ANKOT JAKARTA

ANKOT JAKARTA
ANKOT Tiga puluh lima



Meskipun semalaman harus tidur dengan lilin. Aku tetap nyenyak tertidur di bawah ketiak Mama. Pagi ini kurasakan badanku sedikit tidak sehat, mungkin karena sehari kemarin menempuh jalan jauh yang banyak debunya ditambah jalan tidak seimbang.


Aku duduk di beranda rumah sambil menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, beberapa saat suara motor Saga terdengar, suara motor itu terdengar akrab ditelinga. Aku menegakkan tubuhku, berjalan menuju arah gerbang dan menemuinya tengah duduk diatas motor trail menggunakan seragam SMA.


"Pucet banget, gak dikasih makan ya?" Godanya


"He he gak tau nih, tekanan darah nya turuun" balasku


Saga menempelkan punggung tangannya di dahi.


"Panas Van, hampir mendidih tangan gue"


Meski dia berkata sebecanda itu tapi wajahnya serius.


"Gak usah berangkat deh, mending istirahat aja" kata Saga.


"Enggak ah Sag, ada ulangan harian hari ini" aku naik keatas motor Saga


Tapi lelaki itu belum juga membunyikan motornya, dia masih diam dan hanya memainkan tangannya di tengki motor


"Kenapa gak berangkat sih?" Tanya ku


Saga berdehem "nanti pulang sekolah ikut gue ya" katanya


"Kalau gue gak mau, tetep elo bawa ketempat itu kan" sungutku "gue kan nebeng motor elo"


Saga tertawa, kemudian membunyikan motornya dan pergi.


"Kok bisa demam sih?" Tanya Saga sambil memelankan motornya.


"Soalnya kecapean, kemarin habis keliling 3 kota sama elo"


Saga tertawa lagi, sepertinya suasana hati Saga tengah baik, dia banyak tertawa dengan ku. Badanku terasa pegal pegal, dengan mata panas, serta badan yang menggigil.


Sampai diparkiran, aku langsung turun, ingin berjalan pergi dari Saga tapi lelaki itu menarik tanganku. Dia membuka tasnya dan memberikan switer merah padaku.



Saga yang terang terangan membantuku memakai switer itu mendapatkan banyak tatapan dari siswa yang ada di parkiran. Tapi dia acuh, justru setelah switer terpasang dia mengacak pelan rambutku.


"Cepet sembuh ya" katanya berlalu pergi.


Aku tidak tahu Saga itu terbuat dari apa, tentu aku tahu penyebutan biologinya kalau dia terbuat dari sel telur dan sperma, maksudku hatinya terbuka dari apa. Apa seperti kopi yang memiliki cafein sehingga menenangkan, atau sejenis bius yang bisa membuat orang lupa.


Setelah kepergian Saga, aku berjalan pelan menuju kelas. Tidak kutemui Dian yang biasanya selalu menggangguku, Sofia dan Nurul pun tidak. Dikelas aku duduk sendirian, menyandarkan kepalaku pada meja. Aku memejamkan sejenak, hampir tertidur kalau tidak kudengar suara kursi bergeser.


Aku membuka mata, melihat Micky sudah bertompang dagu di sebelahku.


"Apa?" Kataku lirih


"Lo sakit ya? Badan Lo panas" katanya


Aku menegakkan kepala, menyenderkan tubuh di sandaran kursi.


"Sakit kalau deket elo" rancauku


Micky tidak tertawa, menatap wajahku dengan serius.


"Tunggu disini ya" dia pergi, entah kemana tapi aku tahu dia akan kembali sebab dia mengatakan untuk aku menunggunya.


Dian dengan tas ransel yang tergantung di sebelah bahu menatapku.


"Chinguaaaa" pekiknya.


"Gue bawain bekal nih buat elo"


Dian mengeluarkan dua tempat bekal dari tasnya. Kulihat bekal berwarna kuning dia sodorkan ke arahku.


"Makan ya, gue mau nemuin bebeb Yogi dulu" cengirnya.


Saat diambang pintu, kutatap Dian bertemu dengan Micky sehingga raut wajah Dian langsung berubah pias seketika.


"Wih, bekal buat gue ya"


Saat tangan Micky mendekat kearah bekal, buru buru Dian menyembunyikan di belakang punggungnya


"Enak aja, ini buat yayang gue" kata Dian sinis


"Gue tendang masa depan elo kalau sampe elo bawa bawa nama Rio" teriak Dian menggelegar.


"Woy misi misi, jangan menuhi jalan dong, sempit nih" diarah lain Sofia langsung datang dan memisahkan keduanya, sampai Dian harus mundur kebelakang untuk memberi celah pada Sofia .


"Santai aja dong Sof, badan udah kayak tugu kecamatan sih" cela Dian


"Biar in Yan gue gendut, lah elo badan Sama tengkorak manusia sama aja" balas Sofia


"Ha ha tos dulu Sof" Micky mengajak Sofia berhigh five, belum sempat diterima Sofia, Dian sudah menyela


"Dasar satu habitat" katanya langsung pergi.


"Eh pemangsa semua makanan" Micky menjeda kalimatnya


"Sof apa nama hewan pemangsa semua makanan?" Tanya Micky pada Sofia


"Omnivora" jawab Sofia sudah duduk di kursinya


"Dasar elo Dian si omnivora"


Ucapan Micky kurasa sudah tidak digubris oleh Dian karena Micky melangkah dan duduk di kursi Dian.


"Lo tu kalau mau ngelawak di susun dulu kerangkanya" nasehatku


Micky tidak menjawab dia membuka sebuah kompres instan milik bayi, saat tangannya berniat menempelkan di dai, aku menghindar dan menepis tangannya


"Apaan sih Mik, gue bukan bayi yang elo tempelin pakek gituan" protes ku


"Lah siapa bilang ini buat bayi" Micky menunjukan bungkusnya "disini cuman ditulis coling relif that las por hor" kata Micky menggunakan bahasa Inggris ejaannya yang asal asalan.


"Yaelah Mick, ngeja bahasa Inggris aja masih salah pakek acara pedekatean segala" cicit Sofia


"Diem kutu ayam" seloroh Micky


Micky kembali menatapku "gak ada tulisannya , kalau kompres ini untuk bayi"


Micky berniat menempelkan kembali kompres instan itu, aku masih berusaha menghindar.


"Tapi gambarnya bayi, jadi itu buat bayilah" tepisku


"Nih bocah, Untung cantik" Micky membasahi bibirnya dengan lidah "Lo bisa baca gak sih Van"


Micky merentangkan bungkus kompres, lalu mengejanya dengan suara keras "plester kompres untuk panas garis miring demam"


"Atau" koreksiku


"Iya, panas atau demam" dia langsung menarik kepalaku, sehingga aku tidak bisa menghindar dan menempelkan kompres pada dahi.


"Dah, cepet sembuh ya" katanya sambil menepuk dahi ku. "Awas kalau dilepas, gue gak mau pacaran sama elo" ancamnya


"Gue pergi, ada Ujian sejarah soalnya. Mau nyiapin contekan dulu" dan Micky sudah pergi.


Aku hanya tersenyum melihat tingkah Micky, ketika dia pergi Sofia langsung berpindah tempat duduk di sebelahku.


"Gue setuju kalau elo sama Micky" katanya tiba tiba


Aku berkecap "apa" kataku melotot


"Elo cocok Van sama dia, menurut gue sih dia baik orangnya"


"Cie, Sofia diem diem memperhatikan Micky" ejekku


"Ye, dia kan tetangga gue, ya jelas gue tahu lah"


Aku hampir melotot, kaget juga dengan berita kalau Sofia dan Micky ternyata tetanggaan.


"Dia anaknya baik, Mama gue aja suka sama dia" tukasnya "dia sering bantu ibu ibu di tempat gue"


Tidak lama dari ucapan Sofia, Dian masuk kekelas sambil berlonjak.


"Van dahi elo kenapa?" Tanyanya


"Biasa" hendak kutarik kompres itu seketika aku teringat wajah micky yang lucu saat memaksaku tadi.


Biarlah kompres ini menempel, lagipula tidak masalah juga.