
Sabtu pagi di rumah Anara. Tampak semua orang sedang menikmati sarapan yang Mama Nita siapkan. Mama Nita walaupun seorang Wanita karir namun ia selalu ingat akan kodratnya. Ketika dirumah Mama Nita bahkan masih memasak sendiri menu makanan untuk keluarganya terutama sarapan.
"Dit, bagaimana kerjasama kita dengan Brand Korea apakah sudah ada kesepakatan?"Mama Nita menanyakan perihal kerjasama mereka dengan Brand Korea.
"Rencananya Minggu depan pihak mereka akan datang ke Indonesia untuk meninjau N'Beauty. Apakah Tante ada permintaan khusus atau syarat khusus untuk kerjasama ini?"Dita menanyakan kepada Tante Nita.
"Tante rasa melihat dari draf yang mereka berikan, kiranya tante menyetujuinya. menguntungkan kedua belah pihak."Ujar Tante Nita.
"Baiklah Tante, aku akan menghubungi perwakilan mereka bahwa kita menyetujui draf yang mereka kirimkan."Dita memahami maksud Tantenya.
"Om senang Dita, kamu betul-betul belajar dan mau mencoba, jaga terus semangat kamu ya. Om mendukung."Om Gilang memberikan apresiasi kepada keponakannya.
"Oh iya Mbak Nara, Nanti Mbak Nara dan Kak Vina jadi ke N'Beauty? Jam Berapa?"Dita menanyakan perjanjian mereka.
"Mungkin sekitar jam 1 siang sepertinya. Karena Pagi ini aku ada meeting bersama klien." Jelas Anara.
"Papa jadi hari ini main Golf dengan Pak Brata?" Tanya Mama Nita.
"Sepertinya jadi, tadi Pak Brata mengirim pesan kepadaku." Papa Gilang masih melanjutkan sarapannya.
"Tapi ingat Pa, jangan terlalu capek, ingat jantungmu."Mama Nita selalu mengingatkan kesehatan suaminya.
"Kami hanya sekedar ingin ngobrol ya bonusnya sambil Golf. tentu tidak terlalu menguras tenaga. Oh Ya Ma Papa baru ingat, Kamu ingat Seno? Kemarin mengirimkan undangan pernikahan anaknya. Acaranya minggu depan. Mama temani Papa ya?" Papa teringat undangan yang kemarin diterimanya.
"Pak Seno ? Oh,,, iya mama ingat. Seno kawanmu dikampus, wah tidak terasa ya Pa, Seno sudah mantu saja, kita berarti sudah tua. "Mama Nita melirik Anara yang sudah sibuk dengan HP.
"Iya, sudah banyak kawan Papa yang mantu, sekarang Seno. Kapan ya Giliran Papa?" Papa Gilang pun sepertinya sengaja tertuju pada putrinya.
Dita yang paham kemana arah pembicaraan Om dan Tantenya, berinisiatif berangkat.
"Om, Tante, Mbak Nara, aku berangkat duluan Ya?"Dita menyalami Om, Tante dan Anara.
"Hati-hati Dit," Jawab semuanya.
Sementara orang yang sedang tertuju akan pembicaraan Mama Nita dan Papa Gilang, hendak bergegas untuk balik ke kamarnya. Namun Papa Gilang meminta Anara untum kembali duduk di meja makan. Kini tersisa Papa Gilang, Mama Nita dan Anara.
"Sayang, nampaknya dari tadi kamu sibuk sendiri dengan telpon kamu, soal kantor?"Papa Gilang membuka percakapan.
"Sayang, Papa Mama memang berharap kamu meneruskan perusahaan dan bisa menjaga perusahaan agar terus berjalan dengan stabil dan berkembang, namun bukan berarti kamu tidak memikirkan masa depan kamu sendiri. Sesibuk apapun kamu jangan sampai melupakan soal pernikahan." Mama Nita selalu mengingatkan putri semata wayangnya untuk menikah.
"Pa, Ma, Nara masih nyaman seperti ini, Nara juga masih ingin mengurus perusahaan dulu. Nara belum terpikir untuk menikah."Anara merasa lelah jika Papa Mamanya sudah menyinggung soal pernikahan.
"Sayang, Papa berterima kasih karena kamu akhirnya mau menghandle perusahaan. Papa juga senang semenjak kamu pegang perusahaan terus mengalami perkembangan. Papa bangga akan hal itu. Namun sebagai orang tuamu Papa dan Mama berharap kamu mulai memikirkan pernikahan. Papa dan Mama sudah tidak muda lagi Nara. Kami tidak tahu bisa hidup sampai kapan. Terutama Papa, kondisi Papa sekarang tidak seperti dulu. Papa hanya takut, Papa tidak bisa mendampingimu saat menikah. Tugas Papa sebagai orang tua rasanya masih belum tuntas Nak. Papa berharap kamu bisa memikirkan apa yang Papa dan Mama sampaikan." Papa Gilang menjadi melow.
"Pa, Ma, Papa jangan ngomong begitu, Papa harus sehat, panjang umur begitupun Mama. Nara akan memikirkannya mengenai permintaan papa dan mama."Anara menggenggam tangan papanya.
"Sayang, apa kamu punya pacar?"Mama Nita sebenarnya tahu kalau Anara tidak memiliki pacar, hanya ingin mendengar langsung dari putrinya.
Anara diam. Ia memang tidak punya pacar. jangankan pacar sekedar dekat pun tidak ada. semuanya sebatas teman. dan relasi bisnis.
"Belum Pa,Ma."Anara menjawab datar.
"Sayang, apakah boleh jika papa berniat menjodohkanmu ?"Papa Gilang begitu berhati-hati karena dia tahu seperti apa sifat putrinya.
"Dijodohkan? Apa masih ada dijaman seperti ini?"batin Anara.
"Iya sayang, ya paling tidak perkenalan dulu, bertemu dulu, kalo cocok dilanjut, kalau memang tidak, ya gpp?"Mama Nita mencoba memberika solusi kepada Putrinya.
Anara sepertinya sudah tidak bisa lagi menolak. Sudah sering Anara menghindari hal seperti ini. Anara terkadang lelah. Namun sekali lagi Anara adalah anak yang sangat mementingkan kebahagiaan kedua orang tuanya. Kali ini ia bersedia menerima saran Papa dan Mamanya.
"Iya Pa, Ma, Boleh. Anara akan ikuti saran Papa dan Mama."Anara menyetujui keinginan orang tuanya dengan wajah tersenyum.
Tentu hal ini menjadi awal yang membahagiakan bagi Papa Gilang dan Mama Nita.
"Kalau begitu nanti papa akan memberitahumu jika memang waktunya tiba."Papa Gilang dan Mama Nita tersenyum bahagia dengan penerimaan Anara.
.
.
.
.
Sementara di Brevilia Hotel tepatnya di Ballroom Vina sedang berbincang dengan teman SMP nya yang sedang survey lokasi pernikahan.
Sebagai teman dan CEO Vina mendampingi temannya berkeliling lokasi akad dan resepsi pernikahan temannya nanti. Tampak beberapa orang dari WO pernikahan juga berada disana untuk survey.
"Vinaaaaa,,, makasi banyak ya,,, aku seneng banget kamu mau bantu aku di pernikahanku. Aku sempat kesulitan mencari tempat untuk pernikahanku.
Lalu aku ingat kalau mama kamu pemilik Brevilia Hotel. makanya aku menghubungi kamu."Rossa yang begitu bahagia bisa melaksanakan pernikahannya di Brevilia Hotel milik keluarga Vina.
"Ya Ampun Ross, sama-sama. Aku juga seneng banget loh denger kamu mau nikah. Lama banget ya kita ga ketemu. Setelah dulu lulus SMP aku dengar kamu langsung pindah ke Amerika, sejak kita kita ga pernah ketemu lagi ya Ross."Kenang Vina.
"Iya ya Vin. Eh kamu ingat ga dulu ketika kita SMP anak basket yang suka sama kamu. Duh sebentar, Siapa ya namanya,,,,eh,,,eum,,,, Nah aku inget. Rio!"Seru Rossa setengah berteriak.
Menunjukkan sekeliling orang yang menengok kearah mereka.
"Kamu masih kayak dulu ya Ross,, masih melengking.."Vina yang paham temennya seperti apa.
"Maaf Maaf Vin, Habis aku tiba-tiba teringat kejadian itu. oh iya aku inget waktu itu ketika aku sedang Fitting busana pengantin aku ketemu Cindy. Nah dia bilang Rio sekarang sudah ada di Indonesia." Rossa banyak sekali tahu informasi.
"Oh gitu,,,"Vina singkat.
Sepeninggal Rossa dan calon suaminya beserta ***** bengek pernikahannya, Vina menghempaskan diri ke kursi diruangannya. Matanya terpejam pikirannya teringat akan cinta monyet namun memalukan. Terngiang perkataan Rossa tentang Cindy. Lupa? Mustahil!
"Kenapa percintaan dalam hidupku selalu berakhir sedih ya?"Vina membatin dan sedang flasback kehidupan percintaannya yang selalu berujung sedih.
"Semangat Vina,,,, Pasti kelak kamu bakal memiliki percintaan yang indah dan bahagia."Vina menyemangati dirinya hanya itu yang menjadi kekuatan Vina.
Teringat akan janji dengan Anara dan Dita, Ia menghubungi sahabatnya Anara.
"Alohaaaaa,,,, Anaraaa,,,!"dengan riuhnya seperti biasa Vina menyapa ditelpon.
"Vin, baru gw mau tanya lo, lo berangkat jam berapa?" Anara yang sudah beres meeting dengan klien kini tengah berjalan di sebuah Mall.
"Jadi dong, gw udah kangen banget sama lo, pengen hahahihi bareng lo dan Dita. Lo dimana?"tanya Vina.
"Gw habis meeting dengan klien. Baru selesai sih." Jelas Nara.
"Kalo gitu gw otw N'Beauty ya. Sampe ketemu disana Naraku". Vina menutup telponnya.
.
.
.
.
Anara menikmati berjalan di Mall sendirian. Sudah lama memang ia tidak berjalan-jalan seperti ini. Apalagi ke Mall. belakang jarang ia lakukan. Anara menikmati jalan-jalannya seorang diri. Anara pun masuk kesebuah gerai kopi. Entah hari ini ia merasa banyak sekali pikiran dikepalanya.
"Americano 2 shot" Anara memesan kopi pilihannya.
"Dine in atau Take away kak?"Tanya pramusaji.
"Take away aja "Anara menjawab.
"Silahkan tunggu sebentar ya ka, ini bill nya. Atas nama siapa kak?"tanya pramusaji.
"Anara. terima kasih." Anara menunggu kopinya siap. dan tidak menunggu waktu lama.
"Atas nama Anara. Ini Americano 2 shot ya." pramusaji menyerahkan kopi pesanan Anara.
"Terima kasih"Jawab Anara.
Hendak melangkahkan kakinya keluar sebuah suara memanggil namanya.
"Anara!" Seorang pria memanggil dan kini sedang menghampirinya.
"Hai."Anara menjawab
"Kamu sedang Apa?" tanya pria yang menghampiri Anara.
Anara Menunjukan gelas kopinya
"Lo sendiri?"Anara balik bertanya.
"Habis meeting. Lo mau kemana, sudah lama kita baru ketemu lagi, btw bisa kita ngobrol sebentar?"Jawab pria itu dengan senyuman.
Anara dan Pria itu akhirnya duduk di Gerai kopi dan mulai ngobrol.
"Jadi ceritanya sekarang kamu CEO nya?"Pria itu menyeruput kopinya.
"Ya, gitu. Lo sendiri kapan balik?" Anara bertanya.
"Sebenernya sie gw saat ini masih bolak balik Amerika Indonesia, tapi untuk beberapa bulan kedepan bakal stay di Indonesia." Jelas pria itu.
Anara merespon hanya dengan anggukan.
"Boleh minta nomor Lo Nar, soalnya gw hubungin ke nomor HP yang dulu ga bisa."Pria itu bertanya.
Anara memberikan no hp nya kepada pria itu.
"Oh iya, gw ga bisa lama nie, soalnya ada janji." Anara bangkit dan gelas kopinya pun sudah kosong.
"Oke kalo gitu, semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi ya. bisa ngobrol lebih panjang."Pria tersebut nampak berharap bertemu lagi dengan Anara.
"Gw duluan ya."Anara meninggalkan pria itu dan bergegas menuju N'Beauty karena pasti Vina sudah sampai disana.
Masih setia untuk melihat Anara yang mulai keluar meninggalkan Mall. Ada rasa yang tiba-tiba muncul kembali setelah sempet terpendam. Sebuah harapan terbuka di depan mata.
"Kali ini gw harus bisa dapetin Anara." Raditya tersenyum dengan penuh harapan.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...