
"Kenapa lupa tanya namanya. Biasanya otak gw pinter kalo urusan cewek kenapa jadi bego ya." Abi menuju basement.
"Bukannya itu cewek tadi, lagi ngapain ya?"Abi menghampiri cewek yang membantunya.
"Ehem, ehem, mobilnya kenapa mbak?" Abi bertanya.
Gadis itu melihat Abi. "Bapak yang beli pembalut ya?" Tasya memastikan.
"Mobil saya sepertinya ada kerusakan."jawab Tasya.
"Boleh saya lihat?"Abimana menawarkan bantuan.
"Silahkan Pak."Tasya membiarkan Abi mengecek mobilnya.
"Mobil kamu matic. jadi harus dibawa kebengkel? jelas Abi.
Abi melihat kebingungan di gadis itu. Abi mengambil inisiatif.
"Gimana kalo saya telpon bengkel langganan saya, lagipula kalo bengkel lain sudah tutup. Biar nanti mobil kamu diderek mereka dan dibetulkan disana. Setelah besok jadi akan dikabari." Abimana menawarkan.
"Saya ikut Bapak saja." cewek itu senang karena bapak-bapak dihadapkannya ini memberikan solusi.
Mobil sudah diderek dan dibawa ke bengkel untuk diperbaiki.
"Saya mengucapkan terima kasih Pak atas pertolongan Bapak, Maaf merepotkan Bapak.. Saya pamit dulu ya Pak terima kasih." Tasya pamit.
"Tunggu mbak! Bagaimana kalau saya antar pulang. Sudah malam perempuan bahaya dijalan sendiri?" Abi sengaja menawarkan mengantar pulang karena gadis ini menarik hatinya.
"Tidak perlu Pak, Saya akan merepotkan Bapak lebih banyak."jawab Tasya.
"Gapapa, lagi pula kamu sudah membantu Saya membeli pembalut."jawab Abi santai mengucap pembalut.
Gadis itu tertawa dan menutup mulutnya. Tasya tersenyum mendengar kata pembalut dari mulut Abi.
"Loh, kamu kok ketawa?ada yang lucu ya?" Abi melihat wajah Tasya hatinya hangat.
Ah gila sih cewek manis banget pas senyum, pas ketawa lucu juga. Dan pastinya tipe gw banget. Haduh Abi mulai deh.
"Lucu Bapak, ngomong pembalutnya lancar banget." Tasya tenyum melirik Abi.
"Saya antar ya?"Abi menawarkan.
Tasya mengangguk menerima tawaran Abi.
"Oh iya dari tadi kita ngobrol, Saya belum tahu nama kamu siapa. Perkenalkan saya Abimana Aryasatya Permana. kamu?"Abi mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Tasya Mahalini Prabowo. Panggil saja Tasya Pak." Tasya membalas salaman Abi.
.
"Rumah saya jauh loh Pak, nanti Bapak pulangnya kemaleman, kasian takut istri dan anak Bapak menunggu." Tasya takut dianter oleh suami orang nanti disangka pelakor. Maklum akhir-akhir ini pelakor begitu viral.
" Saya belum menikah, makanya kamu jangan panggil Bapak"kata Abi sambil tertawa.
"Oh maaf Saya pikir sudah menikah Pak, eh Om."jawab Tasya.
"Muka saya tua banget ya, tadi kamu panggil Bapak, sekarang panggil Om. Kamu lucu juga ya Tasya." Abi melirik ke arah Tasya.
"Jadi saya panggil apa?"jawab Tasya.
"Panggil saya mas Abi."jawab Abimana.
Sepanjang perjalanan Abi merasa Tasya pribadi yang menyenangkan. Meski berusia muda tapi pemikirannya cukup dewasa. Jarang Abimana menemui perempuan yang bisa diajak ngobrol banyal hal. Menurut Abi, Tasya wanita cerdas, pemikiran yang jauh ke depan, selain cantik dan manis tentunya. Yang paling penting Tasya cewek tipe Abi banget. Paket komplit menurut Abi.
"Iya mas Abi berhenti disini, sudah sampai. Sekali lagi Tasya berterima kasih dan minta maaf sudah merepotkan mas Abi. Maaf Tasya ga bisa ajak mas Abi mampir karena orang tua Tasya belum pulang."jelas Tasya.
"Tasya anak baik-baik. Jarang cewek model begini." batin Abi.
"Gapapa Sya, boleh mas Abi minta nomor HP Tasya?" Abi menyodorkan HP nya dimasukanlah nomor HP Tasya di HP Abi.
"Besok mas Abi jemput ya, Oh Iya Sya, Ini kartu nama mas Abi."Abimana memberikan kartu namanya.
"Mas Abi balik ya, malam Sya."Abimana pun meninggalkan Tasya yang masuk kerumahnya.
Sepanjang perjalanan Abi terus kepikiran Tasya dan tidak bisa melupakan obrolannya dengan Tasya.
Tasya perempuan yang nyaman buat diajak bertukar pikiran. Tidak seperti cewek yang pernah dekat dengan Abi, hanya tahu shopping dan salon.
Tasya tidak hanya cantik, tapi wanita cerdas yang ramah dan baik.
Selain itu, perempuan yang dekat dengannya selama ini hanya mau uang Abi. Tapi Ia melihat Tasya berbeda.
Menurut Abi Tasya bisa menjaga dirinya. Abi makin kepincut Tasya. Rasanya Abi pingin lekas pagi dan bertemu Tasya.
.
Pagi ini Tasya bersiap ke kampus untuk menyerahkan skripsinya." Akhirnya beres juga kamu sayang."Tasya mencium skripsi yang kini sudah selesai.
Tasya mematut diri dicermin. Memastikan dirinya rapi.
Hari ini karena akan bertemu dengan Kaprodinya Tasya berbusana sedikit formal. Pilihan rok selutut yang membentuk tubuhnya terdapat belahan dipaha kanan sedikit, dipadankan dengan atasan sifon dan blazer. Rambut warna cokelat panjangnya dibiarkan terurai dengan heels sebagai pelengkap tampilannya. Tasya hari ini sangat cantik.
Ponsel Tasya berdering.
"Halo Tasya, mas Abi sudah didepan rumah?"Abimana dengan stelan kantornya, sudah gagah berada diluar mobilnya.
Dilihatnya Tasya berjalan kearahnya. Abimana membuka kacamatanya, pemandangan indah seorang gadis yang menurutnya sempurna. Tasya memang paket komplit seorang wanita."Abimana terpesona dengan Tasya.
"Mas Abi? Kenapa bengong."tanya Tasya.
"Kamu cantik Sya." kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Abi.
"Waduh,,, kalo Tasya cowok baru ganteng."Tasya hanya menanggapi pujian Abi dengan bercanda.
Mereka masuk mobil dan berangkat.
"Sya kamu punya pacar ga?"Abi langsung gaspol nih penasaran.
"Jomblo senior aku mas abi." Tasya meladeni Abi dengan bercanda.
Abimana tertawa dengan jawaban Tasya.
"Sama mas Abi juga Jomblo. Kalo jomblo ketemu jomblo jadinya couple." Abi Abi, emang sesuai julukan playboy.
"Mas Abi lucu juga ya seneng bercanda orangnya." Tasya tertawa.
"Btw hari ini kegiatan dikampus ngapain aja?Tanya Abi.
"Tasya setelah lulus apa rencana kamu?" Abimana tertarik merekrut Tasya diperusahaannya.
"Standar sie mas Abi, paling cari kerja?"Tasya menjelaskan.
"Kalo kerja ditempat mas Abi mau ga?" Abimana menawarkan.
"Boleh, tapi gajinya gede gak? becanda loh mas Abi." Tasya bercanda.
Abi tertawa terbahak-babak Ya gajinya okelah, tapi kalo kerja sama mas Abi, banyak bonusnya?"Abi tersenyum.
"Bonusnya apa mas?"tanya Tasya.
"Bonusnya cinta dan kasih sayang." Abi emang paling the best kalo gombal.
"Deket mas Abi jadi ketawa terus." Tasya tertawa.
"Tapi mas Abi serius loh nawarin kamu kerja. Kamu boleh kok lihat-lihat dulu ke kantor Mas Abi?"Abimana serius menawarkan Tasya bekerja diperusahaannya
"Emang bisa ngelamar kerja ngeliat kantornya dulu?"Tasya heran.
"Bisa lah, kan mas Abi tadi bilang banyak bonusnya."Abimana sudah kepincut Tasya rupanya.
"Boleh." Tasya menyetujui.
.
Setelah urusan perskripsian di kampus selesai Tasya ikut ke kantor Abi.
Sementara, Abi menunggu Tasya menyelesaikan urusan kampusnya di mobilnya.
.
Abimana hari ini begitu senang. Sepanjang hari ditemani Tasya.
"Jadi gimana Sya. Mau kerja ditempat mas Abi?" Abimana bertanya.
"Aku belum punya ijazah mas."Tasya duduk di sofa ruang kerja Abi.
"Gampang lah, sambil berjalan." Abimana yang sudah ga sabar pingin Tasya segera bekerja dikantornya. Abi mulai ingin selalu dekat dengan Tasya.
"Ok. Kalo gitu Tasya bersedia kerja dikantor mas Abi. Kapan mulai kerjanya mas?" Tasya bertanya.
"Hari ini. Nanti Tasya menemani mas Abi meeting ya dengan klien disini."Abimana tersenyum.
"What! Tapi Tasya kan belum ada persiapan apa-apa? Tasya juga belum tahu harus ngapain? Tasya bingung karena mendadak jadi pegawai kantor.
Tasya kebingung tiba-tiba diterima kerja terus langsung diminta menemani meeting. Luar biasa. Sungguh menarik
"Mau aas ajarin ga?" Abimana memanggil Tasya untuk mendekat.
Tasya datang dan duduk di kursi Abimana. Tasya mendengarkan penjelasan Abimana dan iya menangkap dengan cepat.
Abi sejenak melihat Tasya yang ada didekatnya. Jantung Abi ga karuan terasa mau loncat.
"Gimana ada yang masih kamu belum pahami?" Abimana bertanya.
"Tasya masih belum paham, kenapa untuk data yang ini, dibuat seperti ini?"Tasya memiringkan laptop Abi kini Tasya bersebelah dengan Abi.
Makin ga karuan melihat wajah tasya kini dekat dengannya.
Abi bukannya memperhatian pertanyaan Tasya yang Tasya tunjukkan di laptop malah fokus pada wajah tasya.
"Waduhhh,,, biasanya cewek yang klepek-klepek sama gw, sekarang bisa-bisanya gw nervous depan cewek."Abi terpesona dengan Tasya sepertinya.
"Mas Abi, Mas kok malah bengong."
Abi sadar ia sempat melamun.
Bentar ya Mas, Kakak Tasya telpon.
"Halo Kak, iya Tasya udah balik. Soalnya ada keperluan kampus. Kalo Bunda dan Ayah masih di Semarang. Oh, Iya kemaren sempet ada yang bermasalah terus dibawa ke bengkel. Oh, Gitu. Kakak Rio sendiri atau dengan Kak Vina? Oh Gitu.
Tasya mengakhiri telponnya.
"Rio, Vina? seperti pernah mendengar nama itu." Abi coba mengingat.
"Siapa Sya?"Abi bertanya.
"Kakak Tasya Mas Abi."
"Rio dan Vina siapa?Maaf kalau boleh Mas Abi tahu?"Abimana sangat familiar dengan kedua nama itu.
"Kalau Kak Vina itu kakak ipar Tasya, kalau kakak Tasya namanya Rio.
"Rio,,, Rio,,, Ah mas ingat. Rio adik iparnya Rengga? Ternyata benar pantas Abi tidak asik dengan nama keduanya.
"Mas Abi kok kenal Bang Rengga? Tasya bingung.
"Luar biasanya, jadi kamu itu adiknya Rio, adik iparnya Rengga." Abi memastikan.
"Mas Abi waktu itu datang ke pernikahan kakakmu, tapi ga ketemu Tasya." Abimana tidak menyangka ternyata Tasya dekat dengan lingkungan pergaulannya dan merupakan kerabat Rengga sahabatnya.
"Oh mas Abi ada disana ya." Tasya juga tidak berjumpa mas Abimana dipernikahan Kak Rio dan Kak Vina.
"Meeting hari ini sebenarnya Proyek Mas Abi dengan Rengga." jelas Abimana pada Tasya.
Abimana menerima telpon."Iya suruh masuk saja."
"Sore Ga, silahkan duduk." Abi mempersilahkan Rengga duduk.
"Tasya! ngapain kamu disini?" Rengga kaget melihat Tasya adik Rio berada diperusahaan Abimana.
.
.
.
.
Gimana ya, Abimana berhasil ga ya deketin Tasya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...