
Anara, nama yang kedua orang tuaku berikan 18 tahun silam ketika aku lahir. Kata nenek, Anara berarti bintang jatuh. Mungkin seperti itulah aku hadir dalam kehidupan kedua orang tuaku. Aku yang selama empat tahun dinanti-nantikan kehadirannya, bagai membawa keberuntungan bagi kedua orang tuaku.
Awalnya, orang tuaku tak begitu paham arti namaku. Keduanya hanya mempunyai inisiatif untuk menggabungkan nama mereka Rana dan Raka sehingga membentuk nama yng indah yaitu Anara. Tapi bu bidan dari kota yang ditugaskan ke desa, yang membantu persalinan ibuku memberi tahu arti namaku yaitu bintang jatuh. Sehingga memantapkan orang tuaku untuk memanggilku dengan sebutan Anara.
Aku tumbuh dengan baik di bawah asuhan nenek, karena kedua orang tuaku mengalami kecelakaan yang menewaskan keduanya disaat usiaku masih lima tahun. Pick up yang membawa keduanya untuk menjual hasil bumi ke kota, jatuh ke jurang karena rem blong. Kedua orang tuaku beserta satu orang lainnya menjadi korban tewas, sedang yang lain mengalami luka-luka yang cukup berat. Sehingga sejak saat itu, aku resmi menyandang gelar yatim piatu.
Aku tumbuh menjadi gadis desa yang cerdas dan menarik. Kulitku putih bersinar, dengan berat badan ideal dan tubuh tinggi semampai membuat daya tarik sendiri bagi pemuda-pemuda di desaku. Kecantikanku terpancar alami, bukan karena polesan make up. Hidung yang bangir, bibir tipis, mata yang dihiasi bulu mata lentik serta rambut panjang yang tergerai indah menyempurnakan bentuk tubuhku. Tak kalah dengan artis-artis Korea yang sedang booming wira wiri di tv.
Sebulan yang lalu, nenekku menyusul kedua orang tuaku. Beliau meninggal ketika sedang melaksanakan sholat subuh di masjid. Tak ada tanda-tanda beliau sakit, dan malam sebelumnya beliau masih bercengkrama denganku sembari menyiapkan benih jagung yang akan kami tanam di ladang esok hari.
Nenek begitu gigih membesarkanku sedari kecil. Mengajariku tentang banyak hal dan yang tak terlewatkan mengajariku tentang tugas seorang wanita dalam kehidupan. Lelah keringatnya mengolah sawah dan ladang peninggalan kakek membuatku hidup tak kekurangan makan. Walaupun saudara satu-satunya ibuku, yaitu bibiku di kota juga menyisihkan penghasilannya untuk membantu kami di desa, tapi semua difokuskan untuk biaya pendidikanku. Bibiku seorang janda tanpa anak. Suaminya juga sudah meninggal dunia. Dan beliau tak berniat menikah lagi karena sudah merasa nyaman bekerja di rumah majikannya di kota. Dan setelah meninggalnya nenek, beliau berniat membawaku ke kota turut serta dengannya.
***
Malam ini, malam terakhirku di desa ini. tadi, bibi datang kembali untuk menjemputku ke kota. Kata beliau, sembari menunggu mendapat pekerjaan, aku bisa ikut membantu menjaga anak majikannya. Aku hanya menurut karena tinggal beliaulah keluargaku satu-satunya. Walaupun kurasakan berat sekali meninggalkan tanah kelahiran, tapi daripada membuat banyak pikiran beliau karena mengkhawatirkanku, aku menuruti keinginannya.
Sudah berpuluh-puluh kali kucoba memejamkan mata untuk mengistirahatkan badan setelah seharian membereskan rumah yang hendak kutinggalkan. Dilanjutkan dengan menyiapkan barang yang akan kubawa esok ke kota, tetapi tak jua mata ini terpejam. Bayangan masa lalu yang terus berkelebat membuatku kembali menangis. Aku rindu kehadiran nenek. Karena selama berpuluh tahun hidup bersamanya, tak pernah sekalipun aku jauh darinya. Nenek selalu disampingku. Kemana beliau pergi ke tempat yang lumayan jauh, aku selalu bersamanya. Aku merindukamu Nek.