Anara

Anara
Chapter 59. Anindya Putri Megantara



Bagaimana Tante kondisi bayi dan Mbak Anara?" Dita langsung menanyakan pada Tante Nita.


"Bayinya selamat, perempuan sehat. Tapi Anara belum sadar Dit, Mbak mu kehilangan banyak darah." Tante Nita menangis dipelukan Dita.


Vina yang mendengar Tak kuasa menahan Airmatanya, Rio mendekati Vina mengusap memberikan kekuatan.


" Dokter mengatakan, jantung Anara melemah hingga kesadarannya terus menurun." Gurat kesedihan begitu tampak pada wajah Om Gilang.


Baskara duduk terdiam di lorong lain, Membayangkan Anara sedang diambang hidup dan Mati membuatnya tak kuasa menahan tangisannya. " Nara Sayang, bertahanlah Aku dan putri kita menunggumu disini." lirih suara Baskara.


"Tante, putri Anara dimana Vina ingin melihat?" Vina mendekati Tante Nita menanyakan putri Anara.


"Mari ikut Tante." Tante Nita membawa mereka ke arah ruangan NICU.


Vina seketika menangis sedih, Cantik, Aunty Vina doakan, Mami Pas akan sehat kembali bersama mu Sayang.


Bayi kecil perempuan itu begitu cantik, namun ia seakan mengerti kondisi Ibu yang sedang koma. Putri Anara menangis terus hingga membuat hati tersayat bagi yang mendengarnya.


Vina, Dita dan Tasya, serta sanak famili bergantian menjaga Anara.


Sudah seminggu Anara belum siuman. Baskara yang memang selalu setia menunggu dirumah sakit, terlihat tidak terurus dan begitu sedih.


Sahabat-sahabatnya begitu sedih melihat kondisi Baskara.


"Bas, pulanglah dulu, beristirahatlah."Mama Nita sedih melihat kondisi menantunya seperti ini.


"Baskara ga bisa pergi Ma, Baskara mau menunggu Anara, Anara pasti mencari kalau Baskara tidak ada." Baskara dengan sedih.


"


Anara membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Tubuhnya lemas dan terasa sangat letih.


Anara ingat terakhir kali bahwa iya kontraksi kemudian dibawa ke RS.


Anara melihat ke bagian perutku.


Dimana bayiku?


.


"Sayang, syukurlah kamu bangun?" Baskara memeluk Anara begitu bahagia dan penuh dengan rasa syukur.


"Mas Bas, dimana bayiku?"Anara segera bertanya.


"Putri kita selamat Sayang, kamu tak perlu khawatir. Putri kita sudah dibawa pulang kerumah oleh Mama." Baskara menjelaskan karena ia melihat wajah Anara yang panik melihat perutnya sudah kempes.


"Sayang terima kasih, kamu sudah sadar, aku takut kehilanganmu, aku tak bisa membayangkan jika kau tak ada bagaimana dengan putri kita." Baskara melepaskan tangisannya yang tertahan selama ini.


"Ya Mas, sudah aku tidak apa sekarang." Anara menepuk punggung suaminya yang menangis tersedu dalam pelukannya.


"Aku kabari papa dan mama dulu sayang. mereka begitu mengkhawatirkan mu." Baskara menelpon mertuanya.


.


" Mama sangat takut kehilanganmu Sayang, mama tak bisa membayangkan cucu mama tak punya ibu." Mama Nita melepaskan kesedihannya selama Anara koma.


"Terima kasih Sayang, papa bahagia sekali akhirnya kami siuman. Kamu putri papa satu-satunya dan putri mu apa jadinya bila kau tiada Sayang." Papa Gilang menangis tak mampu membayangkan apabila hal itu yang terjadi.


"Pa, Ma, maaf Anara sudah membuat Papa dan Mama Khawatir. Dimana putri Anara ma? Anara menanyakan putrinya.


"Putri ada dirumah mama minta tolong Mbok Jum menjaganya, selagi mama disini.


Anara bernafas lega, karena Putrinya selamat.


"Nara, syukurlah Nar, Lo selamat, udah bangun, gw sedih banget waktu Lo ga sadar, jangan pernah sakit begini lagi Nar, gw ga mau kehilangan sahabat sebaik Lo." Vina yang langsung histeris begitu sampai ruangan.


"Mbak, Dita sedih banget lihat mbak Nara koma kemarin, Dita kasian lihat putri mbak kalo sampe mbak kenapa-kenapa, jangan sakit lagi mbak, mbak harus sehat terus ya,." Dita memeluk Anara dan tangisannya tumpah.


"Vin, Dita, udah jangan nangis. mbak udah gapapa. makasi kalian sudah doain mbak. hingga mbak bisa bangun lagi." Anara memeluk Vina dan Dita.


.


Anara masih harus dirawat dirumah sakit untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Baskara terus menemaninya tanpa melepasnya sedikitpun.


"Mas Bas tidak pulang dan beristirahat, aku sudah gapapa kok." Anak mengusap wajah suaminya yang begitu mencintainya.


"Terima kasih Mas, sudah menungguku, mencintaiku dan sayang padaku." Anara memeluk Baskara dan penuh Rasa syukur.


.


Akhirnya Anara sudah diperbolehkan pulang dari Rumah sakit. Mata Anara langsung tertuju pada Bayi perempuan yang sangat ingin dilihatnya sejak iya siuman.


"Nara, gedong putrimu Sayang." Mama Nita menyerahkan bayi perempuan kecil itu.


Anara terharu karena Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk bisa merawat putri kecilnya itu. Malaikat hati Mami, sehat dan bertumbuhlah menjadi wanita cantik, cerdas dan mandiri sayang. Anara menciumi putrinya dengan haru.


Sahabat-sahabatnya yang ikut menjemput kepulangannya begitu terharu menyaksikan pemandangan itu.


Anara teringat dengan apa yang dokter sampaikan kepadanya. Meskipun Anara dan Putri selamat namun secara medis rahim Anara sudah tidak bisa memiliki anak lagi karena pendarahan hebat yang merusak rahimnya hingga harus diangkat.


Meski sedih karena dirinya tidak bisa memberikan Mas Bas anak lagi, namun apa yang dimilikinya saat ini sudah sangat amat bersyukur bagi Anara.


Anara tidak mampu membayangkan jika dirinya tidak selamat. Bagaimana nasib putri yang tidak memiliki bahkan tak sempat mengenal ibunya. Tentu hal itu sulit dibayangkan bagi Anara.


Kembali ditatap putri kecil dalam gendongannya. Putrinya memiliki lesung pipi seperti Baskara. Karena memang lesung pipi Baskara membuat senyum suaminya itu yang membuat awal hatinya tercuri.


.


"Belum tidur Sayang?"Baskara menghampiri istri dan putrinya yang sedang digendong Anara.


"Belum sedang memberi susu pada putri kita Mas." Anara sedang memberi susu.


"Kamu pastilah Sayang, Biar Mas yang menggantikan." Baskara melihat istrinya letih.


"Mas, apakah kamu sudah menyiapkan Nama bagi putri kita?" Anara bertanya.


"Sudah tapi jika kamu mau menggantinya boleh. Karena aku mau kamu juga menyukai namanya."Baskara menjelaskan.


"Siapa namanya?" Anara bertanya.


Anindya Putri Megantara.


"Bagaimana mana menurutmu Sayang?" Baskara bertanya pendapat istrinya mengenai nama pemberiannya.


"Apa artinya Mas?" Anara bertanya.


" Anindya berarti kesempurnaan, Putri \= Nama tengahmu dan seorang perempuan, Megantara \= Nama belakangku yang artinya orang yang berani, cerdas, dan pekerja keras.


Aku berharap putri kita bisa menjadi pribadi yang berani, cerdas, pekerja keras. "Baskara menjelaskan arti nama putrinya.


"Nama yang bagus Sayang, Aku akan memanggilnya dengan Nindy." ucap Anara


"Iya Sayang. Nindy salam sama Papi dan Mami Nak." Baskara mengajak Nindy ngobrol.


"Mas aku mau memintaa maaf kepadamu soal yanh dokter sampaikan kemarin. Maafkan aku aku sebagai istrimu tidak bisa memberikanmu anak lagi."Anara menunduk sedih.


"Sayang, tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku sangat sangat bersyukur atas apa yang kumiliki saat ini kamu dan Nindy. Betapa hancur hatiku waktu kami koma. Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku membesarkan Nindya tanpamu, bahkan untuk mengingat itu saja aku tak mau. Aku lebih dari cukup, bahkan sangat amat bersyukur memiliki Anara sebagai istri dan ibu dari putri kesayanganki Nindy." Baskara dengan airmata yang menetes dipipinya.


"Terima kasih banyak atas segala yang kamu berikan kepada aku dan putri kita."


Mereka berpelukan dengan Nindy berada diantara keduanya.


.


.


.


.


Alhamdulillah, Anara selamat .


Readers sudah sedih ya takut


Nindy keponakan reader bagaimana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...