
Langit mulai terlihat gelap. Lampu-Lampu penerang jalan sudah menyala menggantikan matahari yang kini berganti dengan taburan bintang. Dari lantai ruang kantornya Anara menatap ke kaca menikmati suasana malam dari kaca jendela ruangannya.
Anara masih dikantor. Entah mengapa ia masih berdiri disana. Teringat dengan beberapa dokumen dan foto-foto yang pak Rahmat berikan kepada.
Berawal dari sebuah permintaan teman semasa kuliah di London, memintanya secara rahasia mencari informasi mengenai sebuah organisasi yang telah membuat perusahaan teman Anara bangkrut. Anara diminta untuk menyelidiki untuk menyelidiki Anderson Corp. Hingga ada sebuah fakta yang membuat dirinya terkejut. Raditya!
Ada hubungan apa sebenarnya Raditya dengan Anderson Corp. Perusahaan Raditya PT.Royal Steel Industri mendapatkan suntikan dana yang cukup besar dan perusahaan itu kini sekarang mulai diperhitungkan karena sudah beberapa kali memenangkan lelang tender besar.
Fakta-fakta yang membuat Anara semakin bingung. Ada hubungan Apa Raditya dengan semua ini? Siapa Raditya sebenarnya? Anara masih setia berada diruangannya hingga ponselnya berbunyi, sebuah chat masuk. Anara hanya sekilah melirik namun ketika ingin membukanya. Sekretarisnya masuk ke dalam ruangan.
"Permisi Bu, ini saya bawakan beberapa file perusahaan yang mengajukan kerjasama dengan kita?"Sekretaris Anara memberikan rekap file kepadanya.
"Kamu sudah boleh pulang Nes, letakan saja dimeja filenya nanti saya coba lihat. "Anara berjalan menuju kursi kerjanya.
"Baik kalau begitu sekalian saya pamit pulang bu Anara, permisi."Nesya yang merupakan sekretaris Anara keluar dari ruangan Anara.
Anara membuka file yang diberikan Nesya. Cukup banyak perusahaan yang mengajukan permohonan kerjsama dengan perusahaannya. Beberapa nama-nama perusahaan besar dilihatnya.
PT.Royal Steel Industri? Anara membuka file tersebut dan melihat company profilenya, sekilas Anara melihat mengenai profil perusahaan itu, tak ada sedikitpun tertulis mengenai kerjasama atau hal-hal yang berkaitan dengan Anderson Corp. Anara merasa ini menarik san membuatnya menjadi penasaran.
Raditya Wira Satria, CEO PT. Royal Steel Industri. Nama yang tidak asing bagi Anara. Terlintas dalam kepala Anara sebuah ide. Mungkin aku harus mencari tahu kebenarannya. Decak Anara dalam hati sambil melihat file mengenai perusahaan milik Raditya.
.
.
.
Di tempat lain Rengga tampak menerima telpon dari seseorang.
"Kamu awasi terus, jika ada yang janggal atau menemukan informasi segera hubungi saya" Rengga memutuskan perbincangan telponnya.
Siapa Raditya Wira Satria, CEO PT.Royal Steel Industri. perusahaan yang kini menjadi salah satu mitra bisnisnya. Sejak menjalin kerjasama memang tidak ada hal aneh yang nampak, namun entah mengapa hati Rengga merasakan ada hal yang membuatnya bertanya.
Hingga Rengga menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki Raditya dan perusahaannya.
Suara telpon Rengga berbunyi, diliriknya, Vina. Segera Rengga menjawab panggilan dari adik kesayangannya.
"Iya dek?"Suara Rengga yang selalu bersemangat jika mendengar suara nyerocos adek kesayangannya.
"Abang sibuk ga? Mama ngajak abang lunch di hotel. Mama sekarang sudah ada disini. Abang bisa dateng?"Vina menanyakan pada Rengga.
"Oke abang kesana dek."Rengga bergegas mengakhiri percakapannya dengan sang adik.
.
.
.
Di Brevilia Hotel
"Kak Vin, aku sekarang lagi di Ballroom hotel nie, sedang bersama EO."Dita memberitahukan kepada Vina kalau ia sudah berada di Brevilia Hotel.
"Oke bestie gw ke bawah ya, wait." Vina menutup telponnya.
"Ma, aku kebawah dulu ya, mau nemuin Dita."Vina bergegas meninggalkn ruangannya.
Mama Dyah berpikir sejenak "Dita N'beauty keponakan jeng Nita ada disini Vin? Mama Dyah bertanya memastikan bahwa Dita yang dimaksud Vina adalah Dita yang Mama Dyah maksud.
"Iya Ma, Dita lagi survey lokasi untuk acara Grand Launching Produk baru kerjsama dengan Skincare Korea nah memang akan dilaksanakan di Hotel kita ma. Aku turun dulu ya nemuin Dita."Vina menjelaskan panjang lebar kepada mama Dyah.
"Mama ikut ya,"Tanpa babibu Mama Dyah berjalan duluan melewati Vina yang juga bergegas menemui Dita.
Heran Mama semangat banget perasaan kalo denger nama Dita. Vina memperhatikan wajah sang mama selagi lift membawa mereka menuju Ballroom hotel.
"Kak Vin!"Dita melambaikan tangannya agar Vina mengetahui keberadaan dirinya.
"Sudah lama? Gimana persiapannya?"Sambil cipika cipiki Vina menanyakan pada Dita.
"Ini sudah selesai kok Kak Vin, Aku lg kordinasi sama EO nya supaya bisa match sama konsep kita."Dita yang selalu happy jika sudah bertemu Vina begitu pun sebaliknya.
"Sayang kamu apa kabar, Masih inget sama Mom kan?"Mama Dyah mencipika cipiki Dita dan Dibalas Dita dengan salim kepadanya.
"Kabarku baik, Mom terlihat fresh sekali tambah cantik. Kabar Mom bagaimana?"Dita yang selalu ramah kepada siapa saja.
"Kabar Mom baik. btw kamu lagi sibuk ga? Mom mau mengajak lunch bersama Mom disini?"Mama Dyah langsung tembak Dita ngajak lunch dan tentu membuat Vina segera melirik kearah mamanya.
"Bestie lo lunch dulu aja disini, bareng gw sma mama."Vina menawarkan Dita untuk lunch bersama mereka.
"Sebenernya aku seneng banget Mom, Kak Vin, tapi siang ini aku ditunggu Tante Nita untuk meeting bersama klien membahas soal grand launching. Maafin aku ya."Wajah Dita menunjukkan permohonan maaf tidak bisa memenuhi undangan Mom Dyah dan Kak Vin.
"Bestie gimana ada lagi ga yang diperlukan untuk grand launching. Lusa jam 10 kan?"Vina memastikan mengenai acara tersebut.
"Sudah perfect semua, emang kak Vin aku, My Bestie, paling the best Top pokoknya."Dita mengacungkan kedua jempol untuk Vina.
"Mbak Dita, kita sudah ditunggu Bu Nita untuk Meeting dikantor?"Staff Dita menghampiri memberitahukan bahwa Dita sudah ditunggu meeting oleh Tante Nita.
"Kak Vin, Mom, aku permisi dulu ya, balik kantor."Dita menyalami Mom Dyah dan bercipika cipiki dengan Vina.
"Hati-hati dijalan ya Sayang, Kapan-kapan jangan tolak ajakan Mom ya,"Mom Dyah memeluk Dita.
Sepeninggal Dita dan timnya, Vina memperhatikan Mamanya yang terus memandangi Dita. Vina dibuat keheranan dengan sikap mama kepada Dita. Entahlah.
Dita berjalan keluar pintu hotel bersama timnya dan sambil berbincang ditelpon. Dari arah yang berlawanan Seorang pemuda tinggi, berkulit hitam manis dan bibir merah melintasi nya berjalan sambil menerima telpon.
Sekian detik mata mereka bertemu, namun memiliki tujuan yang segera harus ditunaikan keduanya tidak menyadari dan berlalu.
"Perempuan itu, dimana aku pernah melihatnya? wajahnya tak asing?" Rengga mencoba mengingatnya sambil berjalan menuju lift dan menerima telpon dari mamanya.
"Sudah sampai ma, ini sedang di lift." menekan tombol menuju Restoran Hotel Brevilia dimana Mama dan Vina sudah menunggunnya lunch.
Sementara Di dalam mobil, Dita mengingat Pria yang bersisihan dengannya di hotel. "Aku ingat, Dia Om Om Galak dan Jutek itu! untuk apa dia kesana? Ah, perduli apa aku."Dita kembali mengecek HP nya.
"Mom, Dek,"Rengga menyalami mamanya dan mencium adeknya."
Mereka bertiga pun menikmati lunchnya sambil ngobrol.
"Mama tumben ke hotel?"Rengga membuka percakapan sambil lanjut makan.
"Mama lagi pingin aja, sudah lama tidak ke hotel."Mama meneguk tehnya.
"Oh ya, Bang, Weekend bisa temenin mama ga, Ada undangan dari om seno, putrinya menikah."Mama Dyah meminta kesediaan putranya untum menemani.
"Dimana acaranya Ma?"Rengga meneguk jus jeruk.
"Dihotel Kita."Jawab Mama Dyah.
"Oke Ma, Abang temani Mama." Jawab Rengga.
Mereka pun akhirnya selesai lunch. Rengga balik kekantor, sedangkan Mama Dyah dan Vina kini tengah berada Lounge Hotel. Mama menyempatkan berkeliling hotel untuk menyapa beberapa pegawai hotel.
Mama Dyah dikenal sebagai CEO yang ramah, ceria dan keibuan bagi para pegawainya. Sejak ia memutuskan dan memberikan Vina tanggung jawab, hanya sesekali Mom Dyah ke hotel.
Kini Vina dan Mama Dyah duduk di lounge dan mengobrol.
"Kalo menurutmu Vin, Dita itu seperti apa?"Mama Dyah membuka obrolan soal Dita.
Vina sedikit heran dengan pertanyaan Mama, "Dita anaknya baik, ceria, ramah, supel, humble dan sefrekuensi sama aku, memang kenapa ma?"Vina meneguk teh hijau sambil memperhatikan ekspresi wajah mamanya.
"Mama juga suka sama Dita, Dia seperti kamu Vin, Mampu memberikan keceriaan dan mama lihat Dita anaknya sopan ya Vin. Dita itu saudaraanya Jeng Nita ya?Ceritakan pada mama Vin."Mama Dyah meminta menerangkan mengenai Dita.
"Yang aku tahu sih ma, Dita itu adik sepupu Anara keponakan dari Kakak Mamanya Anara yang di Jogja. Dita itu sejak kecil memang dekat dengan Papa, Mama dan Anara. Anara sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri. Anara pernah cerita orang tua Dita tinggal di Jogja, Papanya seorang Rektor disalah satu Universitas di Jogja, Mamanya memiliki perusahaan yang bergerak dibidang farmasi. Dita itu 2 bersaudara ma, tapi kakak perempuannya sudah meninggal sejak Dita masih kecil. Makanya Dita sangat dekat sekali dengan Anara dan menganggap Anara sebagai kakak kandungnya sendiri."Vina menjelaskan dengan runtun dan jelas soal Dita yang ia ketahui.
Mama Dyah hanya mengangguk saja, "Apa Dita sudah punya pacar Vin?"Mama Dyah memang selalu sukses membuat anak-anakanya kaget dengan ucapannya.
"Setahu Vina sih belum ma, Karena Papa dan Mamanya Dita itu sangat menjaga Dita agar tidak sembarangan berhubungan dengan laki-laki. Karena Dita kini anak satu-satunya setelah kepergian kakaknya. Memang kenapa mama menanyakan itu?"Vina mencoba mencari tahu sebab mamanya begitu tertarik dengan Dita.
"Mama seneng aja sama Dita, sejak pertama ketemu, Anaknya lucu, pribadinya ceria dan sopan. Semoga kelak kalau mama punya menantu seperti Dita." Mama Dyah kembali dengan ucapannya yang mampu membuat putra putrinya terkaget.
"Maksud mama?"Vina kaget dengan ucapan mamanya.
"Mama lihat kamu dekat sekali dengan Dita, Banyak kemiripan kalian berdua, Mama pun senang dengan pribadinya. Kira-kira gimana kalo coba kenalkan Dita sama Abang, siapa tahu jodoh, walaupun mama lihat Dita lebih muda dari kamu tapi mama yakin Dita bisa menjadi pendamping yang tepat untuk Abangmu. Kamu mau kan bantuin mama untuk menjodohkan mereka?" Mama Dyah membujuk Vina.
"Tapi Ma, apa ga sebaiknya mama tanyakan dulu pada Abang, apakah Abang bersedia dijodohkan. Vina tahu betul bang Rengga seperti apa hingga kini Abang belum bisa melupakan Asti mantan pacar."Selama ini Vina juga tidak pernah sekalipun abangnya membuka hati.
"Ya kamu kan bisa coba dulu Vin, Ya ngobrol-ngobrol dulu gitu sama Dita, soal Abangmu nanti mama yang urus."Mama Dyah yang selalu punya seribu satu cara membujuk putra putrinya.
Vina paham betul sifat mamanya seperti apa. Vina tidak mau berdebat dengan mamanya. Sebetulnya ide mama enggak buruk sih. Vina juga setuju dengan mamanya mengenai Dita. Meski Vina berteman dan kenal lebih dulu dengan Anara, Namun Vina merasa sefrekuensi dengan Dita.
Mereka berdua sering membicarakan apapun. Selama ini Vina menganggap Dita sepertu adiknya sendiri. Kini, Mungkinkah Dita menjadi Kakak Iparnya? Tidak ada salahnya untuk dicoba. Vina tersenyum dengan pikirannya sendiri.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...