
Abimana mengajak masuk Tasya ke apartemen Abi. Sebenarnya Abi memangg tinggal diapartemen namun karna harus menjaga Naya yang sedang hamil dan suaminya saat diluar negeri.
Tasya melihat lihat sekeliling Apartemen Abi. Tampak bersih dan bergaya minimalis.
"Sayang, bagaimana? Apakah kau suka?" Abi memeluk Tasya dari belakang.
Tasya berbalik menghadap Abi "Sudah berapa perempuan yang Mas Abi bawa kesini?" Tanya Jahil dan mencubit hidung Abi kemudian ia lari.
Abi menghampiri Tasya yang saat ini sedang menatap keluar dari jendela besar tepat disisi kiri tersebut. " Kamu kenapa berpikir seperti itu Sayang?" Abimana memeluk istrinya dari belakang dan mencium kepala lalu turun ke leher Tasya, namun Tasya menghentikan Abi dan berlalu pergi.
"Sebenarnya kenapa Tasya seakan menghindar setiap aku hendak menyentuhnya? batin Abi.
Abimana membantu Tasya membereskan baju-baju dan memasukannya kedalam lemari pakaian diruang wardrobe pribadi milik Abi. Iya menatap punggung istrinya denga penuh tanda tanya.
Jangankan melakukannya, Sekedar Kiss saja entah mengapa Tasya enggan. Tasya juga masih belum berani mengganti bajunya didepan Abi.
Setelah menikah memang memutuskan tinggal di Apartemen Abi. Karena bagaimanapun juga Tasya paham istri harus mengikuti suaminya.
Abi melihat Tasya sedang memindahkan beberapa peralatan kosmetik dirinya disebuah meja rias diruangan wardrobe. Seketika Abimana melepas baju karena iya mau menggunakan baku santai rumahan.
"Mas Abi mau apa? Ganti baju ya? Tasya keluar dulu ya." Tasya keluar dari ruang wardrobe secepatnya.
Abi mulai merasa ada yang aneh dengan Tasya istrinya. Tapi Abi tidak tahu barus melakukan apa.
.
Malam tiba setelah mereka selesai makan Tasya sedang berbaring diranjang kamar sambil menonton TV.
Abi yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk dililitkan dipinggangnya membuat dada kekar dan perut kotak-kotak atletisnya terpampang nyata, rambut basah yang menetes juga membuat Abimana terlihat begitu menggoda.
"Mas Abi, kalo habis mandi pake baju dong, Tasya kaget." Tasya segera bangkit dari kamar dan bergegas lari menuju pintu namun segera disusul Abimana.
Tangan Tasya segera digapai Abi, karena kaget Tasya yang hilang keseimbangan pun hampir terjatuh namun berhasil ditangkap Abi.
Sejurus mata mereka saling berpandangan. Dada Abi yang kini terbuka menempel dengan Tasya. Tasya merasakan aliran darahnya lebih kencang.
"Mas Abi, Tasya mau ketoilet." Tasya berusaha melepas tangan Abi pada pinggangnya namun Abi masih menahannya.
"Kenapa terus menghindari Mas, Sya?" Abi kali ini menatap dengan serius kepada Tasya.
"Aku ga menghindar, cuma mau ketoilet." Abi kembali mengingatkan dirinya agar lebih sabar memberi Tasya waktu.
Beberapa hari di Apartemen,...
Semenjak kejadian itu Abi tidak lagi berusaha mencari cara dan Tasya memang belakang lebih pendiam, Abi yang takut jika bertanya akan menyakiti hati Tasya istrinya. Abi hanya bisa bersabar sampai Tasya sendiri yang memang ikhlas menerimanya.
Tasya keluar kamar mandi dilihatnya Abimana tertidur namun badannya menggigil. Tasya memegang dahi Abi. "Mas Abi, Mas Abi bangun Mas, badan Mas Abi panas,"Tasya mengambil termometer dan mengecek suhu tubuh Abi. 39 derajat.
Tasya segera menyiapkan air untuk mengompres Abi. Tasya mengompres Abi perlahan, Kini tanpa sadar Tasya mengusap kepala Abi dengan lembut. Tanpa terasa air matanya menetes mengenai wajah Abi.
Abi yang masih tertidur, sedangkan Tasya membuat bubur untuk abi dan minuman jahe hangat.
Tasya masuk ke kamar melihat abi sudah bangun bersandar ditempat tidur. Tasya meletakkan bubur langsung mengecek dahi apakah masih panas.
Abimana melihat Tasya dengan senyuman meski kini badannya sedang demam Abi senang karena bisa merasakan kasih sayang dan perhatian istrinya.
"Mas abi makan dulu ya, Tasya buatin Mas abi bubur dan ada air jahe madu juga. Mas Abi mau?Tasya menawarkan.
"Ya," Abimana menganggungkan kepala.
"Tasya suapin ya. Aa Mas?"Tasya menirukan orang mengucap huruf A.
Abi makan disuapi dengan Tasya. Sesekali Tasya mengelap sudut bibir Abi yang terkena bubur. Hati Abi berdesir hangat merasakan perhatian istrinya. Karena sejak datang ke apartemen entah mengapa Tasya lebih pendiam dan tak mau disentuh Abi.
Tasya memberikan Abi minum jahe madu buatannya. Karena posisi Abimana yang berada dikasur maka Tasya membantu Abi untuk minum. wajah mereka begitu dekat dan saling pandang. "Mas minum jahe madunya?" Abi baru sadar ia tadi fokus dengan istrinya.
Tasya yang hendak mengambil obat, tangannya ditahan oleh Abi "Temani Mas disini." Tasya senyum dan bilang akan mengambil obat.
"Mas Abi minum obat dulu yuk dan ini juga ada vitamin." Tasya memberikan obat dan abi meminumnya.
Dibantunya lagi Abi berbaring dan Tasya tetap terus mengkompres dahi Abimana. Tasya tanpa sungkan seperti biasanya membalurkan VICKS VAPORUB dileher dan tubuh Abimana.
Hampir tengah malam, Abimana merasakan badannya kedinginan. Tasya menyelimuti Abi sudah 3 lapis namun Abi menggigil.
Tasya teringat akan dirinya dan Kak Rio jika demam sampai menggigil akan dipeluk bunda atau ayah sambil ditepuk-tepuk.
Tasya langsung masuk kedalam selimut memeluk tubuh Abi yang menggigil kedingan. Dipeluknya Abi oleh Tasya dan ditepuk-tepuk. Sesekali Tasya mengganti kompres yang ada didahi Abi. Tasya melihat jam 03.00. Tasya kembali mengganti kompres Abi. Disentuhnya dahi dan leher Abi. Panasnya sedikit turun.
"Mas Abi, cepat sembuh ya, Tasya sedih lihat Mas Abi sakit, Tasya ga mau kehilangan Mas Abi." Tasya mengecup kening Abi.
"Apa aku harus sakit terus agar kamu mau tidur bersamaku. Tasya terbangun dan melihat Abi yang sudah terjaga. Tasya mengecek dahi, leher dan leher suaminya.
"Syukurlah, Mas Abi sudah tidak demam. Badannya masih lemes Mas?"Abi mengangguk. Tasya mengecek tangan Abi, ia takut ada bercak merah salah satu tanda DBD. "Syukurlah aman". ada kelegaan di wajah Tasya.
Tasya hendak bangkit namun Abi menahan. "Mau kemana Sya, Jangan tinggalkan Mas." Abi yang memang merindukan sosok Tasya selama mereka menempati apartemen. " Tasya mengecup bibir Abi sekilas. "Tasya mau ke dapur mau nyiapkan sarapan Mas Abi" ia segera berlalu karena malu.
Abi memegang bibirnya dan tersenyum, "Ada berkahnya sakit?" Abi dibuat Tasya senyum, senyum sendiri.
Tasya masuk kamar mendapati Abi tidak ada. dia memanggil tak lama Abi keluar dari toilet dengan jalan masih lemas. Segera Tasya membantu Abi berjalan menuju ranjang mereka.
"Hati-hati Mas, pelan-pelan." Tasya membantu Abi menyandarkan punggunya ditempat tidur. Dialasi bantal agar punggu tidak sakit. Posisi tersebut membuat Tasya dan Abi seperti berpelukan. Abi memeluk Tasya. Tasya tidak bergerak, Tasya membiarkan Abi memeluknya untuk beberapa saat. Perasaan bahagia dirasakan Tasya saat ini.
Abi masih memeluk Tasya, " Mas Abi makan dulu ya biar bisa minum obat." Tasya mengusap punggung Abi"
"Jika kamu seperti ini ketika aku sakit, aku rela Sya sakit terus." Jawab Abi takut ketika sembuh Tasya kembali menghindarinya.
" Masa ngomongnya gitu, Yuk Mas Abi makan dulu, Tasya suapin deh." Abi melepaskan pelukannya dan Tasya mengambil bubur abi di nakas.
Abimana yang melihat Tasya begitu perhatian, Tanpa terasa meneteskan airmata.
"Loh kenapa Mas Abi nangis?" Tasya mengusap air mata suaminya. dan mengelus pipi Abi.
"Mas abi pikir Tasya menyesal menikah dengan Mas Abi karena selama ini Tasya menghindari Mas." Abi memegang tangan istrinya.
"Mas Abi kok mikir begitu. Mas Abi jangan banyak pikiran. Tasya suapin ya?" Tasya menyuapi Abi bubur sayuran. Tasya mengelap bibir Abi setelah selesai makan.
"Mas minum teh hangat ya."Tasya membantu Abi untuk minum Teh, namun mata Abi masih menatap Tasya.
"Nah sekarang minum obat dan vitamin ya?" Tasya memberikan obat dan vitamin untuk Abi minum.
"Sya, Mulut Mas pahit." Abi merasakan mulut terasa pahit.
"Tasya kasih Mas Abi madu ya," Tasya menyuapi Madu kemulut Abi dan mengenap sisa madu diujung bibir Abi.
"Bajunya Mau diganti soalnya dari kemaren."Tasya mengambil baju Abi.
"Mas masih lemes buat bangun." Entahlah Abi bener sakit apa modus.
"Tasya bantu Gantiin ya Mas." Tasya sebenaenya masih eisih namun biarlah Abioun suaminya.
Abiman terus melihat Tasya tanpa menoleh sementara yang dilihat sering beralih pandangan. Tasya juga mengelap tubuh Abi agar terasa segar. Sebenarnya ada rasa canggung tapi ini kewajibannya merawat Abi. Dipakaikannya Abi baju yang baru. Tasya membantu Abi berbaring. merapikan posisi bantal dikepala Abi agar nyaman. Tasya hendak bangun ingin merapikan sisa piring dan gelas Abi namun Abi menahan Tasya.
"Temenin Mas disini ya, Mas mau dipijit kepalanya karena sedikit tidak enak." Abi menunjuk Tasya untuk berbaring disebelahnya.
Tasya kembali duduk dan masuk ke dalam selimut suaminya kemudian Iya memijit kepala Abi.
"Bapak Abimana ternyata manja ya kalo sakit." Tasya meledek Abi meski tetap memijit suaminya.
"Mas sedih kamu menghindar dari Mas, Mas jadi kepikiran terus sakit." Abi merajuk layaknya anak kecil.
"Aduh Aduh,,, Om Abi ngambek ceritanya. Pengen disayang-sayang ya? Sini Tasya peluk deh. Cup Cup Cup."Tasya memeluk Abi dan mengusap punggungnya.
Lama abi memeluk Tasya. Kemudian Abi melepaskan pelukannya. Tasya melihat Abimana kini telah menjadi suaminya. Masa Lalu Abimana adalah milik dirinya namun masa depan miliki keduanya.
Tasya mencium bibir .Abimana sekilas. Cup. melihatnya tak melewatkan Abi langsung menarik dan Mencium istrinya semula pelan lama-lama semakin panas, selanjutnya Ya Pemberian Vaksin Dosis Booster oleh keduanya.
.
.
.
.
Wah Sakit membawa berkah ya Bi.
Tapi harus cepet sehat Bi.
Cetak keponakan buat Para Readers ya.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...