Anara

Anara
PART 2 - KE LUAR KOTA



Aku melangkahkan kaki menuju arah belakang gedung. Sayup-sayup terdengar suara orang berteriak hendak keluar gedung. Suasana begitu mencekam. Aku mengambil nafas panjang, berusaha keluar lebih cepat dari mereka. Beruntung area belakang gedung ditumbuhi ilalang, jadi bisa sedikit menghalangi pemandangan. Tampak beberapa cahaya sorotan senter para preman suruhan om Bagas melintasi areaku berjalan. Aku terus mengendap-endap hingga mencapai jalan.


Baru saja mau melangkahkan kaki ke arah pintu makam, kulihat beberapa orang lari tunggang langgang menuruni tangga. Pasti kak Hans sukses dengan rencananya menakuti mereka. Beberapa orang yang lari membaur ke arah makam. Aku yang terpancang di depan gapura makam, hanya diam mematung, menundukan muka menutupi wajah dengan rambut sambil komat kamit berdoa. Beberapa orang yang tak sengaja mengarahkan senter ke arahku menjerit-jerit tak karuan sambil lari tunggang langgang ke arah mobil. Akupun secepat kilat ikut berlari ke arah makam, lari menembus gelapnya malam. Sesekali terjatuh menabrak batu nisan dan tersangkut semak. Tak kuhiraukan rasa takut yang menghantui. Dan rasa perih yang kembali mendera di kaki. Kunyalakan senter kecil pemberian kak Hans untuk membantu melihat arah jalanku.


Ketika hendak sampai di semak yang menutupi gedung, kulihat dari kejauhan api berkobar dari arah gedung tua itu. Suara deru mobil sayup-sayup terdengar menjauh meninggalkan gedung.


"Kak Hans." Sejenak aku tergugu duduk menangis menatap kobaran api.


Sesuai arahan Kak Hans, di balik semak ada gedung kosong, segera kumasuki gedung itu. Bau anyir menyeruap masuk ke dalam hidungku. Banyak bangkai tikus di dalamnya. Aku segera beranjak dari tempat itu dengan tenaga yang masih ada. Perjalananku masih panjang dan aku harus kuat.


Satu jam sudah aku tertatih berjalan. Air mata terus saja meleleh membasahi pipi. Bukan karena rasa sakit di kaki, tapi karena teringat mama di rumah. Ingin rasanya berbalik arah dan pulang, tapi mama telah membuatku berjanji untuk pergi sejauh mungkin. Bahkan kata -kata yang terlontar dari mulutnya disaat terakhir perpisahan kami semalam, kian membuatku perih dalam kebimbangan.


Aku terus saja berjalan. Baju putih dari kak Hans sudah kulepas dan kusimpan di tas plastik yang kutemukan di jalan. Tinggal piyama tidur yang kukenakan dengan sepasang sandal jepit di kaki. Make up diwajah yang perlahan luntur oleh tangis dan keringatpun sudah kubasuh di kran mushola yang kulewati.


Hari masih gelap, ketika akhirnya kutiba di sebuah pasar. Suasana sudah sedikit ramai pedagang yang sedang menurunkan dagangan sayurnya. Kurogoh saku celana, hanya ada uang tiga lembar sepuluh ribuan, secarik kertas pemberian mama dan handphone mati yang sempat kuambil di atas nakas semalam. Aku disuruhnya pergi ke alamat yang tertera di kertas itu, jauh di Jakarta sana. Aku kembali merogoh saku, mencari-cari sesuatu. Seingatku mama memberi uang di amplop semalam. "Astaga apa aku menjatuhkannya," pikirku lemas. Aku menitikan air mata mengingat mama. Entah apa yang terjadi sekarang dengannya.


"Pak, boleh saya menumpang mobil Bapak." kataku akhirnya kepada pemilik mobil bak yang baru selesai menurunkan sayur-mayurnya.


Bapak itu mengamatiku, dari atas sampai ke bawah.


"Mau ke mana, Dik? Bapak mau pulang ke Wonosobo. "


"Iya Pak, saya juga mau ke arah sana. Bolehkah saya menumpang, duduk di belakang sini juga gapapa pak. Saya kehabisan ongkos buat pulang. " kataku terpaksa berbohong.


"Ya silakan, cepat bersiap sebentar lagi kita berangkat! Saya mau ngopi dulu, itu sudah dingin kopinya." katanya kemudian menunjuk ke sebuah warteg.


"Terimakasih pak." jawabku


Uang sepuluh ribu akhirnya kubelikan nasi rames dengan lauk sayur dan gorengan, serta air putih untuk melepas dahaga di perjalanan yang lumayan jauh, Semarang - Wonosobo. Aku duduk di belakang dengan seorang kernet yang tadi membantu pemilik mobil menurunkan sayur mayur.


"Ehh. . Nama saya Anara, Pak, hendak ke Wonosobo. " jawabku gugup.


"Orang tuamu di sana? Atau ada kerabat yang hendak kau kunjungi? Kenapa ga sama orang tuamu?" tanyanya lagi


"Ayah saya sudah meninggal. Mama saya . . mama saya. . . " aku tak meneruskan kata-kataku, hanya tertunduk sedih karena memang tak mengetahui nasib mama setelah semalam kabur dari rumah.


"Saya disuruh pergi dari rumah pak, semalam ada orang yang mengejar-ngejar saya, saya tidak tahu apa masalahnya dengan mama saya. Demi keselamatan saya, mama saya yang sedang sakit keras menyuruh saya lari kabur dari rumah. Hanya secarik alamat yang mama beri untuk saya tuju. Lalu saya kabur lewat jendela ketika orang -orang itu mendobrak paksa pintu rumah kontrakan kami. " jawabku jujur pada akhirnya.


Bapak di sampingku sejenak terkejut. Lalu berkata, "Tujuanmu yang ada di alamat itu kemana Nak?"


"Jakarta, Pak" jawabku singkat


"Kau masih sekolah?" tanyanya lagi


"Baru saja lulus SMA . " jawabku lagi.


"Kau tak ingin kembali menengok ibumu dulu Nak? Siapa tahu dia khawatir kepadamu" katanya sejurus kemudian.


Aku menggeleng lemah. Aku tahu apa konsekwensinya jika aku pulang. Di sisi lain, betul kata bapak ini, tentu mama sangat khawatir dan membutuhkanku saat ini, apalagi beliau sedang sakit. Selama ini kami hidup dari sisa-sisa tabungan mama. Sejak sakit, mama jarang ke luar rumah kecuali jika ada hal yang sangat mendesak, itupun dengan bantuan orang yang dibayarnya. Jarang sekali beliau menyuruhku menemaninya. Aku fokus sekolah dan belum terlalu peka memikirkan keadaan waktu itu. Hingga keadaan mama memburuk, dan aku baru sadar ketika suatu hari mama tak mampu lagi bangun dari tempat tidur. Aku baru mengetahui kalau mama terkena kanker servick stadium awal dari hasil pemeriksaan dokter yang diberikan kepadaku. Sejak saat itu hubungan kami agak menghangat. Aku mulai mengurus segala keperluannya. Sebelum berangkat sekolah, kuusahakan aku sudah memandikan dan menyuapinya lalu meminumkam obat yang dokter berikan. Mama tak mau dirinya dirawat di rumah sakit karena hal itu membutuhkan biaya yang banyak sementara dirinya tidak bekerja. Sedang aku yang berusaha membujuknya untuk membantunya bekerja malah dimarahi dan disuruhnya untuk fokus sekolah.


Di perjalanan, bapak itu terus saja bercerita untuk menghiburku. Hingga perjalanan yang kami tempuh tak terasa menjenuhkan. Semilir angin di pagi hari yang semula menusuk tulang berganti dengan hangatnya cahaya pagi. Mobil berjalan tanpa hambatan. Dari cerita pak Ranu orang yang duduk bersamaku, beliau bersama Pak Salim, pemilik mobil dan satu lagi rekannya, seminggu dua kali mengantar hasil bumi ke Semarang. Beberapa pasar tradisonal dan modern membutuhkan pasokan besar sayur mayur yang masih fresh dari para petani.


"Ikutlah singgah ke rumah bapak sementara waktu sesampai di Wonosobo nanti, Nak." Kata beliau pada akhirnya.


" Terimakasih, Pak. Terimakasih atas bantuan Bapak, Anara tadi bingung begitu sampai mau ke mana." Jawabku terharu.