Anara

Anara
Chapter 17. Lunch



Pagi ini Anara, Papa Gilang dan Mama Nita menikmati sarapan.


"Dita sudah berangkat ma?"Anara tak melihat keberadaan Dita.


"Dita sudah berangkat tadi pagi ke Bali, Mama minta Dita untuk ngecek Store N'Beauty, karena ada beberapa kendala disana."jelas Mama Nita.


"Sayang, menurut kamu Baskara putra Pak Brata gimana?"Papa Gilang menanyakan Baskara pada putrinya.


"Maksud papa?"Anara mengernyitkan dahinya.


"Bukannya kalian berdua sudah saling kenal?"Mana Nita menimpali.


"Ya kenal tapi ga tau personal orangnya gimana?"jawab Anara


"Sayang, Papa mau jujur sama kamu. Sebenarnya sebelum pertemuan kemarin di acara mama, Papa dan pak Brata memang sudah menjadi rekan bisnis cukup lama. Hingga suatu hari Pak Brata mengatakan kepada Papa, Bahwa Pak Brata memiliki niat untuk menjodohkan Putranya dengan Putri Papa, yaitu kamu Anara."Papa Gilang menjelaskan.


"Menurut kamu bagimana Sayang?"Mama Nita coba mendengar pendapat putrinya.


Jujur sejak Papa bicara terakhir Anara sudah membaca hal ini. Anara tidak merasa kaget papa dan mama nya akan menjodohkannya. Hanya yang membuat jantungnya seakan berhenti karena dirinya dijodohkan oleh Baskara!


"Sayang, Kok melamun?"Papa Gilang melihat putrinya melamun


"Anara ikut Papa dan Mama bagaimana baik saja." Anara menjawab singkat. Ya begitu Anara.


"Sayang, kami tidak memaksakan. Kamu dan Baskara silahkan saling mengenal saja lebih dulu. Kalau memang cocok Papa dan Mama akan melanjutkan perjodohan ini. Namun jika kamu memang tidak cocok, Papa dan Mama mengerti dan menerima keputusan kamu."Mama Nita memberikan pandangan kepada Anak Gadisnya.


"Papa setuju dengan yang Mama katakan. Tidak ada salahnya saling mengenal. Boleh Sayang?"Papa Gilang kembali meminta persetujuan Putrinya.


.


.


.


.


Suasana Rapat Anara dengan Kepala Departemen dikantornya.


"Bagaimana untuk Planning bulan ini?"Anara sedang memimpin rapat.


"Kami menerima banyak sekali penawaran kerjasama, namun ada satu perusahaan yang menurut kami menarik bisa kita jadikan sebagai Nara sumber kita bulan ini."Kepala departeman program mengajukan usul.


"Silahkan lanjutkan"Anara mempersilahkan pegawainya menjelaskan lebih rinci.


"PT. Royal Steel Industri, saat ini sedang menjadi buah bibir dikalangan pebisnis karena perkembangan perusahaannya yang begitu cepat dan berhasil menangani tender - tender besar. Selain itu perusahaan ini juga merupakan pemain baru dalam bidangnya namun kesuksesan dan kemajuannya begitu pesat. Terlebih lagi perusahaan tersebut dipimpin oleh CEO yang masih muda. Tentunya dari sumber ini kita bisa mengembangkannya menjadi beberapa program dan konten. Artinya sekali mendayung 2, 3 pulau terlampaui. "Paparan Kepala departemen program kepada Anara.


"Mengenai hal ini apakah departemen Research sudah memiliki data-data akurat?" Anara kini menanyakan Departemen lain.


"Kami sudah melakukan reset mengenai perusahaan tersebut bu, dari data yang kami peroleh banyak hal-hal positif yang bisa kita jadikan informasi dan tentunya akan disukai masyarakat karena nilai inspiratifnya begitu kuat, ini data-data yang berhasil kami peroleh." Kepala Departemen Research memberikan file mengenai hal itu.


"Kemudian bagimana dari segi sponsor? Adakah yang berminat beriklan pada informasi tentang sebuah perusahaan, publik senang dengan hal-hal yang bersifat entertainment?" Pertanyaan Anara ditujukan kepada Departemen Periklanan dan Sponsor.


"Kami melihat ini sebagai sebuah sebuah pembuka bagi program selanjutnya, sederhananya seperti ini Bu, Kami akan menampilkan sosok dari CEO tersebut, seperti kesehariannya, bagaimana kepribadiannya kemudian kepada hal-hal yang bersifat pribadi namun menghibur seperti hobi, kemudian bagaimana kehidupan sehari-hari, Dari sanalah kita bisa memasukkan beberapa build in product didalam tayangan, selain iklan. Kami juga sudah memiliki planning untuk berkerja sama dengan N'Beauty untuk sebagai salah satu sponsor. "Penjelas Kepala Department Periklanan dan Sponsor.


"Sejauh ini Saya melihat banyak hal positif yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Overall saya menyetujui mengenai Planning yang saudara-saudara sampaikan. Saya tunggu detailnya seperti apa, seperti biasa laporkan kepada Saya. Cukup Rapat kita kali ini. Terima kasih. "Anara menutup rapatnya kali ini.


Anara sedang memanggil sekretarisnya.


"Kirimkan jawaban kepada PT.Royal Steel Industri Bahwa kita menerima permintaan kerjasamanya. Jangan lupa sampaikan bahwa kirim utusan perusahaannya kesini untuk detailnya seperti apa."Anara memberikan intruksi kepada sekretarisnya.


Semoga keputusan ini tepat. Sesungguhnya Anara masih penasaran mengenai fakta yang ia terima dari orang kepercayaannya saat menyelidiki perusahaan tersebut. Terlebih lagi ia penasara, Siapa Radit sebenarnya?


.


.


.


.


Melirik jam tangannya menunjukkan pukul 12.00. Anara menghentikan aktifitasnya sejenak, ia menyandarkan tubuhnya dan sebentar memejamkan mata, terdengar suara ponsel,,, Baskara.


"Siang Ra, Lagi apa? Siang ini bisa lunch bareng ga?" isi chat Baskara


"Siang Bas, Boleh. Dimana?"Anara membalas.


"Brevilia Hotel. Sampai ketemu disana."Jawaban chat Baskara.


.


.


.


.


Anara memarkirkan mobilnya. iya menuju memasuki gerbang hotel dan menuju lift. tak lama lift terbuka dan Anara menuju Restoran.


Anara berjalan menuju sebuah meja yang berada dekat posisi jendela dengan pemandangan langsung air mancur dengan hiasan patung kuda putih tampak seorang Pria sedang duduk menunggu.


Baskara Bima Megantara


Anara duduk dikursi berhadapan dengan Baskara. Jujur Anara masih saja deg-degan bila bertemu Baskara, terlebih Siang ini Baskara tampak baru saja mengubah potongan rambutnya, Jelek? Sayangnya semakin menambah kharisma pria yang kini duduk dihadapannya.


Mata itu selalu teduh dipandang. Tak pernah berubah. Baskara teringat pertemuan pertamanya dengan Anara di sekolah tempatnya mengajar. Sejak itu Baskara sering memikirkan Anara, selama ini belum pernah ada wanita yang mampu menggetarkan hatinya. Bahkan hingga mereka tidak pernah bertemu lagi Anara selalu ada dipikirannya.


Hingga percakapan oleh Papanya mengenai Tn.Gilang yang memiliki putri bernama Anara, Baskara hatinya terasa hangat. Kesempatan itu datang, aku tidak akan melepasnya lagi.


"Ra, apa kabar?"Baskara membuka obrolan mereka.


"Baik Bas. kamu sendiri apa kabar?"Anara balik bertanya.


"Aku baik. Sudah lama sekali sejak disekolah dulu kita baru bisa ngobrol lagi."Baskara memberikan bahan obrolan dengan harapan obrolan ini lebih panjang.


"Ya,,, cukup lama juga ya Bas. Lalu kamu sendiri bagaimana bukankah dulu kamu mengajar disana?"Anara mulai bisa mengatur dan lebih santai.


"Papa memintaku untuk menggantikannya mengurus perusahaan. Sebenarnya dulu Papa tidak pernah melarang aku untuk memilih masa depanku sendiri, Namun Setelah kakakku meninggal, tinggalah aku harapan satu-satunya. Awalnya aku masih menolak, tapi 1.5 tahun lalu Papa terkena serangan jantung dokter mengatakan papa untuk lebih banyak beristirahat dan tidak boleh stress. Untuk itu aku akhirnya menerima permintaan Papa untuk menjalankan perusahaan ini." Mereka berbincang sambil menikmati makan siangnya.


"Kurang lebih nasib kita sama ya Bas," Anara sendiri terkejut dengan jawaban yang ia berikan.


"Tn. Gilang pernah kena serangan jantung juga?"wajah Baskara terlihat cemas.


"Oh, Bukan Bukan. Maksudnya persamaan soal meneruskan perusahaan orang tua kita."Anara tidak menyadari saat ini ia tersenyum manis sekali.


"Aku pikir Tn. Gilang terkena serangan jantung juga."Ada raut kelegaan di wajah Baskara mendengar calon mertuanya sehat wal afiat.


Senyuman itu Ra, terasa hangat di dada Baskara. Baskara menatap Anara dengan tersenyum sambil gerakan tangannya meminta Anara meneruskan makan siangnya.


Tentu saja senyuman Baskara kepadanya membuat hati Anara berdetak lebih cepat namun mengapa rasa sesak yang iya rasakan selama ini seketika terasa ringan dan lapang. Entah Anara masih belum mampu banyak berharap.


Kini Keduanya berada di lounge dan berjalan beiringan, sesekali curi pandang keduanya menciptakan senyuman yang jika orang melihat begitu manis terasa.


"Ra, bolehkah aku weekend ini mengajakmu jalan? Aku akan menjemputmu?"Baskara memberanikan dirinya dengan harap-harap cemas.


"Kemana?"Anara sengaja memancing.


"Yaaaa, Nonton misalnya.Boleh?"Baskara memastikan.


Anara menganggukan kepala. Baskara mengantar Anara sampai ke parkir mobilnya, Setelahnya Baskara ltu meninggalkan parkiran menuju kantor.


Siang ini jalanan begitu macet, Baskara sudah terjebak macet lebih dari 1jam. Tapi suasana hatinya begitu senang. Hingga macetpun tidak terasa.


Pertemuan Anara dan Baskara ternyata ada yang memperhatikan, dari jauh seorang pria menatap tajam kearah keduanya. Baskara! jangan coba-coba merebut Anara!


.


.


.


.


"Untuk bulan ini Saya mau ornamen hotel dan hiasan kita sesuai dengan moment saat ini.


Tampaknya bagus dibeberapa titik strategis kita letakkan bunga sakura dan untuk ditaman belakang disamping danau tambahkan lampion lampion." Vina sedang berkeliling hotel seperti ia lakukan dan memberikan staffnya arahan.


Vina berjalan menuju Lounge seketika menghentikan langkahnya, meminta staffnya untuk duluan. Anara? kemudian Vina hendak menghampiri namun Anara dan Seorang Pria yang Vina tidak mengenalinya keburu berjalan keluar Namun ada seorang Pria yang tak asing baginya berjalan melewati dirinya. Vira masih memperhatikan pria yang berhenti dan terus menatap keluar. Kemudian Pria itu membuka kacamata hitamnya. Vina tanpa sadar berucap...


Raditya!


Sang pemilik Nama pun mendengar ada yang memanggil namanya dan suara itu berasal dari belakangnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...