman sekelas ku yang akan mengunjungi dan melihat kondisiku rasanya aku masih belum sanggup untuk menerima rasa belas kasihan lebih banyak lagi.
"Maaf, gue belum bisa" kataku sambil menunduk.
Mereka terdiam bahkan suara dentingan sendok ikutan terdiam.
"Oh ya, Aliya tadi nanyain kamu" sepertinya Nurul berkata seperti ini untuk menghilangkan rasa sedih yang kurasakan.
"Ngapain dia nanyain gue?" Kalau yang berhubungan dengan Aliya memang selalu mengundang emosi,
Bahkan disaat aku emosi seperti ini teman temanku justru tertawa.
"Vanda, biasa aja dong ekspresinya" Dian memukul lenganku dengan keras
Fuh
Sesuatu kebiasaannya kalau sedang tertawa, bahkan aku sedikit menyesal kalau harus duduk disebelah Dian.
"Jangan mukul dong Yan" teriak Sofia amat keras
Sepertinya dia juga menjadi korban pemukulan Dian. Aku tertawa begitu mendengar rintihan Sofia.
"Apa?" Kataku menoleh kekanan dan kiri
"Si Micky sama Saga tadi berantem disekolahan" ujarnya yang membuatku berhenti mengunyah
Bahkan aku benar benar berhenti dan tidak tahu harus beraksi seperti apa. Mengapa juga mereka harus berkelahi?
"Kok bisa?" Adalah kata yang meluncur begitu saja dari mulutku
"Gak tahu sih" Dian tiba tiba terdengar ragu untuk bercerita lagi "pokoknya mereka pukul pukulan sampe babak belur"imbuhnya
Terdengar decak an entah dari siapa, yang jelas aku merasa Dian sedang mendapat protes an karena bercerita mengenai Saga dan Micky.
Aku tidak lagi menanggapi, memakan kembali makanan ku sampai habis.
🚕🚕🚕
Papa menyanyikan indung indung Jawa yang baru dia pelajari dari temannya, katanya lagu ini mampu mengusir setan. Ada ada saja
itu hanya muslihat papa supaya aku tertawa.
"Cuaca diluar seperti apa pa?" Tanyaku memegang tongkat pemberian papa
Papa menghentikan nyanyiannya "lagi panas, padahal udah sore" ucapnya
Aku mengangguk "Micky kok jarang kesini?" Tanyaku yang seketika teringat soal perkelahian antara Micky dan Saga.
"Dia kesini terus tapi pas dia kesini kamu nya tidur" ucap papa "oh ya, papa baru tahu kalau Micky udah gak punya bapak"
"Kalau gak salah Papanya meninggal pas dia kelas satu SMA" ujarku
"Belum lama ternyata" suara papa seperti mengambang, mungkin dia sedang memikirkan sesuatu hal
"Papa kayaknya tertarik banget sama Micky?"
"Enggak sih, cuman ngeliat Micky itu jadi inget papa jaman dulu" papa berdehem sejenak, kursi sofa yang kami duduki sedikit bergoyang "Micky dan papa punya kecocokan banyak hal, Micky itu jenis orang yang suka menutupi luka dengan perbuatan negatif" papa tertawa diujung kalimat
"Dia cuman pengen keliatan jahat buat melindungi dirinya, sama kayak papa. Papa dulu waktu masih muda kayak gitu, sengaja ngerokok cuman biar orang orang gak tahu kalau papa penakut, papa sering bolos cuman karena papa gak mau orang orang tahu kalau papa sering sakit" papa tertawa "kayaknya Micky punya rasa sakit yang beda kayak papa, cuman dia gak punya tempat buat cerita, jadi dia ngelampiasin dengan hal hal buruk yang disebut sama pelakunya "menenangkan" " lagi lagi papa tertawa
Memikirkan mengenai Micky memang selalu rumit. Micky memang bad boy, dia tidak pernah mentaati peraturan sekolah, dia selalu berkelahi entah dengan siapapun. Adik kelasnya, kakak kelas bahkan teman sekelasnya pun. Dia juga di kenal playboy, tapi entah kenapa jika denganku, Micky menjadi pribadi yang berbeda dari yang diceritakan orang orang.
Kadang, aku sering kepedean, kalau Micky sengaja menunjukan sisi baiknya hanya padaku, untuk menjaga ku karena dia menyukaiku.
Mungkin kata papa benar , Micky berkelahi hanya untuk menyembunyikan bahwa kembarannya pernah meninggal oleh bullying di sekolah. Dia memainkan hati perempuan hanya karena tidak ingin orang orang tahu kalau hatinya terluka, kalau hatinya kosong dan dia tidak bisa merasakan cinta. Dia membolos karena dia tidak ingin orang orang tahu betapa sedihnya dia menjalani hidup tanpa sosok ayah.
Aku memeluk lengan papa dari samping. Mengenai Micky memang rumit tapi aku selalu mampu menebak tentangnya. Tapi mengenai Saga, Saga jauh lebih rumit yang sulit untuk kutebak.
"Kalau Saga?" Tanyaku disela sela lagu papa
"Saga?" Ulang papa "emmmm" papa berdehem sejenak
"Saga anaknya baik" ujar papa membuatku sedikit kecewa
Ah papa saja susah menebak Saga, karena memang apa yang ditampilkan Saga sejak awal selalu sesempurna itu. Saga baik, bahkan tidak pernah jahat sedikitpun dengan siapapun. Dia tidak pernah berkelahi, kecuali ketika dia membela sesuatu hal yang juga diyakini orang orang sebagai kebenaran
Dia pemimpin yang baik, penuh wibawa dan terkesan selalu bertanggung jawab
Tapi entah kenapa Saga selalu menjadi orang brengsek hanya kepadaku, dia memang baik diawal tapi berubah menakutkan ditengah tengah. Berubah menjadi seseorang yang buruk
Hanya itu saja yang kutahu tentang Saga.