Anara

Anara
Chapter 61. Selamat Jalan Granpa Brata



Langit mendung seakan turut berduka mengiringi kepergian Granpa Brata.


Serangan jantung kali ini benar-benar membuat Granpa Brata harus pergi untuk selama-lamanya.


Anara melihat wajah Baskara kini terdiam di pusara sang papa, memberikan pelukan dan mengusap punggung suaminya tersebut.


.


Baskara duduk si tepi ranjang sang papa melihat ke sekeliling mengudara pandangannya, teringat jenis ketika kepergian sang ibu kalo itu membuatnya begitu amat bersedih baginya Papa dan Mas Adyaksa.


Mereka bertiga sekuat tenaga hingga akhirnya mampu menjalani hari yang begitu berat tanpa mama disisi mereka.


Namun, sebuah kecelakaan merengkut nyawa kakaknya, Mas Adyaksa. Setelah kepergian mama, Baskara dan Adyaksa betul-betul saling menjaga dan Adyaksa sangat bijaksana saat itu menhadapi penolakan Baskara untuk tak mau terlibat dalam perusahaan.


Kepergian Adyaksa tidak hanya membuat Baskara kehilangan kakak tercintanya namun saat itu Baskara harus tegar berjuang menemani Papa Brata yang kondisi tubuhnya dan untuk pertama kali terkena serangan jantung, namun berhasil di selamatkan.


Untuk kesekian kalinya, Baskara harus kehilangan keluarga 1-1 yang ia miliki. Baskara menghampiri Lemari di sudut kamar papa Brata.


Kreeeeek.


Baskara menemukan Album foto yang selalu disimpan Papa bila sedang teringat almarhumah Mama dan Mas Ady.


Baskara membuka album foto itu di lihat-lihatnya foto keluarganya Papa, Mama, Mas Ady dan dirinya. Airmata Baskara tidak berhenti mengalir teringat semua kenangan indah bersama mereka yang kini sudah tenang di Surga.


Dipeluknya album foto itu begitu erat membuat tubuh Baskara berguncang.


Banyak Sahabat dan kerabat yang datang mengucapkan belasungkawa atas kepergian Papa Brata. Karang bunga yang tertata rapi masih terus berdatangan.


Papa Brata memang pribadi yang baik dan sangat disenangi oleh teman maupun relasi bisnisnya. Pribadinya yang luwes dalam berinteraksi dengan siapapun membuat Papa Brata mudah diterima disegala kalangan.


Perjodohan Baskara dan Anara juga tak luput dari upaya Papa Brata yang saat itu memang berteman baik dengan Papa Gilang. Meskipun hal itu diketahui Papa Brata belakangan mengenai Baskara dan Anara yang saling mengenal.


Saat kelahiran Nindy, Papa Brata begitu senang, Ia bahagia sekali memiliki cucu perempuan, Saat itu Papa Brata langsung datang untuk menemu cucu pertamanya.


Anara melihat suaminya Baskara kini sedang berbaring dikamar tepatnya dikasur Papa Brata dengan memeluk album foto.


Anara mendekati suami sekaligus ayah dari putrinya itu. Anara meraih tubuh suaminya yang ia ketahui saat ini begitu kehilangan.


Baskara membenamkan kepalanya dalam dada Anara dan kembali membuatnya tangisannya kembali pecah. Anara memahami kesedihan Baskara yang teramat sangat.


Baskara memeluk Anara begitu erat. Anara mengusap punggung suaminya dengan lembut. Hati Anara pun pilu akan kepergian Papa mertuanya yang selalu menyayangi dirinya layaknya putri sendiri.


"Aku banyak kehilangan orang-orang yang kusayangi. Tetaplah kamu dan Nindy selalu bersamaku. Jangan pergi tinggalkan aku sendiri." Baskara mengucap sedih.


"Kita doakan Papa agar tenang, ikhlaskan Mas. Papa kini sudah damai disana berkumpul dengan Mama dan Mas Ady."Anara mengatakan hal tersebut dengan airmata bercucuran.


"Aku kini hanya memiliki kalian berdua. Orang yang paling Mas sayangi. Hiduplah lebih lama bersamaku hingga maut menjemputku, Jangan pergi sebelum ajal menjemputku Sayang. Aku tak mampu kehilangan mu dan Putri kita." Baskara dengan suara bergetar.


"Kita akan hidup yang lama Mas, kita berdua akan mendampingi Nindy hingga kita melepasnya untuk menikah, memiliki cucu dan menua bersama. Aku akan selalu menemanimu."Anara berkata begitu perih.


"Terima kasih kalian adalah penguat bagiku."Baskara yang masih terisak.


.


" Pa, Ma, Baskara titip Nindy ya." Anara dan Baskara yang bersiap ke Amerika mengurus beberapa hal terkait kepergian Papa Brata.


"Baskara dan Nara, jangan khawatir, kami akan menjaga Nindy. Pergilah hati-hati dijalan." Papa Gilang dan Mama Nita melepas kepergian anak dan menantunya.


.


Baskara melihat rumah yang mereka tempati di Amerika dengan pandangan kosong. Baskara sedang duduk di dekat perapian, terlintas kenangan Masa kecilnya bersama Mas Ady yang sering duduk disini mendengarkan Mamanya mendongeng.


Baskara memejamkan matanya sambil duduk dikursi goyang kesukaan Papa Brata.


Dihampirinya sudut kamar itu,



Papa Brata begitu senang bermain golf. Papa sering mengajak ia dan Mas Ady bermain golf bersamanya.


"Mas, Mr. Edward ingin menemuimu." Anara mendekati suaminya menyampaikan Pengacara keluarga Brata ingin menemui Baskara.


"Kami dari tim Advocat Mr. Brata turut berbelasungkawa atas kepergian Mr. Brata."Mr. Edward menyalami Baskara dan disambut anggukan oleh Baskara dengan ucapan terima kasih.


"Selain kami ingin menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Alm. Mr. Brata, tentunya kami akan menyampaikan wasit yang ditulis dan buat oleh Mr. Brata semasa hidupnya." Mr.Edward menyerahkan Amplop cokelat tersebut kepada Baskara.


Baskara membuat amplop cokelat yang berisi wasiat Papanya. Dibacanya oleh Baskara dengan seksama, kemudian ia menutup kembali.


"Kami akan mengurus segala permindahan atas nama Mr. Brata kepada satu-satunya pewaris sah yaitu Anda Mr. Baskara."Jelas Mr. Edward.


"Terima kasih." Baskara balas menjabat tangan Mr. Edward.


"Kalau begitu kami permisi." Mr. Edwars pamit.


.


Baskara duduk ditaman belakang dimana biasa ia gunakan bersama Papa Brata menghabiskan waktu senggang bersama sambil minum teh.


Anara menghampiri suaminya membawakan teh hangat. Ia pun duduk disamping suaminya.


"Mas, apa yang sedang kamu pikirkan, nampaknya setelah kedatangan Mr. Edward kemarin kamu lebih banyak termenung. Ceritakanlah kepadaku, mungkin bisa mengurangi bebanmu sedikit." Anara merangkul bahu suaminya sambil memegang tangan Baskara.


Pandangan Baskara lurus kedepan.


"Aku hanya berpikir setelah proses pemindahan kemarin tanggung jawabku semakin besar. Banyak hal yang menjadi tanggung jawabku disini yang perlu aku urus. Hal itu tentunya akan membuat ku memiliki waktu yang lebih sedikit bersamamu dan Nindy." Baskara dengan pandangan menerawang.


Anara memahami Baskara karena ia pun anak 1-1 nya dikeluarga Papa Gilang dan Mama Nita.


"Mas Tuhan memiliki cara nya untuk manusia secara berbeda-beda. Kita sama-sama 1-1 nya anak orang tua kita. Kita tidak bisa menutup mata akan hal itu. Aku dan Nindy tidak akan merasa keberatan dengan waktu yang kamu katakan lebih sedikit." Anara memberikan tanggapan atas ucapan Baskara.


"Tapi, aku akan banyak mengurus perusahaan disini dan akupun memiliki tanggung jawab terhadap perusahaanku di Indonesia. Kita akan sering terpisah." Baskara merasa begitu khawatir.


" Mas, kini apalah artinya jarak dizaman secanggih ini. Meski kamu sedang disini dan kami disana kita bisa saling berkomunikasi dan berhubungan. Kami bisa mengunjungimu disini." Anara menjelaskan.


"Aku hanya kasihan dengan Putri kita Nindy, Aku dulu sering melihat Papa sibuk dan sering bolak-balik Amerika-Jakarta. Terkadang ada rasa kerinduan dihati berjauhan dengan Papa dan Itupun yang Mamaku rasakan." Baskara mengungkapkan kekhawatirannya.


" Mas Bas, kamu jangan terlalu mencemaskan Nindy, tidakkan ingat Nama yang berikan kepada putri kita? Aku yakin Nindy akan memahami selayaknya Kamu dan Aku memahami kedua orang tua kita dulu. Kita tidak bisa memilih takdir apa yang Tuhan gariskan pada kita, yang bisa kita lakukan adalah menjalaninya dengan ikhlas dan penuh Rasa syukur. Yang terpenting bagi Aku, Mas Bas, dan Nindy adalah saling menjaga komitmen, saling percaya, jujur, terbuka dan tetap berkomunikasi intens. Sehingga ketiadaan kita masih akan terwakili oleh sebuah keyakinan bawa kita adalah sebuah Tim yang harus kompak dan bekerja sama dimanapun dan kapanpun."Anara memberikan pandangan dan mengingatkan akan inti dari sebuah hubungan.


" Terima kasih atas pengertianmu Sayang, Maaf aku yang mungkin belum bisa menjadi suami siaga dan siap sedia untukmu dan Nindy putri kita. Maafkan aku dengan segala keterbatasanku." Baskara memeluk istrinya.


"Dahulu tanpa kamu sadari kamu sudah menjaga komitmen dengan tetap mencintaiku meski tanpa tahu pasti dan menunggu hingga kita dipertemukan kembali dan hingga kini. Seperti itulah kita kedepannya. Apalagi saat ini ada Nindy sebagai penguat hubungan kita."Anara meyakinkan keraguan suaminya.


Perjalanan ini masih akan panjang bagi Baskara dan Anara serta Nindy putri mereka.


Baskara yakin ini tidak akan mudah, Ia hanya berdoa dapat selalu menghadapinya sesulit apapun kerikil kehidupan yang ia akan menjadi perjalanan hidupnya.


.


.


.


.


Sedih Granpa sudah pergi


Kita doakan Granpa semoga tenang disisinya.


aamiin


.


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...