
Malam ini penuh dengan taburan bintang dan cahaya lampu menghias sepanjang sungai Seine di kota Paris.
Baskara menggenggam tangan Anara. Terasa hangat dan nyaman.
Paris memang pantas dikatakan kota cinta. Banyak pasangan muda mudi, bahkan kakek nenek merasakan keromantisan kota tersebut.
"Mas mau kita punya anak berapa? Kalau aku maunya 2 ."Anara menanyakan perihal jumlah anak yang akan mereka miliki.
"Mas ikut kamu saja. Karena kamu yang akan hamil. Jadi Mas ingin senyamannya kamu." Baskara mencium kepala istrinya.
"Aku kepingin punya anak laki-laki dan perempuan. Kalau Mas Bas?" Anara ingin tahu keinginan jenis kelamin anak mereka.
"Mas serahkan Tuhan saja, Laki-Laki atau perempuan Mas akan tetap bahagia memilikinya. Karena mereka lahir dari Rahim wanita yang Mas cintai." Baskara merebahkan kepala Anara dibahunya.
"Kira-Kira anak kita akan mirip siapa ya Mas?" Anara sedang menerka-nerka kemiripan wajah anak mereka.
"Jika Perempuan pasti akan secantik Kamu Sayang." Baskara kini melihat gemas dengan istrinya.
"Berarti kalo laki-laki akan tampan seperti Mas Bas?" Jawab Anara senang.
"Sayang, apa yang kamu suka dari Mas?" Baskara ingin mengetahui jawaban istrinya.
"Kalo Mas sendiri, apa yang Mas sukai dari aku?" Anara balik bertanya.
Baskara kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Anara.
"Mas rasa semua yang ada pada dirimu membuat Mas tertarik.?" Baskara tersenyum.
"Masa sie? Jadi malu Aku." Anara menutup wajahnya.
"Kalau kamu, apa yang kamu sukai dari Mas?" Baskaran ingin tahu jawaban istrinya.
"Ehm,,, ini. kalau mas senyum terlihat manis." Anara menunjuk lesung pipi suaminya.
Baskara memeluk istrinya. Rasa nyaman dan tenang membuat Baskara ingin selalu dekat dengan istri tercintanya.
"Sayang, kamu tahu tidak kenapa dulu Mas tidak menyatakan cinta padamu?" Baskara membuka kejujuran dimasa dulu.
"Kenapa Sayang?" Anara juga penasaran.
"Saat ini mas ingin memberitahumu tentang perasaan Mas, namun Mas takut apa kamu memiliki perasaan yang sama dengan Mas. Ditambah dengan kematian Mas Adyaksa dan Papa syok akan kenyataan itu membuatnya terkena serangan jantung. Dan harus menemani Papa berobat keluar negeri." Kenang Baskara akan masa-masa sulit itu.
Anara membayangkan betapa sedih dan kalutnya Baskara pada saat itu.
"Mas, janji ya, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, hingga maut yang memisahkan." Anara memeluk suaminya dengan erat.
"Mas janji Sayang, kita akan selalu bersama sampai kapanpun." Diciumnya pucuk kepala istrinya dengan mesra.
.
"Mas sebetulnya dari dulu aku memiliki keinginan dan cita-cita." Anara memberitahukan keinginan dirinya yang dikuburnya dalam - dalam.
"Katakanlah Sayang, apa cita-citamu?" Baskara kini menatap mata indah milik istrinya.
"Sebenarnya aku ingin suatu hari nanti memiliki sekolah bagi mereka yang kurang beruntung dan Rumah singgah bagi mereka yang membutuhkan." Anara menatap kelangit yang malam itu begitu indah.
"Sayang apakah kamu tahu kenapa mas waktu itu menjadi guru?" Baskara terima masa-masa ia mengajar disekolah.
"Aku juga penasaran? Coba Mas ceriitakan?"Anara sambil menatap lekat pada wajah suaminya.
"Almarhumah Mama adalah seorang Guru. Mas masih ingat betul, Mas sering dibawa mama ke sekolah tempat Mama mengajar. Mas masih ingat betul, Senyuman Mama begitu bahagia setiap mengajar di sekolah. Suatu hari Mas bertanya kepada mama. Mengapa Mama sebahagia itu? Mama menjawab melihat mereka murid mama memiliki ilmu dan pengetahuan kemudian bisa bermanfaat kepada orang banyak adalah kepuasan tersendiri. Mama juga dulu ingin memiliki sekolah bagi mereka yang kurang mampu, namun penyakit kanker yang mama derita membuatnya pergi lebih cepat." Baskara menahan airmatanya, Ia selalu sedih dan pilu bila mengingat kepergian almarhumah mamanya.
Anara merasakan kesedihan suaminya begitu mendalam.
"Semoga kelak keinginan mama dan cita-cita ku dapat terwujud." Anara berdoa.
Kedua mengaminkan doa itu.
.
Anara sedikit demi sedikit mulai mengenal sisi lain Baskara. Semakin hari rasa cinta Anara pada Baskara semakin tumbuh. Begitupun Baskara yang hari demi hari merasakan kenyamanan bersama Anara. Baskara ingin selalu bersama istri tercintanya.
Cinta hadir dimana saja dan bisa dengan siapa saja. Cinta tidak pernah memilih akan bersandar pada siapa.
...Cinta...
...Hadirnya tidak terduga...
...Tak butuh perantara...
...Karena Cinta miliki sejuta cara...
...Membuat hidup penuh warna...
Itulah kini yang Anara rasakan. Hatinya yang memilih Baskara untuk menjadi pelabuhan cintanya.
...Cinta Anara dan Baskara...
...Datang tiba-tiba tanpa rencana...
...Terjalin tanpa kata-kata...
...Menyapa meski tanpa suara...
...Tersimpan dalam jiwa...
...Hangat terasa dalam dada...
Tuhan, terima kasih.. Engkau hadirkan Ia dalam hidupku. Melengkapi hidupku. Menghangatkan hatiku.
Dilubuk hati Baskara terukir Nama Anara.
...Anaraku...
...Pesonamu meresap dalam hatiku...
...Mata indahmu teduhkan pandanganku...
...Senyum manismu sekaan menjadi candu...
...Tetaplah bersamaku...
...Belahan jiwaku...
Keduanya duduk ditaman menikmati keindahan malam dikota Paris.
"Mas nanti jika aku hamil, aku ingin kembali kesini bersamaku dan calon buah hari kita." Anara nampaknya jatuh cinta dengan kota penuh romansa.
"Iya,"Baskara kembali mempererat pelukannya.
.
Pagi hari yang cerah di kota Paris
Anara dan Baskara menikmati sarapannya. Memandang menara Effiel sebagai lambang cinta kota itu.
"Aku ingin kelak ketika aku sudah berusia senja, kamu mau menggandeng tanganku dan kita berjalan bersama." Tatapan Anara tertuju pada pasangan suami istri lansia yang kini berjalan bergandengan tangan.
"Tetap bersamaku, Jadilah teman hidupku, Meski rambut mu dan rambutmu memutih tetapi cinta kita tidak akan memudar." Baskara mencium tangan istrinya.
.
.
.
.
Duhhhh,,, puitis dan romantis banget ya pasangan ini.
Jadi pengen nyusul Anara ke paris.
Semoga Doa Anara dan Baskara terkabul.
Bantu doa ya Readers....
Ga sabar kepingin lihat mereka punya anak.
Puitis dan Romantis juga ga ya seperti orang tuanya.
Kita doakan saja semua pulang honeymoon Anara hamil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...