
Saga dan Micky sudah berdiri ditengah lapangan, beberapa orang menatap mereka. Pertama mereka memberi salam penghormatan, lalu sama sama memasang kuda kuda dan saling menyerang. Yogi yang entah dari mana tiba tiba berdiri disebelahku.
"Lo kesini sama siapa Van?" Tanya Yogi tiba tiba
"Sama Micky" jawabku setelah menoleh Yogi.
"Pantesan" ujar Yogi menatap mereka
"Gi, Lo gak bisa misahin mereka ya, itu mereka berantem" ucapku menarik baju Yogi untuk memisahkan mereka.
"Itu namanya sambung, mereka masih gunain jurus silat kecuali kalau mereka udah gak makek jurus silat baru mereka bakal dipisahin" jawab Yogi bersidekap.
"Lo masih benci sama Saga?" Tanya Yogi yang membuatku langsung menoleh kearahnya.
"Gue gak butuh alasan buat gak benci sama Saga setelah perbuatannya ke gue"
"Kadang orang butuh terlihat jahat untuk melindungi orang yang dia sayang Van"
Perkataan Yogi malam itu terasa aneh untuk ku, kami tidak pernah bercakap terlalu lama. Mungkin ini kali pertama kami berbicara panjang, jadi ucapan Yogi terasa aneh untukku.
"Gue gak ngerti?" Kataku masih menatapnya.
"Gue gak bisa jelasin kalau Saga gak jelasin ke elo terlebih dahulu" dia menatapku "yang jelas, Lo harus buka mata lebar lebar Van, Lo harus bedain mana yang bener bener sayang sama elo dan mana yang pengen ngancurin elo buat balas dendam ke orang lain"
"Gue masih gak ngerti gi maksud elo itu apa? Yang gue tahu selama ini Saga jahat ke gue"
"Lo udah tahu tentang Mik_" ucapan Yogi terjeda oleh teriakan beberapa orang dari dalam lapangan.
"Saga Micky" teriak orang yang bertubuh besar.
Beberapa orang memisahkan Saga dan Micky, ternyata mereka sudah saling baku hantam sedari tadi.
"Kalau kalian mau berantem jangan dilapangan" teriak orang itu.
"Kalian itu saudara, saudara gak boleh berantem" ujar orang berkumis yang kita sebut saja mas Par (sampai sekarang aku tidak tahu namanya). Mas Par mendekati mereka, menepuk bahu Saga dan Micky yang sama sama menunduk.
"Pasang kuda kuda" teriak mas Par.
Dengan kompak Saga dan Micky memasang kuda kuda.
"Tarikk" kata mas Par teriak.
Demi Tuhan aku tidak tahu aba aba dari tarik apa artinya, yang jelas mas Par menendang perut mereka sampai Saga dan Micky harus terpental beberapa meter. Mereka tidak jatuh, lalu mas Par meminta mereka untuk melakukan push up, tapi bukan push up normal melainkan dengan tangan mengepal dan diangkat berkali kali yang aku tahu nama jawanya (gedruk).
Setelah lima puluh kali push up mereka diminta berdiri, mas Par terlihat frustasi melihat mereka.
"Kalian tahu , perbuatan kalian bisa dicontoh adik adik kalian" nasihat mas Par. "Ada masalah apa, Saga Micky?" Teriak mas Par menggebu.
"Gak ada mas" jawab mereka kompak
"Bener?" Tanya mas Par lagi
"Ya mas"
"Bubar, jangan ada yang berangkat latihan kalau cuman berantem beneran di lapangan" perintah mas par.
"Mereka berantem gak pakek jurus tapi emosi" papar Yogi padaku yang tidak mengerti apa apa.
Saga menatapku sekilas, babak belur dan bercak darah terlihat di wajahnya. Saga berjalan kearah motor, lalu kembali ke arahku dan memakaikan switer abu abu miliknya. Dia benar benar memakaikan switer itu meskipun tidak menyelesaikan untuk membantu ku mengenakan switernya.
"Pakek ,gue gak mau lo kedinginan"
Sumpah, Saga brengsek. Kalau dia ingin menjauh dan pergi, kalau dia tidak menyukaiku, silahkan pergi. Jangan seperti ini, hatiku mudah sekali diporak porandakan oleh Saga. Aku bahkan menangis karena terlalu menyukai Saga hingga sesak saat menerima perlakuan manisnya seperti ini. Dia seolah menunjukan kalau dia menyukaiku, tapi dalam beberapa waktu dia memperlihatkan kalau dia tidak menyukaiku.
Micky berjalan dengan sedikit pincang, menatapku yang meneteskan air mata .
"Kenapa Lo nangis?, Nangisin gue atau Saga" tanyanya seolah sudah muak dengan semuanya.
"Lo gak papa?" Tanya ku menyeka air mata.
"Lo mau pulang bareng gue atau Saga?, mumpung Saga belum pergi"
Meski begitu aku tidak akan memilih pulang dengan Saga meskipun sepenuhnya aku ingin melakukan hal itu. Saga menatapku, lalu membunyikan motornya dan pergi.
Aku dan Micky akhirnya pulang, seragam kotor Micky yang bercampur rumput lapangan bola satu persatu terbawa angin. Kutoleh di jam pergelangan tangan masih pukul setengah sembilan
Micky membawa motor sangat kencang, sampai aku harus berpegangan padanya. Di pertigaan jalan, kurasakan ada motor perlahan lahan mengikuti kami, aku takut untuk menoleh, aku takut melakukan itu.
"Micky pelanain motornya bisa gak?" Ucapku lirih, takut jika Micky marah padaku.
Diluar dugaan, lelaki itu memelankan motornya dan sedikit mengendari dengan santai.
"Maaf gue emosi" katanya lirih.
Aku tahu Micky seharusnya marah dengan Saga, aku pun juga iya. Kutoleh perlahan lahan, motor dibelakang adalah motor barunya Saga. Lelaki itu masih membututi kami sampai di depan gerbang rumah. Aku tahu tapi aku pura pura tidak tahu dan tidak mau memberitahu Micky, takut jika mereka akan melanjutkan perkelahian tadi.
"Lo beneran gak mau gue obatin?" Tanya ku menatap wajah Micky yang babak belur.
"Gak enak sama orang tua elo, nanti dikira gue abis bawa anaknya berantem sama orang lain" jawab Micky terdengar bijak.
"Besok ujian terkahir ya?" Tanya Micky padaku.
Aku mengangguk "iya"
"Besok pelajaran gue apa?"
Lah kenapa nanya ke aku, aneh deh si Micky. Dia menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Apa ya, gue lupa. Gak punya jadwalnya juga" katanya dengan memelas.
"Ih elo sekolah beneran gak sih" teriak ku.
Micky tersenyum, menyubit pipi lalu mengelus rambut.
"Pelajar gue besok apa?" Tanyanya
"Mana gue tahu, kan yang anak IPS elo" teriakku "udah ah gue mau belajar" aku langsung pergi dan Micky melakukan hal yang sama.
Saat kutoleh motor Saga sudah tidak ada dan Micky tidak menghentikan motornya sama sekali, itu artinya Micky tidak tahu jika Saga mengikuti kami.
Mama dan papa masih menonton TV di ruang keluarga. Aku masuk kedalam ikut bergabung bersama mereka.
"Gak belajar?" Tanya mama
"Besok cuman seni budaya sama olahraga, gak ada materinya jadi gak punya bahan buat belajar" jawabku.
"Palingan juga suruh nyebutin suara gamelan" timpal papa. "kalau olahraga gak jauh jauh cara maen voly"
"Papa gak patroli?" Tanya ku
"Lusa. Sama Micky, dia udah gak ujian kan?" Tanya papa
"Dia mah ujian gak ujian gak pernah belajar. Masa tadi nanya mata ujiannya ke Vanda, kan aneh"
Papa tertawa
"Iya aneh. Masak tadi nyuruh papa nginep di bengkel terus dia mau gantiin jadi papa dirumah, aneh kan"
Kami tertawa, menertawakan Micky yang kadang bersikap aneh kepada orang
**note.
cast Saga Alvaro
cast Micky Handoko
Cast Vanda (ini si Vanda masih foto pakek seragam lama)
**