
Hari yang ditunggu Anara akhirnya tiba.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anara Putri Paramarta Binti Gilang Mahesa Paramarta dengan Mas kawin tersebut tunai."Baskara lancar mengucap ijab kabul dalam 1 tarikan nafas.
SAH,,, SAH,,,SAH,,,
Semua bersorak gembira.
"Nak Baskara Papa titip Anara, Sayangi, Cintai, dan Bahagiakan dia. Anara patuhi suami dan hormati dia, kini ridho suamimu adalah Ridho Tuhan"Pesan Papa Gilang.
"Nak Baskara Mama titip Anara ya, jaga dia baik-baik. Anara, jadi istri yang sholeha, berbakti kepada suami, jangan membatah nasihatnya. Karena surga istri berada pada Suaminya."Pesan Mama Nita.
"Selamat Nak, terima kasih Anara sudah mau menjadi menantu Papa, Papa berdoa semoga kalian menjadi kekuarga ya sakinah, mawaddah dan warrahmah. Untuk Baskara jadilah suami yang baik, bagiakan istrimu, sayangi dia, kasihi dia. "Pesan Papa Brata.
" Selamat ya Sayang, semoga kalian selalu berbahagia dunia akhirat." Ucap Mama Dyah.
"Selamat Sayang, Semoga kalian berbahagia, saling mencintai dan menyayangi satu sama lain sampai maut memisahkan."ucap Tante Nita.
"Selamat ya Mbak Anara dan Kas Baskara semoga bahagia selalu, rukun selamanya dan menjadi keluarga sakinah." Dita dan Rengga memberikan Ucapan.
"Anara Sayangggg, Semoga Lo dan Baskara bahagia selamanya. Dan cepet bikin ponakan yang banyak buat gwr. Vina memeluk sahabatnya Anara.
"Selamat Anara dan Baskara, Semoga bahagia selalu dan selamanya."Rio memberikan ucapan.
"Selamat ya atas pernikahan kalian berdua semoga bahagia selalu." Raditya memberikan selamat kepada pengantin.
Mata Raditya begitu fokus menatap Anara, Baskara terlihat kurang menyukainya.
.
.
.
.
Suasana resepsi pernikahan Anara begitu megah. Semua berkumpul dengan penuh suka cita.
Para undangan menikmati hidangan yang disajikan. Suasana resepsi mengusung adat jawa karena keluarga keduanya memang berasal dari jawa.
Vina menatap Anara dengan senyuman bahagia.
"Akhirnya ya Ra, Lo sama Baskara akhirnya bisa bersatu." Vina tak terasa menetaskan airmata bahagianya.
"Sayang kok nangis?" Rio yang kebingungan melihat kekasihnya sedang mengusap airmata Vina.
"Aku bahagia dan terharu, melihat sahabatku akhirnya menikah." Ucap Vina masih menatap Anara yang kini sedang berada si pelaminan.
Rio menggenggam tangan kekasih dengan mesra.
"Sayang... Bolehkah jika aku melamarmu dalam waktu dekat?"Rio memang sengaja mau menyampaikan keinginannya untuk melamar Vina.
Vina yang memang senang bercanda, langsung berbicara ceplas ceplos.
"Kapan? Besok?"Tantang Vina.
Rio yang merasa tertantang seketika juga menjawab
"Oke! Siap- siap ya, Besok aku dan keluargaku akan datang kerumahmu untuk melamar." Rio mantap berbicara.
Vina malah tertawa mendengar jawaban Rio.
"Dosa bercanda masalah begitu Sayang." Vina terkekeh mendengar jawaban Rio.
"Sayang, aku ga bercanda, kalo kamu bersedia, aku besok melamarmu."Rio mantap.
Tanpa mereka sadari orang tua keduanya menghampiri mereka. Tentu Rio dan Vina melepaskan genggaman tangan mereka.
"Jadi ini Yo, Calon menantu Ayah?" Ayah Sigit menepuk bahu putranya.
"Kalo kalian berdua sudah yakin, segeralah menikah. Bunda merestuinya. Bunda Widya memegang tangan Vina sambil tersenyum.
"Bagaimana Jeng Dyah, apakah boleh kami melamar Vina untuk menjadi Istri Rio?" Bunda Widya menanyakan langsung kepada Mama Dyah.
"Kalau Saya Jeng, menyerahkan sepenuhnya keputusan ini kepada Vina. Apapun yang bisa membuat Vina bahagia Saya tentu merestuinya."Jawab Mama Dyah kepada Bunda Widya.
Lalu Mama Dyah bertanya kepada Vina putrinya. "Bagaimana Vina, apakah kamu menerima lamaran keluarga Nak Rio?"Mama Dyah bertanya kepada Vina.
"Vina Mau Ma, Vina mau menikah Sama Rio!"Itulah Vina yang selalu asal ceplos.
Semuanya tertawa mendengar jawaban Vina tak terkecuali Rio calon suaminya.
"Cie,,, Cie,,, Akhirnya Pengganggu Nikah, Ga ada Lagi yang nyulik istri Abang!" Rengga tetep saja meledek Vina. Meski dalam hati kecilnya Rengga bahagia, karena kini Vina sudah ada yang menjaga.
"Kak Vin,,,, Selamat ya,,, Lancar untuk pernikahannya."Dita memeluk adik iparnya begitu senang.
"Makasi My Bestie Dit Dit."Vina mengguncang-guncang pelukannya dengan Dita.
Kini Kedua keluarga besar itu sepakat melaksanakan pernikahan 2 minggu lagi.
.
.
.
.
Anara dan Baskara kini berada di dalam kamar pengantin mereka.
"Terima kasih Sayang, sudah bersedia menikah dengan ku dan menjadi ibu dari anak-anakku." Baskara memeluk Anara.
"Terima kasih Sayang, sudah menjaga hatimu untukku selama ini. Semoga kita selalu bersama sampai maut memisahkan kita."Anara menikmati pelukan Baskara.
Untuk pertama kalinya Baskara mendaratkan bibirnya pada Anara.
Cup
"Maaf membuatmu terkejut."Baskara melihat Raut wajah Anara yang terkejut.
Senyuman terurai pada bibirnya.
"Kenapa minta Maaf Mas. Aku sekarang adalah milikmu." Anara menatap mata suaminya.
Baskara memeluk Anara, Membawa Anara didalam Dadanya.
Sejenak mereka menikmati pelukan itu.
"Aku bahagia karena cintaku padamu yang sempat tidak tersampaikan kini terbayar sudah." Baskara melepaskan pelukannya kepada Anara.
"Akupun begitu Mas." Anara memeluk suaminya.
"Bolehkah malam ini aku memilikimu seutuhnya?" Baskara menanyakan hal itu pada Anara.
Dalam pelukan Baskara, Anara mengangguk menyetujuinya.
Mendapat persetujuan istrinya. Baskara mengendong tubuh Anara menuju ranjang.
Kini malam panjang bagi kedua pasangan pengantin baru itu baru saja dimulai.
.
.
.
.
Pagi ini Baskara menatap wajah istrinya dengan hangat. Anara masih tertidur dengan lelap. Tampak semalam begitu melelelahkan. Baskara membelai wajah istrinya. Perlakuan Baskara membuat Anara terbangun.
"Sudah bangun Mas? Jam berapa sekarang?" Anara bertanya.
"Jam 7 Sayang."Baskara menjawab istrinya.
Anara hendak bangkit, Namun ada sesuatu yang terasa perih dibagian bawah tubuhnya.
"Sakit ya Sayang. Maafkan Mas ya." Baskara merasa kasihan melihat Anara meringis.
"Iya gapapa Mas," Anara mengusap pipi istrinya.
"Sayang, terima kasih, telah menjaga sesuatu yang berharga bagimu untukku." Baskara merangkul bahu istrinya sambil mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Aku mau mandi dulu Mas."Anara bangun dengan perlahan.
Baskara langsung menggendong Anara
"Biar Mas mandikan ya." Baskara mengedipkan matanya.
Keduanya mandi bersama dengan gembira ria.
.
.
.
Papa Gilang chat dari Pak Seno sahabatnya
Sebuah Video menyergapan Raditya. Polisi sudah berhasil menangkap Raditya yang mencoba kabur lewat pelabuhan.
Raditya ditanggap karena kasus Penipuan, Suap, Pemalsuan Dokumen dan pencucian Uang.
Perusahaannya juga ditutup.
Seluruh harta disita
Kini Raditya meringkuk dipenjara.
Papa Gilang memberikan HP nya untuk dilihat Mama Nita.
"Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Papa Gilang mengucapkan kepada Pak Seno atas bantuan dari sahabatnya itu.
.
.
.
.
Berita penangkapan CEO PT. Royal Steel Industri, Raditya Wira Satria, Dengan tuntutan Penipuan, Suap, Pemalsuan Dokumen dan pencucian Uang. Perusahaannyapun ditutup dan seluruh hartanya disita.
.
.
.
.
Sepertinya Raditya akan mendekam lama dipenjara.
Terlalu berat kejahatan yang dilakukan.
Menyesal juga terlambat.
Raditya menyesali perbuatannya.
Karena kesenangan sesaat akan kekuasaan dan Limpahan Harta Benda membawanya dalam jurang kesesatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...