
Kecerian tampak dari wajah orang tua Raka dan Rama saat melihat kedua putra tumbuh sehat.
Tak terasa tibalah Raka dan Rama memasuki sekolah TK.
Sore itu Menemani kedua jagoannya bermain basket di halaman belakang rumahnya, Rengga duduk sambil beristirahat sedangkan Raka dan Rama masih terus melanjutkan permainanya.
"Pa, ayo main lagi, Abang masih penasaran nih!"Ajak Raka memanggil Papanya.
"Papa capek, mau istirahat dulu."Jawab Rengga pada Raka.
Raka masih asik bermain dengan Rama kembarannya. Kedua bocah itu memilki Raut yang persis seperti Papanya. Perbedaannya Raka putih seperti Dita dan Rama mengambil Papanya berkulit khas indonesia sehingga terlihat lebih manis. Soal ketampanan, tidak perlu diragukan kedua mewarisi gen papanya yang memang tampan.
"Abang capek ya?" Mengelap keringat diwajah dan leher suaminya.
"Abang sudah tua ya sayang?"Rengga bertanya sambil meminum jus melon yang dibuatkan istrinya.
"Bukannya dari sudah tua?makanya kupanggil Om."Dita meledek suaminya sambil menyolek hidung mancung Rengga.
"Tapi sukakan sama OM nya?" Rengga menggoda istrinya.
Rengga menatap Raka dan Rama. Begitupun Dita yang kini masih awet muda padahal punya 2 anak. terkadang jika bertemu klien baru mereka tak menyangka CEO nya masih pantas menjadi mahasiswi.
"Abang kenapa melamun?"Dita melihat suaminya termenung.
"Abang selalu berdoa agar Abang dan kamu diberikan kesehatan dan umur yang panjang agar bisa melihat Raka dan Rama besar, menikah dan punya anak." Doa Rengga.
"Aamiin. Tak terasa Bang, Raka dan Rama kini sudah TK, Rasanya baru kemarin aku melahirkannya." Dita melihat 2 putranya masih asik bermain basket seperti Papanya yang menyukai hal itu.
"Abang ga mau Raka dan Rama seperti yang Abang alami. Berat rasanya." Rengga terkenang akan kepergian Ayah Bayu kala itu.
"Abang tahu betul rasanya seperti apa sayang?"Rengga tersirat kesedihan sekaligus ada ketakutan.
"Bang, sini lihat Dita, Dita dan 2 Jagoan Abang tak pernah lupa berdoa untuk Abang agar selalu sehat dan panjang umur, melihat Raka dan Rama menikah dan punya anak." Dita menggenggam kedua tangan suaminya.
Rengga memeluk Dita "Terima kasih sayang."
Raka dan Rama datang langsung ikut memeluk mamanya.
"Papa genit ih peluk mama. Ini kan mama kita, ya kan Bang?"Rama komplen dengan Papanya.
"Iya Pa, gantian sekarang Abang dan Rama yang peluk mama." Raka kini memeluk mamanya.
"Mama kan kesayangan Papa, makanya Papa peluk mama." Rengga mengusap kepala Raka dan Rama.
"Ayo minum jus nya dulu, Mama sudah buatkan."Dita yang masih dipeluk Raka dan Rama.
"Makasi Mama, Mama emang paling Cantik Deh!" Rama mencium mamanya. Rama memang memiliki kepribadian Dita yang sangat ekspresif dan tak segan menggutarakan perasaannya.
"Makasi sayang, Bang ga cium Mama?" Dita bertanya dengan Raka anak sulungnya.
"Abang kan sudah besar Ma! Raka menjawab. Dita geleng-geleng anaknya yang berusia 5 tahun menjawab begitu.
"Cie, Abang maunya cium Lily ya? Tapi Lily ga mau dium abang," Rama menggoda kakaknya.
"Rama! "Raka kembali memainkan bola basketnya diikuti Rama yang masih seneng meledek abangnya.
"Raka itu persis sama Abang, Gengsian, suka tapi pura-pura ga suka, kalo ditanya galak," Dita tertawa akan Raka yang sering marah kalo Rama berbicara Lily.
"Rama seperti kamu suka ngeledek." Rengga tersenyum.
Keduanya kembali tertawa.
"Sayang, kamu masih sayang kan sama Abang?"Rengga menarik tubuh Dita bersandar pada dirinya.
"Abang masih ragu sama cinta aku ke Abang?"Dita balik bertanya.
"Aku takut kamu berpaling sama yang lebih muda dari abang, yang lebih gagah karena kamu ga tua-tua soalnya selalu awet muda. Abang khawatir?" Rengga memeluk pinggang istrinya.
"Kalo aku niat cari yang muda sekarang telat Abang, kenapa ga dari dulu aja, pilih Oppa korea?"Dita menjawab tapi diselipi sedikit kejahilan.
"Oh, jadi masih ada rasa sama si korea itu?" Rengga menyubit kecil hidung istrinya.
"Boleh emang Bang?" Dita layaknya Rama senang meledek.
Nie jawabannya. Rengga mengelitik pinggang Dita dan Dita lari minta bantuan putranya.
"Abang Adek, tolongin mama, Papa nakal nh." Dita berlari menghampiri.
Rengga tersenyum melihatnya. Kini selain dirinya ada 2 laki-laki yang menjaga Dita seperti dirinya.
Rengga pun kembali bermain bersama anak dan istrinya.
Kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga ini.
.
"Abang, Adek hayo turun makan malam dulu sayang." Dita memanggil putra-putranya.
Raka dan Rama turun bersamaan.
Kini Papa Rengga, Mama Dita, Abang Raka dan Adek Rama.
"Abang, Adek jangan lupa setelah makan kalian siapkan segala keperluan sekolah kalian besok. Dan ingat besok hari pertama sekolah jangan sampai telat." Dita mengingatkan kedua putranya.
"Besok Abang sama Adek Mau dianter ga sama Papa atau sama Mama?"Tanya Rengga pada kedua putranya.
"Kalo Adek ajak Lily, besok kita ga usah baren!" Raka dengan wajah kesel.
"Abang malu ya sama Papa, Gapapa Bang pasti boleh kok ajak Lily. Iya kan Pa?" Rama bertanya ke Papa Rengga.
Rengga mengangguk dan berkata boleh sambil tersenyum oleh kelakuan Rama.
Dita geleng-geleng melihat putranya.
"Abang ga malu! Abang ga suka! Kamu aja sana bareng Lily !"Raka menjawab adeknya jutek.
"Bener, Abang ga suka Lily?"Rama kelakuannya Dita banget kawan.
Raka yang kesal dengan kejahilan adeknya. Sementara sang adek semakin senang melihat kalau Abang Raka kesel.
"Bang, inget ga yang Uncle Abi bilang, kalo Abang suka sama Lily bilang aja, ga usah galak-galak. Nanti Lily disukain orang Loh!"Seolah tak habis kata-kata Rama.
"Uhukkkk..."Rengga kaget mendengar jawaban Rama putranya.
"Kurang asem si Playboy ngajarin anak gw yang enggak-enggak" batin Rengga.
Dita memberikan minum kepada suaminya.
"Ma, Pa Abang selesai makan, mau keatas." Raka pamit keatas duluan setelah ijin papa mama.
"Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur ya Abang."Dita mengingatkan Raka.
"Abang kok aku ditinggal."Rama bingung kenapa Abangnya naik duluan.
"Adek, jangan jahil dong sama abang?" Dita menasehati Rama.
"Abang itu aneh ma,?"Rama sungguh pandai berdialog alias gibah, hehehe.
"Aneh kenapa?" Rengga penasaran.
"Iya kalo sama Lily galak, tapi waktu Lily main sepeda sama Julian, Abang mukanya kesel." Rama dengan polos mengadukan Abangnya.
"Uhukkkk..."Rengga kembali tersedak.
"Papa makannya pelan-pelan." Dita senyum sambil memberikan air.
"Pa, Ma adek keatas ya, mau baik-baikin abang." Rama naik menyusul Raka.
"Adek jangan lupa sikat gigi ya, jangan main game sampai malam besok hari pertama ga boleh telat.
"Siapa mama cantik!" Rama memang sangat sweet perlakuannya.
.
Dita masuk kamar didapatinya Rengga dikasur sambil menonton TV.
"Mereka sudah tidur sayang?" Rengga bertanya pada istrinya.
"Sudah bang." Dita menjawab.
Sebagai CEO Dita memang selalu memperhatikan kesehatan wajahnya. Dita rajin merawat kulitnya seperti sekarang ia tengah selesai membersihan wajah dan memakai produk perusahaannya sendiri.
Dita berbaring dalam pelukan suaminya. Rengga menciumi pucuk kepala Dita sambil mengusap dengan sayang.
"Tadi abang keselek kenapa?"Rengga tidak melihat saat ini Dita sedang senyum-senyum mengingat kejadian di meja makan.
Dengan gaya cool" Si Abi emang paling-paling Rama diajarin yang enggak-enggak.
"Bener tahu yang Rama bilang, kalo suka bilang suka, Nanti kalo diambil orang baru kebakaran jenggot! Sebentar deh, kayaknya ada yang begitu siapa ya?"Dita menengok kearah suaminya dan tertawa.
"Siapa, abang ga tahu tuh!" Om Galak jaga gengsi aja nie.
Dita mendekat ke telinga Rengga berbisik, "Namanya Om Galak" Dita puas tertawa.
Rengga yang gemes melihat kelakuan Dita,
Dipeluknya Dita, Om Galak mau kasih hukuman.
CUP
Rengga mencium Dita dalam, Ditapun mengimbanginya.
"Abang kangen sayang?"Rengga menunjuk lapangan futsal Istrinya.
Tanpa aba-aba kini Papa dan Mama dari Raka dan Rama sedang Sparing Basket bersama.
.
.
.
Duh Hot Papa ga si nih Papa Rengga.
Kenapa si Rama jadi mirip Abimana sih, Wah Murid dan Suhu sepertinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...