Anara

Anara
Chapter 42. Perjuangan Abimana



3 bulan kemudian setelah kejadian Tasya dan Abimana.


Tasya hari ini ada janji menemui kakak iparnya Vina di hotel.


Kini Tasya, Bunda dan Ayah berada di meja makan menikmati sarapannya.


"Anak Ayah pagi-pagi sudah papi dan cantik mau kemana?" ayah Sigit melihat putri.


"Mau ke tempat kak Vina yah."Tasya menjawab.


"Salam ya buat menangu kesayangan aama." bunda Widya memang bahagia memiliki menantu seperti Vina.


"Tasya, sekarang apa yang mau kamu lakukan?"ayah Sigit menanyakan perihal Tasya mau apa setelah ia sudah wisuda.


"Tasya mau santai dulu yah, capek kemaren kuliah." Tasya terkekeh sambil menikmati roti berisi selai strowberry miliknya.


"Ya sudah, yang penting kamu senang,"ayah Sigit santai.


.


Setelah kejadian itu memang Tasya menjadi lebih dekat dengan Vina kakak iparnya. Vina yang awalnya mendengar kejadian itu dari Rio sempat kaget. Namun saat itu Vina sadar akan perasaan Tasya adik iparnya. Vina sering meminta Tasya datang menemuinya. Karena Vina melihat Tasya tidak seceria dulu.


.


Tasya yang berada di dalam mobil. Menatap sebuah nama di HP yang sebenarnya ia rindukan.


Sebetulnya Abimana sering berusaha telpon dan chat. Namun Tasya tidak membalasnya.


Tasya masih takut jika mengingat kemarahan Rio waktu itu.


.


Tasya kini sudah sampai diparkiran hotel ia menghubungi kakak iparnya.


"Kak Vina, Tasya baru sampai, kakak ada diruangan? "tanya Tasya kini keluar dari mobilnya.


"Kakak sedang meeting dengan klien di ruangan dek, kamu tunggu di lounge dulu gapapa kan?Jelas Vina pada Tasya.


"Gapapa kak, santai aja. Kak Vin lanjut aja dulu meetingnya?"jawab Tasya.


Tasya masuk hotel dan menuju lift. Kemudian iya naik dan menekan tombol menuju lounge.


Tasya namun saat itu di Brevilia Hotel nampaknya ada sebuah pameran lukisan. Tasya memutuskan melihat pameran lukisan selagi menunggu kak Vina meeting.


Tasya masuk keruang pameran lukisan tersebut.


Ternyata tidak hanya lukisan, banyak benda-benda seni lainnya.


Tasya melihat-lihat dan mengamati, sebagai seorang lulusan arsitektur Tasya melihat pameran ini sebagai sebuah ide.


Tasya berkeliling pameran, senang rasanya Tasya menikmati karya seni yang begitu unik dan indah.


Kini Tasya sebuah lukisan yang ia rasa berkarakter. Tasya membaca keterangan lukisan itu. Ternyata pelukisnya berasal dari Bali.


"Lukisannya bagus ya Sya."


Tasnya menoleh ketika seseorang berbicara padanya.


"Mas Abi."Tasya menyebut dalam hatinya.


"Apa kabar Sya?"Abimana menyapa.


"Kabar ku baik Pak Abi." Tasya menjawab formal.


Abi mendengar jawaban Tasya begitu sedih.


Tasya sepertinya masih marah padaku.


"Sudah lama tidak bertemu ya, bagaimana sudah lulus kuliah ya?"Abimana berusaha membuat obrolan dengan Tasya.


Senang bisa melihat Abimana lagi. Namun Tasya takut kakaknya marah jika tahu ia berhubungan dengan Abimana.


"Maaf Pak Abi, Saya permisi dulu."Tasya segera keluar dari pameran itu.


Abimana menyusul Tasya yang kini masuk dalam lift. Abiman menekan tombol lift dan masuk ke dalam lift bersama Tasya.


Dalam lift Tasya yang berada disamping Abi, tampak bergeser menjauhinya.


Abimana menjadi kalut dibuatnya.


Tasya segera berjalan menu basemen tempatnya parkir. Tanpa memperdulikan Abimana yang mengikutinya.


Tasya segera mendekat dan masuk mobil disaat itu Abi memberanikan diri menutup pintu mobil yang dibuka Tasya.


"Pak Abi permisi, saya mau masuk." Tasya masih dengan pertahanannya.


"Aku rindu sama kamu Sya, Bisa kita bicara sebentar." Tatapan Abimana memohon terlihat jelas.


"Maaf Pak Abi, tidak ingin membuat kakak saya marah jika tahu saya bertemu Pak Abimana. Tolong lupakan Tasya! Tasya sesungguhnya tidak suka dengan keadaan ini.


Abimana menatap Tasya."Bagaimana aku bisa melupakanmu, jika namamu sudah menempati ruang hatiku!" Abimana kini mengatakan perasaan yang selama ini dipendamnya.


"Tapi Kak Rio bisa marah,jika tahu." Tasya terkejut karena jari Abimana berada dibibirnya.


"Ikut aku." Abimana menggandeng tangan Tasya dan dilepas Tasya.


Baik Saya akan ikut Bapak, namun kali ini saja.


.


Abimana begitu merindukan gadis yang hampir 3 bulan ini membuatnya gila. Kini Tasya ada di depannya.


"Sya, maafkan aku atas kejadian waktu itu membuatmu tidak nyaman. Sungguh aku tidak pernah bermaksud jahat padamu."Abimana menatap wajah Tasya yang tidak mau menatapnya.


"Lupakan saja akupun sudah tidak perduli"jawab Tasya.


"Tapi aku perduli. Aku ingin menjelaskan padamu dan jujur padamu. Aku mohon dengarkan penjelasan dan ceritaku." Abimana meminta Tasya mendengarkannya.


Abimana menceritakan siapa dirinya, seperti apa dia. Bagaimana ia mengenal Rengga dan bagaimana iya mengenal Dita. Bagaimana kehidupannya yang selalu dikelilingi perempuan. Semua dijelaskan pada Tasya.


Mendengar cerita dan penjelasan Abimana. Sesungguhnya Tasya tersentuh. Namun kekhawatirannya terhadap kakaknya membuatnya kembali bertahan.


"Mengapa Pak Abi menceritakan semuanya pada saya?" Tasya bertanya.


"Agar kamu tahu siapa aku sebenarnya, aku mau menceritakan bagaimana aku tanpa ada yang perlu ditutup-tutupi."Abimana masih menatap Tasya.


"Mengapa Bapak merasa perlu memberitahu semuanya kepada saya." Tasya menjawab.


"Karena kamu spesial buat aku Sya," Abimana sudah jatuh hati dengan Tasya.


Tasya tersenyum. "Maaf aku tidak mau menjadi salah satu mainanmu Pak Abimana. Saya pamit. Permisi! Tasya langsung berjalan cepat keluar.


Abimana meletakan lembaran uang dimeja mereka. Bergegas mengejar Tasya.


Tasya yang kini menuju mobilnya.


Abimana meraih Tasya dan memeluknya. dari belakang.


Lepaskan Abimana, atau aku akan teriak.


Teriaklah, Aku tak akan melepasmu, kau membuatku gila Tasya! Abimana berteriak.


Lepaskan aku Abimana! Banyak perempuan lain yang bisa kau jadikan mainanmu tapi maaf bukan aku orangnya.


Abi melepas pelukannya kini ia menghadap didepan Tasya.


"Aku tak pernah sekalipun main-main denganmu Tasya! Aku mencintaimu! Kau membuatku gila! 3 bulan hatiku kau buat berantakan. Aku mencoba melepaskanmu namun aku merindukanmu. Hari ini aku melihatmu dipameran. Aku tidak mau melepaskanmu Tasya. Aku mencintaimu!" Abimana sudah mengeluarkan semua isi hatinya yang ia tahan selama ini.


"Kak Rio tidak akan senang jika taju aku berhubungan dengan mu" Tasya menangis.


Abimana meraih tangan Tasya dan menatap wajah dan menghapus air mata Tasya.


"Sya, Bolehkah aku mencintaimu? menjadikan dirimu wanita terakhir bagiku? menemaniku hingga maut memisahkan kita?"Abimana mencari jawaban.


Tasya melihat pria yang bediri dihadapannya. Pertemuan mereka kala itu, dan kenangan 1 hari dengan Abimana sesungguhnya membuat iya menaruh hati. Namun bagaimana dengan kak Rio?


Tasya melepaskan tangan Abimana.


"Terima kasih, sudah jujur tentang dirimu dan perasaanmu padaku. Namun aku tidak mau merusak hubungan keluargaku hanya karena dirimu. Lupakan aku. Carilah perempuan yang lebih baik dariku untuk menjadi pendampingmu. Tasya menjawab sedih akan kata- katanya sendiri.


"Bagaimana aku bisa mencintai wanita lain, sementara hatiku telah kau curi, bagaimana aku mencari yang terbaik sedangkan didepanku berdiri gadis yang sempurna bagiku?jawab aku Tasya Mahalini Prabowo." Kini Abimana begitu serius dengan perkataannya.


"Aku akan menemui Ayahmu menyampaikan apa yang menjadi keinginanku untuk mempersunting putrinya menjadi istriku." Abimana mengatakan dengan mantap.


"Kau gila Abimana. Mereka bisa saja melukaimu. Sebelum itu terjadi, pergilah Abi aku tidak mau ada yang tersakiti." Tasya menangis ia bingung harus bagaimana.


"Aku tidak main-main dengan ucapanku Sya, aku akan terima resiko apapun. Jangan halangi aku. Aku akan segera menjemputmu. Doakan aku berjuang mendapatkanmu. Pulanglah, doakan aku berhasil sayang." Abimana hendak pergi meninggalkan Tasya.


"Mas Abi!"panggil Tasya.


Abimana tersenyum bahagia Tasya memanggil namanya


"Buktikan cintamu, berjuanglah, semoga berhasil! Aku menunggumu." Tasya tersenyum dengan harapan mengembang.


Abimana memeluk Tasya, kemudian melepasnya.


"Pasti, mas Abi akan berjuang mendapatkanmu. Tunggulah Mas datang menjemputmu." Abimana mengusap pipi gadis yang dicintainya, dan berlalu pergi.


Abimana kini memiliki keberanian melakukan perjuangannya mendapatkan Tasya. Ini tidak akan mudah. Semangat Abi!


.


.


.


.


Nah gitu donk bi, semangat, ginii nih kalo buaya sudah ketemu pawangnya.


Hujan, Badai, Halilintar, Angin Ribut juga diterjak ya


Semangat Abi!.


.


.


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...