Anara

Anara
PART 3 - MASA LALU



Namaku ANARA. Gadis berusia 17 tahun dan baru saja menamatkan pendidikan SMA. Aku terlahir tanpa kehadiran seorang Ayah. Kata mama, papa meninggalkan kami jauh sebelum aku dilahirkan, di bulan-bulan awal mama mengandungku.


Mamaku bernama Miranda Anastasya, seorang wanita pribumi asli, wajahnya cantik khas wanita Indonesia. Saat ini usianya 43 tahun. Aku terlihat sedikit berbeda darinya, dari warna iris mata kami sudah berbeda, mama mempunyai iris mata hitam sedang aku coklat. Badanku lebih berisi dan lebih tinggi dari mama, padahal usiaku masih remaja. Dari warna rambut juga terlihat berbeda,aku sedikit pirang. Kata mama, papa memang ada keturunan darah Belanda jadi mungkin papa lebih dominan menurunkan gennya kepadaku.


Dulu kami tinggal di sebuah apartemen mewah. Aku tak kekurangan materi. Hanya saja, waktu dan perhatian mama tak maksimal kepadaku. Mama sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya, yang sampai sekarang aku tak tahu apa bisnis pastinya. Yang jelas mama jarang di rumah. Sebulan, bisa dihitung berapa kali mama di rumah.


Aku dititipkan kepada pengasuhku yang sudah sangat mama percaya. Untung perlakuannya sangat baik kepadaku. Aku memanggilnya bibi Yem. Bagiku Bibi Yem seperti pengganti mamaku.


Pergaulanku juga baik di lingkungan luar. Aku tak pernah neko-neko dengan fasilitas dan harta yang berlimpah. Dari kecil, mbok Yem selalu mengajarkan hal-hal yang baik, tentang kesederhanaan, sopan santun, saling menghargai, dan menghormati. Aku juga tak pernah mengambur-hamburkan uang yang diberikan mama untukku.


Mama mempunyai seorang teman bernama Pak Bagas, aku biasa memanggilnya dengan sebutan om. Entah apa yang terjadi, setahun belakangan ini hubungan mama dan om Bagas merenggang. Pertengakaran kadang tak terelakan jika om Bagas singgah ke apartemen. Sejak itu, mama jarang pergi berbisnis dengannya lagi.


Puncaknya, mama pernah pulang dalam keadaan terluka di badannya. Luka lebam tampak dari wajah cantik mama dan beberapa lengan dan punggungnya. Ketika aku bertanya , mama hanya mengajakku untuk segera pergi meninggalkan apartemen itu. Mbok Yem memutuskan pulang ke kampung halamannya di Surabaya ketika kami sudah mendapat rumah kontrakan. Jadilah sejak saat itu aku hanya berdua hidup dengan mama.


Banyak hal yang aku tanyakan ke mama, tentang pekerjaanya, tentang om Bagas, tapi mama hanya bilang bahwa suatu hari nanti pasti aku akan tahu. Mama hanya mewanti-wanti agar aku berhati-hati dengan om Bagas.


Sampai tadi malam, akhirnya om Bagas hadir kembali dalam hidup kami. Dia berhasil menemukan rumah kontrakan kami setelah sekian lama kami hidup normal. Mengapa kusebut hidup normal? Karena mama lebih banyak waktu denganku sejak kami tinggal berdua. Mama mengandalkan sisa tabungannya untuk kehidupan kami.


"Miranda, buka pintunya sayang. . . " teriaknya dari balik pintu rumah.


Aku yang sedang bersiap tidur, terperanjat mendengar suara dari luar. Mama segera memanggilku ke kamarnya. Dan menyuruhku bergegas pergi.


"Cepatlah pergi sayang, kau tak punya banyak waktu. Temukan alamat ini. Demi mama, kamu harus pergi. Mama menyayangimu, mama tak ingin terjadi apa-apa denganmu, segeralah pergi. Bawalah uang ini untuk bekalmu. Ingat, om Bagas bukanlah orang yang baik. Jangan sampai kamu terjebak urusan dengannya, cukuplah mama sayang. " kata mama sambil menyerahkan sebuah amplop berisi uang.


Mama berusaha bangun dan mendekapku. Sementara aku masih bingung dengan keadaan ini.


"Ma, ada apa? Ana ga mau pergi meninggalkan mama sendiri. Apalagi dalam keadaan mama yang sedang sakit seperti ini. Biar Ana buka ya, Ma. biar Ana temui om Bagas biar tidak ada keributan di sini. Kita selesaikan masalah ini jika mama ada masalah dengan om Bagas. " bisikku sambil menangis.


Di luar, gedoran pintu semakin menjadi-jadi. Terdengar beberapa orang memanggil dan mengancam mama.


"Miranda keluarlah, atau kuseret kau beserta anakmu. Anakmu sudah cukup besar untuk menggantikanmu, *******."


Mama terisak kembali.


" Tidak Ana, jangan sekali-kali kamu keluar menemuinya. Dia jahat Ana, dia orang yang sangat jahat. Ana dengarkan mama, kamu tak punya banyak waktu lagi. Cepatlah pergi. Temui tante Sani di Jakarta. Pergi cepat pergi, Nak " katanya sambil mendorongku.


"Apapun yang terjadi, jangan kembali ke tempat ini lagi. Mama akan baik-baik saja. Berjanjilah Ana untuk tidak kembali ke sini. " katanya lagi.


Aku menghambur ke pelukan mama lagi. Beliau juga mendekap erat tubuhku. Menciumiku berkali-kali. Kami beradu mata, menangis meluapkan perasaan masing-masing. Matanya mengisyaratkanku untuk segera pergi. Aku menurut. Untuk terakhir kali aku memeluk dan menciumnya. Sebelum dobrakan pintu dari luar berhasil terbuka paksa.


Suara gedoran dan pintu di dobrak semakin keras terdengar. Setelah meraih ponsel di nakas, aku segera melompat ke jendela dan berlari meninggalkan mama. Hatiku perih, hatiku sakit dan teramat sedih. Aku bimbang dalam pelarianku, bimbang memikirkan mama juga takut dengan perkataan mama tentang om Bagas.