Anara

Anara
Chapter 64. Perpisahan (The End)



Kesibukan di kediaman Abimana.


Waktu tidak terasa cepat berlalu. Abi dan Tasya yang memiliki putra dan putri bernama Mainaka Zalindra Permana (13 tahun) dan Mikhayla Zalindra Permana (10 tahun).


Seperti pagi ini Abimana, Naka, Mikhayla sedang duduk di meja makan untuk sarapan bersama. Sementara Tasya sedang menyiapkan sarapan bagi keluarganya.


"Dad, mau kopi atau teh?"Mommy Tasya menawarkan.


"Seperti biasa Mom, kopi tanpa gula." Dad Abi menjawab dengan senyuman manis untuk Tasya.


"Mom besok jadi kita ke tempat Aunty Nara?"Mikha bertanya pada Mom Tasya.


"Jadi dong sayang, kenapa?"Tasya menjawab pertanyaan putrinya Mikha.


"Memang betul Mom, Aunty Nara, Uncle Bas dan Kak Nindy akan tinggal di Amerika?"Mikha kembali bertanya.


"Yup, begitulah karna Kak Nindy akan kuliah disana." Mom Tasya kembali menjawab.


"Naka, what's wrong with you son?" Dad Abi mengacak rambut Naka melihat putranya.


"it doesn't matter Dad." Naka menjawab singkat.


Mereka sarapan bersama dengan menu makanan kesukaan masing-masing.


Hari ini mereka memang akan berkunjung ke rumah Vina dan Rio.


.


Kini semua tampak berkumpul di rumah Vina dan Rio.


Malam minggu terasa sangat meriah ketika 3 keluarga berkumpul dan mereka sedang barbeque di taman belakang rumah Vina dan Rio.


Berkumpul lah mereka yang kini sudah menjadi orang tua.


Keluarga Rengga : Papa Rengga, Mama Dita, Abang Raka dan Rama.


Keluarga Rio : Ayah Rio, Bunda Vina, Mas Saga, Kak Kila, dan Fira.


Keluarga Abimana : Daddy Abi, Mommy Tasya, Kak Naka dan Mikha.


Mereka memang besok akan mengantar Anara dan keluarga melepas kepindahan keluarga Baskara ke Amerika karena menemani putri semata wayangnya kuliah disana.


Tampak Dita, Vina dan Tasya menyiapkan makanan dan minum mereka tidak terasa ketiga wanita yang kini telah memiliki putra dan putri itu masih tetep cantik meski telah berusia matang.


"Kak Vin dan Kak Dit, Mbak Nara berapa lama di Amerika?"tanya bertanya mengenai kepindahan Anara.


"Mungkin selama Nindy kuliah disana. Ga terasa ya kita sekarang udah usia segini. Anak-anak kita juga sudah mulai beranjak dewasa," Vina memandang kearah taman menatap anak-anak dan keponakannya yang kini telah tumbuh besar.


"Benar Kak Vin, Dita juga rasanya baru kemarin, tidak terasa Raka dan Rama kini sudah mahasiswa, kenapa waktu cepat sekali berlalu ya." Dita tersenyum melihat ke taman.


"Tapi kedua kakak-kakakku ini awet muda sekalinya, padahal buntutnya sudah besar. seperti adik kakak saja dengan keponakanku." Tasya merangkul keduanya, Vina dan Dita.


Sementara di Gazebo berkumpul Rengga, Abimana dan Rio yang kini tampak terlihat sudah tidak muda lagi, terutama Rengga dan Abimana, meski begitu ketampanan keduanya seakan tak pernah pudar meski bertambah usia.


"Sepertinya kita akan kehilangan partner golf kita Baskara." Abimana membuka pembicaraan mengenai kepindahan Baskara dan keluarga.


"Kalau begitu kita bertiga kenapa tidak coba bermain Basket saja." Rio tertawa.


"Meski ketampanan kami (Rengga dan Abimana) tidak pernah luntur tapi usia tidak bisa bohong, Rasanya melelahkan tidak seperti dulu." Rengga tetap narsis meski usianya dan Abi kini sudah masuk 50 tahun.


"Ibarat kelapa makin tua makin berisi, iya ga?" Abimana sambil mengangkat alisnya.


Saat ketiga Pria sedang berkelakar datanglah istri-istri mereka menghampiri sambil membawakan makan dan minuman.


"Apanya Dad yang makin berisi?"duduk disamping suaminya.


"Ckckckckckkkk,,,, Duo Pelita (Pria Lima Puluh Tahun) ini narsis banget ya, Ga inget buntutnya sudah besar."Dita menghampiri Rengga dan duduk didekatnya.


Mereka pun tertawa bersama.


Persahabatan dan Persaudaraan mereka tak terasa terjalin sekian lama.


Dari muda dengan segala hiruk pikuk drama percintaannya masing-masing hinggi kini menyaksikan putra dan putri mereka yang beranjak dewasa sungguh momen yang tidak akan bisa dilupakan.


Hidup layaknya roda dan siklus yang terus berputar.


Manusia dilahirkan memiliki fase kehidupan yang tidak dapat dihindari.


Bayi - Balita -AnakAnak - Remaja - Dewasa - Tua - Lansia.


Semua mengalaminya dan tak ada satupun yang dapat menghindari takdir siklus kehidupan itu.


Berawal dari sebuah pertemanan berkembang menjadi sebuah keluarga.


.


Persahabatan dan Kekeluargaan mereka selama puluhan tahun kini harus dipisahkan sementara dengan kepindahan Anara dan keluarga ke Amerika.


"Ra, selalu keep contact ya dengan kita disini, segeralah pulang bila Nindy selasai kuliah." Vina memeluk Anara dengan airmata haru sahabat yang sudah dianggap saudara kandungnya sendiri.


"Mbak Nara, sering-seringlah kesini bila Nindy sedang libur kuliah, kami akan Rindu dengan Mbak dan Nindy." Pelukan Dita pada kakak sepupunya dengan airmata dipipi melepas kepergian Anara dan keluarga.


"Mbak Nara, jaga kesehatan selalu, jaga makanan ya mbak, seringlah berkabar, kami pasti kangen dengan Mbak dan Nindy." Tasya memeluk Anara yang sudah dianggapnya seperti Kakak sendiri selain Vina dan Dita.


"Terima kasih Bestieku semua, kalian sehat-sehat ya, doakan kami lancar disana dan semoga kita bisa kumpul lagi. Jika sempat mainlah kesana." Anara memeluk ketiganya dengan keharuan.


Rengga, Rio dan Abimana secara bergantian mereka juga memeluk Baskara dan mendoakan agar Baskara dan keluarga diberikan kesehatan dan kelancaran selama disana.


"Kita bakal kehilangan Partner Golf terbaik nih," Abimana sambil menyentuh lengan Baskara.


"Maka, main basket lah kalian selagi aku disana." Baskara sambil tersenyum.


Mereka berempat tertawa bersama. Keempat Pria yang sudah layak dipanggil Om Matang usis 40-50 namun masih terlihat tampan dan keren.


Akhirnya lambaian tangan yang diiringi airmata melepas kepergian Anara dan keluarga.


Disisi lain pria tampak pria gagah dan tampan beralis tebal, menatap sedih dengan kepergian Pujaan hatinya.


"Anindya Putri Megantara. Cepatlah kembali." Raka menatap kepergian Nindy dengan kesedihan.


"Kalo jodoh, ga kemana Bang. Nindy pasti kembali." Rama menepuk bahu Abangnya.


.


Kehidupan tetap harus berjalan meski manusia aillih berganti datang dan pergi.


Kembali pada aktivitas masing-masing dengan segala kesibukan yang menjadi rutinitas.


Ketika anak-anak beranjak besar dan dewasa makan mereka memiliki kehidupan dan masa depannya masing-masing.


Kerinduan akan tingkah polah mereka saat kecil akan selalu menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.


Bagi orang tua rasanya mereka tetaplah anak mereka yang menggemaskan meski kini telah tumbuh dewasa.


Apalagi kelak mereka akan menikah, memilih pasangannya membangun keluarga, dan akhirnya semua akan kembali bersama teman sehidup semati, kembali berdua menjalani sisa usia dengan bahagia menua bersama.


Begitupun bagi keempat sahabat ini.


Meski usia mereka tidak lagi muda.


Keromantisan, rasa sayang, cinta dan saling memiliki masih begitu terpancar seolah layaknya pasangan muda yang asik bercinta.


Karena sesungguhnya yang membuatnya tak lekang meski senja telah menyapa, karena taman cinta dihati mereka terus dan selalu berbunga bermekaran hingga terasa layaknya pasangan muda dimabuk cinta.


Raga boleh menua namun rasa gejolak muda.


Rambut bisa berubah warna tapi cinta tetap membuat hati bergelora.


Itulah yang diarasakan keempatnya.


...Anara - Baskara...


...Vina - Rio...


...Dita - Rengga...


...Tasya - Abimana...


...Seperti apa kehidupan anak-anak mereka...


...Anara - Baskara \= Nindy...


...Vina - Rio \= Saga - Kila - Fira...


...Dita - Rengga \= Raka - Rama...


...Tasya - Abimana \= Naka - Mikha...


Tentunya tidak kalah berwarna dengan percintaan orang tuanya.


...- T A M A T -...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...