
Aku tidak lagi jijik pergi kekantin, tidak lagi merasa aneh dipandangi orang orang. Nurul, aku, Sofia dan Dian sama sama pergi kekantin. Kami tidak dapat tempat duduk jadi sambil makan nasi pecel, kami duduk di bawah pohon rindang. Ternyata benar kata Dian, duduk disini tidak seburuk dugaan ku.
Sambil makan kami asyik bergurau, membahas hal yang sebenarnya agak menjijikan untuk diceritakan atau tidak lucu untuk ditertawakan, anehnya kami malah tertawa.
"Tahu gak kemarin pak Togar nawarin sate ke aku" cerita Nurul
Aku memasukan nasi kedalam mulut sambil mendengarkan Nurul bercerita.
"Terus terus"
"Yaudah deh aku makan Ha ha"
"Huuu" Dian langsung memukul punggung Nurul karena tertawa. Sedangkan Sofia justru berhu pada Nurul.
"Ih males deh deket Dian, kalau ketawa mukulin orang" cicit Nurul agak menjauhkan posisinya.
"Maaf rul, suka reflek" cengir Dian.
Aku pun tertawa hanya melihat wajah polos mereka
"Duh sakit perut nih"
Aku berhenti makan dan meletakkan piring di sampingku, memegangi perut seolah benar benar kesakitan.
Yang lainnya ikut berhenti makan, mereka langsung khawtair.
"Van, Lo gak papa?" Tanya Dian
"Duh elo sih ngajakin Vanda makan disini, udah tahu dia gak suka yang gak higenis" cela Sofia.
"Lah gue dari bayi udah makan disini cacing gue gak mati mati tuh" jawab Dian dengan memukul lengan Sofia kuat
"Yaa kena tipuuuuuuuuu" aku tertawa setelah menipu mereka.
"Iss" Nurul berdecak "bikin kaget aja tau si Vanda ini" Nurul cemberut.
"Utuh, maaf bebeb" aku memeluk Nurul yang langsung mendapatkan tawa dari mereka.
"Suka ngeprank an ih si Vanda, kayak Atta jeder"
Ucapan Dian langsung dipelototi oleh kami bertiga.
"Atta jeder, Atta halilintar kali Bu" cicit kami kompak.
"Lah kan sama aja, sama sama bunyinya Jedar jedur" kilah Dian
"Serah lo lah Yan yang penting elo seneng gue ikutan seneng" kataku.
"Lagian ngeprank tuh jangan ngeprank sakit perut tapi berharap kemiskinan kita ini adalah prank dari Tuhan" ujar Dian menasehati.
"Busyet, dikira Tuhan youtuber kali" cela Sofia.
Kami tertawa, hanya menghabiskan istirahat dengan banyak tawa. Mungkin diantara kelompok yang tengah makan lesehan dibawah pohon. Kelompok kami yang banyak tawanya. Rusuh, aku jadi tahu kalau mereka serusuh dan sekoplak ini.
🚕🚕🚕
Kami kembali kekelas setelah makan dan membayar, Dian merangkul bahu ku sambil asyik bercerita film mengenai dewa yang dia tonton semalaman.
"Sampe gue begadang tau gak van, ceritanya tu tentang hotel khusus hantu gitu. Ih soswet pokoknya" cerita Dian menggebu gebu
"Soswetan uttaran kali Yan" timpal Sofia dari belakang.
"Ya gak lah, soswitan oppa Korea gue. Emangnya elo joget joget se RT mulu kerjaannya"
"Mendingan India lah, enak dipandang, gak lebay, gak ada peluk pelukannya"
"Siapa bilang gak ada, film india tuh semenit adegannya sejam jogetnya"
"Ih Dian lo kok jadi nyebelin sih"
Aku dan Nurul hanya melihat pertikaian mereka didepan kelas.
"Ayo gelud ayo, Jambak jambakan" Nurul menyoraki sambil bertepuk tangan.
Dian dan Sofia kompak menoleh.
"Elo yang gue Jambak lama lama" sungut Sofia kesal.
Terlihat sangat dekat, sedekat seragam mereka yang bersatu, tidak memberi celah untuk angin pun menerobos kesana. Dan aku tidak suka itu, kalau angin tidak bisa aku saja yang memisahkan mereka.
"Van" panggil seseorang.
Aku menoleh, saat kutoleh, Micky membawa boneka panda berukuran kecil yang di sodorkan tepat didepan wajahku.
"Apa nih?" Aku menerimanya sambil menatap Micky yang hanya tertawa.
"Bdw kalian berdua cocok ya, sama sama animal"
Mendengar ucapan teman disebelah Micky, aku dan Micky kompak melotot kearahnya.
"Maksud Lo apa Ha?" Tanya Micky
"Yang satu Vanda, yang satu Micky. Satu hewan panda satunya hewan tikus"
Bugh
Micky yang dengan reflek langsung menginjak kaki temannya. Lelaki itu mengangkat kaki sambil mengumpat, Micky hanya tertawa, menertawai temannya yang sudah memberikan wajah memangsa.
"Siapa sih?" Tanya ku yang belum mengenal teman Micky. Selama ini Micky selalu datang kekelas sendirian.
"Rio" kata Micky memperkenalkan "Rio mantan gebetannya si Dian"
Kurasa Micky sengaja untuk bagian ini, dia berteriak untuk memancing emosi Dian.
Dan benar Dian langsung keluar kelas sambil mencak mencak.
"Mulut lo udah kayak toa masjid aja, gak pernah di saring" cicit Dian tidak terima.
Rio masih mengelus kakinya, dia menatap Dian sekilas lalu berpindah pada ku.
"Yoo, tuh mantan gebetan lo" kata Micky.
"Diem gak lo" bentak Dian
"Sapa dulu dong sama bebeb" goda Micky semakin kegirangan.
"Dasar lo emang tikus, bau, tukang pengganggu"
"Elo kucingnya yang selalu gue gangguin" ledek Micky
"Ih kalian ini, ribut mulu, lagian kenapa si Yan, Rio juga ganteng kok" aku ikutan menggoda Dian.
Gadis itu bersungut kesal sambil bersidekap. "Enggak, gue gak mau pacaran sama orang yang gak berperasaan kayak dia" tunjuk Dian dengan kesal
"Gue juga ogah kali Yan" kata Rio ikutan bersidekap.
Aku dan Micky tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
"Biasanya tu benci jadi cinta" godaku lagi.
"Gak akannnn Vanda gak akannnnn" teriak Dian menghentakkan kakinya.
Saat aku berniat membalas ucapan Dian, Saga dan Aliya melintas di samping kami. Dia melirik kearah ku, kemudian jatuh pada Micky. Mereka hanya berpandangan beberapa detik selebihnya Saga maupun Aliya langsung pergi.
Entah kenapa, aku terlalu sibuk memperhatikan Saga dan Aliya yang berjalan beriringan. Sampai kehilangan momen saat Dian menendang masa depan Micky dengan keras.
Aku hanya melihat bagian Micky memegangi masa depannya sambil terjatuh dan meringis.
"Aaaggg, masa depan gue" dia masih bergerutu sambil kesakitan
"Lo tahu gak, rasanya kayak tulang elo dipatahin 10.000 kali" teriak Micky.
"Uppss mhiane" kata Dian tanpa rasa bersalah.
"Duh Dian, kasihan tahu" kataku ikutan berjongkok dan membantu Micky untuk tegak
"Heh kalau elo bukan cewek udah gue ajak berantem lo" tukas Micky dengan wajah masamnya.
"Van, gue cabut ya. Sakit bener sumpah" Micky berjalan pergi sambil jalan terkengkang.
Agak aneh jika aku menertawakan saat Micky kesakitan, tapi itu benar benar lucu. Lucu melihat Micky berjalan seperti itu.