Anara

Anara
Part 3



Perjalanan ke Jakarta memakan waktu 8-9 jam. Jarak tempuh yang lumayan jauh untukku yang jarang berpergian jauh. Bibi mempersilahkanku duduk di kursi dekat jendela agar leluasa melihat pemandangan luar untuk mengatasi kejenuhan dalam perjalanan.


Prlahan hujan turun membasahi bumi. Membuat sopir bus lebih memelankan laju kendaraannya, apalagi di tengah jalan yang berliku. Perlu keahlian profesional dalam mengendalikan laju bus.


Bus hampir terisi penuh penumpang. Semua larut dalam suasana hujan. Hal apalagi yang membuat mereka nyaman ketika hujan selain tidur. Kulihat bibi juga terantuk-antuk di kursinya. Aku kasihan melihatnya. Tentu sangat melelahkan melakukan perjalanan bolak-balik dalam waktu dua hari ini. Usianya sudah melebihi angka kepala lima. Tapi beliau terlihat lebih terurus cantik dibanding ibu-ibu tetanggaku yang berada di desa sana yang seumuran dengannya. Mungkin kehidupan di kota membuatnya nyaman, atau itu hanya sekedar tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus tampil serba rapi dan bersih agar tidak memalukan majikan.


Bibi mendapat posisi sebagai koki di rumah majikannya. Ada beberapa pegawai di sana karena mereka benar-benar orang berada yang mampu menggaji banyak orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Tiga orang ditugaskan sebagai koki, Tiga lainnya mengurus kebersihan dan segala keperluan rumah tangga, satu tukang kebun, satu sopir, dan dua security yang ditempatkan di bagian depan rumah.


Bibi bekerja sejak beliau masih gadis. Dulu dia ditugaskan untuk merawat tuan muda, anak dari majikan tua, dari baru lahir sampai beberapa tahun kemudian bibi menikah dengan sopir yang sama-sama bekerja di tempatnya bekerja. Tetapi nasib tidak berpihak kepada bibi, paman meninggal karena sakit selang dua tahun pernikahannya. Dan mereka belum sempat diberi anak oleh Yang Maha Kuasa. Bibi tak lantas menikah lagi. Beliau mantap mengabdikan dirinya kepada keluarga majikannya.


Sang majikan yang bernama tuan Alfred mempunyai 3 anak, dua putra dan satu putri. Tetapi yang menetap di sini cuma satu orang, anak tertua dan sudah berkeluarga. Anak tertua digadang-gadang yang akan meneruskan bakat sang ayah sebagai pengusaha muda. Satu anak lainnya yang laki-laki lebih tertarik kuliah di dunia otomotif dan yang perempuan masih sekolah. Mereka sama-sama tinggal di tempat kelahiran ayahnya di Jerman.


Decitan ban bus yang mengerem mendadak, membuyarkan lamunanku atas cerita bibi tentang majikannyakemarun. Kutengok ke arah depan supir, ternyata ada sebuah mobil yang mengerem mendadak karena ada pohon tumbang. Untung bus kami tidak saling bertubrukan. Memang cuaca yang ekstrim, hujan bercampur angin membuat rawan pohon di tepi jalan berjatuhan. Bibi juga terbangun dari tidurnya, dan menanyakan kejadian yang membuat bus terpaksa berhenti karna menunggu pohon disingkirkan.


Aku memakan bekal makan siangku yang bibi masak tadi pagi. Kebetulan perut sudah keroncongan minta diisi. Ada gunanya juga bus berhenti, jadi aku bisa melahap nasiku tanpa terguncang ketika bus berjalan.