
Setelah acara Prom night party yang mewah di SMA ku, kami berempat berlarian kearah lapangan voly yang letaknya lebih tinggi, sambil membawa petasan dan kembang api, kami berteriak.
"Gooddd byeee SMAAAA" teriak kami kompak.
Setahun ini, dengan susah payah aku melalui nya sendiri, tanpa Saga maupun Micky. Setiap hari selalu melihat dunia dengan mata milik Saga, Saga adalah sebagaian dari aku yang melengkapi kekurangan ku.
Setelah tanpa Saga hari hari di SMA ku terasa tidak menyenangkan, tidak ada yang membuatku ingin segera istirahat agar bisa melihat wajah Saga, tidak ada jam olahraga yang kunantikan, tidak ada waktu baris upacara yang selalu bisa membuatku melihat barisan Saga. Tidak ada jam pulang yang membuatku ingin cepat cepat pergi ke parkiran hanya untuk bertemu Saga.
Saga apa kabar? Kita sudah lulus hari ini, sudah melepaskan seragam SMA dan akan menuju ke gedung kampus tujuan masing masing. Kau akan pergi dengan ku melihat dunia ini, karena mata kita sudah menyatu.
Aku menatap ketiga temanku yang tersenyum bahagia, seolah Mereka sudah menantikan kelulusan ini. Tanpa sengaja mataku juga menatap mata Aliya, lupa ku ceritakan hubunganku setelah Saga tidak ada.
Kami sempat berbincang, hanya sekali waktu diruang OSIS, tapi tidak membicarakan mengenai Saga atau apapun, hanya berbicara mengenai kegiatan Pramuka yang sejak setahun lalu aku rajin mengikutinya.
Juga tentang Rio maupun Yogi, aku tidak memusuhinya hanya menghindari melihat mereka karena saat mataku bertatap dengan mereka rasanya aku sedang melihat Saga dan Micky berada disebelah Rio ataupun Yogi.
"Akhirnya lulus" teriak Dian menggebu begitu petasan sudah habis.
"Iya nih gak nyangka, gue kira gue bakal berhenti sekolah dan nikah" kata Sofia sambil tertawa cekikikan
Aku juga, aku kira aku tidak akan menamatkan sekolah menengah, akan berhenti hanya karena takut pergi sekolah oleh bayang bayang Saga dan Micky. Aku juga takut, oleh kenangan yang kerap menghantui. Apalagi takut membuka mata karena selalu merasa bersalah oleh donor mata dari Saga.
Micky, apa kabar? Kau dimana? Terakhir kami mendengar kabarnya saat Rio dan Yogi pergi ke Palembang untuk menemuinya. Hari ke lima puluh empat Micky Koma dan rumah sakit sudah mengabarkan kalau peralatan yang selama lima puluh tiga hari membantunya bertahan hidup dilepas. Setelah itu tidak kami dengar lagi kabar Micky. Entah dia kemana? Ibu nya juga pindah tugas secara mendadak, tidak ada satupun dari kami tahu kabar Micky.
Masih adakah kamu dibumi atau sudah bersama dengan Saga menyelesaikan masalah kalian?
Aku menatap langit langit yang bertaburan bintang. Dian, Nurul dan Sofia sibuk berfoto sedangkan aku sibuk menatap mereka.
Dian, mendapat beasiswa bidik misi di UNSRI (Universitas Sriwijaya), Sofia mengikuti Ari kuliah di STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) kota Belitang. Sedangkan Nurul dia sudah mendaftar di STAI ASHIDIQIYAH lubuk seberuk OKI.
Tidak ada yang kuliah jauh kecuali Dian juga Yogi dan Rio. Kudengar, Yogi kuliah di Universitas Negri Malang. Dan Rio dia di ITB, melanjutkan rencana kuliah mereka , Rio dan Micky .
Aku? Kalian masih ingat janjiku untuk kembali lagi ke Jakarta, dan aku sudah melakukannya. Aku kuliah dengan Kayla, perempuan yang punya mulut seperti toa itu sudah tahu cerita hidup ku selama setahun kemarin, bahkan dia sudah tahu apa saja yang kulalui. Kami sepakat kuliah di UI, tenang saja nilaiku tidak sepenuhnya jelek meskipun sudah absen hampir tiga bulanan. Aku bisa mengejar keterlambatan ini.
Mama dan papa juga sudah mengikhlaskan aku untuk pergi jauh darinya, kemanapun asal aku bahagia dengan pilihanku.
"Next Time kita bakalan pisah sendiri sendiri, tapi jangan sampe putus komunikasi" ancam Nurul
"Tenang aja kan gue cuman di Belitang sini, lagian kalau elo mudik dari Seberuk gue bakalan nemuin elo di Cahya Mas" kata Sofia merangkul Nurul
Melihatnya saja aku bisa tertawa, dan Dian memeluk Nurul dari samping.
"Gue bakalan sering sering nelfon kalian" katanya
"Iya, dia udah ketemu mall jadi bakalan ngelupain kita" sahut sofia
"Tenang aja, Lo nanti di pondok hati hati ya, kuliah yang bener, Lo juga Sof awas kalau gue denger kabar kalau elo bunting sama Ari" kata Dian sambil tertawa
Sofia tidak menangapi. Baik Nurul dan Dian menolehku dengan kompak, seperti tengah menunggu aku bersuara.
"Gue juga, bakalan ngabarin kalian" kataku melemah sambil memeluk mereka
Bagaimana pun merekalah yang membuat masa SMA ku menjadi membahagiakan meskipun tanpa Saga dan Micky.
"Gak nyangka kita lulus" ucap Dian sekali lagi
"Ahhh udah bukan anak SMA lagi" teriak Sofia
Ah masa SMA ku begitu sangat menyakitkan, begitu penuh dengan kenangan yang pahit. Aku menatap lapangan voli sekitar lalu berjalan meninggalkan mereka dengan menyusuri sekolahan
Bagaimana pun kerasnya aku menutup mata dan membukanya, Saga dan Micky tidak pernah ada disini, bagaimana pun kerasnya aku menunggu mereka kembali, mereka tetap tidak kembali.
Aku berhenti dikelas Micky, hanya kesunyian yang kutemui, tidak ada Micky bermain gitar disini. Micky adalah kebanggaan PSHT yang selalu membawa nama pencak silat Setia Hati Terate itu ke pertandingan IPSI. Seharusnya dia ada disini bersama kami, menggoda Dian karena akhirnya Dian putus dengan Yogi, juga menggoda Rio yang masih menjomblo hingga saat ini. Mungkin memusuhi ku karena tahu aku ber pacaran dengan Saga.
Aku melanjutkan melangkah, menatap kelas yang sempat membuat aku dan Saga mempunyai dosa manis semasa Pramuka. Aku berhenti sejenak melangkah, lalu terisak, Aliya melintas disebelahku, dia membawa dua bunga mawar, disodorkan bunga itu kerahku.
"Selamat atas kelulusan elo Vanda" katanya dengan lirih
Aku menerima bunga itu sambil menyeka air mataku.
"Selama Saga pacaran sama gue, gue rasa dia gak bener bener sayang sama gue, karena cuman ada elo dihatinya" lanjut Aliya
" kasih bunga itu ke Saga sama Micky" Aliya menentes kan air mata lalu menyeka nya dengan cepat "sekali lagi selamat atas kelulusan elo dan atas keterimanya elo di UI"
Aliya langsung berlari pergi, mungkin tidak sanggup jika mengingat kenangannya dengan Saga. Karena bagaimana pun, Aliya yang jauh memiliki kenangan banyak dengan Saga.
Aku kembali melangkah sampai berhenti didepan kelas XI IPA 3 . Menatap kursi dan meja yang sudah terususun rapi.
Saga, Kau tahu, kita sudah lulus dan sebentar lagi akan menjadi mahasiswa, seharusnya kau ada disini memimpin angkatan kita untuk menyalakan kembang api sebagai tanda merayakan kemenangan. Memimpin angkatan kita untuk melakukan upacara terakhir kali, memimpin angkatan kita untuk mengibarkan bendera merah putih, juga memimpin calon Bantara Pramuka dalam mengambil penegaknya. Saga, tidak ada kamu sekolah tidak menyenangkan, aku kehilangan kamu, benar benar kehilangan.
Di tempat duduk Saga yang dulu, aku berhenti, menatap bunga mawar juga foto Saga dan Micky yang dipajang sebagai tanda penghormatan siswa angkatanku. Menghormati ketua OSIS dan anggota OSIS yang meninggal sebelum lulus.
Ku letakkan bunga mawar, lalu berjalan pergi.