
Wonosobo kota yang dingin menurutku, karena terbiasa tinggal di Semarang yang sedikit panas. Letaknya di dataran tinggi, sehingga hawa pegunungan begitu menusuk tulang. Rumah pak Ranu semi permanen, ruang tamu sudah bertembok dan berlantai ubin, tetapi rumah bagian belakangnya masih berdinding papan kayu. Di luarnya, pagar bambu mengelilingi rumah ini dengan berbagai macam tanaman sayur yang menghiasi. Jarak rumah satu dan yang lainnya lumayan dekat, tetapi hanya ada kurang lebih 20 kepala keluarga yang menghuni desa ini.
Aku baru saja membantu mencuci piring selepas makan malam. Pak Ranu dan keluarganya begitu baik, mempersilahkanku untuk tinggal bersama mereka untuk sementara waktu. Pak Ranu memiliki dua orang anak, yang pertama bernama Mira, usianya 20 tahun. Selama ini dia merantau di Jakarta bekerja di rumah seorang pengusaha kaya. Saat ini kebetulan dia sedang pulang kampung. Dialah yang membantu perekonomian keluarga ini, sehingga sedikit-demi sedikit Pak Ranu bisa membangun rumahnya. Adiknya bernama Mirza masih sekolah SMP. Istri pak Ranu seorang ibu rumah tangga biasa dan sesekali membantu suaminya bekerja di ladang pak Salim jika sedang panen besar.
Kubuka gawai yang sejak kemarin mati, karena aku tak sempat lari membawa charger. Dan kebetulan charger hp yang kupinjam dari mba Mira cocok dengan gawaiku.
Ting. . .
Bunyi beberapa pesan masuk. Ada beberapa riwayat panggilan juga dari nomor tak dikenal.
[Mamamu sudah mati, anak cantik]
Aku terkejut. Begitu bunyi pesan yang masuk. Kucoba menghubungi nomor hp mama, tapi tak aktif. Tak ada satupun pesan darinya. Ku coba menghubungi nomor yang mengirimiku pesan hasilnyapun sama, tidak tersambung. Aku tak menyimpan nomor ibu kontrakan sebagai harapan satu-satunya orang yang bisa mengetahui keadaan mamaku. Aku begitu frustasi. Mencoba mencari berita daerah tentang kondisi rumah kontrakanku, tapi nihil. Sejurus kemudian ku coba menghubungi teman-teman sekolahku, meminta bantuan mereka untuk mengecek keberadaan mama. Dan mereka menjanjikan besok karena hari sudah malam.
Aku uring-uringan sepanjang malam itu. Tak bisa tidur atau memejamkan mata barang sebentar. Aku keluar kamar mba Mira yang kutempati tidur bersamanya, karena takut mengganggu tidurnya. Berulang kali kuhubungi nomor yang mengirimiku pesan yang kuyakini itu nomor om Bagas. Tapi hasilnya tetap nihil.
"Belum tidur, An?"
Sapa mbak Mira mengagetkanku. Aku hanya menggeleng lemah.
"Kau kedinginan?"
"Tidak mbak, baju hangat mbak sudah cukup, ditambah juga ada selimut di dalam. Aku hanya mengkhawatirkan mamaku."
"Berdoalah, hilangkan pikiran buruk tentang mamamu. Kau sudah terlanjur jauh ke sini. Apa yang mamamu minta mungkin itu yang terbaik untuk masa depanmu." kata mba Mira menyemangatiku.
Aku sudah menceritakan tentang keadaanku sewaktu perkenalan tadi siang ke keluarga ini ketika datang. Mereka sama prihatinnya kepadaku.
"Iya mba, aku selalu berdoa untuk keselamatan mamaku." kataku terisak, mengingat om Bagas sudah memberiku pesan seperti itu.
Aku menyesali kebodohanku yang tidak terlalu peduli dengan kegiatan mamaku. Sehingga masalah yang membelitnyapun aku tak tahu.
"Lusa mba mau balik ke Jakarta, kau mau ikut?"
Aku bimbang, di satu sisi aku memang harus mencari alamat yang mama tunjukkan kepadaku untuk mencari kebenaran tentang mama, tapi di sisi lain aku tak mempunyai ongkos ke sana. Hidup menumpangpun sudah membuatku tak enak hati kepada keluarga ini, tapi jika terlalu lama berdiam diri di sini juga semakin menambah beban rasanya.
"Iya mba , aku ikut. Besok bantu aku jualin hpku ini ya mba, aku mau ganti hp yang biasa. Kelebihan uangnya bisa buat bekal ke Jakarta." kataku pada akhirnya.
" Iya, besok kita ke pusat kota. Sekarang tidurlah."
Aku mengangguk.
***
Pukul 8 pagi, aku telah bersiap ke kota dengan mba Mira. Setelah berpamitan kepada Pak Ranu dan istrinya, kami bergegas pergi berjalan kaki menyusuri ladang untuk mencapai jalan raya. Matahari masih tampak malu-malu menampakkan sinarnya, sehingga hawa dingin menyusup sampai ke tulang. Mba Mira meminjamiku sweeter tebal agar aku tidak kedinginan. Berkali-kali aku bersin-bersin kecil. Tampaknya tubuhku masih perlu penyesuaian dengan pergantian cuaca ini.
Di tengah jalan, kami berpapasan dengan beberapa mobil bak yang akan mengangkut hasil bumi ke pasar. Tujuan kami sebenarnya searah, hanya saja mobil bak tersebut penuh muatan sayur sehingga kami tidak bisa menumpang. Sepanjang jalan, kami menyapa orang-orang yang tengah bekerja mengerjakan ladang. Suasana masih tampak alami, hamparan hijau tanaman sayur dan udara pagi yang masih segar menambah keasrian daerah ini. Hasil buminyapun begitu melimpah di sini.
Warna rambut dan iris mata coklatku yang sedikit berbeda dengan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang tengah mengerjakan ladang. Bisik- bisik mereka yang keheranan akan kehadiranku sedikit terdengar di telingaku. Tidak hanya para pemuda, ibu-ibupun menatapku dengan keheranan. Sampai pada akhirnya ada seorang ibu yang terang-terangan menyapa kami dan menanyakan tentang diriku.
"Eh Mbak Mira mau kemana? Itu yang disampingnya siapa? Cantik sekali. "
Aku hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala. Langkahku terhenti dan mendekati kerumunan ibu-ibu itu dan memperkenalkan diri. Kulihat para pemuda yang tengah bekerja juga menghentikan pekerjaannya dan fokus melihatku yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Perkenalkan ibu-ibu, nama saya Anara. Beberapa hari yang lalu saya ikut menumpang mobil sayur pak Salim ke sini dan dibawa pak Ranu ke rumahnya karena saya kehabisan ongkos. Saya dari Semarang hendak ke Jakarta. Besok saya ikut Mbak Mira ke Jakarta. Maaf kalau kehadiran saya mengganggu di desa ini." kataku sambil menjabat tangan ibu-ibu itu satu persatu. Kulanjutkan menganggukkan kepala kepada pemuda-pemuda dan bapak-bapak yang berdiri tidak jauh dari ibu-ibu itu.
"Oh jadi ini, gadis yang dibawa pak Ranu ke desa ini tempo hari. Kok kaya bule ya, ayune poll. Tangannya juga halus banget."
Aku hanya tersenyum simpul mendengarnya. Mba Mira menarik tanganku dan segera berpamitan kepada mereka yang tengah bekerja di ladang, alasannya hari sudah beranjak siang, takut kesorean pulangnya.
"Nanti kalau hpmu ga laku terjual, biar mba besok yang bayar ongkos ke Jakartanya. Aku ga yakin ada orang mau beli hp semahal itu di sini. " kata mba Mira.
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Sungguh luar biasa orang-orang di desa ini. Mereka terlihat sangat akrab, guyub rukun istilahnya. Saling membantu satu sama lain. Begitu pula dengan semua anggota keluarga pak Ranu. Aku melihat ketulusan dalam diri mereka untuk menolongku. Sungguh aku sangat beruntung.
***
Hari sudah beranjak sore. Seperti dugaan mba Mira, hpku belum ada yang mampu menawar dengan harga yang tinggi. Sebenarnya, aku bisa saja melepas dengan harga yang mereka minta, tapi mba Mira melarangku. Menunggu sampai di Jakarta saja katanya, biar ada yang menawar lebih tinggi. Lagi-lagi aku hanya menurut.
Kami berbelanja beberapa kebutuhan bahan pokok untuk stok di rumah mba Mira, juga beberapa cemilan makanan untuk bekal kami besok. Mba Mira bukan orang yang pelit, bahkan menawariku untuk mengambil beberapa barang yang kubutuhkan termasuk baju. Tapi tentu saja aku menolaknya dengan halus. Aku hanya meminta supaya diberi baju bekasnya saja untuk besok berangkat ke Jakarta. Karena terus memaksaku untuk mengambil sesuatu, aku hanya mengambil sabun, sikat gigi dan odol untuk bekal besok.