Anara

Anara
Part 2



Gemericik air pancuran membangunkan tidurku. Entah berapa lama mataku terpejam. Badan masih terasa letih, tapi mata dan telinga sudah tak lagi kompromi untuk melanjutkan tidur. Perlahan dari luar kamar terdengar dentingan wajan beradu dengan sutil. Di rumah yang tak terlalu luas ini, aktivitas di luar kadang terdengar lumayan jelas dari kamarku.


Aku beranjak keluar dari kamar. Kutengok jam sudah menunjukkan pukul lima kurang seperempat. Itu artinya aku melewatkan adzan subuh. Hal yang tak biasa aku lakukan, karena nenek selalu mengajariku bangun lebih awal.


Aku merasa bersalah dan bergegas menuju ke dapur karena tak enak hati kepada bibi yang telah bangun lebih pagi.


"Bi, maaf aku bangun terlambat. "


Bibi yang sedang fokus mengaduk masakan di wajan menoleh, kemudian tersenyum.


"Tak apa Nduk. Ini belum terlalu terlambat, kamu masih bisa shalat subuh. Ayo lekas ambil wudhu! "


"Iya, Bi"


Aku berlalu ke belakang mengambil air wudhu di pancuran. Letak pancuran berada di luar rumah. Sehingga begitu membuka pintu, udara pagi menyusup sampai ke tulang-tulang. Terasa dingin tapi sangat segar sekali ketika dihirup dalam-dalam. Di sekeliling rumah masih begitu asri, banyak tanaman sayur yang ditanam nenek. Setelah ini, aku tak tahu nasib tanaman-tanaman ini, entah masih ada yang mau merawatnya atau mati begitu saja nantinya. Segera kutunaikan shalat subuh sebelum terbit fajar. Dan kembali lagi ke dapur membantu bibi.


" Bibi tahu kamu tak bisa tidur semalam, Nduk. "


Ujar bibi sambil menata masakannya ke meja. Aku mengambil beberapa piring dan gelas membantunya mempersiapkan sarapan.


"Iya bi, mungkin karena lelah kemarin, malah ga bisa tidur. "


Aku menunduk diam, ternyata bibi dapat membaca pikiranku dan memahami apa yang aku rasakan.


"Makanlah, sebentar lagi kita harus ke makam nenek. Dan langsung ke terminal. "


Kami duduk bersama, dan bibi mulai menuangkan nasi dan sayur di atas piring makanku. Kami makan dalam diam.


Selesai makan, aku membereskan meja. Sementara bibi bersiap mandi. Sisa masakan kami bungkus untuk makan di perjalanan, selebihnya kami berikan ke tetanga sebelah rumah karena bibi memasak lumayan banyak.


Pukul enam lebih seperempat kami telah siap. Aku tak terlalu banyak membawa baju karena memang jumlah baju-bajuku terbatas. Bibi juga menjanjikan untuk membelikanku baju baru sesampai kami di Jakarta.


Rumah yang kutinggalkan rencananya akan bibi kontrakkan kepada orang lain. Dengan dibantu tetangga sebelah rumah yang sudah kami anggap saudara, kami menitipkan kunci rumah dan memintanya untuk merawat rumah kami selama belum ada orang yang mengontrak. Bibi menyerahkan sejumlah uang untuk biaya perawatan. Setelahnya kami bergegas berjalan menuju makam yang tak jauh dari rumah.


Aku khusyuk berdoa di depan makam nenek. Sambil berlinang air mata aku berpamitan kepadanya. Bibipun tak kalah sedih, dia terus memejamkan mata sembari berdoa. Bulir-bulir air matapun jatuh ke pipinya.


Beberapa saat kemudian, kami menyetop angkot yang akan membawa kami ke kota, tepatnya ke terminal. Kami diburu waktu, karena menurut bibi, di rumah majikannya lusa akan diadakan pertemuan dengan kolega sang majikan yang membuka cabang peusahaan baru. Sehingga semua asisten rumah tangga harus sudah ada ditempat untuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk bibi.


***