
Aku banyak melamun setelah mengetahui kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa melihat. Hanya tahu kalau Saga ada disini saat dia datang dengan aroma parfum yang sering digunakan. Hanya tahu saat dia berbincang dengan papa, hanya mendengar suara nya saja tanpa tahu Saga sedang memakai pakaian warna apa. Pantaskah dengan tubuh tingginya atau justru semakin membuatnya tampan.
Hari ini Micky datang mengunjungi ku, seperti kemarin kemarin, kata Mama Micky selalu datang kesini tapi tidak pernah menemui ku. Dia hanya duduk di kursi tunggu depan ruangan ku. Mama juga bercerita kalau Micky selalu menangis, dan ditenangkan oleh papa, dia pasti sedang merasa bersalah atas semua ini.
Suara geseran dari pintu membuatku tetap diam. Bahkan rasanya aku tidak tahu sedang membuka mata atau menutupnya karena rasanya sama saja.
"Vanda, gue bawa bunga buat elo" suara itu suara sedikit serak milik Micky terdengar lirih.
Untuk apa Micky kamu membawa bunga, sedangkan aku tidak bisa melihat nya. Tidak tahu juga apa warnanya.
"Gue minta maaf Van" suara Micky benar benar lirih, Untung diruangan ini sedang hening. Aku bahkan tidak tahu adakah orang disini atau tidak.
"Gue minta maaf karena buat elo jadi gini Van, kalo aja gue gak ajak elo jalan jalan mungkin elo gak bakal kayak gini" suara Micky penuh penyesalan dan diakhir kata suaranya hilang, kufikir dia menangis.
Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa atas insiden ini. Menyalahkan Micky yang sudah mengajakku pergi, atau menyalahkan Saga yang tiba tiba datang dan mengajakku pulang?
Mana yang perlu ku salahkan, menyalahkan diriku yang mudah sekali pergi dengan siapa saja, menyalahkan diriku yang menurut saat dibawa lari oleh Saga?
Aku tetap diam bahkan saat Micky menggenggam tanganku.
"Maafin gue Vanda, gue minta maaf" katanya sudah diselingi isakan
Jangan menangis Micky, sudah cukup menyiksa dengan keadaanku seperti ini. Jangan menangis lagi.
"Bukan salah elo Mik" adalah kalimat pertama setelah aku bungkam terlalu lama
Aku hanya tidak ingin Micky menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Ini semua salah Saga" aku mengatakannya diluar kepalaku, sungguh aku berkata seperti itu karena hanya kesal saja kalau Saga tidak memperlakukanku selembut Micky.
Kalau saja dia lebih peka terhadap perasaanku, kalau saja Saga lebih bisa mengungkapkan perasaannya, mungkin ini semua tidak terjadi. Aku tidak akan pergi dengan Micky Hanya karena ingin melupakannya.
"Van" suara Micky seperti ragu, mungkin dia ragu haruskah membiarkanku menyalakan Saga atau membela Saga
"Ini semua salah Saga Mik, kalau Saga gak minta gue buat balik sama dia mungkin semuanya gak akan terjadi kayak gini" kataku bersih keras menyalahkan Saga
Seharusnya saat itu aku lebih berbesar hati saja menerima tentang kondisiku, jangan seperti ini menyalahkan orang lain atas masalahku sendiri.
"Ini bukan salah elo Mik, elo gak salah apa apa" kataku menguatkan Micky "jangan pernah ada perasaan bersalah Mick" jelasku lagi
Saat itu aku tidak tahu diruangan itu adakah Saga yang sedang mendengarkan ini, atau adakah Mama papa yang sedang mendengarkan ini. Aku hanya tahu kalau saat ini sedang berbicara dengan Micky saja.
Micky terlalu berat untuk berbincang denganku terlalu lama. Setelah papa datang Micky pamit. Meski tidak tahu dia benar benar pergi atau tidak.
"Papa bawain buah kesukaanmu" kata papa
"Mau dikupas sekarang?" Tanyanya
"Buah apa? Vanda punya banyak buah kesukaan?"
Ah rasanya aku kesal dengan kenyataan bahwa sekarang aku tidak bisa melihat apa apa. Bahkan melihat papa membawa buah kesukaanku. Apakah itu apel, durian, mangga, anggur atau melon, yang mana yang dibawa papa.
"Ini apel sayang" kata papa "mau dikupas sekarang"
Aku menggeleng "Vanda gak mau makan" kataku meraba selimut untuk kutarik menutupi wajahku.
"Nyari apa?" Tanya papa
"Selimut" aku menegakkan tubuh, meraba disekitar untuk menemukan selimut
"Ini" itu bukan suara papa tapi suara Saga dengan aroma mint yang sering menenangkan ku.
Kurasakan ada sesuatu di tanganku, kain lembut yang berada digenggaman. Saga meletakkan selimut itu digenggaman tanganku.
Aku ingin menyelimuti tubuhku, tapi aku tidak bisa, tidak tahu dimana ujungnya.
"Mau gue selimutin?" Tanya Saga
"Gak perlu. Gue bisa sendiri" teriakku histeris
Tubuh kekar papa kurasakan sudah mendekapku, sambil beberapa kali kurasakan ada bibir yang mencium puncak rambut
"Vanda sayang gak boleh kayak gitu"
"Pergi elo Saga, pergi dari hidup gue. Gue gak pengen liat elo, gara gara elo semuanya kayak gini, pergi eloo Sagaaaaa" teriakku sambil memakinya
Papa mendekapku semakin erat, sedangkan aku tidak tahu kenapa aku berbuat demikian, yang kutahu aku membenci Saga. Aku benci semua tentangnya, tentang dia yang tidak memperjuangkan kita semestinya, tentang sikapnya padaku. Hanya itu, sungguh, aku tidak benar benar menyalahkan kondisiku padanya.
Lama papa mendekapku, dan selanjutnya aku tidak mengingat apapun.
🚕🚕🚕
Kalau tidak salah aku dirwat dirumah sakit ada semingguan lebih, tidak kuingat pula, dan saat ku tanyakan pada Mama sekarang, Mama tidak mau membahas apapun dari masa lalu. Jadi anggap saja aku keluar rumah sakit setelah seminggu menginap disana.
Kamarku di pindah di bawah, tidak tahu kamar siapa ini. Ruangan yang aman, yang jelas aku tidak lagi tidur dikamar atas, dan juga aku tidur bersama Mama. Aku sedang duduk sambil menyandarkan punggung di tembok. Yang kulakukan hanyalah mendengarkan musik sambil melamun. Memikirkan ruangan mana ini , dan posisi diriku menghadap kemana? Aku selalu memikirkan hal hal kecil seperti saat mama memberikan roti padaku, aku akan memikirkan roti yang sedang ku makan bewarna apa dan berbentuk apa?
"Vanda, ada Saga main kerumah" suara mama terdengar.
"Suruh pergi" kataku langsung membenarkan posisi untuk tertidur.
Mama tidak menyahuti atau membujuk ku lagi, mungkin dia sedang menemui Saga dan berkata kalau aku tidak ingin ditemuinya. Memikirkan mengenai Saga selalu bisa membuatku menangis, bahkan membuat hatiku terluka.
Ada suara kursi yang ditarik seseorang.
"Siapa?" Tanyaku tanpa mengalihkan posisi tidur
Orang itu tidak menjawab, hanya kurasakan selimut yang semula menutupi kakiku perlahan naik sampai di bagian dada.
"Mama ya?" Tanyaku lagi
Tapi ini bukan aroma Mama, ini aroma mint milik Saga, yang artinya Saga ada disini.
"Lo siapa?" Tanyaku berteriak histeris
"Vanda, ini Mama" tangan lembut Mama langsung menarik ku kepelukanya
Aku tidak mungkin salah mengenali aroma Saga, itu memang benar benar Saga. Aroma itu yang selalu memabukanku, aku tidak akan pernah melupakan bau itu. Bau khas Saga.
note : Ijin jarang update ya. mungkin ga apdate sehari atau dua hari