
Tap. . . Tap. . . Tap. . .
Aku berlari menyusuri lorong sunyi di tengah kegelapan malam. Tangis dan peluh membaur menjadi satu dengan deru nafas yang tak teratur. Aku terus berlari, tanpa menengok lagi ke belakang. Kaki pegal dan perih akibat tergores benda di sekeliling tempat pelarian tak kuhiraukan. Perlahan gerimis turun membasahi bumi, membuat luka dikaki kian perih tersiram airnya. Tapi lagi-lagi tak kuhiraukan, aku terus dan terus berlari. Sunyi , sepi semua orang tentu sudah terlelap tidur di dinginnya malam yang menusuk tulang. Hanya suara orang-orang yang sayup terdengar gaduh tengah berlari memburuku, memanggil namaku.
Sial, aku lupa bahwa di depan merupakan jalan buntu. Aku berhenti sejenak mengatur nafas sambil mencari jalan untuk keluar dari pinggir perkampungan kumuh ini. Tempat ini masih asing bagiku, pernah sekali aku melewati jalan ini waktu pertama masuk ke perkampungan tetapi aku tak menghafal jelas jalan mana yang kulalui, sedang jalan yang setiap hari aku lalui ke sekolah berlawanan arah dengan jalan yang ini dan sempat kulihat tadi jalan tersebut sudah penuh dengan orang-orang suruhan om Bagas, laki-laki yang sering datang sebagai tamu mamaku.
Mataku tertuju pada gedung bertingkat tua yang terkenal angker di ujung dekat jalan buntu tersebut. Di samping sebrang jalan merupakan area pemakaman penduduk. Jadi suasana mencekam terlihat jelas malam ini. Bulu kudukku berdiri tapi demi keselamatan , aku harus mampu melawan ketakutanku sendiri.
"ANARA. . . ANARA. . . dimana kau sayang?" Teriak om Bagas dari kejauhan. Aku mampu mengenali suaranya karena sudah lama sering bertamu ke rumah mama.
" Cepat berpencar, dan cari sampai ketemu!" Lanjutnya lagi.
"Ah. . . sial." Bisikku sambil mengendap-endap menuju gedung tua bertingkat itu. Sambil sedikit menahan nafas dan menajamkan pandangan karena suasana yang gelap. Aku berjalan sangat hati-hati agar tidak apes menginjak sesuatu yang berbunyi atau tidak menabrak sesuatu di depan sana. Dan tinggal selangkah lagi hampir mendekati gedung tua itu, tiba-tiba mulutku dibekap seseorang dari belakang. Dengan lincahnya dia menarikku sambil berjalan menuju ke arah samping gedung yang terdapat tangga menuju gedung atas. Aku hampir kehabisan nafas karenanya, dan berusaha sekuat tenaga melepaskan bekapan tangannya, tapi gagal dan terus saja gagal. Meronta melepaskan diripun percuma, dia berhasil mengunci tanganku dengan ketatnya. Aku hanya bisa pasrah dalam dekapannya. Hanya deru nafasnya yang kudengar dibalik badanku dan juntaian rambut panjangnya yang kurasakan, tanpa bisa melihat wajahnya.
"Emmmpp. . . Emmmp. . . " Erangku.
Mengetahui aku kesulitan bernafas, dia hanya melonggarkan bekapannya dihidungku, tapi tetap membekap mulutku kuat-kuat. Cepat-cepat, dia kembali membawaku ke tangga menuju ke lantai atas.
Langkah kakinya mantap menapaki tangga. Di suasana gelap seperti ini, dia dengan cekatan bisa membawaku ke atas tanpa terjatuh atau tersandung anak tangga yang lain, padahal aku bisa memastikan bahwa dia memakai highheels lumayan tinggi.
Aku memicingkan mata sambil menggerak-gerakan badanku agar terlepas dari orang yang membekapku, kembali berusaha beradaptasi dengan pemandangan baru di gedung tua ini. Air mata dan peluh bercucuran. Takut dan bingung menjadi satu. Suasana gelap masih menyelimuti, hanya ada cahaya redup dari lilin kecil di atas sebuah lemari tua yang menyinari ujung ruangan. Jika dari luar, tak tampak sama sekali bahwa ada kehidupan di gedung ini. Karena jika siang hari gedung ini tampak lengang. Di halaman gedung banyak ditumbuhi rumput tak terurus. Lumut juga memenuhi tembok gedung yang tak terawat. Ada pecahan genteng dan reruntuhan atap yang dibiarkan begitu saja tergeletak. Kotoran debu di gedung bawah juga dibiarkan tanpa pernah dibersihkan.
"Bos, saya sudah cari dia kemana-mana tinggal gedung ini yang belum kita periksa." Kata seseorang kepada orang yang disebut bos.
Dari bawah gedung terdengar suara orang berbicara. Aku tahu mereka komplotan Pak Bagas yang sedang mengejarku. Orang di belakangku semakin mempererat bekapan mulutku. Aku tahu ini isyarat agar aku tak gaduh. Aku kembali diam tak memberontak lagi.
"Cepat periksa gedung ini! Jangan sampai dia kabur. Dia sumber penghasilanku saat ini. Aku sudah menunggunya lama. " Perintah bos komplotan itu.
"Siap Bos." Jawab mereka serentak.
"Ah siitt. . . " Umpat orang d belakangku. Segera dia melepas bekapannya di mulutku.
"Jangan berisik, cepat ikuti aku!" Katanya bergegas menuju ke arah ruangan di dekat lilin, kemudian masuk ke dalamnya. Baru kutahu ternyata lemari itu digunakan sebagai sekat. Gedung ini lumayan luas tapi tidak ada sekat tembok di dalamnya, berbeda dengan gedung di bawahnya. Hanya ada satu ruangan yang sekarang ada dihadapanku, tanpa pintu. Sekatnya pun hanya dari lemari usang tiga pintu dan papan yang diatur sedemikian rupa.
"Cepat tarik sprei itu." Katanya sambil sibuk mencari sesuatu di lemari.
Dia membalikan badan setelah menemukan barang yang dicarinya. Dan melotot tajam kearahku yang hanya diam terpaku.
"Hai cepatlah, kau ingin dibawa preman-preman itu , hah!!" Katanya mengagetkanku.
"Kita harus cepat sebelum orang-orang itu selesai memeriksa gedung bawah. Cepat kau pakai baju ini, lalu oles mukamu dengan tepung disana itu, seputih mungkin. Lalu kau bantu aku, memakai seprei ini. Kita harus menyamar untuk menakut-nakuti mereka. Cepatlah, atau tamat riwayat kita malam ini. " Katanya sambil melepas rambut palsunya, disusul highheels dan bajunya. Dengan sigap dia melepas baju dan menutupi tubuhnya dengan sprei yang dia tarik sendiri agar tak terlihat olehku. Kemudian menggantinya dengan celana kolor dan kaos oblong.
"Oh my God, ternyata dia laki-laki." bisikku tak percaya.
Aku yang shock segera sadar dari kegiatan bodohku di suasana segenting ini. Dan segera melaksanakan apa yang dia perintahkan. Tanpa melepas baju dan celana yang kukenakan, aku segera memakai longdress berlengan panjang warna putih yang dia berikan. Lalu memenuhi wajahku dengan tepung, tapi rasanya hal ini tidak efektif karena aku masih terlihat biasa di depan cermin.
Segera kuganti tepung dengan alas bedak yang ada di ruangan sempit itu. Kurias wajah seseram mungkin. Rambut panjang kugerai acak-acakan agak ke depan sehingga menampilkan kesan yang lebih seram.
Laki-laki yang kini ada dibelakangku mengikutiku, dia menghapus riasan cantiknya lalu merias wajahnya sendiri agar tak kalah seram dariku. Bulu mata palsunya dilepas diganti riasan mata horor dengan melukis lingkaran hitam khas hantu-hantu yang ada di televisi. Semua dilakukan dengan cepat, sehingga aku tak bisa jelas melihat wajah aslinya. Setelah selesai, dia mengarahkanku untuk mengkafaninya dengan sprei putih sedikit kusam miliknya membentuk sebuah pocong. Sengaja kulonggarkan ikatan di bawah kakinya agar dia leluasa bergerak dan lari jika sesuatu yang buruk terjadi pada kami. Aku bergidik ngeri melihatnya sempurna menjadi hantu pocong, apalagi dia menambahkan kapas di kedua hidungnya. Kalau saja tak melihatnya langsung dia berubah seperti itu, mungkin aku akan lari terbirit-birit saat ini.
"Kita hanya untung-untungan di saat terdesak seperti ini, semoga cara kita berhasil. Kalau tidak, dan sesuatu yang buruk terjadi cepatlah kau lari dari sini. Masuklah ke dalam pemakaman, di arah utara sana ada rimbunan semak-semak dan dibaliknya ada gedung kosong, masuk lewat pintu itu dan keluar lewat pintu di sebrangnya lagi. Itu jalan pintas dari sini. Setelah keluar dari sana, berjalanlah lurus di kebun kosong milik warga, setelahnya kau akan menemukan jembatan di dekat pasar. Teroboslah pasar dan temukan jalan besar. Setelahnya kau bisa minta bantuan orang atau syukur-syukur masih ada ojek yang membawamu ke tempat yang lebih aman. " serunya bersemangat.
"Sekarang kau harus menyelinap turun, syukur-syukur kau bisa takuti mereka agar berlari menjauh. Aku akan tetap di sini ketika mereka datang untuk memancing perhatian sebagian dari mereka karena kita tidak tau jumlah mereka ada berapa banyak. Setelah suasana aman kau segera lari ya. Jangan lewat jalan utama. Kau paham? "
"Tapi kak, bagaimana dengan kakak di sini?" jawabku
"Jangan hiraukan aku, aku bisa menjaga diri. ayo lekas turun, lewatlah samping tangga, memutar ke pemakaman itu. Hati-hati siapa tahu ada yang berjaga di depan. Oh ya bawalah ini, gunakan seperlunya agar tidak memancing perhatian orang. " perintahnya sambil melemparkan senter kecil.
"Terimakasih Kak. Oh ya nama kakak siapa?" tanyaku kemudian.
" HANS, panggil saja aku Hans, " jawabnya.
"Oke Kak Hans, semoga kita bisa bertemu lagi. "
Kulihat dia hanya menganggukan kepala.
Lalu aku berjingkat-jingkat menuruni tangga. Suasana masih terlihat gelap walaupun gerimis telah reda. Tidak ada bintang rembulan yang menerangi malam ini. Di dalam gedung bawah terdengar agak gaduh. Aku menarik nafas, ternyata di depan sudah ada beberapa mobil di sana. Dan dari suaranya terdengar ada orang yang juga berjaga di dalamnya.