Anara

Anara
Chapter 45. Tak Gentar Menghadapi Calon Mertua



Abimana kini duduk disebuah ruangan besar menunggu sang pemiliknya datang.


Sungguh ini pengalaman pertaman masuk kandang macan.


Abimana terlihat gugup namun ia tidak akan mundur sedikitpun demi wanita pujaannya.


Seketika langkah seseorang berjalan memasuki ruangan.


Pria berusia yang tidak lagi muda, namun berbadan tinggi kekar, berambut cepak pendek, dengan otot-otot yang masih nampak terlatih. Ditemani kedua ajudannya. Ia duduk di kursinya.


Siapa lagi kalo bukan Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo, Ayah dari Tasya Mahalini Prabowo.


"Ehemmmm!"


Suara dari ayah perempuan yang dicintainya mengagetkan Abimana.


"Ada keperluan apa kemari?"suaranya begitu berwibawa.


Abimana menarik nafas panjang. Diliriknya 2 ajudan yang siap dengan persenjataan lengkap. Abimana tetap melanjutkan tujuannya datang kemari.


"Perkenalkan saya Abimana Aryasatya Permana. Saya mengenal putri Bapak, dan saya bermaksud meminta izin kepada Bapak untuk berhubungan secara serius dengan putri Bapak. Dan Saya berniat untuk melamar putri Bapak menjadi istri Saya." Meski terlihat lancar namun terdengar suara Abimana bergetar.


Ditatapnya Abimana dengan tajam oleh Jendral Sigit.


"Saya tidak mengenal kamu, berani sekali kamu mau melamar putri saya?"suara berwibawa itu membuat Abimana terasa sesak dan sulit bernafas.


"Saya mengenal putri Bapak kurang lebih 3 bulan yang lalu. Saat itu saya membantu Tasya karena mobil Tasya mogok. Kemudian Saya memanggil pegawai bengkel untuk membawa mobil Tasya. Karena mobil Tasya dibawa kebengkel saya mengantar Tasya sampai rumah." Abimana belum pernah segrogi ini dalam hidupnya seakan nafasnya hampir habis.


"Kerumah! saya tidak pernah menerima kamu sebagai tamu saya. Kapan?" Jendral Sigit menaikkan nada suaranya.


"Saya memang mengantar Tasya sampai rumah. Namun hanya sampai depan gerbang rumah Bapak. Saya tidak mampir karena saat itu Tasya mengatakan ayah dan bundanya sedang di luar. Sehingga saat itu saya langsung pulang.


"Heummmm"


"Lalu?" Jendral sigit menyuruh Abimana melanjutkan perkataannya.


"Keesokan hari saya menjemput Tasya untuk berangkat mengantarnya ke kampus. Setelah itu saya mengajak Tasya ke kantor saya, Pak." Abimana makin merasa hampir mati ketakutan.


"Untuk apa kamu mengajak putri saya ke kantor kamu?"Jendral sigit makin tajam melihat Abimana.


"Saya meminta Tasya untuk bekerja dikantor saya, karena memang di kantor saya sedang membutuhkan pegawai lulusan Arsitektur." Abimana lanjut menjelaskan.


"Lalu hubungannya?"Jendral sigit menekankan.


"Selama 2 hari bertemu Tasya, Saya tertarik dengan kepribadian Tasya, saya menyukai Tasya bukan hanya karena Tasya cantik namun pemikiran, wawasan dan kepribadian Tasya yang membuat saya jatuh cinta dengan Tasya putri Bapak."Abimana sedikit tersendat waktu mengatakan jatuh cinta kepada Tasya.


"Bagaimana kamu karakter putri hanya dengan 2 hari bertemu. Jujur!"suara menggelegar Jendral Sigit.


"Seperti yang saya sampaikan kepada Bapak, dihari yang sama saat saya mengantar Tasya, saya memang berencana akan meeting dengan Rengga, kakak ipar Rio putra Bapak. Kemudian saya memberikan penjelasan kepada Tasya mengenai meeting tersebut. Dari situlah saya melihat bahwa Tasya adalah perempuan yang sempurna bagi saya. Disitulah saya jatuh cinta dengan Tasya putri Bapak." Abimana menceritakan semuanya.


"Kamu kenal dengan menantu Saya?"


"Saya adalah teman kuliah Rengga, kakak dari Vina, menantu Bapak." Abimana memberitahu.


"Meeting?" Jendral andika minta Abimana meneruskan.


"Waktu Rengga datang untuk meeting bersama saya, Rengga melihat Tasya. Disanalah terjadi kesalahpahaman. Kemudian Rengga menelepon Rio dan Rio datang menjemput Tasya."Abimana semakin berkecil hati.


"Kenapa bisa salah paham? Katanya kamu sahabat Rengga?"Jendral Andika mulai bangkit dari kursinya dan berdiri bersandar pada meja membuat Abimana semakin sesak nafas.


"Saya bersahabat dengan Rengga dibangku kuliah. Kami bahkan sering mengerjakan proyek tugas kampus bersama. Namun saya jujur akui bahwa dulu saya adalah laki-laki playboy. Saya dulu memiliki banyak teman perempuan. Rengga tahu betul saya bagaimana dulu ketika kuliah. Maka ketika Rengga melihat Tasya diruang kerja saya, saya tidak menyalahkan kalau Rengga berpikir saya akan berniat buruk dengan Tasya. Kemudian, Rio datang dan kesalah pahaman terus terjadi." Abimana sudah menceritakan semuanya kepada Jendral Sigit.


"Aku tidak mau putriku berhubungan dengan Playboy seperti kamu! silahkan pulang. Ajudan!."Jendral Sigit menggertak.


"Tunggu dulu Pak, beri saya kesempatan." Abimana kini memohon hampir mau bersujud namun segara diminta berdiri oleh Jendral Sigit.


"Bangun! saya bukan Bapakmu! tidak perlu seperti itu. Silahkan kamu pulang!"Jendral Sigit kembali menyuruh Abimana pulang.


"Tolong beri saya kesempatan Pak, Saya tahu kalau saya adalah pria yang tidak pantas untuk putri Bapak. Saya banyak kesalahan dan kekhilafan dimasa lalu. Saya juga mengakui saya bukan pria yang layak untuk Tasya. Saya juga tidak bisa memberikan sebaik, sebagus dan sesempurna apa yang Bapak berikan kepada Tasya. Tapi Saya berjanji akan membahagiakan Tasya putri Bapak dan tidak akan pernah seumur hidup saya menyakiti Tasya, karena saya sangat-sangat mencintainya. Perkenankanlah saya untuk sisa mencinta dan melindungi Tasya serta berikan izin kepada saya untuk melamar Tasya putri Bapak sebagai istri saya." Abimana layaknya musuh kalah perang.


"Lancang kamu! Berani mengatakan melamar putri saya namun tidak membawa orang tua. Kurang ajar!"Jendral Sigit menggelegar waktu berbicara.


"Maafkan atas kelancangan dan kekurang ajaran saya kepada Bapak mengenai permohonan saya melamar Tasya putri Bapak. Namun bukan saya tidak mau membawa kedua orang tua saya, tetapi mereka sudah wafat. Saya hanya memiliki 1 adik perempuan." Abimana meneteskan Airmatanya.


"Jadi laki-laki tidak boleh cengeng. Hapus air matamu!"Jendral sigit menyeringai.


"Apakah Tasya mencintai kamu? Jangan-jangan kamu saja yang terlalu percaya diri." Kembali Jendral Sigit memberikan tekanan.


"Pernah saya menanyakan kepada Tasya. Tasya mengatakan bahwa restu orang tuanya dan kakaknya adalah hal utama. Bukan seberapa besar cintanya. Apapun yang menjadi kebahagiaan orang tua dan kakaknya itulah yang akan Tasya pilih. Untuk itu disini saya Abimana memohon dengan segala kerendahan hati saya agar nerestui cinta kepada Tasya dan memberikan izin kepada untuk bisa melamar Tasya menjadi istri saya." Abimana sudah tidak mungkin menahan airmatanya meski Jendral Sigit memarahinya.


"Ehehheemmmmm"


"Apa jaminan kamu dengan kata-kata yang kamu ucapkan?Jangan-Jangan kamu hanya pura-pura didepan saya?"Jendral Sigit duduk dimeja dan hanya berjarak 20 cm dengan Abimana.


"Saya tidak punya apa-apa untuk menjamin semua ucapan saya kepada Bapak. Tapi jika Bapak meminta saya apapun atau melakukan apapun yang bisa menjadi jaminan kata-kata saya, saya bersedia dan apapun konsekuensi." Abimana semakin hilang harapan dan kini menunduk.


"Angkat kepala kamu! tatap saya. Jika mengingkari semua kata-kata, janji dan ucapan kamu terhadap saya dan sampai kamu menyakiti hati putri saya, maka saya sendiri yang akan menghabisi kepala kamu. "Jendral Sigit mengarahkan pistol di dahi Abimana.


Dengan tubuh bergetar. Abimana menatap Jendral Sigit. "Silahkan kalau saya melanggar janji saya, Bapak boleh langsung menembak kepala saya." Abimana masih terbata-bata dengan pistol berada di dahinya.


Jendral Sigit memanggil berteriak.


Masukkk!


Kedua ajudan membuka pintu.


Terlihat banyak sekali orang yang masuk ke dalam ruang Jendral Sigit.


Mereka yang masuk tersenyum melihat kondisi Abimana. Rengga, Rio, Vina, Dita, Anara, Baskara, Naya dan Keysa, dan Surya suami Naya.Teriakan paling keras tentunya Rengga dan Rio. Mereka malah bertos ria.


"Tasya, Kemarilah putriku sayang. Duduk dekat Ayah." Jendral Sigit memanggil putrinya.


Tasya masuk didampingi mama Widya.


Kemarilah Tasya duduk disamping Ayah.


Abimana masih duduk dihadapan Jendral Sigit


Tasya diapit kedua orang tuanya.


"Benar kamu kenal sama pria ini?" Ayah sigit bertanya kepada putrinya.


"Kenal Ayah." Tasya menjawab.


"Dia bilang memang kamu suka sama dia." Ayah Sigit kembali bertanya.


Tasya malu sekaligus takut. "Iya ayah Tasya suka sama dia".


"Ohhhh begitu."Ayah Sigit tersenyum mendengar jawaban putrinya.


"Dia datang mau melamar kamu? ayah harus menjawab apa?"Ayah sigit bertanya kepada putrinya.


"Terserah Ayah, Tasya ikut saja."Tasya menunduk.


"Loh memang ayah mau nikah sama dia. Kamu mau jawab apa?"Ayah Sigit kembali menanyai putrinya.


Tasya masih diam ketakutan.


"Kamu diam saja. Kalau begitu boleh Ayah menolak lamarannya nya?"Jendral Andika.


Tasya yang gemetar dengan sikap Ayahnya yang tegas ketika dibutuhkan dan lembut ketika menyayangi.


"Jangan ditolak Ayah!"Tasya menjawab dengan kencang.


"Tasya, Tasya sini peluk Ayah sayang."


Semua yang ada diruangan itu tertawa mendengar jawaban Tasya, tetapi Abimana yang masih syok.


" Kapan kamu menikahi putri saya?"Jendral Andika bertanya pada Abimana.


"Keinginan saya segera waktunya terserah Bapak yang menentukan." Abimana kini mengangkat wajahnya yang basah airmata.


"Baiklah. 2 Minggu dari sekarang kalian berdua saya nikahkan! "Jendral Sigit.


"Apakah kamu setuju?" Jendral sigit bertanya Abimana.


"Setuju Pak!"Jawab Abimana.


"Panggil zaya Ayah!"Jawab Sigit.


Abimana mencium tangan calon Ayah mertuanya dan Ibu Mertuanya.


"Terima kasih Ayah dan Ibu sudah mau mengizinkan saya menikahi Tasya." Abimana kembali meneteskan airmata.


"Katanya Playboy kok mewek terus."ledek Ayah Sigit.


"Tapi Ada 1 permintaan Ayah. Tolong penuhi janjimu untuk membahagikan Tasya putri Ayah, Jangan sekali-kali kamu mengkhiati dan menyakiti. Karena kalau kamu melakukannya pistol akan kuisi peluru dan menembak pada kepalamu, mengerti Abimana?"Ayah Sigit memperlihat pistol yg digunakannya tadi dalam keadaan kosong tanpa peluru.


Sontak buat semuanya tertawa. Kecuali Abimana.


"Mari kita makan siang bersama. Ayah takut, nanti ada yang keburu pingsan."sambil melirik Abimana.


Mereka semua sedang makan siang bersama di ruang makan Mabes Polri.


Abimana mendekat kepada Jendral Sigit. Masih takut-takut dan gemetar.


"Ayah Abi mau minta ijin?" Abimana mengeluarkan cincin dari balik jasnya.


"Abi mau memberikan ini kepada Tasya?" Abi hendak menyerahkan kotak cincin kepada Jendral Andika.


"Abi mau menikah dengan Tasya atau dengan Ayah. Tasya kemari sayang, Abi mau memberikan sesuatu untuk kamu." Jendral sigit tampak senang menjahili calon menantunya.


Tasya duduk disamping Ayahnya.


Abimana melihat dan Tasya melihat Abimana. Mereka diam tanpa bicara dan ekspresi.


"Loh, tadi katanya mau dikasih. Dipakaikan dong. Ayah dan Bunda mau melihat."Ayah Sigit tersenyum.


Abimana dan Tasya berdiri berhadapan. Keduanya kikuk.


Abimana mengambil tangan Tasya dan memakaikan cincin dijari manis Tasya.


Semua orang yang berada disana bertepuk tangan.


.


.


.


.


Nikahin Anak Jendral Horor juga ya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...