
Setelah pamit dari kantor ayah Sigit. Kini mereka berkumpul di Brevilia Hotel merayakan suksesnya lamaran Abimana pada Tasya.
Mereka satu satu menyalami Abimana dan Tasya.
"Gimana tadi, menengangkan ga?"Rio meledek Abimana.
Abimana hanya menggaruk-garuk kepalanya.
"Memang kalian tahu bagaimana didalam?"Abimana kebingung karena semua tersenyum.
"Kayak tahu Bi, dari mulai lo sendiri muka lo panik sampai pistol nemepel di kening lo, semuanya kita lihat."Rengga menjawab dengan tersenyum.
"Aku malu sayang." Abimana meminta perlindungan Tasya dengan hampir memegang dengan cepat dihalangi Rio.
"STOP! Belum Muhrim!" Rio yang memeluk Tasya menggantikan Abimana.
Abimana hanya bisa memberikan semangat pada dirinya. 2 minggu lagi Bi, Semangat!
"Naya, Surya, kalian juga tahu rencana ini?" Abimana sedang mengecek adiknya?"
Naya dan Surya mengangguk bersamaan.
Rengga dan Rio merangkul abimana.
"Itu yang kanan kiri Mas Abi, dalangnya." Kata Dita sambil mengusap perutnya. Perut Dita sudah mulai terlihat besar.
"Terima kasih semuanya, Maafin gw ya, Buat lo Ga dan Dita maafin gw kalo pernah buat salah kekalian, Buat lo Yo, calon abang ipar gw, gw janji sama lo bakal selalu buat Tasya bahagia dan ga akan menyakiti Tasya." Abimana memeluk Rengga dan Rio.
"Rio, gw titip adek gw ya," Rio menepuk bahu Abimana. Meski Abimana usianya lebih tua kenyataannya kini Rio adalah kakak iparnya.
"Udah Bi, kita lupain masa lalu. Lo harus fokus dan ga boleh kumat! Oke?" Rengga menepuk bahu sahabatnya kemudian memeluknya.
"Babynya Mama Dit Dit nanti kalo udah besar jangan kayak om Abi bandel. Nanti Kalau bandel kamu kayak Om Abi bakal di DORRR." Vina mengelus perut Dita. Anak Dita dan Rengga diketahui setelah pemeriksaan USG berjenis kelamin laki-laki.
Tentu saya celotehan Vina disambut dengan tertawa meriah.
"Jadi 2 minggu lagi bakal ada penganten baru?canda Baskara yang mengenal Abimana sebagai sesama pebisnis.
"Tasya kayaknya kudu kita brefing dulu deh."Anara mengajak Dita dan Vina.
"Tenang, Si BOTUNA ini akan kita Suntik Vaksin dulu biar virus-virusnya hilang. Ya ga bro." Rengga mengajak Rio, dan Baskara.
"Beresssss!" Jawab Baskara dan Rio.
.
Sementra para pria sedang asik ngobrol tinggalah disini Anara, Vina, Dita dan Tasya.
"Sya, kamu ga usah khawatir kakak akan urus pernikahan kamu sayang. Nanti kakak akan menanyakan juga Ayah dan Bunda mau seperti apa.
"Pokoknya kalau kalian berdua mau pernikahan Live di TV, bilang ka Anara. Niatnya berbagi kebahagiaan kepada masyarakat apalagi Jendral Sigit begitu dicintai masyarat kita."
"Weitssas, N'Beauty akan membuat kamu menjadi pengantin yang paling canti."Dita kini telah menjadi CEO menggantikan tante Nita yang sudah ingin beristirahat dan menemani papa Gilang.
"Tasya ga tahu harus bilang apa sama kakak-kakak semua, Terima kasih banyak, udah bantuin Tasya bisa nikah sama mas Abi." Tasya menangis haru.
Semua memeluk Tasya yang menangis kenceng.
"Loh kok nangis dek, kompak sama calon suami?" Vina meledek adek ipar.
Seketika keempatnya tertawa bersama-sama.
.
"BOTUNA, akhirnya ada juga nikah juga lo, begini nih kalo buaya udah ketemu pawangnya! Rengga senang menggoda Abimana.
"Sialan lo ga!tapi bener sie, takut banget gw pas lo dan Rio marah dan ngelarang gw sama Tasya. Ancur-ancuran hati gw, GETIR!. "Kenang Abimana.
"Bakalan sepi nie dunia, playboy satu ini udah tobat." Ledek Baskara.
"Makasi ya kalian semua udah bikin gw sama Tasya nyatu. Sumpah tadi pas Ayah naro pistol dikepala gw. Gw udah pasrah banget dah, MATI GW HARI INI!"Abi mengingat tadi.
"Gw kira playboy ga bisa nangis, nyatanya kejer banget bro."Rio tertawa sendiri ketika melihat Abimana menangis bersimbah airmata.
Rengga, Rio dan Baskara tertawa mendengar kejujuran Abimana.
.
Naya dan Surya pulang terlebih dahulu karena mau imunusasi Keysha.
.
Abimana dan Tasya.
Tampak restoran dengan sebuah desain pedesaan dengan view menghadap danau.
Abimana dan Tasya kini duduk disalah satu gazebo yang menghadap danau.
Abimana menatap calon Istrinya dengan senyuman.
Tasya yang sedang meminum kelapa hijau menyadari hal itu.
"Kenapa mas Abi memandangi Tasya?" Tasya bertanya kepada Abimana.
"Ya, gapapa sih. Mas Abi, kan bisa pilih perempuan lain yang lebih mudah dan ga susah dapetinnya, kenapa masih maju?"Tasya penasaran.
"Cinta mas Abi, mentok di kamu sayang."Abimana mulai gombalin calon Istrinya.
"Sebenarnya sampai saat ini, Tasya takut mas Abi suatu saat kumat seperti dulu."Tasya ada kekhawatiran.
"Sya, kalo mas Abi ga sungguh-sungguh sama kamu ga akan mas Abi melangkah sejauh ini. Kamu tahu pas di dalam berdua ayah dan 2 ajudan. Nafas mas Abi hampir mau mati, lutut mas hampir copot, apalagi pas ditodong pistol, rasanya jantung mas Abi udah copot."Abimana mengikat kejadian tadi sedikit ngeri.
Heheheheheh,,, Tasya tertawa terbahak-bahak.
"Kamu dan yang lain kan liat, ya kan?"Abimana memastikan.
"Iya kita semua liat mas Abi kok termasuk bunda. Seru deh Mas, seperti nonton drama gitu. Tapi Tasya sedih pas lihat mas Abi nangis. Bener atau acting mas?"Tasya meledek Abimana.
"Akting kamu bilang Jantung, lutut nafas mas Abi seperti mau mati rasanya."Abimana teringat kejadian bersama ayah Sigit.
"Ayah itu aslinya lembut banget mas, aku dan bunda hampir tidak pernah mendengar Ayah bersuara keras. Kecuali kalau darurat. Ayah menyukai mas Abi sebenarnya cuma mas Abi kan playboynya super jadi Ayah takut mas Abi bikin aku sedih."Jelas Tasya.
"Mas Abi juga mengerti, Ayah mana yang mau anak perempuannya disia-siakan. Mereka merawat dan membesarkan putrinya dengan kasih, dan cinta yang tulus." Abimana menjawab.
"Mas Abi, apakah setelah menikah Tasya boleh bekerja?" Tasya menanyakan kepada calon suaminya.
"Mas Abi tidak melarang, setelah menikah mau langsung punya anak, atau tidak. bekerja atau menjadi IRT, atau mau kuliah lagi, selama Tasya senang menjalaninya Mas Abi akan mendukung." Abimana memberikan istrinya kebebasan memilih.
"Mas Abi, waktu kita ketemu dipameran mas Abi sedang apa?"Tasya bertanya.
"Oh waktu itu, mas Abi 3 bulan ga ketemu kamu bikin perasaan hati mas Abi hancur dan curat marut. Ga tahu kenapa begitu. Sebenernya dulu ketika mas ajak kerja kamu bukan sekedar modus, mas ingat obrolan kita ketika nas mengantar kamu pulang. Kamu kan bilang kamu suatu saat ingin membuat sebuah tempat dimana bukan hanya sekedar mewah dan modern tapi memiliki unsur seni dan kreativitas hingga tempat tersebut mampu menjadi healing bagi individu yang lelah dengan segala aktivitas kegiatannya sehari-hari."Abimana mengingat saat-saat itu.
"Mas Abi boleh Tasya bertanya sesuatu?" Tasya memastikan.
"Mau tanya apa sayang?" Abimana senang sekali menatap wajah Tasya.
"Mas Abi masih ada perasaan dengan mbak Dita?"Tasya membutuhkan kepastian.
"Emangnya kenapa? Kamu cemburu ya?"Abi meledek Tasya.
"Oh gitu, mau ditonjok Bang Rengga ya mas?"Tasya balik meledek.
"Gemes mas Abi sama kamu deh Sya. Mas Abi mengenal Dita karena, Naya dan Dita berteman ketika SD. Yah mungkin saat itu cinta monyet biasalah. Namun yang Mas Abi sesalkan adalah diri Mas Abi yang sempat jahat ketika mengusik kebahagian sahabat sendiri. Ketika Mas Abi bertemu kamu, Mas Abi menyadari, Apa yang mas Abi rasa kepada Rengga dan Dita itu hanya obsesi dan keserakahan. Berbeda dengan kamu, mas Abi merasakan nyaman, dan bahagia bukan perasaan ambisi. Ketika mas Abi dihadapkan dengan Rengga dan Rio dikantor mas Abi, mas Abi tidak menyalahkan mereka, mas Abi sadar itu semua karena perilaku mas Abi sendiri selama ini." Abimana mengenang kekeliruannya.
"Oh gitu pak Abimana?"Tasya jahil meledek.
"Emang mas Abi tua banget ya Sya, sampai di supermarket waktu itu kamu panggil Bapak?"Abi serius meminta pendapat Tasya yang saat ini usianya 22 Tahun sedangkan Abimana 35 tahun.
"Sebenernya jujur pas pertama nas Abi minta cariin pembalut Tasya mikirnya mas Abi itu GADUN." Tasya jujur.
"Ya Tuhan Tasya. Seburuk itukah mas Abi."Abimana geleng-geleng.
"Ini gimana e, kok om om manise, buah jatuh cinta terngiang-ngiange. Aku jadi gimana-gimana gitu ya om. Aku masih kecil suka sama yang om-om.”Tasya bernyanyi lagu yang sedang viral dan tertawa.
"Bandel kamu ya, bakal mas Abi hukum kamu. Tapi nanti kalau sudah nikah kasih hukumannya." Abi senyum-senyum OMES. Maklum temennya Rengga satu server mereka.
Abimana diam, lalu mengelitik pinggang Tasya.
"Mas Abi geli, udah ya, Tasya minta ampun." Tasya paling ga bisa dikelitik.
"Mas Abi ampunin, nanti hukumnya pas malam pertama, jangan kabur kamu." Abimana sengaja menakuti Tasya.
"Ih, Tasya takut sama om gadun yang OMES. Kabur!" tanya meledek Abi.
Abi memeluk Tasya dari belakang, Tasya kaget melepaskan pelukan Abi.
"Tasya bikin mas Abi khilaf nih Aduh." Abimana geleng-geleng kepala." Abimana tertawa lepas.
"Dasar gadun omes!" Tasya lari yang kemudian disusul Abimana.
.
.
.
.
Sukses ya Bi menaklukan Putri Cantik Anak Pak Jendral.
Untuk Ga Beneran di DORR.
Buat Tasya harus Hati-Hati Julukan Abi BOTUNA Loh!
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...