
meski banyak tertidur di kelas, aku bisa bertahan sampai jam setengah dua. Saga sudah menungguku di luar kelas sambil menanggapi sapa sapa dari teman temannya.
"Kuat seharian?" Tanyanya
Aku mengangguk "pulang yuk" ajakku.
"Mau gue gendong gak?" Tanyanya sambil berkedip, menggoda.
Aku memukul lengannya pelan, "enak aja"
"Udah besar pakai kompres bayi" cicit Saga menggodaku "dasar bayi panda"
"Ini si Micky tadi ngasih kompres ke gue"
Mendengar itu Saga berdehem dan aku kaget dengan ucapanku yang tidak kusaring sebelumnya. Kami hanya diam, langsung pergi ke arah motor. Naik diatas motor sambil berpegangan pada pinggangnya.
"Van, tapi kita ke sesuatu tempat dulu ya" katanya
Aku mengangguk, dan Saga membawaku pergi. Cukup jauh karena sudah setengah jam Saga belum berhenti. Dia baru berhenti kala berada di depan rumah bercat hijau.
"Rumah siapa?" Tanya ku
"Dukun pijat, tadi gue udah boking orangnya" kata Saga.
Aku mengikuti Saga dari belakang
"Dukun ini udah tersohor kehebatannya, bisa menyembuhkan macam macam penyakit" ujar Saga "santet, guna guna, kudis, panu, kurap, Lo tahu ?"
"Apa? Dia yang nyembuhin?" Tanya ku bingung karena Saga memotong begitu saja ucapannya
"Enggak, itu macam macam penyakit yang kasat mata"
"Panu sama kudis gak kasat mata bdw" koreksiku
Saga tertawa, dia mengetuk pintu rumah dukun pijat yang dimaksud nya.
"Nanti panggil Mbah Harjo jangan kakak" pesan Saga.
Aku menarik sudut bibir, ada ada saja. Selang dari sana pintu bercat putih itu terbuka. Nenek nenek sekitar 90 an keluar dengan kain batik sebagai rok. Dia tersenyum pada kami
"Saga Mbah" kata Saga menyalami, aku pun ikut menyalaminya.
"Oh seng nelfon mau?" Tanya Mbah itu dengan bahasa jawa kental.
Saga mengangguk "mau mijitin temen" kata Saga.
Nenek nenek di depanku tersenyum. Namanya Mbah Harjo, rumahnya ada di ujung, lupa ditanyakan nama desanya pada Saga. Tapi kata Saga dukun bayi ini sudah terkenal sampai ke pelosok desa, mengalahkan bidan puskemas atau artis. Semua orang yang hendak melahirkan anak kebanyakan memilih mbah Harjo meskipun harus menjemput dia jauh jauh.
Dia nenek nenek sekitar sembilan puluhan, tinggal bersama suaminya juga cucu nya yang tampan. Saat melihatnya, nenek yang hampir tidak pernah mengenakan sandal ini tersenyum dengan mata sayu miliknya. Saga menyakinka, kalau tukang pijat pilihan dia benar benar ampuh mampu menyembuhkan segala macam penyakit.
entah itu kebohongan atau nyata aku tidak tahu. Yang jelas nenek nenek berambut tembaga, yang masih tersenyum manis menyapa ku itu benar benar ramah.
Aku menurut kata Saga, meski awalnya ragu, pemijat umur segini apakah pijatannya masih terasa atau tidak. Tapi saat tangan Mbah Harjo menyentuh kulitku, hampir aku memekik, tenaga nya diluar perkiraan. Dia memijat seolah umurnya baru belasan. Dan itu kali pertama aku datang kerumah Mbah Harjo, (kedua kalinya bersama dengan mama papa, mengantarkan Mama yang sakit gigi, ketiga kalinya bersama dengan Dian saat aku lelah dan keempat kalinya bersama suamiku, pijat kehamilan).
Saga menunggu ku di beranda rumah Mbah Harjo tanpa ikut masuk kedalam. Katanya untuk bisa pijaat dengan Mbah Harjo, harus booking dulu, sangking padatnya jadwal dia. Maklum pemijat tersohor di seluruh kecamatan.
Aku ikut bangga, setelah selesai dipijati, rasanya badan yang semula panas kurasakan sedikit pegal oleh pijatannya tapi setelah beberapa menit kembali segar. Saga mengulurkan uang lima puluhan saat menyalimi tangan Mbah Harjo sambil mencium tangannya, mengucapkan terimakasih.
Mbah Harjo dengan senyumannya mengantar kepulangan kami sampai di beranda rumah. Kami pergi, dan aku menyandarkan kepalaku ke bahu Saga. Sambil mendengarkan cerita Saga tentang kelegendarisan Mbah Harjo
"Sering datang kesana?" Tanya ku saat kami melintasi jalan sedikit beraspal
"Gak juga, palingan nganterin Mama pijat" jelasnya.
Aku mengangguk samar pada bahunya
"Udah mendingan?"
"Lumayan" jawabku
"Abis ini istirahat aja" katanya.
Sebenarnya agak rancu, melewati setengah jam untuk kerumah Mbah Harjo dan setelah dipijat harus melewati setengah jam kembali di jalan berlubang, harusnya memanggil Mbah Harjo kerumah saja. Tapi kata Saga tidak perlu.
"Kan bisa panggil Mbah Harjo kerumah" kataku
"Kasihan Mbah Harjo" katanya "masa dia harus nemuin pelanggannya , dia udah tua, jadi kita harus sedikit ngasih dia istirahat. Kalau dia kita panggil. Kan kasihan setengah jam waktu istirahatnya dipakai untuk perjalanan, sedangkan kalau dirumah setengah jam bisa dia gunakan untuk istirahat"
Kami diam saja diatas motor setelah pembicaraan mengenai Mbah Harjo. Sampai didepan rumah. Aku turun sambil berniat membuka switer Saga, tapi tangan Saga mencegahnya
"Gak usah, pakek aja" kata Saga. "Cepet sembuh ya, gue pulang dulu" Saga mengusap puncak kepalaku.
Aku tersenyum padanya, senang saja diperlakukan seperti ini. Aku tetap berdiri didepan gerbang, menunggu Saga hilang di telan turunan jalan. Dan ketika Saga sudah hilang aku masuk kedalam rumah. Menaiki undakan tangga dan berhenti saat berpapasan dengan Mama di tangga
"Dari mana aja, sore banget pulangnya?" Tanya mama
"Ke tukang pijet tadi sama Saga" aku membuka kamar, mengganti pakaian dan tetap menggunakan switer Saga. Kurebahkan tubuhku diatas kasur sambil menciumi aroma switer merah saga.
"Kamu hamil Van?" Tanya mama dengan wajah pucat ketakutannya
"Mama ngarang deh. Mana bisa Vanda hamil" kataku hampir memekik oleh omong kosong Mama
"Ya bisa kalau sel telur ketemu sel sperma" canda Mama" terus ngapain kamu ke dukun pijet kalau gak hamil?" Tanya mama mulai serius
"Saga cuman nganterin Vanda buat pijet doang, Vanda kecapean" kataku menenggelamkan wajah di bantal
"Huh" suara Mama membuang nafas terdengar "syukur deh kalau gak hamil, Mama takut banget kamu hamil duluan"
Aku memutar mata malas, menatap Mama dengan posisi tidur "Mama kebanyakan nonton sinetron deh" cicit ku
Mama berdiri "sinetron mah gak ada adegan hamil duluan. Palingan nyari anak, giliran anaknya mau ketemu, eh anaknya ketutupan gerobak terus gak jadi ketemu" suara Mama sudah hilang di balik pintu.
Aku memejamkan mata, menghirup aroma Saga, seolah Saga ada disini aku mengatakan pelan kalimat ini
"Selamat tidur Saga, aku mencintaimu"