
Mama masih memelukku. Memeluk dengan pelukan paling hangat, aroma mint yang tadi kucium, perlahan lahan memudar. Mungkin Saga sudah pergi atau mungkin memang tidak ada Saga disini.
Aku ditenangkan oleh Mama, diajak keluar. Sambil meraba dinding disekitar, setelahnya Mama membimbing ku untuk duduk di sofa.
"Vanda udah makan?" Suara berat itu aku kenal suara siapa, itu suara papa
Aku hanya mengangguk sambil terus mengarah kedepan, atau sedang menghadap papa. Tidak tahu yang jelas aku sedikit terkena sesuatu yang hangat.
"Diluar lagi mendung atau panas pa?" Tanyaku.
"Lagi panas"
Aku merasakan kursi yang kududuki bergoyang, lalu lenganku diusap oleh tangan kekar. Itu tangan papa.
"Papa kemarin udah nelfon dokter Rehan" kata papa dengan suara lirih "papa udah minta tolong buat nyariin donor mata untuk Vanda" suara papa hilang diakhir kalimat "Vanda harus kuat ya sampai kita dapetin donor mata untuk Vanda"
Aku hanya bisa menyenderkan kepalaku di lengan papa, tanpa tahu bagaimana ekspresi wajah Papa saat ini. Papa sedang sedih atau wajah Papa sedang pucat. Papa punya penyakit anemia, dia mudah kelelahan dan tidak bisa begadang. Mungkin selama aku sakit papa sering begadang, memikirkan kondisiku. Papa orangnya pemikir keras, maksudnya dia selalu memikirkan hal hal kecil.
Lagi lagi aroma mint yang tadi kucium perlahan lahan mulai tercium sangat kuat.
Teg
Ada sesuatu benda yang diletakkan di depanku. Aku tidak tahu itu apa dan siapa yang melakukannya.
"Vanda," papa memanggilku "mau puding? " Tawarnya
Ah mungkin yang didepanku adalah puding. Entah buatan siapa. Tapi aku merasa terganggu dengan aroma mint ini, merasa terganggu kalau saja disini ada Saga. Aku tidak ingin dia melihatku dalam kondisi seperti ini, sungguh.
"Disini ada siapa aja pa?" Tanyaku mulai dengan suara yang tinggi
"Ada siapa sayang"
Kali ini aku menarik kepalaku dari lengan papa. Kuraba sekelilingku hingga tangan kekar papa menggenggam ku.
"Vanda disini gak ada siapa siapa" katanya
Mungkin hidungku bermasalah, mungkin aku merindukan Saga. Memikirkan itu membuatku terluka. Kalau iya ini hanya perasaanku saja , apa Saga tidak pernah datang kesini. Setidaknya jika kedatangannya sudah kutolak, dia harusnya masih ada untukku meski menjaga jarak beratus ratusan meter.
"Ini dimakan puding nya" papa meletakkan sendok garpu tepat ditanganku.
Kuarahkan pelana pelan ke mulut, kukunyah perlahan dan kurasakan rasanya. Mama sering membuat puding tapi tidak selezat ini, tidak terasa gurih. Ah mungkin aku sedikit memikirkan hal hal kecil setelah kehilangan mataku.
"Vanda, Vanda kenapa sih benci sama Saga?" Pertanyaan papa membuatku berhenti mengunyah
"Kenapa Vanda harus suka sama dia?" Tanyaku justru dengan nada meninggi
"Enggak Vanda, maksud papa, kecelakaan yang menimpa kamu itu buka salah Saga, itu musibah nak" nasihat papa "gak baik saling membenci sama temen"
Aku langsung berdiri "Papa gak akan bisa ngomong kayak gitu kalau ada diposisi Vanda"
Kataku mulai berjalan sambil meraba disekitar.
Brakk
Aku menendang sesuatu keras hingga membuatku jatuh merintih kesakitan. Kurasakan aroma mint semakin kuat, ada tangan yang merengkuhku dari samping.
"Lo gak papa?" Begitu mendengar suara itu, aku langsung lemas.
Aku menangis sesegukan karena masih mendengar suara Saga. Dia ada disini, penciuman ku tidak salah. Dia masih peduli denganku, dan itu rasanya mengoyak ngoyak hatiku.
Kenapa dia bersikap seperti ini kalau hatinya bukan untukku?. Kenapa dia harus baik padaku, kalau dia tidak memiliki perasaan denganku? Kenapa dia memberi harapan kalau tidak ingin mewujudkan?
Kutepis rengkuhan itu, dan kucoba berdiri meski dengan kaki yang terasa berdenyut nyeri dan perih
"Vanda, Kaki Lo berdarah" kata Saga.
Dia masih berusaha merengkuh dan membantuku jalan. Tapi ku kuatkan hatiku untuk menolaknya
"Van"
"Saga udah, biar Om aja" kali ini tangan papa yang merengkuhku. Dia membimbing untuk masuk kedalam kamar.
Sampai disana aku tidak langsung tidur, justru duduk sambil menangis terisak isak.
Seharusnya saat itu aku tidak egois , aku bisa memberi kesempatan pada Saga untuk menebus kesalahannya. Tapi rasanya aku hanya terluka saja oleh perlakuan Saga dulu. Kalau ingat dia pernah menyakitiku rasanya aku tidak ingin bertemu Saga, tapi aku masih merindukannya setiap hari.
"Mama obatin lukanya" suara Mama terdengar membuatku mengangguk lemah.
Ada sensasi dingin di bagian jari kelingking Ku. Ada hembusan nafas yang mengenai kaki. Lalu selanjutnya kurasakan perih, tapi aku tidak merintih masih perihan hatiku.
🚕🚕🚕
"Vandaaaaa" suara ketiga temanku terdengar memenuhi ruangan.
Aku tersenyum saat mendengarnya, bagaimana suara cempreng Dian yang bertemu suara lembut Sofia dan Nurul. Ah begitu harmonis.
"TU KAN GUE UDAH BILANG APA JANGAN KELUAR SAMA MICKY, MICKY ITU PEMBAWA SIAL" teriak Dian begitu nyaring ditelingaku
Aku tidak menyalahkannya kalau dia membenci Micky sata ini. Karena tanpa kecelakaan ini memang mereka sudah tidak akur. Perkataannya Dian untukku bagaikan hanya angin lalu. Aku tidak begitu menanggapinya.
Ada seseorang yang memelukku dari arah samping sambil terisak. Disusul suara isakan yang lainnya.
"Gue gak suka kalian jenguk kalau kalian cuman nangis disini" kataku berusaha menguatkan diri.
"Gue gak nyangka Van elo jadi kayak gini" itu suara Sofia yang memiliki aksen Sunda.
"Jangankan elo Sof, gue aja masih gak nyangka" kataku sambil tersenyum.
"Kok bisa gini sih?" Tanya Nurul dengan nada suara lembut dan lirih
"Gak tahu, tiba tiba gini" kataku enggan menceritakan peristiwa yang ingin ku lupakan.
"Terus sekarang gimana? Kita bakalan kelas tiga Van, " tanya Nurul dengan suara isakan
"Kayaknya gue bakal berhenti sekolah deh" ucapku begitu pahit dan tercekat di kerongkongan.
"Gak bisa dong Van. Terus kita gimana kalau elo gak ada?" Suara cempreng Dian terdengar menggelegar.
"Kalian akan baik baik aja ada gue ataupun gak ada gue" ujarku semakin terdengar menyakitkan.
"Lagian Vanda elo udah gue bilangin jangan pergi sama Micky masih aja pergi" kata Dian terdengar seperti menyalahkan dan aku tidak senang kali ini.
Apa dia tidak tahu betapa sulitnya aku menerima kondisiku saat ini. Dan dia justru menyalahkan aku yang pergi dengan Micky.
"Yan, jangan gitu" kata Nurul
Tapi aku tidak bisa saja marah pada Dian.
"Gue denger Saga juga kesana? "Tanya Sofia dengan nada lirih
Aku hanya mengangguk pelan, dan rasanya aku tidak sesemangat sebelumnya saat menanggapi pembicaraan mereka. Kukira mereka datang untuk menguatkan tetapi hanya untuk mencari tahu.
"Van sekarang Saga gimana sama elo?" Tanya Dian terdengar hati hati
"Kalian bisa pulang aja gak" kataku mungkin terdengar kejam saat itu "gue lagi pengen istirahat" dustaku.
Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan apapun tentang kecelakaan.
"Oh oke" kata mereka pada detik ke enam "kita akan sering sering main kesini" kata Sofia menimpali.
"Gak usah kesini kalau cuman ngebahas kecelakaan yang gue alami" kataku dengan nada marah