
Sesuai perjanjian kedua belah pihak akan menandatangi kerjasama sudah berada di Ballroom Brevilia Hotel. Nampak kedua CEO berjabat tangan disaksikan tamu yang hadir disana.
"Semoga kerjasama ini bisa saling menguntungkan kedua belah pihak ya Pak." Ucap Raditya selaku CEO PT. Royal Steel Industri bersalaman.
"Begitupun harapan kami." Jawab Rengga selaku CEO PT. Badyrevi Construction.
Acara selanjutnya jamuan dan ramah tamah. Tampak kedua CEO yang baru saja bekerjasama itu tengah menikmati minuman dan ngobrol.
"Tuan Rengga, Bukankah hotel ini milik keluarga anda?" Raditya membuka percakapan.
"Memang benar, namun adik Saya yang mengelola."Jawab Rengga santai.
"Hebat sekali, Saya baru tau bahwa Anda memiliki seorang adik. Keluarga Tuan memang luar biasa, semua memiliki kehebatan masing-masing. Lain waktu Saya ingin berkenalan dengan adik Tuan." Raditya mencoba untuk lebih akrab dengan relasi bisnisnya.
"Oh, Boleh." singkat Rengga.
Sambil menikmati jamuan diiringi dengan lantuan suara indah Raisa. Rengga sesekali menatap mitra bisnisnya. Entah mengapa Rengga kurang menyukainya. Namun keputusan Tander dimenangkan oleh perusahaan Raditya. Rengga pun akhirnya menyetujuinya. Sebagai Pebisnis Ia tentu waspada dari segal kemungkinan termasuk dengan rekan bisnis yang satu ini.
"Tuan Rengga, jika memang sudah tidak ada lagi yang kita bicarakan, Saya mohon permisi dulu. Kedepannya kita akan sering berkomunikasi mengenai proyek ini." Sambil bersalaman dan Raditya pun meninggalkan Hotel.
Pintu Lift terbuka, Raditya bersama orang kepercayaannya berjalan menuju keluar hotel. Hingga matanya berpapasan dengan Pria Berlesung Pipi. Senyum Raditya begitu sinis dan meledek kepada Pria itu.
Berjalan menuju Lift Kedua Pria memasuki Lift dan Menekan Tombol ke lantai 10.
Entah mengapa sejak Baskara terjun diperusahaan Pak Brata, Ia berjumpa Rengga. Sesama Pebisnis tentu mereka kerap beberapa kali bertemu. Baskara awalnya tidak mengerti mengapa sejak perjumpaan pertama dengan Raditya, pria itu seperti tidak menyukai dirinya. Entah Apa alasannya. Namun seiring berjalannya waktu Baskara sering mendengar tentang Raditya yang sering bermain kotor terutama dalam memenangkan tender. Kali ini perusahaan Baskaralah yang menjadi korban sabotase Raditya. Baskara semakin penasaran siapa Raditya? Apa Alasan Pria itu begitu membencinya.
"Selamat Tuan Rengga, semoga proyek anda bersama PT. Royal Steel Industri Berjalan dengan Lancar." Jabat tangan Pak Brata dengan Rengga.
"Terima kasih Tuan Brata. Maaf jika perusahaan Tuan kali ini tidak lolos dalam tender." Rengga sesungguhnya merasa tidak enak dengan pria paruh baya yang berada didepannya.
"It's ok. this is a bussiness. Oh iya, Saya mau memperkenalkan Putra saya, Sekarang putra sayalah yang menggantikan saya diperusahaan."Pak Brata memperkenalkan Baskara dengan Rengga.
"Senang bertemu dengan anda Tuan Rengga,"Baskara mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Salam kenal Tuan Baskara." Balas Rengga menjabat tangan.
Mereka bertiga berbincang sesekali Pak Brata mengeluarkan candaan khas Bapak-Bapak dan kedua pria muda itu tetap tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, Kami permisu dulu Tuan Rengga." Jabat tangan kembali sebelum mereka berpisah.
"Tuan Rengga kami permisi. Semoga kedepannya kita dapat bekerjasama." Jabat tangan Baskara sebelum pergi.
"Saya akan menantikan saat itu. Terima kasih sudah hadir. Hati-Hati dijalan." Begitulah Rengga melepas tamu-tamunya.
Rengga berinisiatif menemui adik kesayangannya, Ia pun mencoba menghubunginya.
"Adek kesayangan Abang, ada diruangan?" Rengga begitu ceria setiap berbicara dengan adiknya.
"Abang masih di hotel, bagaimana acaranya?"Tanya Vina yang saat ini ada diruangannya sedang melihat schedule hotel bulan ini.
"Siang Bu CEO, Bisa diganggu?"Ledek Rengga ketika memasuki ruangan Vina.
"Abanggggggggg,,,, Seneng banget ledekin adeknya....Abang mau minum apa?" Vina menawarkan.
"Aduh duh,,, Adek abang seperti CEO Beneran Ya" Bang Rengga mengacak rambut Vina yang langsung membuat Vina kesal.
"Abangggggg,,,, kebiasaan banget, rambut aku berantakan bang, nanti apa kata pegawai masa CEO nya yang cantik, badannya bagus, rambutnya acak cakan."Vina meraih cermin andalannya dan merapikan rambutnya.
"Iya deh Bu CEO, Yang cantik, badannya bagus,"Ledek Rengga yang ga pernah bosan.
"Gimana Bang, Sukses?"Vina mulai menanyakan mengenai pekerjaan abangnya.
"Ya seperti biasa. Berjalan lancar. Hanya..."Rengga menggantung jawabannya.
"Hanya kenapa Bang?" Vina menangkap sesuatu hal dari raut wajah Abangnya.
"Hanya khawatir saja, proyek ini bernilai sangat besar dan melibatkan banyak pihak, semoga berjalan lancar tanpa hambatan." Senyum Rengga menutupi maksud sebenarnya karena tidak mau adiknya kepikiran.
"Aamiin. Vina doakan selalu buat pekerjaan abang dan keluarga kita, semua yang terbaik." Vina memeluk abangnya.
"Aamiin. Ih peluk-peluk abang, Bu CEO ga malu, masa peluk-peluk, Nanti ketauan loh manjanya sama pegawai Ibu?" Lagi dan lagi rengga meledek adiknya.
"Pelit banget sie cuma peluk doank. Emang abang udah ga mau aku peluk? Takut nanti pacarnya marah ya? Huft masa dipeluk adek sendiri cemburu, cewek apa tih?"Vkna nyeros dengan segala tuduhan kepada Rengga.
"Duh Duh Duh, Jangan-jangan kamu kali yang ga boleh peluk abang sama pacar kamu?"Rengga tahu adeknya jomblo hanya senang meledek.
"Aku bilang mama nanti kalo abang masih suka ngeledek aku, terus aku mau bilanh sama mama abang udah pacar?"Kakak adek ini selalu seperti kucing dan anjing walaupun saling menyayangi.
"Loh Loh kok fitnah sie, abang mah ga punya pacar."Rengga membantah perkataan adiknya.
"Bagus kalo gitu bang, jadi mama bakal jodohin abang.Ups!"Vina nyerocos dan keceplosan sambil menutup mulutnya.
"Jodohin abang? Coba ulangi lagi tadi kamu ngomong apa?" Rengga coba meminta Vina mengulangi ucapannya.
Vina yang sadar ia keceplosan berbicara mengalihkan
"Bang kapan abang pulang karumah. Mama kangan tahu sama abang. Lagian kenapa kenapa sie abang harus tinggal di apartement? sepi tahu bang aku berdua sama mama doank"Vina memasang wajah sedih.
"Iya nanti abang bakal datang kerumah. Abang balik dulu ya, salam buat mama. Nanti abang main kerumah."Rengga beranjak pergi meninggalkan ruangan adiknya namun sebelumnya ia memeluk adik kesayangannya terlebih dahulu.
Sudah setahun Rengga menempati apartemen yang dibelinya. Iya memilih tinggal diapartemen dengan alasan agar lebih dekat ke perusahaan agak tidak terjebak macet setiap hari. Adapun jarang pulangnya ia, karena padatnya pekerjaannya dikantor kadang mengharuskannya pulang sampai malam. Selain itu Ia juga menghindari Mamanya yang selalu menanyakan kapan ia akan menikah. Rengga memang sudah lama tidak menjalin hubungan dengan wanita. Perasaannya selama ini tidak bergeming dengan yang namanya percintaan. Buatnya cinta hanya menyakitkan. Berharapan kepada seseorang hanya berakhir kekecewaan. Tidak mau mengalami kejadian yang menyakitkan, Rengga masih belum mampu membuka hatinya. Seolah baginya menjalin hubungan hanya membuang-buang waktu. Rasanya Luka itu masih merah dihati Rengga.
.
.
.