Anara

Anara
PART 5 - PERJALANAN KE PURWOKERTO



Malam ini , kami mengemasi beberapa pakaian yang akan kami bawa besok. Mba Mira memberikan beberapa stelan bajunya, juga sebuah tas untuk menampung barang bawaanku. Sepatu kets putih juga sudah dipersiapkan olehnya.


Aku belum bisa memejamkan mata. Terus menschrool hp berharap ada teman yang menghubungiku untuk memberitahukan keadaan mama. Aku tak enak hati kalau harus memaksa mereka cepat-cepat mendatangi rumah kontrakanku dan mencari tahu keberadaan mama, jadi kuputuskan untuk menunggu kabar dari mereka saja.


***


Pagi menjelang. Badanku terasa remuk redam karena hanya tidur beberapa jam. Tapi kupaksakan untuk segera mandi dan bergegas bersiap. Aku tak mau mengecewakan mba Mira jika sampai terlambat. Setelah beberapa saat sarapan sambil bercengkarama dengan keluarga pak Ranu, tibalah saatnya kami berpisah. Aku terus saja menitikan air mata mengingat jasa-jasa mereka yang mau dengan ikhlas menolong dan menampungku, orang yang bahkan tak dikenalnya.


"Jangan lupakan kami ya, Nduk. Rumah ini selalu terbuka kapan saja jika kamu masih membutuhkan bantuan. Maafkan jika kami menjamu kurang layak." kata istri pak Ranu disela-sela pelukannya denganku.


Aku hanya bisa terisak dan mengangguk-angguk.


" Terimakasih Bu, ini sudah lebih dari cukup. Ibu sudah ikhlas menampung dan menolong Anara di sini. Sudah begitu baik menerima kehadiran Anara. Anara ngga akan lupa sama kebaikan bapak dan ibu , juga mba Mira dan Mirza. Anara juga minta maaf sudah terlalu banyak merepotkan bapak ibu sekeluarga di sini. Semoga kita bisa bertemu lagi kelak."


" Iya Nduk. Yang sabar dan kuat menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Semoga semua urusanmu lancar dan lekas bertemu lagi dengan ibumu. "


" Iya Bu."


Lalu aku bersalaman dengan pak Ranu dan Mirza. Rencananya, aku dan mba Mira akan singgah ke Purwokerto dulu, mengambil pesanan majikan mba Mira yang memang asli orang Purwokerto. Malah kebetulan sekali karena transportasi dari sana lebih mudah ke Jakarta, ada kereta api dan bus.


Pukul sembilan, kami berangkat dari terminal Wonosobo menuju ke Purwokerto. Aku tampak sedikit tomboy mengenakan celana jeans dan kaos putih yang kubalut dengan kemeja panjang kotak-kotak di luarnya. Juga topi pemberian Mirza, katanya sebagai kenang-kenangan. Mba Mira juga memberiku beberapa stel potongan bajunya. Katanya itu juga hasil pemberian dari anak majikannya. Dia sering membagikannya lagi ke tetangga-tetangganya karena jumlahnya yang lumayan banyak. Dan barang-barang itu merupakan barang branded semua, sehingga nampak fashionable dan nyaman ketika dipakai.


Bus berjalan sedikit lambat karena hujan turun mengguyur dengan derasnya. Kulirik mba Mira tampak asyik tertidur. Ketika mataku beralih ke depan, tampak seorang pemuda sedang asyik juga menatapku sambil tersenyum dan memainkan matanya. Aku yang tak nyaman dipandangi seperti itu, akhirnya membuang muka ke jendela samping tempat duduk dan memandang pemandangan di luar yang tampak kabur. Lama-kelamaan rasa kantukpun menyerang. Kubuka topi dan memposisikan kepala untuk bersandar tidur dan akhirnya aku terlelap sambil memeluk tas gendong berisi pakaian pemberian mba Mira yang di atasnya ada topi pemberian Mirza.


***


Kubuka mata perlahan. Samar kudengar seseorang berbicara. Ternyata mba Mira sudah bangun dan mengobrol dengan orang di sebrang tempat duduk kami. Ku ambil hp dan melihat arloji yang tertera di sana, waktu sudah menunjukan pukul sebelas, kurang lebih sejam aku terlelap tidur. Mungkin karena kurang tidur semalam, jadi aku begitu nyenyak. Kupadangi bangku depan tempat pemuda yang tadi menatapku sudah kosong, mungkin orangnya sudah sampai tempat tujuan, pikirku. Di luar hujan juga sudah reda. Mba Mira menawariku cemilan yang dia beli kemarin. Dan akhirnya kami makan sambil ngobrol satu sama lain.


"Ra, kata ibu-ibu di sebelahku, tadi kamu hampir dilecehin orang."


Aku yang sedang makan cemilan, terperanjat mendengar kata-kata mba Mira.


" Dilecehin gimana mba, maksud mba?"


Aku bergidik ngeri mendengarnya. Baru kali ini mendapatkan perlakuan yang tak senonoh. Aku mengucapkan beribu-ribu terimakasih kepada ibu yang duduk di samping mba Mira.


"Ini belum seberapa, Ra. Di ibu kota nanti masih banyak yang lebih dari ini. Kamu harus hati-hati dan pandai-pandai menjaga diri. Tidak semua yang terlihat baik juga belum tentu baik. Jangan mudah percaya orang."


"Termasuk mba Mira?" kelakarku


" Hush...pengecualian ini." jawab mba Mira sewot sambil menggigit keripik dengan garang. Aku yang melihatnya justru merasa lucu melihat ekspresinya.


" Hahaha, habisnya katanya jangan mudah percaya sama orang. Mana tau habis ini aku diculik sama mba terus dijual."


" Haduhhh... bapakku walaupun orang kampung tak pernah ngajarin aku begitu. Pergaulanku di Jakarta juga hanya sebatas di rumah majikan. Pergi paling ke pasar, ke mall sesekali kalau diajakin. Ga kenal mafia-mafia begituan Ra."


" Hehe iya mba, becanda mbakku cantik."


" Iya , kamu kan cantik, ada kebule-buleannya. Anak majikanlah kalau orang lihat penampilan kamu. Putih terawat. Rawan jadi incaran mafia-mafia penjual gadis di bawah umur. Pokoknya kalau disuguhi makanan , minuman dari orang yang ga dikenal jangan mau ya Ra. Atau ditawari kerjaan tapi yang mintanya aneh-aneh."


" Siap mbak."


" Nanti sementara tinggallah di kost temanku, dia kerja di garmen. Jadi dia bisa kost di luar, ga terikat majikan. Nanti kukenalkan kamu sama dia."


" Tapi mbak, aku ga ada uang buat ngekost."


" Pakai uang tabunganku dulu, bisa kamu cicil nanti kalau kamu udah dapet kerjaan."


Aku terharu.


" Makasih ya mba. Mba kok begitu baik banget si, padahal kita belum lama saling kenal."


" Kata bapak, menolong orang itu suatu keharusan bagi orang-orang yang membutuhkan. Dan jangan setengah-setengah pula. Karena apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai besok. Dan bukankah menolong orang juga bagian dari sedekah jika kita ikhlas. Allah akan lipat gandakan pahalanya. "


Aku hanya mengangguk-anggukan kepala tanda paham mencerna kata-kata mba Mira. Tampaknya pemimpin keluarga sederhana ini, yaitu pak Ranu mampu menanamkan pikiran positif pada jiwa anak-anaknya. Sehingga seberapapun jauh jarak dengan orang tua, dilihat atau tak dilihat orang tuanya, kebaikan anak -anak pak Ranu terus melekat. Aku kagum sekaligus iri karena tak memiliki sosok ayah seperti pak Ranu. Bahkan sedari kecil aku tak mengetahui siapa ayahku.