
Dita sadar arah pembicaraan Om dan Tantenya tertuju kepada Mbak Anara. Dita memilih untuk bergegas berangkat. Dita sadar diri meskipun ia sudah dianggap anak sendiri oleh Om dan Tante namun ia sungkan jika mendengarkan hal-hal yang bersifat pribadi. Terlebih Dita paham betul sifat kakak sepupunya Anara seperti apa.
Kini Dita sudah terjebak suasana macet ibukota. Weekend tetap tidak membuat jalan lebih lengang. Kendaraan pun memadati ruas jalan.
Entah melamun atau memang sedang tidak fokus, tanpa sengaja Dita menabrak mobil didepannya.
"Aduh,,, kenapa mesti nabrak sih!"Dita menghela nafas panjang. Dan masih diam duduk di dalam mobil.
Tak lama seorang pria dengan badan tinggi, kulit hitam manis, berambut rapi dengan pomade disisir kebelakang, hidungnya mancung, memakai kacamata, menghampiri mobilnya.
Suara ketukan dikaca mobil terdengar dari pria itu. Dita pun membuka kacamobilnya dan bergegas keluar dari dalam mobilnya.
Pria itu membuka kacamatanya. Ya Tuhan,,, Nie Cowok ganteng bener ya, diliat dari deket semakin bikin lumer hati Dita.
Gimana gak lumer coba kemeja pas badan dengan lengan digulung dan celana jeans membuat otot tangan kekar itu begitu terekspos dan itu ada di depan mata Dita.
Dita tak berkedip memandang cowok ganteng itu. terlebih bibir cowok itu, ahhh,,, kok bisa bibir cowok berwarna pink. Membuat pikirin Dita jadi kemana-mana.
"Halo, Hei, Kamu denger Saya Ga, Nona!"Cowok ganteng bersuara keras itu membuat buyar lamunan Dita.
"Nona kalo ga bisa bawa mobil, Minta dianter saja sama bapakmu, jangan sok gaya-gayaan bawa mobil sendiri. Nabrak nyusain orang."Cogan yang semula bernilai 100 kini turun tahta dimata Dita menjadi 50 karena mulutnya setajam silet.
Dita yang awalnya mengagumi kini menjadi kesal. Karena ucapan Cogan itu.
"Maaf ya Om, aku tuh ga sengaja nabrak mobil Om. Lagian juga cuma lecet sedikit. Malah Bumper mobil Saya yang penyok."Balas Dita kesal dianggap ga bisa bawa mobil. Jelas-jelas Dita merasa kalau dia bikin sim lulus murni no nembak-nembak club.
"Enak aja panggil saya Om Om, kapan saya nikah sama Tante kamu. Ok gini aja, ribet urusan sama anak kecil. Panggil orang Tua kamu atau Kakak kamu. Biar mereka yang urus. Saya ga mau urusan sama anak kecil yg baru belajar bawa mobil."Cecar mantan cogan, karena Dita bilang Om Om.
Emosi Dita meluap menghadapi Om Om itu.
"Gini ya Om, Kalo Om emang mau saya tanggung jawab mobil om, ni kartu nama saya, om bisa hubungi atau dateng sekalian ke alamat itu. Lagian Om itu mulutnya pedes banget kayak gado-gado karetnya 2. Kasian Saya sama istri aom, punya suami mulutnya ga bisa direm. Permisi Om."Dita masuk mobilnya dengan perasaan kesel sekesel keselnya.
"Dasar bocah! Ga tahu aturan, gimana sih orang tuanya. Ga sopan!" Mantan Cogan itu pergi dan kembali ke mobilnya.
Mobil Dita pun berlalu meninggalkan mobil Om Om Judes yang bikin Dita emosi.
Di dalam mobil, Rengga memukul kemudi. Hp nya bedering, ditengoknya, Mama. lalu Rengga mengangkat telpon dari Mamanya.
"Abang udah sampe mana sih, katanya tadi otw kok belum sampe?"Mama Dyah mulai nyerocos.
"Masih dijalan ma. Iya bentar lagi sampe. Mama tunggu aja."Rengga mematikan telponnya.
Dasar bocah ingusan, Ga ada sopan santun. Rengga berdiam sejenak, sebenarnya hal itu tidak murni kesalahan Dita, Rengga berhenti mendadak, matanya tertuju melihat mobil disebelahnya saat lampu merah. Kebetulan Jendela mobil itu terbuka. Matanya tertuju pada seorang wanita yang tak asing baginya.
Sepintas Rengga melihat wanita itu memangku seorang anak bersama seorang pria yang duduk dibelakang stir. Tak terasa lamou sudah hijau Rengga masih tidak menyadarinya dan tanpa sadar, Brukkkkk! Mobil Dita menyenggol Dibelakang. Pada saat bersamaan Dita juga sedang tidak fokus hingga terjadilah benturan itu.
Sesampai dirumah Rengga segera mencari Mama dan Vina. Namun dia hanya mendapati Mbok Sum.
"Mbok, Mama dan Vina Kemana?"Rengga bertanya kepada mbok Sum karena rumahnya begitu sepi.
"Den Rengga, Apa kabar? Nyonya ada di kamar Den, Kalo Mbak Vina tadi pagi berangkat ke kantor.
"Kabar saya baik mbok. kalo gitu saya ke kamar mama dulu ya."Rengga bergegas ke kamar mamanya.
"Den Rengga mau makan atau minum apa biar Mbok Sum siapin?"Mbok Sum menawarkan.
"Nanti Saja Bi, lagian malam ini Saya menginap."Rengga menjawab.
"Baik Den kalo gitu, Mbok Sum kebelakang dulu." Mbok Sum meninggalkan Rengga yang juga segera menuju kama sang Mama.
"Ma, Lagi apa?"Rengga menyalami mamanya dan memeluknya.
"Abanggggg,,, Mama pikir sudah lupa pulang. Abang kemana sih,,, Abang ga kangen sama mama?"Seperti biasa Mama Dyah selalu ramai dan sumbringah jika soal anak-anaknya.
"Ya kangen dong ma, buktinya Rengga kan sering Chat atau telpon Mama, Lagian Rengga ga kemana-mana cuma bulan kemaren Rengga lagi sibuk menguruh lelang tender. Makanya Rengga banyak menghabiskan waktu dikantor."Rengga menjelaskan alasan dirinya jarang datang kerumah.
"Kirain Mama abang sudah lupa jalan pulang." Mama Dyah makin senang meledek Putra sulungnya Sambil mengusak kepala Rengga dengan kasih sayang.
"Rumah sepi banget, Vina kemana ga keliatan?" Rengga merebahkan badannya dikasur sang mama.
"Vina ke hotel, kebetulan klien yg pakai hotel kita adalah teman SMP Vina, jadi ya sekalian bertemu teman mungkin."Mama Dyah menjelaskan Keberadaan Vina.
"Rengga salut ma sama Vina, sekarang Rengga lihat, Vina lebih bertanggung jawab, Hotel juga semakin berkembang, dan Vina mampu menghandle dengan baik." Rengga menyatakan kekaguman kepada perubahan Vina yang menurutnya positif.
"Alhamdulillah, Mama juga merasakan perubahan Vina, Sejak Ayah meninggal, Vina begitu terguncang, maklum Vina begitu dekat dengan Ayah, Sama halnya ketika Vina memutuskan kuliah S2 mama senang paling tidak Vina bisa mendapatkan lingkungan baru, teman baru hingga ia bisa melupakan kesedihannya atas kepergian Ayah. Lagi Pula adikmu kini kan bukan remaja lagi, sudah dewasa."Ada raut kesedihan di wajah Mama Dyah.
"Mama tadi pagi pergi ke tempat Tante Mel, ada Arisan jadi tadi yang masak Mbok Sum. Abang mau makan? Yuk turun, mama siapin."keduanya turun menuju meja makan.
Rengga makan dengan lahap karena pagi tadi ia tidak makan, setelah persoalan lelang tender selesai baru ia merasakan hari libur oleh karena itu ia memilih untuk pulang kerumah dan menginap.
"Abangggg,,, boleh mama tanya?"Mama Dyah membuka percakapan selagi melihat putranya makan.
"Mama mau tanya apa?" Rengga masih terus makan, karena memang makan dipiringnya masih ada.
"Mama kepingin punya Cucu."Itulah Mama Dyah yang tekadang omongannya sulit ditebak.
"Uhhukkk,,, Uhukkkk,,, !" Rengga tersedak mendengar ucapan Mamanya.
Mama Dyah memberikan minum kepada putranya dan langsung diminum Rengga karena ia tersedak.
"Mama jangan aneh-aneh deh, Nikah aja belom masa nanyain Cucu?"Rengga sudah bisa bernafas lega setelah air membasuh tenggorokannya.
"Maksud Mama, Abang ga kepingin nikah, berumah tangga punya anak begitu?"Mama Dyah kini lebih detail dari sebelumnya.
"Abang belum kepikiran soal itu mah." jawab Rengga sekenanya.
"Abang,"Mama Dyah sambil memegang dagu putranya.
"Mama kepingin sekali melihat Abang menikah, punya istri, punya anak. Mama ga tahu umur mama sampai kapan. Sejak Ayah meninggal mama sering berfikir bahwa umur manusia tidak ada yang pernah tahu. Dulu Ayah selalu bilang sama kalau keinginan Ayah adalah melihat Abang dan Vina menikah, melihat Abang dan Vina memiliki keturunan. Tapi Allah lebih menyayangi Ayah, Ayah belum sempat menyaksikan itu semua. Mama takut kalau Mama pun tidak memiliki kesempatan itu." Raut wajah Mama Dyah begitu sendu dan matanya sudah berkaca-kaca.
Rengga sering mendengar Mamanya nyuruhnya menikah, namun baru kali ini ia melihat wajah Mamanya begitu sedih. Ada Rasa perih di hati Rengga melihat Mamanya seperti ini. Andai Saja Dulu Asti tidak mengkhianatinya dan memilih menikah dengan lelaki pilihan keluarganya, tentu Rengga tidak akan sesakit ini. Bukan tidak ada wanita yang datang pada Rengga, dikantor ya, rekan bisnisnya, teman-teman mendiang ayahnya namun hati Rengga masih belum mampu membuka hatinya.
"Abangggg,,, Abang punya pacar? atau barangkali sedang dekat dengan seseorang?"Mama Dyah mencoba mengulik putranya.
"Ga ada Ma. Abang ga punya pacar." jawab Rengga datar.
"Sebetulnya Mama secara pribadi begitupun Almarhum Ayah, tidak pernah banyak kriteria dalam memilih menantu, Asalkan pribadinya baik, santun, menghormati orang tua dan yang terpenting mencintai anak mama dengan tulus buat Mama dan Papa itu sudah cukup." Jelas mama Dyah.
"Abang akan coba ma, untuk bisa lebih peka dan membuka hati Abang, semoga bisa ketemu ya cocok." jawaban Rengga untuk menenangkan Mama Dyah.
"Mama selalu berdoa untuk anak-anak mama, baik Abang maupun Vina, agar kalian selalu diberikan keselamatan dan kebahagiaan."Mama Dyah berdoa bagi putra dan putrinya.
"Aamiin." Rengga mengaminkan doa ibunya.
"Abanggggg,,, boleh mama minta sesuatu?"Mama Dyah kembali bertanya kepada Rengga.
"Mama mau minta apa sama abang, selagi Abang mampu dan bisa Abang akan turuti, katakan Ma."Rengga kini mengenggam tangan mamanya.
"Mama mau menjodohkan abang? Abang bersedia?"Mama Dyah menatap nanar pada bola mata putra sulungnya.
Rengga kaget bukan main. Sebenarnya ia ingin langsung menolak dan mengatakan tidak. Namun, melihat wajah mamanya dan pembicaraan Mama, Rengga tidak tega.
Mungkin selama ini ia belum bisa menjadi anak berbakti, jika memang ini bisa membuat mamanya bahagia Rengga akan menerimanya.
Rengga mengangguk menerima saran mama Dyah.
"Abang mau."Jawab Rengga dengan pasrah.
Mama Dyah memeluk putra sulungnya dan menangis dipelukan Rengga. Entah mengapa hati Rengga begitu pilu mendengar tangisan Mamanya.
Teringat saat Ayah meninggal mendadak karena serangan jantung. Membuat Mama dan Vina terguncang.
Terutama Vina yang begitu dekat dengan Ayah. Saat itu Rengga sebagai anak laki-laki tertua dituntut keadaan untuk bisa menggantikan posisi ayahnya sebagai kepala keluarga.
Rengga remaja mulai mengurusi perusahaan, hotel mama sekaligus merawat mama dan vina yang terguncang. perih hati Rengga jika mengingat masa itu.
Kini hidup mereka sudah stabil dan normal kembali. Rengga tidak mau kejadian seperti dulu terulang. Renggapun menyetujui apabila mama akan menjodohkan dirinya.
Bagi Rengga kebahagiaan Mama dan Vina ada hal penting bagi hidupnya.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...