
Anara menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Baskara.
Sejak waktu itu dokter mengatakan harus menjaga pola makan dan makan tepat waktu Anara betul-betul mematuhinya.
"Sayang, tadi papa telpon, Sepertinya papa butuh bantuan kita?" Baskara sedang memasang dasinya.
Anara melihat itu bergegas membantu suami memasangkan dasi.
"Papa perlu bantuan apa sayang?"sambil memastikan dasi terpasang benar di leher suaminya.
"Terima kasih sayang."ucap Baskara karena dibantu sang istri memakaikannya dasi.
"Jadi papa Brata memiliki sebuah penawaran kerjasama dengan sejumlah negera di Asean. Namun saat bersamaan papa harus melakukan perawatan kesehatannya. Untuk itu papa menbutuhkan waktu istirahat. Karena papa meminta aku menghandlenya disana. Apakah kamu bisa menemaniku? Baskara menjelaskan.
"Berapa lama sayang?"tanya Anara.
"Kurang lebih sekitar 2 minggu." Baskara kini duduk sambil memakan sarapan yang disiapkan istrinya.
"Sebentar sayang aku akan menelepon papa Gilang." Anara mengambil ponselnya dan menghubungi papanya.
"Halo sayang, bagaimana kabarmu?"papa Gilang yang sama-sama sedang sarapan dirumahnya.
"Kabar Nara dan Baskara baik pa. Papa mama bagaimana kabarnya?" Anara balik menanyakan kabar kedua orang tuanya.
"Papa mama baik, kami sedang sarapan. Ada apa nak?" oapa Gilang bertanya.
Anara menjelaskan mengenai kondisi yang dialaminya.
"Oh mengenai itu."papa Gilang menjawab.
"Baiklah. Selama kamu pergi biar papa kembali keperusahaan dan menggantikanmu menghandlenya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan karena ada papa. Rencananya kapan kamu berangkat?"papa Gilang menanyakan.
"Mungkin besok oa." Anara memberitahukan papa Gilang."
"Baiklah kalau begitu. Kabari oapa besok ketika berangkat."
"Iya pa pasti. Terima kasih banyak pa." Anara menutup telponnya.
"Bagaimana sayang?" Baskara menanti jawaban istrinya.
"Besok kita berangkat sayang." Anara memastikannya.
"Terima kasih ya sayang." Baskara memeluk istrinya.
.
Anara kini berada dikantor sedang meeting bersama Para kepala Departement.
"Sekalian saya mau menyampaikan bahwa, Selama kurang lebih 2 minggu kedepan pak Gilang akan menggantikan saya disini. Namun jika memang ada hal atau masalah yang memang harus dikordinasikan dengan saya makan silahkan kabari ya. Itu saja. silahkan kembali melanjutkan pekerjaan." Anara menutup meetingnya hari itu.
.
Vina dan Rio sedang sarapan dirumahnya. Vina membuatkan kopi susu untuk Rio suaminya.
Vina membuka obralan dengan suaminya. Vina merasa perlu membahas persoalan Tasya.
Tasya sebenarnya sudah menceritakan kepada Vina mengenai hubungannya dengan Abimana.
Sebagai kakak ipar dan perempuan tentu Vina memahami perasaan Tasya.
"Sayang boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"tanya Vina pada suaminya yang berada didepannya menyantap nasi goreng.
"Kamu mau tanya apa sie sayang serius amat mukanya." Rio tidak biasa melihat wajah tegang istrinya.
"Aku mau membicarakan soal Tasya dan Abimana"Vina memberanikan diri menyebut nama Abimana depan suami.
Rio sebenarnya sudah mengetahui hal itu dari ayah Sigit. Waktu itu ayah sigit memanggilnya ke kantor dan membahas soal Abimana yang datang menemuinya dan menyatakan ingin serius untuk menikahi Tasya.
"Sayang," Vina memanggil suaminya karena Rio tidak memberikan jawabannya.
"Kalau menurutmu bagaimana?" Rio balik bertanya pada istrinya.
"Sayang, aku mengerti sekali bagaimana perasaanmu, kasih sayangmu terhadap Tasya terlebih ia adik perempuanmu satu-satunya. Aku tahu kamu ingin Tasya mendapatkan pria yang baik, yang mencintai, menyayanginya dan membahagiakan Tasya. Bang Rengga pun berlaku sama dengan ku seperti yang kamu lakukan pada Tasya. Aku tahu seperti apa Abimana karena Dita menceritakan semua soal Abimana dan tentang semua yang berkaitan antara Abimana, Dita dan Bang Rengga. Dita mengatakan Bang Rengga dan Dita sudah memaafkan tindakan Abimana. Lalu Dita juga mengatakan bahwa Naya adik kandung Abimana menemui dirinya dan menjelaskan kepada Dita yang sebenarnya. Setiap manusia terkadang memiliki sisi gelap dan kelamnya. Namun hati manusia bisa berubah. Abimana mungkin adalah pria bajingan dan suka mempermainkan wanita. Namun Abimana benar-benar jatuh cinta dengan Tasya, begitupun aku bisa melihat Tasyapun mencintai Abimana. Berilah kesempatan Tasya dan Abimana untuk bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri. Kamu pasti mengetahui bagaimana jika perasaan cinta kita tidak tersampaikan. Sakit bukan? Kita sudah mengalami nya Rio, menahan perasaan sungguh tidak enak. Apakah kamu mau Tasya tidak bahagia karena tidak bisa bersama dengan pria yang dicintainya?" Vina menjelaskan pandangannya kepada Rio perihal hubungan Tasya dengan Abimana.
Rio menyandarkan tubuhnya pada kursi. Terlihat wajahnya lurus dengan tatapan menerawang.
Vina melihat suaminya seperti itu didekatinya Rio dan memeluk suaminya.
Setelahnya tenang dan mampu untuk berkata Rio menatap Vina.
Vina menantikan tanggapan Rio mengenai pandangannya tentang Tasya dan Abimana.
"Sebagai seorang kakak aku takut Abimana mempermainkan Tasya dan membuat Tasya bersedih. Karena jika itu terjadi Aku akan lebih bersedih." Rio menjeda kata-katanya.
"Namun seperti yang kamu katakan sayang, aku tidak mau membuat Tasya merasakan cinta yang tertahan karena itu menyiksa.Jika memang Tasya yakin bahwa kebahagiaannya bersama dengan Abimana, maka aku akan merestui hubungan mereka berdua." Rio mengikhlaskan Tasya dan Abimana.
"Sayang terima kasih, aku bangga padamu, kelak jika kita memiliki putra dan putri kamu adalah ayah terbaik bagi mereka." Vina memeluk suami dengan bahagia.
.
"Sayang, kamu sedang buat apa?" Rengga mendekati istrinya yang sedang menyiapkan sarapan didapur.
"Aku masak nasi goreng buat abang sayang." Dita mengecup suaminya dengan bahagia.
"Ih, pagi-pagi udah nakal ya."Rengga memeluk Dita dan memandang Dita dengan tatapan omes.
"Abang kali yang pikiran berdebu, huhuhuhu." Bibir Dita manyun-manyun membuat Rengga semakin gemas.
Rengga langsung membawa istrinya kembali ke kamar dan terjadilah perang dunia ke 3 ala Rengga dan Dita.
"Abang kebiasaan deh, ga bisa di colek sedikit. langsung nyetrum." Dita menuangkan nasi goreng kepikiring Rengga.
" Bang, Dita mau ngomong sama Abang soal Abimana." Dita memperhatikan ekspresi suaminya.
"Katakan sayang, Abang akan mendengarkan." Rengga mempersilahkan istrinya bicara.
"Abang masih marah dengan Abimana?"Tanya Dita.
Rengga sebetulnya sudah diceritakan Rio perihal Abimana yang menemui ayah mereka berniat untuk meminang Tasya.
Rio bahkan mengatakan ia takut Abimana menyakiti adiknya.
Rengga yang paham betul apa yang Rio rasakan karena Rengga pun betul-betul menjaga Vina apalagi sejak kepergian Ayah mereka.
Rengga juga ada keraguan karena Rengga cukup lama bersahabat dengan Abimana hinggu ia paham betul Karakter dan sifat Abimana.
Rengga takut Abimana hanya tobat sambel.
"Abang, denger Dita ga?" Dita memanggil ulang suaminya.
"Abang mengerti perasaan Rio karena Abang juga seorang kakak laki-laki yang memiliki adik perempuan. Kami memiliki tanggung jawab menjaga dan menyayangi. termasuk memastikan adik kami bahagia dan tidak disakiti pria. Abang mengerti kekhawatiran Rio seperti apa." Rengga sangat memahami perasaan Rio.
"Tentu Abang. Pasti semua kakak laki-laki begitu melindungi adik perempuannya. Naya pernah menemuiku membahas soal bagaimana perubahan Abimana setelah mengenal Tasya. Naya juga mengatakan bahwa setelah peristiwa itu Abimana lebih senang menyendiri. Naya bahkan mengatakan bahkan Abimana tidak sampai seperti ini ketika aku menolaknya. Abimana tampaknya benar-benar sudah berubah. Dia betul-betul jatuh cinta pada Tasya. "Dita menjelaskan panjang lebar pada Rengga.
Rengga sebenarnya sudah tidak marah kepada Abimana karena dia yakin bahwa Dita begitu mencintainya. Rengga berharap Abimana berubah seutuhnya dan menjadi Pria yang bisa membahagiakan Tasya.
"Kamu sedih Sayang, Abimana udah ga cinta sama kamu?" Rengga hanya meledek dan ingin lihat istrinya marah bikin gemes.
"Mulai, mulai,,, kok jadi begini sih. Abang masih ragu sama cinta aku ke abang?" Dita bangkit dari meja makan menuju kamarnya.
Rengga ga menyangka istrinya malah ngambek.
"Sayang buka donk pintunya Abang kan becanda. Jangan marah donk sayang. Iya Abang tahu kamu cinta sama Abang. Sayang, buka donk, Abang tak bisa hidup tanpamu." Rengga mulai gombal.
Mendengar suaminya begitu Dita tertawa. Sungguh Dita merasa suaminya sangat menggemaskan kalo bucinnya kumat. Dita membuka pintu kamarnya.
"Sayang, jangan marah dong, abang kan cuma bercanda." Rengga memeluk istrinya, takut istrinya ngambek lagi.
"Janji ya Abang ga ngeledek begitu lagi!" Dita memberikan kelingkingnya pada Rengga.
"Janji sayang"Rengga mengaitkan kelingkingnya.
Bentar Bang aku mau ketoilet perut aku mual.
Dita lari ke toilet karena mual dan mau muntah.
Hoekkkkk,,,,
Hoekkkkk...
Dita mengeluarkan semua isi perutnya dan membasuh mulutnya dengan air.
Rengga panik takut istrinya kenapa-kenapa
"Sayang kamu muntah, kamu sakit, kita kedokter ya?" Rengga mengajak istrinya ke dokter.
"Mungkin masuk angin aja Bang." Dita menjawab.
"Tapi belakangan kamu sering bilang kepala kamu pusing dan kram diperut. Abang takut terjadi apa-apa dengan kamu sayang?"
Dita memegangi perutnya yang sakit setelah muntah.
Rengga mengingat sesuatu.
"Bulan ini kami sudah haid belum?" Tanya Rengga karena iya tidak pernah absen "Mokacinodingdong" dengan istrinya. tidak seperti bulan lain adakalanya Istrinya perbodend.
Dita mengingat-ingat. dan kemudian menanyakan kepada Rengga.
"Abang sekarang tanggal berapa?" Dita seketika lupa tanggal.
"Tanggal 10 sayang. Ada apa sayang?"jawab Rengga bingung melihat ekspresi istrinya yang sulit diartikan.
"Seharusnya aku datang bulan tanggal 1."Dita menghitung. "Sudah telat 9 hari."Dita berucap.
Rengga langsung menduga, "jangan-Jangan kamu hamil sayang?"
.
.
.
.
Wahhhhhhh semoga Dita hamilllll ya Readers.
Bantu Doa ya.
Semangat ihhhhh mau punya keponakan
Semoga bener ya.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...